Rindu terpaksa harus bolak-balik Indonesia-Singapura karena keputusan gila Rendra. Setelah memastikan kalau ibunya baik-baik saja dan bisa ditinggal, Rindu kembali ke tanah air untuk memenuhi surat panggilan dari pengadilan itupun dengan memberi alasan pada Ani kalau ia ingin mengambil berkas penting.
Panggilan kali ini adalah proses pengadilan yang terakhir. Prosesnya dipercepat karena Rindu telah 2 kali mangkir sebab sedang berada di Singapura. Setelah berpikir panjang, akhirnya Rindu memutuskan untuk memghadiri sidang terakhir ini.
Bukan tanpa alasan, ketidakhadirannya di kedua sidang malah membuat Rindu semakin terpojok. Rendra selalu menyindirnya dan mengatakan kalau orang bersalah sudah pasti tidak akan berani menampakkan wajah.
Belum lagi Hesti dan Wina mengoloknya di sosial media dengan memposting berbagai persiapan pernikahan. Sama sekali tidak menghargainya yang jelas-jelas masih sah berstatus sebagai istri dari Rendra Aditya.
Kali ini Rindu tidak akan diam lagi. Tekadnya sudah bulat untuk menceritakan semua yang terjadi di sidang ini. Dia bukan ingin mengajukan banding, sama sekali tidak. Hanya saja ketika sudah direndahkan dan tidak dihargai, maka telah tiba waktunya untuk membuka kebenaran.
Rindu sudah mengumpulkan bukti yang akan membuat Rendra tak berkutik karena sudah menuduhnya selingkuh dengan Zavin. Setiap mengingat hari itu rasanya dia ingin memukuli suminya seperti Zavin yang sudah melayangkan tinju bertubi pada wajah Rendra.
Entah merengek apa Rendra pada ibunya. Malam setelah kejadian itu, Wina menelepon dan langsung mencerca tanpa mendengar penjelasannya bahkan tak memberinya kesempatan bicara. Rindu baru menyadari kalau sifat pemarah dan emosional yang Rendra miliki menurun sempurna dari Wina.
Wanita yang sedang mengendarai mobil miliknya itu menoleh ke arah jok yang berada tepat di sampingnya. Di sana terdapat tas kecil berisi rekaman cctv yang ia dapat dari rumah sakit dan hotel. Itupun Rindu harus mengambilnya didampingi oleh pengacara agar mendapat izin tanpa dipersulit.
Sesampainya di depan pengadilan agama, Rindu langsung bergabung bersama pengacara untuk membicarakan hal yang akan dibahas. Meskipun hari ini adalah sidang putusan namun Rindu meminta waktu untuk menunjukkan bukti konkrit dan menghadirkan saksi.
"Mungkin setelah ini akan ada sidang lanjutan kalau Anda ingin menunjukkan bukti dan saksi, Bu," ucap pengacara pria berjas hitam, Hadi Handoko.
"Tidak masalah, Pak. Yang terpenting saya bisa membela diri dan menunjukkan kalau saya tidak salah. Itu saja sudah cukup." Rindu berucap tegas menatap Hadi sang pengacara.
Tiba saatnya jadwal mereka untuk masuk ke ruang pengadilan. Rindu dan Rendra duduk bersebelahan dengan pengacara sebagai pendamping.
"Akhirnya sang pengkhianat berani menampakkan diri," ujar Rendra sinis. Keduanya saling menoleh menatap tajam. Tak biaa dipungkiri selain benci dan sakit, terlihat juga sedikit binar cinta dari sorot keduanya.
"Tentu saja. Berani berkhianat, berani datang." Secara tidak langsung Rindu mengakui tentang pengkhianatan yang Rendra tuduhkan padanya. Biar suaminya sendiri yang berpikir apakah ia bersalah atau tidak.
Hakim ketua mengetuk palu tanda sidang telah dibuka. Pria berumur 50-an yang berada di samping hakim ketua lantas berdiri kemudian menjelaskan tentang hasil dari 2 sidang sebelumnya di mana Rendra telah menyatakan kalau Rindu berselingkuh dengan pria lain, memakai uang Rendra untuk berfoya-foya dengan pria selingkuhannya padahal dana itu diberikan untuk membantu melunasi biaya operasi, menandatangani surat gugatan cerai secara mendadak dan pergi dari rumah tanpa izin. Semua itu adalah alasan Rendra ingin menceraikan Rindu.
