"Kamu hanya punya sedikit waktu. Surat yang dibutuhkan sudah saya siapkan. Kami hanya menunggumu saja melunasi semuanya. Saya percaya kamu bisa. Semoga berhasil, Ri," semangati Doni sebelum dokter itu berlalu.
Rindu tampak sibuk dengan gawainya berharap bisa mendapatkan pinjaman singkat dari beberapa kenalan. Salahnya memang, sejak awal tidak mendaftarkan Ani agar mempunyai fasilitas kesehatan jika hal seperti ini terjadi. Sekarang Rindu benar-benar harus mencari jalan ke luar sendiri supaya secepatnya bisa membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit.
Sudah satu jam namun sama sekali tidak ada yang bisa meminjaminya senilai yang ia butuhkan. Memutar otak, Rindu memutuskan untuk menjual peninggalan almarhum ayahnya yang masih tersisa, rumah di mana selama ini ibunya tinggal. Tidak ada jalan lain. Selain biaya operasi, ada biaya-biaya lainnya yang harus ia keluarkan salah duanya tiket pesawat dan tempat tinggal selama pengobatan dilakukan.
Berbekal kenalan para kolega di kantor Rendra, Rindu menelepon mereka satu per satu. Terhitung sudah 6 orang yang coba ia tawarkan, namun ke semuanya menolak dengan berbagai macam alasan.
"Bapak serius ingin membelinya?!" pekik Rindu hingga berdiri dari kursi tunggu sedang kedua retinanya membola sangking merasa senang.
Senyum lebar tak bisa menolak terbit saat sang penelepon membenarkan pertanyaan Rindu. Namun lengkungan itu tak bertahan lama setelah calon pembeli menyebutkan harga yang jauh dari nominal yang Rindu tawarkan. Keduanya terlibat tawar-menawar yang cukup sengit hingga akhirnya panggilan diputuskan dari sebrang.
"Hallo?" Rindu menatap layar ponselnya yang tak lagi menyala karena panggilan terputus. Wanita itu mengembuskan napas berat saat harus menelan kecewa karena meski sudah dijelaskan untuk membayar biaya rumah sakit pun lawan bicaranya tetap tidak mau mengerti.
"Ehem!" Sontak saja Rindu terperanjat bukan main mendengar deheman yang berasal dari sampingnya. Dia seketika memegangi d**a yang berdetak cepat juga menutup mata tanda terkejut.
"Bapak!" serunya mendelik kesal. "Untung jantung saya tidak copot!"
"Maafkan saya," kata Zavin. "Tadi saya mendengar sedikit percakapan kamu. Kalau boleh, izinkan saya membantu."
Raut wajah Rindu mendadak melemah mendengar tawaran Zavin. Meski merasa sedikit malu karena pembicaraannya didengar, tapi Zavin yang menawarkan bantuan tak urung membuatnya berpikir. "B-bapak bisa membantu saya?" tanya Rindu sungkan. Mereka baru saja kenal dan Zavin mau menolongnya untuk kedua kali.
Zavin mengangguk. "Benar. Saya ada kenalan seorang yang suka mengoleksi rumah. Kalau beruntung, mungkin beliau akan mau membeli rumah kamu. Mau coba?"
Tak langsung menjawab, Rindu tampak berpikir. Bagaimanapun mereka baru saja kenal. Benarkah Zavin orang yang bisa dipercaya? Masalahnya ini menyangkut keselamatan nyawa ibunya. Namun bila dipikir lagi, jika Zavin jahat, tidak mungkin waktu itu mengembalikan tas miliknya yang tertinggal di meja kantin.
"Bagaimana? Bukankah waktumu tidak banyak?" tanya Zavin membuat Rindu terjaga dari lamunannya.
Rindu ingin banyak bertanya tentang hal yang menurutnya janggal di sini. Namun tentu saja harus menahan karena ibunya lebih penting. "Iya, Pak. Saya setuju." Dia meyakinkan diri kalau Zavin adalah pria baik yang tulus menolongnya.
"Baiklah. Saya akan menghubungi beliau. Semoga saja sedang berada di dekat sini." Zavin merogoh saku celana untuk mengambil gawai. Lantas melakukan telepon pada orang yang ia tuju. Tak lama. Zavin mengajak Rindu gegas ke parkiran. Rencananya mereka akan mengendarai mobil Zavin untuk menemui calon pembeli.
