Mulutku terbuka. Aku menatap Om Riyan, lalu cangkir kopi di mejanya, kemudian kembali menatap wajahnya.
Ini aku salah membawa minuman atau bagaimana? Perasaan tadi yang kuambil dari dapur kopi, bukan surat undangan untuk membahas penduduk baru.
'Om, bisa nggak pertanyaannya jangan begitu?'
Senyumnya masih tersisa, tetapi tangannya perlahan lepas dari lenganku. Aku menarik lengan itu ke dekat tubuh sendiri, lalu berdiri agak jauh dari kursinya.
'Om cuma bercanda, Kay.'
'Aku tahu Om mau bercanda. Tapi aku bingung harus menjawab apa.'
'Ya dijawab saja.'
Aku mendelik. Om Riyan mengatupkan bibir, seperti baru sadar jawabannya tidak membantu. Laptop yang sejak tadi menyala akhirnya diturunkan sedikit layarnya.
'Maksud Om, kamu sama Mama sudah ngobrol sampai soal anak?'
'Belum. Mama mengajariku mencuci pakaian, bukan membuka pabrik bayi.'
Dia hampir tertawa. Aku mengangkat telunjuk.
'Jangan ketawa dulu. Aku serius.'
Om Riyan mengangguk, meskipun sudut bibirnya masih bergerak. Biasanya aku akan ikut tertawa, lalu membiarkan pertanyaanku terselip entah ke mana. Kali ini leherku yang masih pegal membuatku malas berpura-pura tidak keberatan.
Aku mengambil kursi di depan meja rias, menariknya mendekat, lalu duduk. Tidak terlalu dekat. Kalau nanti aku perlu berdiri, aku tidak mau harus melewati lututnya.
'Om bertanya karena aku bilang sudah bisa mengurus rumah?'
'Karena tadi kamu bilang istri yang baik selalu siap.'
Nah. Itu dia.
Aku memandangi cangkir yang kubuat dengan senang hati. Tadi, selama berjalan dari dapur, aku merasa seperti tokoh utama dalam iklan keluarga bahagia. Sekarang iklannya mendadak pindah saluran.
'Aku maksudnya siap membuat kopi.'
'Iya, Kay.'
'Dan kalau aku bilang ingin belajar jadi istri yang baik, bukan berarti aku sudah berani melakukan semua hal.'
Wajah Om Riyan mulai lebih serius. Dia bersandar, tetapi tidak kembali memandang laptop.
'Termasuk yang sejak awal kamu bilang belum siap?'
Aku mengangguk.
Rasanya malu sekali harus menyebut hal ini tanpa bersembunyi di balik selimut. Namun kalau aku hanya merengut, bisa-bisa dia mengira aku sedang menunggu dibujuk.
'Aku senang membuatkan kopi. Aku juga senang kalau Om suka. Tapi aku nggak mau habis itu Om menganggap aku sedang memberi tanda tertentu.'
'Om mengerti.'
'Jangan baru mengerti sampai kopinya habis, ya.'
Dia menunduk sebentar. Kali ini aku tahu dia menahan tawa karena kalimatku, bukan sedang menertawakan ketakutanku. Tetap saja, aku belum ingin ikut tertawa.
'Om nggak akan menganggap kopi ini sebagai persetujuan untuk yang lain.'
'Aku juga ingin kalau bertanya, dijawab benar.'
'Soal apa?'
'Hal yang belum kumengerti. Jangan semuanya dibuat lucu sampai aku tambah malu.'
Om Riyan mengangguk. 'Kamu boleh bertanya.'
'Bukan malam ini semuanya. Kepalaku sudah penuh.'
'Ya, tidak harus malam ini.'
Aku memperhatikan wajahnya, mencari senyum jahil yang biasanya datang sebelum dia menggodaku lagi. Tidak ada. Bahuku perlahan turun, dan aku baru sadar sejak tadi duduk seperti sedang menunggu disergap.
Lucu juga. Aku ingin mengenal suamiku, tetapi kadang justru takut pada percakapan yang membuat kami harus saling mengenal. Mungkin karena selama ini aku lebih siap membuatkan minum daripada mengatakan apa yang kurasakan.
Aku mengangguk, lalu mengusap tengkuk. Pegalnya terasa lagi setelah aku terlalu lama duduk tegak.
'Lehermu masih sakit?'
'Pegal. Tadi menyetrika.'