Rindu tercengang bukan main mendengar semua tuduhan Rendra kepadanya. Sebegitu inginkah Rendra bercerai sampai harus memutarbalikkan fakta yang semuanya pun bukan kebenaran.
"Sebab tergugat meminta waktu kepada pengadilan untuk membantah tuduhan dari penggugat, untuk itu pengadilan mengizinkan tergugat untuk menyanggah argumen dari penggugat," persilakan hakim pada Rindu dan pengacara.
"Saya mengajukan keberatan atas empat tuduhan tersebut!" ujar Rindu lantang dengan amarah yang berkobar.
Semua mata tertuju pada Rindu seketika, terutama Rendra. Pria itu mendengkus memutar bola matanya malas. Menurutnya bukti sudah terlihat jelas, tapi istrinya masih saja ingin membela diri.
"Baik. Silakan jelaskan alasan Anda," kata hakim memberi izin.
Rindu menjelaskan sesuai kenyataan yang terjadi. "Saya tidak mempunyai hubungan apapun dengan pria manapun. Kedua, memang benar kakak ipar saya memberikan sebuah kartu debit untuk melunasi biaya operasi, tapi saya tidak pernah mengurangi nominalnya sedikitpun karena Rendra memberi syarat agar kami berpisah jika saya menggunakannya."
"Itu semua bohong!" tepis Rendra marah. Dia sama sekali tidak pernah memberikan syarat semacam itu. Dirinya tulus membantu biaya operasi Ani selaku mertuanya, tapi malah berakhir dengan diceraikan oleh Rindu. Siapa yang tidak sakit diperlakukan seperti itu? "Saya tidak pernah memberikan syarat apapun--"
"Tapi kak Hesti sendiri yang berkata padaku!" Suami-istri itu saling menatap tajam penuh emosi. Baik Rendra dan Rindu sedang meresapi rasa sakit yang tercipta mengingat kejadian beberapa minggu lalu yang merobek hati keduanya.
Ketukan palu dari hakim ketua memutus tatapan sepasang manusia yang tengah terluka itu dan kembali fokus pada persidangan. "Silakan lanjutkan pembelaan Anda, saudari Rindu."
Rindu mengangguk kemudian menarik napasnya dalam guna menenangkan diri. "Saya tidak menandatangani surat gugatan cerai, Pak hakim. Kak Hesti memberikan kepada saya surat cerai dari Rendra setelah memberikan kartu debit. Kemudian saya mengirimi Rendra pesan untuk menanyakan kebenarannya dan--" Mendadak napasnya tercekat mengingat pembenaran yang Rendra berikan bahwa memang surat itu memang darinya.
"Maaf, Pak hakim. Sepertinya klien saya tidak bisa melanjutkan pembelaan. Bisakah saya yang mewakilkan?" tanya Hadi sopan pada hakim ketua.
Rindu yang terlihat emosional membuat hakim ketua mengizinkan pengacara pendampingnya untuk angkat bicara. "Baiklah, silakan."
"Kami mempunyai bukti kalau saudara Rendra membenarkan bahwa surat cerai yang saudari Hesti bawa memang sengaja penggugat kirim melalui perantara saudari Hesti untuk ditandatangani oleh saudari Rindu jika ingin memakai uang pemberiannya." Hadi membuka amplop coklat dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi percakapan antara Rendra dan Rindu beberapa minggu lalu. Meminta izin pada hakim ketua untuk menunjukkan bukti itu.
Rendra mengerutkan kening di tempatnya mendengar ucapan Hadi. Tatapannya beralih pada Rindu yang sedang menyeka air mata menggunakan sapu tangan. Sontak saja Rendra mengepal mengingat Rindu tidak pernah mempunyai sapu tangan. Itu pasti sapu tangan laknat dari pria selingkuhan istrinya, pikir Rendra. Pria itu melengos merasa muak bersamaan gemuruh dalam d**a.