Rindu menatap ragu ke arah spion tengah di mana pantulan wajah rupawan Zavin terlihat. Saat pria itu menawarinya untuk duduk di seat depan, Rindu menolak dengan alasan dirinya adalah wanita yang bersuami.
"Kenapa melihat saya terus?" Rindu lantas mengalihkan pandangannya. "Ada yang ingin kamu bicarakan?" Zavin membelokkan kendaraannya ke kana.
"Hmm. Itu ...." Pertanyaan yang telah diujung lidah mendadak menguap entah ke mana setelah Rindu menyadari kalau mobil milik Zavin memasuki pelataran hotel. "Kenapa kita ke hotel, Pak?!" tanya wanita itu panik dengan mata yang membesar.
Zavin menatap Rindu lewat spion tengah. "Kenapa? Kamu berpikiran buruk tentang saya?"
"Bu-bukan begitu ...." Rindu bingung harus menjelaskannya seperti apa. Namun jujur saja beberapa pikiran buruk terlintas dalam benaknya.
"Kenalan saya sedang ada urusan penting di sini. Untungnya sedang tidak berada di rumah atau kita akan memerlukan banyak waktu untuk bolak-balik. Ayo turun," ajak Zavin melepas seatbelt. Tak lupa dia juga membukakan pintu untuk Rindu yang masih terlihat ragu.
Keduanya berjalan cepat menelusuri hotel hingga tiba di depan kamar yang Rindu yakini merupakan presidential suite karena terletak di lantai tertinggi. Hatinya semakin merasa tak karuan menatap pintu coklat di depannya. Rasa curiga semakin kentara saat seorang wanita seksi baru saja ke luar dari kamar tersebut.
Kini kedua tangan Rindu gemetar, timbul bulir keringat di dahi hingga menelan saliva pun payah. Rasanya dia ingin kabur saja, tapi kepercayaannya pada Zavin juga masih ada.
"Mau mencari Mas Ridwan, ya?" tanya wanita muda nan seksi itu pada Zavin. Ia mengenakan dress selutut yang merah menyala senada lipstik yang dikenakan. Suaranya dibuat manja dengan tangan yang tak berhenti memilin ujung rambutnya.
"Benar. Apa Pak Ridwan ada di dalam? Saya dan teman saya sudah melakukan janji temu tadi." Rindu sedikit kagum karena Zavin masih bersikap tenang seperti biasa meski di hadapannya tersaji wanita yang menggugah gairah.
"Ada. Silakan masuk." Wanita itu menyingkir membuka lebar pintu kamar. Rindu dan Zavin masuk ke dalam dengan tergesa. Waktu yang diberikan oleh Doni semakin menipis.
Terlihat pria gemuk dengan perut buncit yang tengah duduk bersantai sembari membaca koran di ruang tengah. Zavin segera menyalami pria itu kemudian Rindu pun melakukan hal yang sama.
Zavin bertindak sebagai pembicara antara Rindu dan Ridwan. Pria itu menjelaskan tujuannya datang dan keperluan mendesak yang sedang Rindu alami. "Anda bisa melihat foto rumahnya lebih dulu, Pak." Zavin menatap Rindu untuk menunjukkan foto rumah yang ia minta.
"Oh. I-iya, sebentar, Pak." Gegas Rindu mengeluarkan ponselnya dari tas, mencari room chatnya dengan tetangga yang ia mintai tolong untuk mengirimkan foto rumahnya.
Ridwan tampak serius menatap satu per satu foto. Pria itu menyimpan ponsel Rindu di atas meja kemudian bertanya, "Kalau saya bersedia membeli rumah ini, apa kalian bisa menunjukkan surat-surat resminya?"
Sontak saja pertanyaan itu membuat Rindu dan Zavin bertukar pandang. Mereka sudah menduga hal ini sebelumnya, tapi mengambil surat-surat rumah akan menghabiskan waktu selama perjalanan.
