'Di sofa,' jawab Om Riyan. 'Kecuali kamu ingin kita membicarakan yang lain.'
Aku melihat sofa, lalu kasur. Benda-benda itu mendadak terasa seperti dua pilihan dalam soal yang jawabannya bisa membuat orang tersinggung.
'Kalau aku bilang sofa, Om jangan cemberut.'
'Om belum cemberut.'
'Ya, untuk mencegah.'
Dia menunduk melihat bantal yang dipegangnya. 'Om tidur di sofa malam ini.'
Aku mengangguk, tetapi belum bergerak. Ada satu hal lagi yang membuat kepalaku sibuk.
'Kalau nanti aku tidak bisa tidur?'
'Kamu boleh memanggil.'
'Terus Om langsung pindah ke sini?'
'Om tanya dulu kamu ingin ditemani bagaimana.'
Aku mendengus pelan. Ternyata kami bisa membahas tempat tidur tanpa harus ada yang menggoda sampai aku bersembunyi di kamar mandi.
'Temani bicara saja juga boleh?'
'Boleh.'
'Tanpa biaya tambahan?'
Om Riyan menatapku, kemudian tertawa. 'Kamu pikir Om penginapan?'
'Kan tadi pertanyaannya seperti bagian produksi.'
'Baik, yang itu tidak diulangi.'
Aku ikut tertawa. Kali ini tawaku tidak terasa seperti cara cepat menutup percakapan yang membuatku malu. Aku masih bisa menyebut apa yang mengganggu, lalu mendengar jawabannya tanpa ditarik mendekat agar berhenti bertanya.
Om Riyan menaruh bantal di sofa. Aku naik ke kasur dan menarik selimut sampai pinggang, tidak langsung menutupi seluruh tubuh seperti orang bersembunyi dari penagih utang.
Dia mematikan lampu yang dekat meja kerja, menyisakan penerangan yang biasa kami pakai untuk tidur. Setelah berbaring, dia menatapku dari tempatnya.
'Kamu masih ingin bertanya sesuatu?'
Sebenarnya banyak. Kalau semua dikeluarkan malam ini, mungkin pekerjaannya besok perlu ditunda karena suaminya baru selesai diwawancarai.
Namun yang paling dekat di kepala justru sesuatu yang sederhana.
'Om marah nggak karena aku belum siap?'
Dia tidak menjawab terlalu cepat. Aku menyukai jedanya sekaligus takut pada apa yang akan keluar sesudah itu.
'Om punya keinginan untuk dekat denganmu,' katanya. 'Tapi Om tidak mau kamu mengiyakan karena takut Om marah.'
'Itu bukan jawaban marah atau tidak.'
'Nggak marah, Kay.'
Aku mengangguk. 'Aku perlu jawaban yang itu.'
'Om tahu sekarang.'
Aku merebahkan kepala pada bantal. Dari sini aku masih dapat melihat sebagian wajahnya. Dia tidak tampak sedang menunggu aku berubah pikiran lima menit lagi.
'Aku bukan tidak suka Om.'
'Om mendengar.'
'Tapi jangan langsung senang lalu menyimpulkan yang jauh-jauh.'
'Om masih di sofa.'
'Aku tahu. Aku sedang berusaha bilang sesuatu dengan benar.'
'Om mendengarkan.'
Aku menarik ujung selimut sampai menutupi kaki. 'Aku senang kalau Om baik sama aku. Kadang aku ingin dekat juga. Cuma aku takut setelah bilang begitu, aku tidak boleh berhenti.'
'Kamu tetap boleh berhenti.'
'Walaupun aku yang lebih dahulu mendekat?'
'Walaupun kamu yang lebih dahulu mendekat.'
Aku mengangguk pelan. Ternyata kalimat yang perlu kudengar tidak harus panjang. Aku tidak meminta dia menghapus semua rasa takut dari kepalaku dalam semalam. Aku cuma ingin ada pintu keluar dari keadaan yang belum sanggup kulanjutkan, tanpa seseorang berdiri di depannya sambil menyebutku istri yang mengecewakan.
Aku menahan senyum. Benar juga. Kadang aku terlalu sibuk menyiapkan pertahanan sampai tidak melihat bahwa orang di depanku sudah berhenti maju.
Aku mengucapkan selamat malam. Kali ini bukan hanya di dalam hati.
'Selamat malam, Om.'
'Selamat malam, Kay.'