'Mau Om bantu pijit?'
Aku melirik tangannya. Tawaran itu sebenarnya terdengar enak, tetapi kepalaku sedang terlalu penuh untuk menerima sentuhan tanpa memikirkan pertanyaan berikutnya.
'Nanti saja. Sekarang aku mau ambil minum.'
'Di sini ada kopi.'
'Itu punya Om. Aku tidak mau semakin melek lalu berdebat sampai subuh.'
Aku berdiri. Om Riyan tidak menarik lenganku lagi. Hal kecil itu membuat langkahku sedikit lebih ringan ketika keluar kamar.
Di dapur, aku mengambil gelas sendiri dan mengisinya dengan air. Nampan tadi kutinggalkan di kamar, jadi kali ini aku tidak membawa apa-apa untuk orang lain.
Aku duduk di kursi meja makan. Rumah sudah lebih sepi. Dari tempatku, suara televisi terdengar samar, tetapi aku tidak ingin mencari siapa yang sedang menonton.
Aku cuma ingin minum tanpa sekaligus memikirkan bagaimana caranya menjadi istri yang tidak mengecewakan.
Nasihat Ayah terlintas lagi. Aku masih ingin menjadi pasangan yang baik untuk Om Riyan. Keinginan itu tidak hilang hanya karena aku kesal pada pertanyaannya. Tetapi aku juga tidak ingin tiap rasa takut dianggap sesuatu yang harus segera ditaklukkan supaya aku lulus.
Lulus SMA sudah. Masa menikah harus ujian susulan setiap malam?
Aku meneguk air, kemudian tertawa kecil sendiri. Kalau Om Riyan mendengar, mungkin dia akan mengira aku sudah tidak marah.
Padahal bisa saja seseorang masih kesal sambil merasa pikirannya sendiri lucu.
Aku mencuci gelas setelah isinya habis. Kali ini tidak ada gelas jatuh, tidak ada luka, dan tidak ada orang yang harus berlari menyelamatkanku. Aku memang masih belajar, tetapi bukan berarti semua yang kupegang pasti menjadi bencana.
Saat kembali ke kamar, Om Riyan sudah memindahkan cangkir menjauh dari laptop. Kue di piring belum disentuh.
'Kenapa nggak dimakan?' tanyaku.
'Menunggu kamu.'
'Om boleh makan tanpa aku mengawasi.'
'Om mau menawarkan. Kamu mau?'
Aku melihat kue, lalu mengambil satu. Kesal tidak termasuk alasan untuk menolak makanan yang kusukai. Itu pemborosan perasaan sekaligus camilan.
Aku kembali duduk. Om Riyan menunggu sampai aku selesai mengunyah sebelum bicara.
'Om minta maaf soal pertanyaan tadi.'
Aku menatapnya.
'Om ingin bisa bercanda sama kamu. Tapi kalau caranya membuatmu merasa ditagih, Om harus berhenti.'
'Aku tidak melarang Om bercanda.'
'Iya.'
'Aku cuma ingin kalau aku bilang belum siap, kalimat itu dianggap sungguhan. Bukan bagian dari permainan.'
Om Riyan mengangguk. 'Sungguhan.'
Aku menatap wajahnya lebih lama. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal, bukan hanya pertanyaan tentang Mama. Ini tentang bagaimana dia kadang tersenyum seolah semua ketakutanku akan menjadi lucu setelah aku tahu maksudnya.
Aku pernah ikut tertawa juga. Bahkan pernah merasa bodoh karena salah mengira. Namun sekarang, ketika tanganku sudah tidak ditahan, aku ingin menanyakan sesuatu yang dulu tidak sempat menjadi pertanyaan.
'Om, ingat waktu Om berganti celana di rumah yang dulu?'
Keningnya berkerut sebentar. 'Waktu kamu mengira Om nggak pakai apa-apa?'
Aku mengangguk. Pipiku menghangat, tetapi aku tidak menutup wajah.
'Om sebenarnya sudah pakai celana pendek. Aku tahu.'
'Iya.'
'Tapi sebelum aku melihatnya, aku bilang jangan memaksa.'
Om Riyan tidak langsung menjawab.
Aku meletakkan sisa kue di piring kecil, lalu menatapnya lagi.
'Kalau aku ternyata salah mengira, apakah itu berarti Om boleh menekan kepalaku supaya aku menurut?'