Hadi memberikan Rendra selembar kertas berisi percakapan pesan keduanya dalam sebuah chat room. Pria itu mengerutkan kening tampak tak mengenali rentetan pesan saling berbalas di depannya.
"Drama apa yang kamu buat ini?" tanya Rendra menatap tajam.
"Baca bukti pesan itu menggunakan mata, bukan emosi," tutur Rindu berisi sindiran. Jelas-jelas dalam kertas itu tertera tanggal bahkan jam.
"Saya mengajukan keberatan atas bukti ini, Pak hakim. Saya merasa tidak pernah melakukan obrolan pesan seperti tertera di sini." Rendra mengangkat kertas bukti menegaskan kalau dirinya sama sekali tidak tahu atas percakapan 2 arah yang ada di dalam chat room tersebut.
"Jelas saya akan membela, Pak. Di dalam percakapan itu terlihat jelas nama kontak yang saya simpan dalam ponsel yaitu suami saya. Bahkan kami melakukan obrolan melalui telepon dan Rendra juga membenarkan hal saya tuduhkan tadi bahwa dia memang mengirimkan surat cerai itu melalui Hesti." Rindu kembali bersuara. Bukti kuat membuatnya lebih percaya diri.
Hadi berdiri dan menatap Rendra mengintimidasi. "Apakah benar saudara Rendra, Anda dan tergugat melakukan panggilan telepon seusai berbalas pesan di mana artinya waktu itu masih di jam yang sama dan hari yang sama tentunya." Hadi melemparkan pertanyaan menohok yang membuat Rendra cukup panik. "Jadi jawabannya, saudara Rendra?"
Rendra saling bertukar pandang dengan pengacaranya, Dina Kania. Wanita itu berbisik untuk jangan melakukan pembohongn sekecil apapun. "Be-benar. Saya dan Rindu sempat mengobrol lewat telepon di jam itu. Tapi karena keadaan saya sedang berada di luar dan terjebak macet menjadikan komunikasi kami sedikit terganggu."
"Izinkan saya memberikan bukti berupa isi percakapan yang ada dalam chat room ponsel milik saudara Rendra, Bapak hakim," pinta Dina selaku pengacara Rendra. Wanita itu memberikan benda pipih itu pada hakim untuk dilihat. "Di sana sama sekali tidak ada percakapan apapun seperti yang tertera pada bukti."
"Saya juga akan menunjukkan percakapan pesan kami, Pak." Rindu gegas mengeluarkan ponselnya untuk diberikan pada Hadi.
"Di sana percakapan tertulis jelas dan persis seperti apa yang telah klien saya cetak." Hadi meyakinkan bahwa bukti yang ia bawa memang benar-benar nyata. Bukan manipulasi.
Terlihat hakim dan hakim anggota berdiskusi membandingkan 2 ponsel yang berbeda isi percakapannya di tangan mereka. "Ini aneh. Kenapa percakapan antara dua ponsel ini berbeda?"
"Karena saudara Rendra sudah bilang bahwa memang tidak ada percakapan seperti yang tertera," ujar Dina.
"Boleh saya melakukan panggilan antara salah satu ponsel tersebut, Bapak hakim?" tanya Hadi yang ingin memberikan bukti lebih pasti lagi. Dia mengambil 2 ponsel itu dan melakukan panggilan. Tak lupa menunjukkan pada semua orang ketika gawai milik keduanya saling memanggil dan menerima. "Lihat. Ini adalah nomor yang sama dengam kontak yang disimpan. Tersambung."
Hadi kembali menghadap pada hakim. "Jadi intinya, Bapak hakim yang terhormat. Saudara Rendra telah menghilangkan barang bukti berupa percakapan di mana penggugat memang mengirimkan surat cerai terhadap tergugat melalui perantara kakaknya sendiri."
"Tapi sungguh saya tidak melakukan percakapan seperti terlampir, Pak." Rendra tetap mempertahankan keyakinannya sembari kembali mengingat setiap detil yang terjadi di hari itu.
Sementara Rindu berulang kali menarik napasnya menyiapkan diri atas 3 tuduhan yang belum dia buktikan. Jalannya masih panjang.
Bersambung...