'Nggak, Kay.'
Jawabannya pelan, tetapi jelas. Aku menunggu sambungannya. Biasanya setelah kata tidak akan ada kata tapi yang panjangnya bisa mengalahkan antrean di mal.
Kali ini Om Riyan mengusap wajahnya sendiri.
'Om seharusnya menjelaskan. Bukan menekan kepalamu setelah kamu bilang jangan.'
Aku melihat jemarinya di atas meja. Tangan yang bisa membukakan bungkus mi untukku itu ternyata juga pernah membuatku menurut ketika aku tidak mau. Kedua hal itu sama-sama pernah terjadi. Aku tidak perlu memilih salah satunya supaya cerita tentang dia menjadi lebih mudah.
'Waktu itu aku ikut minta maaf karena salah paham,' kataku.
'Iya. Om ingat.'
'Aku juga ketawa sendiri setelah masuk kamar mandi. Jadi aku pikir mungkin aku yang terlalu heboh.'
'Kamu boleh salah paham. Itu tetap bukan alasan Om memaksamu.'
Aku menelan ludah. Entah mengapa, mendengar kalimat itu membuat tenggorokanku terasa penuh. Padahal dia tidak sedang mengucapkan sesuatu yang romantis. Tidak ada kata sayang, tidak ada pujian bahwa wajahku lebih manis daripada gula.
Mungkin aku hanya belum terbiasa mendengar orang yang lebih tahu banyak hal mengakui bahwa dia salah kepadaku.
'Terus waktu Om bilang akan menciumku kalau aku tidak membuka mata?'
Om Riyan mengangguk sebelum menjawab. 'Itu juga nggak seharusnya Om pakai buat menyuruhmu menurut.'
Aku memandangnya beberapa saat, memastikan dia tidak sedang menunggu aku tersenyum sebagai tanda percakapan boleh dilupakan.
'Padahal aku pernah bilang suka waktu Om menciumku.'
'Yang kamu suka waktu itu bukan izin untuk semua waktu berikutnya.'
Pipiku panas lagi. Ini percakapan paling memalukan yang pernah kujalani sambil ditemani sepiring kue.
Tetapi setidaknya aku tidak lagi harus menebak apakah menyukai seseorang berarti tidak boleh merasa takut kepadanya.
'Aku juga akan berusaha bicara lebih jelas,' kataku. 'Kalau aku mau, aku bilang mau. Kalau tidak, ya tidak.'
'Om juga harus bertanya, bukan menebak dari kamu diam.'
Aku mengangguk. Om Riyan menggeser piring sedikit ke arahku, kemudian berhenti.
'Kalau aku bilang berhenti, Om dengar dulu, ya,' tambahku. 'Jangan menunggu aku benar-benar menangis.'
'Iya.'
'Kadang aku masih tersenyum karena malu.'
Om Riyan menatapku. 'Om tidak boleh menganggap senyummu membatalkan ucapanmu.'
Aku mengangguk lagi. Menjelaskan diriku sendiri rupanya melelahkan, tetapi ada rasa lega yang tidak kudapat ketika hanya berharap dia bisa membaca wajahku.
Aku juga belum tahu apakah setelah malam ini aku akan selalu berani. Bisa saja besok aku kembali berputar-putar sebelum meminta sesuatu. Namun setidaknya dia sekarang sudah mendengar bahwa diamku bukan tempat bebas untuk menaruh semua kesimpulan yang diinginkannya.
Om Riyan mengambil napas pelan. Dia tidak meminta aku langsung percaya. Untuk malam ini, itu membuatku lebih nyaman tetap duduk di dekatnya.
'Kamu masih mau kuenya?'
Aku melihat piring, lalu melihat wajahnya.
'Om tidak perlu bertanya seperti sedang ujian untuk setiap remah.'
Dia tertawa kecil. 'Om sedang hati-hati.'
'Hati-hati boleh. Tapi kue sama kepalaku beda urusan.'
Tawanya kali ini membuatku ikut tersenyum. Aku mengambil sisa kue yang tadi kutaruh, lalu menghabiskannya. Percakapan berat rupanya tetap membuat orang lapar. Mungkin itu sebabnya meja rapat sering ada camilan. Astaga, pikiranku pergi ke mana-mana.
