Sepekan kemudian, setelah kunci rumah Pangestu diserahkan, Wina dan Hesti pindah ke tempat sewa yang telah dipilih, dan perlengkapan usaha yang dipertahankan ditata ulang, Rendra membuka pintu ruang kerja kecilnya tanpa menemukan deretan kursi menunggu perintah.
Yang tersisa tidak banyak. Beberapa pekerjaan lama masih dapat dijalankan dalam batas kemampuan, tanpa mendahulukan janji keuntungan yang belum ada. Rendra duduk di meja sederhana dan memeriksa biaya sebelum menyetujui satu pekerjaan.
Teleponnya berdering. Ia mendengarkan tawaran di seberang, mencatat kebutuhan yang disebutkan, lalu melihat kembali dana yang tersedia.
'Saya tidak bisa mengambil semuanya sekaligus,' katanya. 'Bagian yang sanggup kami kerjakan akan saya kirimkan dengan rinci. Kalau itu tidak sesuai kebutuhan Anda, saya memahami.'
Ia menutup telepon dengan perasaan yang dulu selalu diartikannya sebagai kegagalan. Kesempatan telah dibatasi oleh jawabannya sendiri. Namun, tidak ada uang kebutuhan rumah yang harus disembunyikan malam nanti agar janji pagi ini tampak masuk akal.
Rendra menulis ulang pembagian biaya. Usaha kecil itu bukan jaminan hidup tanpa kesulitan. Ia hanya tidak lagi dibangun di atas kebohongan bahwa kesulitan selalu boleh dipindahkan kepada orang lain.
Menjelang siang, ia singgah ke tempat Wina dan Hesti. Pintu dibuka Hesti yang masih memegang kain lap.
'Jangan lihat dapurnya. Belum rapi.'
'Aku datang melihat Ibu, bukan memeriksa dapur.'
Wina duduk di kursi yang mereka bawa dari rumah lama. Di dekatnya hanya ada satu kotak foto, bukan lemari pajangan.
'Kamu makan dulu?' tanyanya.
'Sebentar lagi saya menemui Rindu.'
Hesti meletakkan kain lap. Wina melihat wajah putranya.
'Apa hari ini kamu akan meminta dia menikah lagi?'
'Saya akan bertanya, Bu. Dia masih boleh mengatakan belum.'
Wina mengusap sisi kursi.
'Ibu ingin datang kalau nanti diizinkan.'
'Saya akan mengatakan keinginan Ibu. Tapi jangan membeli apa-apa dulu.'
'Ibu tidak akan mengatur acaranya.'
Hesti menarik kursi untuk dirinya sendiri.
'Aku juga tidak akan memilihkan pakaian atau tamu,' katanya. 'Kalau ada yang perlu dibantu, tanyakan.'
Rendra memandang kakaknya, lalu ibunya. Perubahan mereka belum membuat rumah kecil itu selalu tenang. Tadi pun Hesti mengeluhkan ruang penyimpanan. Tetapi keluhan tersebut tidak lagi disusul perintah agar Rindu mengorbankan sesuatu.
'Saya akan menyampaikan,' jawabnya.
***
Rindu menunggu di rumah Ridwan bersama Ani. Di meja terdapat catatan mengenai dua tempat sewa yang telah dilihatnya bersama Sarah selama pekan itu. Rendra sudah mengetahui pilihannya, tetapi keputusan akhir belum dibuat.
'Aku lebih nyaman dengan yang ruangannya tidak bertingkat,' kata Rindu setelah Rendra duduk. 'Ibu tidak perlu naik turun. Biayanya juga masih di bawah batas yang kita bicarakan.'
'Aku setuju.'
'Jangan setuju hanya supaya kita cepat membicarakan pernikahan.'
Rendra tersenyum tipis. 'Aku sudah memeriksa pengeluarannya lagi. Kita bisa menanggungnya jika tidak menambah barang yang belum perlu.'
Ani menatap denah sederhana yang dibuat Rindu.
'Ibu punya kamar sendiri?'
'Punya, Bu.'
'Dan kalian tidak menjadikan merawat Ibu sebagai janji yang nanti saling dilempar?'
Rendra menjawab lebih dahulu.
'Kami membagi yang bisa kami lakukan. Kalau membutuhkan bantuan, kami bicarakan. Saya tidak akan menyebut Ibu sebagai urusan Rindu saja.'