"Kami memang tidak membawa surat-suratnya sekarang, Pak. Tapi--"
"Kalau begitu mohon maaf, saya tidak bisa membeli rumah yang kalian tawarkan. Padahal saya cukup suka dengan desain rumah milik Mbak Rindu itu. Tapi jujur saja saya juga cari aman, Vin," jelas Ridwan tanpa menutupi. Harga yang ditawarkan memang setara dengan bangunan serta luas tanah.
Dari yang Rindu jelaskan, hunian itu terletak di daerah strategis yang memudahkan akses ke beberapa tempat seperti rumah sakit terdekat, bandara bahkan mall. Hanya satu kekurangannya, Rindu tidak bisa menunjukan surat-surat resmi kepemilikan tanah dan bangunan.
"Begini, Pak. Bagaimana kalau kita membuat surat kesepakatan lebih dulu? Bapak bisa membayar rumah itu dengan nominal yang kami butuhkan. Sementara sisanya, bisa dikirim setelah seluruh surat berada di tangan Anda," usul Zavin mengambil jalan tengah.
"Atau ... atau kita bisa membuat rekaman suara dan video sebagai bukti, Pak. Kalau perlu Bapak bisa menahan KTP saya sementara," timpal Rindu ikut memberi solusi. Harap-harap cemas, Rindu meremat jemari tangannya sendiri. Waktu yang semakin merangkak naik membuatnya gelisah.
"Selain itu saya juga butuh jaminan lain," kata Ridwan setelah lama berpikir. Tetap keamanan adalah yang utama baginya.
"Baik. Saya yang akan menjamin." Rindu seketika menoleh menatap Zavin di sampingnya. Pria itu sekarang terlihat seperti pangeran berkuda putih yang menyelamatkannya dari segala kesulitan.
Ridwan terkekeh mendengar ucapan Zavin. "Itu lebih baik, Vin. Kalau memang ada apa-apa, aku bisa mengambil alih sebagian bisnismu, 'kan? Baiklah. Deal?!"
Rindu gelagapan saat tangan pria 40-an itu mengulur padanya. Zavin memberi tanda untuk membalas uluran tangan Ridwan. "Oh. Deal. Terima kasih, Pak, sudah percaya pada kami."
Zavin membuat 2 surat kesepakatan yang akan ditandatangani oleh mereka bertiga. Zavin juga meminta pada Ridwan untuk langsung saja mengirimkan uang pada rekening rumah sakit.
"Baiklah, Pak. Kami permisi. Terima kasih sudah percaya pada kami." Zavin mengulurkan tangan yang langsung diterima oleh Ridwan.
Mereka menyudahi pertemuan setelah kedua belah pihak merasa sama-sama aman. Rindu dan Zavin pamit detik itu juga. Meski Ridwan menawarkan makan dan minum pada mereka, namun Zavin menolak secara halus dengan alasan ada hal penting.
"Sekali lagi terima kasih, ya, Pak, sudah membantu saya sampai sejauh ini. Saya tidak akan melupakan jasa Bapak pada saya," ucap Rindu dengan mata berembun. Mereka berdiri bersampingan di depan pintu lift yang belum terbuka.
"Sama-sama, Ri. Saya hanya membantu mempertemukan kamu dengan Pak Ridwan saja. Semoga semuanya berjalan lancar," harap Zavin sungguh-sungguh.
Rindu mengangguk pelan mengharapkan hal yang sama. Kini dia bisa mengembuskan napas lega karena sudah berhasil melunasi seluruh biaya pengobatan. Rencananya sisa pembayaran rumah akan ia tabung untuk pengobatan pasca operasi.
"Pak, saya ingin menelepon dokter Doni dulu." Rindu meletakkan ponselnya di telinga setelah menekan tombol hijau tanda memanggil.
Pintu lift terbuka dan menampilkan beberapa orang di dalamnya. Zavin menyingkir memberi jalan agar mereka bisa segera masuk. Pria itu menarik tubuh Rindu yang hampir ditabrak oleh pengunjung lain yang akan masuk lift hingga posisi mereka kini sangat dekat karena Zavin merangkul bahu wanita muda itu.
"Rindu!" pekik menggelegar mengudara dari seorang pria yang baru saja ke luar dari lift dengan raut marah sekaligus tatap nyalang. Rendra.
Bersambung...