Om Riyan melihat jam di layar laptop. 'Pekerjaan Om masih sedikit. Kamu ingin istirahat dulu?'
Aku menimbang pertanyaan itu. Leherku pegal, mataku mulai berat, tetapi aku belum ingin langsung berbaring.
'Aku mau mengembalikan piring ke dapur.'
'Biar Om saja nanti.'
'Aku ingin berjalan sebentar. Kalau cuma piring ini, aku bisa.'
Dia mengangguk. 'Oke.'
Aku mengambil piring dan nampan. Om Riyan mengangkat cangkir kopinya agar tidak ikut terbawa. Tidak ada perebutan nampan seperti aku sedang membawa bom.
Di dapur, ternyata Mama baru datang untuk mengambil minum. Beliau melihatku dan tersenyum.
'Kopinya diminum suamimu?'
'Sudah, Ma. Tinggal sedikit.'
'Kuenya?'
Aku mengangkat piring kosong. 'Korban sudah habis.'
Mama tertawa. Aku meletakkan piring di dekat tempat cuci, kemudian membuka keran. Mama bergerak mendekat, tetapi aku lebih dahulu menoleh.
'Aku cuci satu piring ini saja. Tidak akan membuka usaha cuci piring malam-malam.'
'Mama cuma mau mengambil lap, Sayang.'
'Oh.'
Aku tertawa malu. Ternyata aku juga suka menebak maksud orang sebelum mereka sempat menjelaskan. Bedanya, semoga wajahku saat salah menebak tetap cantik. Harus ada yang bisa diselamatkan malam ini.
Mama mengambil lap dan mengeringkan meja yang terkena sedikit air. Beliau bertanya apakah leherku masih pegal setelah belajar menyetrika.
'Masih sedikit. Besok jangan satu gunung pakaian dulu, ya, Ma.'
'Besok tidak perlu menyetrika. Kamu istirahat.'
'Aku masih ingin membantu yang lain.'
'Kita lihat besok pagi. Kalau capek, bilang.'
Aku mengangguk. Beberapa hari lalu aku mungkin akan memaksa mengerjakan semuanya supaya terlihat sungguh-sungguh. Malam ini aku ingin boleh belajar tanpa harus langsung menjadi ahli untuk semua jenis pekerjaan.
Mama memandangku sambil melipat lap.
'Kamu senang belajar, kan? Bukan karena takut Mama tidak suka?'
Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti setelah menutup keran.
'Senang, Ma. Aku suka kalau sesuatu yang tadinya sulit ternyata bisa.'
'Kalau begitu pelan-pelan saja.'
Aku tersenyum. Aku tidak menceritakan percakapan di kamar. Ada bagian yang ingin kusimpan antara aku dan suamiku dahulu, bukan karena memalukan, melainkan karena kami baru mulai membicarakannya.
Setelah piring selesai dicuci, Mama menyuruhku beristirahat dan berjalan menuju kamarnya. Aku menunggu beliau berlalu sebelum kembali ke atas.
Om Riyan masih di meja kerja. Kali ini aku masuk tanpa berharap dia langsung meninggalkan semua pekerjaannya. Aku duduk di depan meja rias dan melepas ikatan rambut yang sejak membuat kopi belum kubuka.
'Lehermu lebih enak?' tanyanya.
'Lumayan. Besok aku tidak menyetrika dulu.'
'Bagus.'
'Jangan bagus karena Om takut bajunya jadi aneh.'
'Om belum mengatakan soal baju.'
'Jaga-jaga.'
Dia tersenyum, lalu kembali menyelesaikan satu bagian pekerjaan. Aku membersihkan wajah dan bersiap tidur. Ketika kembali dari kamar mandi, laptop sudah ditutup.
Om Riyan berdiri. Dia mengambil bantal dari dekat tempat tidur, lalu melihat sofa di sudut kamar.
Aku mengikuti arah pandangannya. Tiba-tiba teringat beberapa malam ketika dia datang memelukku karena aku tidak bisa tidur. Aku memang menyukai rasa ditemani itu. Namun malam ini aku ingin tahu lebih dahulu, bukan baru mengerti sesudah ditarik mendekat.
'Om,' panggilku.
Dia menoleh sambil tetap memegang bantal.
'Malam ini Om mau tidur di mana?'