Rindu merapatkan buku itu. 'Aku juga akan mengatakan kalau kelelahan.'
Ani memandang keduanya, kemudian menyandarkan punggung.
'Kalau begitu, Ibu mendengarkan yang berikutnya.'
Rendra tidak berlutut atau mengeluarkan perhiasan mahal. Ia memandang Rindu dengan kedua tangan terbuka di atas meja.
'Ri, aku ingin menikah denganmu lagi. Bukan meneruskan pernikahan yang sudah berakhir. Aku ingin membangun yang baru, dengan hal-hal yang sudah kita sepakati.'
Rindu menatap tangannya, lalu wajahnya.
'Aku masih akan bertanya kalau ada yang membuatku khawatir.'
'Aku akan menjawab.'
'Aku mungkin mengingat sesuatu yang menyakitkan saat kamu merasa hari kita sedang baik.'
'Aku tidak berhak menentukan kapan ingatanmu harus berhenti.'
'Aku tidak bisa berjanji selalu mudah diajak hidup.'
'Aku juga tidak. Tapi aku tidak akan menjadikan itu alasan untuk merendahkanmu.'
Rindu menelan ludah. Ani menunggu tanpa menyisipkan restu sebelum putrinya menjawab.
'Aku mau, Ren.'
Rendra memejamkan mata sesaat. Ketika membukanya, air mata sudah menggenang.
'Terima kasih.'
'Aku memilih ini,' kata Rindu. 'Bukan karena kasihan melihatmu kehilangan rumah. Dan kalau kita berselisih nanti, jangan membuatku merasa bersalah karena pernah memilih.'
'Tidak, Ri.'
Rindu mengulurkan tangan lebih dahulu. Rendra menggenggamnya sebentar, lalu melepaskannya ketika Ani mengulurkan tisu.
'Air matanya diseka dulu sebelum membicarakan tanggal,' kata Ani.
Mereka tertawa kecil, dengan suara yang masih bergetar.
Persyaratan yang selama pekan itu telah mereka cari tahu dan siapkan diperiksa kembali. Perceraian terdahulu tidak disembunyikan, dan akad baru tidak dianggap sekadar ucapan untuk menyatukan kembali dua orang. Mereka memilih enam hari kemudian, setelah kesiapan penyelenggaraan dan pihak yang diperlukan dipastikan, dengan acara kecil di rumah yang sedang ditempati Rindu atas izin Ridwan serta Sarah.
Rindu mengizinkan Wina dan Hesti hadir.
'Sebagai keluarga yang datang,' katanya, 'bukan orang yang mengambil alih keputusan.'
Rendra menerima batas itu tanpa menawar.
***
Sore harinya, Ridwan dan Sarah datang membicarakan kebutuhan acara. Rindu meminta hanya hal yang sederhana dan nyaman bagi Ani. Doni akan diundang sebagai orang yang mendampingi perjalanan perawatan ibunya, bukan diminta mengawasi pesta panjang.
Ketika pembicaraan beralih kepada Zavin, Rindu diam sebentar.
'Saya ingin mengundangnya. Tapi saya tidak mau undangan itu seperti permintaan agar dia membuktikan sudah rela.'
Ridwan meletakkan catatannya.
'Sampaikan bahwa dia boleh tidak datang. Setelah itu, biarkan jawabannya milik dia.'
Rendra duduk di sebelah Ani. Ia tidak meminta Zavin dijauhkan untuk mengamankan kebahagiaannya sendiri.
Rindu mengirim pesan singkat. Ia menyampaikan rencana akad, menyebutkan bahwa Zavin tidak perlu menjawab segera, dan menegaskan bahwa ketidakhadirannya akan dihormati. Ia tidak menambahkan permintaan agar hubungan mereka tetap sama.
Menjelang malam, balasan masuk. Zavin mengatakan akan mempertimbangkannya dan memberi kabar sendiri.
Rindu meletakkan ponsel tanpa mengirim pertanyaan lanjutan.
Di atas meja, Sarah menyodorkan daftar kebutuhan acara yang telah dipangkas. Rindu membacanya bersama Rendra, lalu mencoret satu hiasan yang sebenarnya tidak mereka perlukan.
'Yang ini tidak usah,' katanya.
Rendra mengambil pena yang diberikan kepadanya.
'Baik. Kita sisakan yang benar-benar ingin kita bawa.'