Cepat-cepat Rindu melepaskan rangkulan Zavin detik itu juga. Wajahnya panik luar biasa. Dia seperti seorang yang tertangkap basah oleh suaminya sedang selingkuh dengan pria lain.
"Re-Ren--"
"Jadi ini yang kamu lakukan selama ini?! Waw! Wanita yang aku sangka baik dan polos seperti kamu ternyata sangat liar dan menjijikan!" desis Rendra tak bisa lagi menahan amarah. Melihat tubuh istrinya disentuh oleh pria lain di tempat yang memang bisa dibilang menimbulkan pikiran negatif jika melihat perempuan dan laki-laki bersama di sini.
Kalimat terakhir yang dilontarkan suaminya menghantam tepat ke ulu hati seumpama batu besar dijatuhkan dari tempat yang tinggi kemudian menghantam diri, hancur. Selama 3 tahun pernikahan mereka, Rendra tidak pernah merendahkannya meski hanya sekata. Lalu sekarang? Ucapan yang tertuju padanya meluncur begitu saja dengan sangat ringan. "Aku tidak melakukan apapun--"
"Lalu apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rendra menatap tajam.
"Aku hanya bertemu dengan pembeli--"
"Jadi sekarang kamu berjualan? Menjual diri?!"
"Tutup mulutmu!" teriak Rindu murka. Lelehan air mata mulai berjatuhan tanpa diminta. "Tolong percaya padaku."
"Menurutmu siapa yang akan percaya?!" Tangisan istrinya sama sekali tak meluluhkan amarah Rendra yang sudah mencapai puncaknya. Ternyata ucapan miring Hesti tentang Rindu bukan isapan jempol belaka.
"Sebegitu benci kah kamu padaku, Ren, sampai menuduhku selingkuh padahal kamu yang ingin menikah lagi! Dirimu lebih menjijikkan!"
"Diam!" Rendra mengangkat tangan bersiap memukul istrinya. Namun secepat angin, Zavin menahan lengan yang begitu tidak tahu diri ingin melayang mendarat di pipi Rindu. "Jangan ikut campur!"
"Anda akan menyakiti seorang perempuan, bagaimana mungkin saya tidak ikut campur." Zavin mengempaskan kuat tangan Rendra setelahnya menarik Rindu untuk berada di belakangnya. "Kenapa Anda tidak mendengarkan lebih dulu penjelasan dari Rindu? Bukan lantas menghina tanpa dasar bahkan merendahkannya. Bukankah Rindu adalah istri Anda?"
"Kubilang jangan ikut campur!" Tinju kencang melayang begitu saja menghantam tepat ke ujung bibir Zavin. Seakan tak ingin menyiakan waktu, Rendra meraih kerah kemeja yang Zavin kenakan kemudian kembali melayangkan pukulannya bertubi.
"Bangun b******k! Jangan bisanya hanya jajan saja!" pinta Rendra ketika melihat Zavin terkapar.
Tak ingin dianggap remeh, Zavin membalas setiap pukulan Rendra bahkan lebih banyak dari yang ia dapat. Suara teriakan Rindu seolah angin lalu bagi keduanya. Para pria yang terbakar emosi itu saling melindungi harga diri masing-masing agar tidak dikalahkan lawan.
"Tolong! Bapak! Ren, sudah!" Tenggorokannya sampai serak karena berteriak berulang kali sejak tadi. Inginnya melerai, namun Rindu sadar kekuatannya tidak akan pernah sebanding apalagi dengan 2 orang pria sekaligus.
Masih dengan kepanikan yang kentara, Rindu memanggil pengunjung yang baru saja ke luar dari lift untuk dimintai tolong. Akhirnya Rendra dan Zavin berhasil dipisahkan oleh beberapa orang pria yang menahan mereka.
"Aku tidak akan melupakan pengkhianatan kalian! Camkan itu! Dan kamu!" Rendra menuding Rindu dengan telunjuknya. "Detik ini juga aku memberikan talak padamu!"
Rindu yang sudah tahu kalau Rendra ingin bercerai dengannya karena alasan akan menikah lagi pun mematung di tempat. Napasnya tercekat. Tak bisa dipungkiri, mendengar pernyataan itu dari mulut Rendra sendiri jauh lebih sakit daripada apa yang Hesti bicarakan beberapa hari lalu.
Hingga para pengunjung bubar pun Rindu masih terpaku tak bergerak. Rendra bahkan sudah meninggalkan keduanya, pergi entah ke mana. Zavin mendekati Rindu sembari meringis memegangi perutnya. Pria itu menyentuh pelan pundak Rindu merasa khawatir.
Detik itu juga Rindu luruh ke lantai tanpa aba-aba. Menangis keras sembari menutupi wajahnya. Tak ada yang bisa Zavin lakukan. Dia juga cukup terkejut dengan apa yang terjadi di sana. Pertemuan tiba-tiba yang mengundang salah paham antara mereka. Namun yang ia heran, kenapa Rendra begitu mudah menuduh yang bukan-bukan tanpa mau mendengarkan penjelasan?