Aku memejamkan mata. Beberapa kali kubuka lagi karena suara kecil dari luar kamar terasa lebih jelas dalam keadaan sunyi. Om Riyan tetap berada di sofa. Aku tidak harus tidur cepat supaya dia tidak merasa ditolak.
Setelah beberapa lama, rasa kantuk datang.
Aku terbangun ketika ingin ke kamar mandi. Jam tidak kulihat. Aku duduk pelan, lalu memandang pintu kamar mandi yang sebenarnya tidak jauh.
Dulu, kalau ditanya mengapa takut, aku punya banyak jawaban yang semuanya akan terdengar aneh setelah lampu menyala. Malam ini pun pikiranku masih ingin membuat cerita sendiri dari bayangan pakaian yang tergantung.
Aku menatapnya lebih teliti. Oh, itu memang pakaian.
Tetap saja, kakiku belum mau turun.
'Om,' panggilku pelan.
Om Riyan bergerak dan membuka mata. 'Kenapa, Kay?'
'Aku mau ke kamar mandi.'
'Ya.'
'Masalahnya, aku ingin Om tetap bangun sebentar.'
Dia duduk, lalu menyalakan penerangan yang cukup. Tidak ada tawa, tidak ada cerita tentang kebiasaan lamaku yang dijadikan bahan olokan.
'Om di sini.'
Aku turun dari kasur.
'Jangan ikut masuk, ya.'
'Om tidak berencana begitu.'
Aku berjalan cepat sebelum keberanianku habis di tengah jalan. Pintu kututup sendiri. Setelah kembali, Om Riyan masih duduk di sofa, dengan wajah mengantuk yang tidak berhasil disembunyikannya.
'Maaf membangunkan.'
'Nggak apa-apa. Sudah lebih tenang?'
'Sudah. Ternyata yang tadi kukira aneh cuma baju.'
'Kalau bajunya bisa jalan, besok kita tanyakan kenapa tidak sekalian masuk lemari.'
Aku tertawa sampai harus menutup mulut agar tidak membangunkan Mama. Om Riyan kembali berbaring, dan aku naik ke kasur sendiri.
Tidak ada tuntutan supaya setelah ditemani aku memberikan sesuatu sebagai balasan. Sesederhana itu, tetapi hatiku terasa hangat.
Saat bangun untuk salat subuh, aku masih sedikit mengantuk. Kami bergantian menggunakan kamar mandi, lalu menunaikan salat bersama. Tidak ada pembicaraan semalam yang mendadak hilang karena pagi sudah datang.
Sesudah melipat mukena, aku melihat Om Riyan merapikan bantal dan selimut dari sofa. Dia mengangkatnya sebelum aku sempat menawarkan.
'Biar aku, Om.'
'Ini bekas Om.'
'Aku bisa merapikannya.'
'Om tahu. Tapi Om juga bisa.'
Aku menatapnya, kemudian memeluk mukena yang masih berada di tangan. Betul. Kalau semua pekerjaan langsung kuambil, kapan aku sempat membuktikan bahwa aku bisa melakukan hal lain selain membereskan bekas orang?
Aku menaruh mukena di tempatnya dan mengambil sisir. Leherku sudah lebih enak, meski masih terasa kalau menoleh terlalu cepat.
'Om berangkat seperti biasa?' tanyaku.
'Iya. Ada yang ingin kamu lakukan sebelum Om berangkat?'
Aku memikirkan dapur. Semalam Mama bilang tidak perlu menyetrika. Itu bukan berarti aku harus duduk sepanjang pagi menunggu seseorang menawarkan pekerjaan.
'Aku ingin membantu sarapan. Yang sudah bisa saja.'
'Tempe dan bayam?'
'Bisa jadi. Masa menu keahlianku langsung dibaca seperti daftar barang yang tersisa di warung?'
Om Riyan tersenyum. 'Om cuma ingat.'
Aku ikut tersenyum, lalu berdiri. Sebelum keluar, aku menoleh kepadanya sekali lagi.
'Aku mau belajar karena ingin bisa, Om. Bukan supaya nanti Om punya alasan bilang aku harus siap untuk yang lain.'
Dia mengangguk. 'Om ingat pembicaraan kita.'
Aku membuka pintu kamar. Aroma dari dapur mulai terasa, membuat perutku ikut mengambil keputusan.
Baiklah. Pagi ini aku ingin membantu, tetapi aku juga ingin mendapat bagian sarapan sebelum semuanya dingin.