***
Sudah hampir 30 menit lamanya Rindu menangis di dalam mobil yang telah terparkir di halaman rumah sakit. Ia mencoba menghentikan tangis namun yang ada air mata malah semakin deras membasahi wajah.
Zavin masih setia menemani sekaligus mengobati wajahnya yang babak belur. Sesekali tatapan pria itu tertuju pada Rindu yang tengah meratapi nasib. Jika dipikir-pikir kasihan juga, pikirnya. Rindu seorang diri mengurusi ibunya yang sakit, sementara keluarga suaminya satupun tak ada yang peduli. Miris.
Pria itu mengambil botol air mineral yang masih baru kemudian menyodorkannya ke belakang. "Minumlah dulu agar lebih tenang."
"Terima kasih, Pak." Rindu mengambil botol itu dan meneguk airnnya. "Saya sudah lebih baik, Pak. Lebih baik kita turun sekarang." Baru saja dia berkata begitu, isaknya sudah kembali terdengar.
"Baiklah. Kamu bisa istirahat di sini. Biar saya yang turun." Zavin merapikan kembali kotak p3k yang telah selesai ia gunakan. Pria itu sesekali meringis menahan sengatan yang terkadang timbul ketika otot wajahnya digerakkan.
"Tidak, Pak. Saya ikut turun juga." Rindu gegas memunguti bulatan tissue bekas yang ia gunakan untuk membersihkan wajahnya tadi.
Akibat bertemu Rendra tadi, Rindu sampai tidak jadi menelepon Doni untuk menanyakan proses persiapan ibunya. Apakah sudah selesai atau belum?
Rindu menoleh memerhatikan Zavin dari samping. Di wajah pria itu terlihat lebam biru juga sedikit luka. Rasa sedih sekaligus kesal kembali menyeruak. Sikap emosional Rendra sejak dulu memang tidak pernah berubah.
"Pak, saya minta maaf atas sikap suami saya tadi. Hmm. Saya ... saya yang akan mengganti semua kerugian dan biaya pengobatan Bapak." Rindu menunduk setelah mengucapkannya. Jujur saja dia merasa malu sekarang. Zavin sudah susah payah membantunya, tapi sebagai imbalan malah dibuat babak belur begitu.
"Kamu tidak akan masuk?" tanya Zavin. Bukan dari sampingnya, melainkan sudah berada di dalam lift. Rindu berlari ke dalam lift sembari merasa kebingungan. Rupanya karena menunduk terlalu dalam juga melamun panjang membuatnya tidak menyadari kalau lift sudah terbuka.
"Tidak perlu mengganti rugi apapun. Mungkin ini salahku yang merangkulmu secara tidak sengaja tadi." Zavin kembali meringis menyentuh bibirnya yang terluka.
"Itu sama sekali bukan salah Bapak. Sangat sakit, ya, Pak? Apa perlu diperiksa oleh dokter? Saya takut terjadi apa-apa," tutur Rindu khawatir.
"Tidak perlu, Ri. Laki-laki sudah biasa seperti ini. Dalam beberapa hari juga akan sembuh." Zavin ke luar lebih dulu dari dalam lift disusul Rindu di belakangnya.
Zavin pamit setelah memastikan Rindu sampai ke depan ruangan ibunya. Wanita itu masuk dan melihat ruang perawatan yang kosong. Kemudian Rindu bertanya pada suster jaga dan sedikit bernapas lega setelah diberi tahu kalau ibunya sedang dipersiapkan untuk keberangkatan.
Rindu memilih pulang untuk menyiapkan pakaian mereka selama pengobatan. Tak lupa memesan tiket keberangkatan sesuai yang sudah Doni sarankan. Belum lagi Rindu mencari tempat tinggal untuknya selama di sana. Wanita muda itu memilih menginap di hotel yang cukup murah, tapi letaknya dekat dengan rumah sakit.
"Surat-surat rumah untuk Pak Ridwan, koperku dan ibu, surat kesehatan dan surat penting, passport." Rindu mencentang tulisan setiap benda yang telah ia absen satu per satu.
Mungkin sebagian koper akan ia simpan di mobil yang dititipkan si rumah sakit. Hanya sebagian yang dibawa sesuai dengan kebutuhannya dan Ani. Rindu menarik napas dalam. Satu hal lagi yang menjadi beban pikirannya adalah mereka akan tinggal di mana setelah pulang nanti?
Dia menjatuhkan tubuhnya ke sisi ranjang hingga memantul. Menutup wajahnya mengembuskan napas frustasi. Rasanya Rindu hampir gila menghadapi semua masalah yang bermunculan.
Bunyi notifikasi pesan membuyarkan lamunan. Segera Rindu membuka pesan yang baru mendarat. Jantungnya seketika bergemuruh saat menatap rangkaian kalimat yang sama sekali tak pernah ia harapkan.
"Aku sudah mendaftarkan perceraian kita. Selamat! Kamu bebas bersama pria manapun yang membelimu!"
Tangisnya seketika pecah usai membaca pesan dari Rendra. Kenapa semesta seperti tak berpihak padanya? Dia sendirian dan butuh dukungan, tapi Rendra malah ikut menabur garam di hatinya yang sudah cukup terluka sebegitu dalam.
Bersambung...