Rendra mencoret hiasan itu, kemudian mengembalikan daftar kepada Sarah. Mereka menutup pembicaraan malam tersebut tanpa menambah tamu atau janji yang tidak sanggup dipenuhi.
Enam hari kemudian, Rindu duduk di depan cermin kecil ketika Ani merapikan bagian bahu pakaiannya. Rumah Ridwan dan Sarah tidak berubah menjadi tempat pesta besar. Kursi disusun secukupnya, jalan menuju kamar Ani dibiarkan lapang, dan makanan disiapkan tanpa keinginan membuat siapa pun terkesan.
'Kamu gugup?' tanya Ani.
'Iya, Bu.'
'Mau duduk lebih lama?'
'Sebentar saja.'
Ani berhenti merapikan pakaian dan duduk di sebelah putrinya.
'Ibu tidak akan mengatakan kali ini pasti tidak ada kesulitan.'
'Aku tahu.'
'Tapi Ibu melihat kamu tidak lagi menyembunyikan suaramu.'
Rindu meraih tangan ibunya. 'Kalau nanti aku lupa, ingatkan.'
'Ibu akan mengingatkan. Bukan memutuskan.'
Dari luar terdengar Sarah memberi tahu bahwa semuanya sudah siap. Rindu berdiri, lalu membantu Ani berjalan bersamanya. Di ruang depan, Rendra menunggu dengan pakaian sederhana. Wina dan Hesti duduk berdekatan, sementara Doni berbincang pelan dengan Ridwan.
Tidak ada yang meminta Rindu tersenyum lebih lebar.
Ketika proses akad dimulai, ia mendengarkan dengan sadar bahwa pernikahan lama mereka memang telah berakhir. Dokumen dan persyaratan pernikahan baru telah dipenuhi. Di hadapan pihak yang menjalankan akad serta para saksi, Rendra mengucapkan penerimaannya dengan suara yang sempat bergetar, lalu menjadi jelas.
Pengesahan akad terdengar. Ani menyeka air mata. Sarah merangkul bahunya dengan hati-hati, dan Doni mengulurkan tisu tanpa membuat perhatian semua orang beralih kepada kesehatan Ani.
Rendra baru mendekati Rindu setelah diminta duduk di sisinya.
'Ri.'
Rindu menoleh.
'Aku tidak akan meminta kamu melupakan jalan sampai ke sini.'
'Kalau begitu, jangan berjalan terlalu jauh di depanku.'
Rendra mengulurkan tangan. Rindu menyambutnya.
'Kita saling memberi tahu kalau langkahnya tidak sama,' katanya.
Wina berdiri setelah mereka menyapa Ani. Ia tidak menarik Rindu ke pelukan tanpa menunggu. Kedua tangannya terulur, dan Rindu menerimanya.
'Ibu dulu melukaimu dengan ucapan tentang anak dan keadaan ibumu,' kata Wina lirih. 'Ibu tidak berhak mengukur nilai dirimu dengan itu.'
Rindu menatap wajah yang pernah membuatnya takut pulang.
'Saya tidak ingin mendengar ucapan itu lagi, Bu.'
'Tidak akan Ibu gunakan lagi.'
Hesti berdiri di samping ibunya.
'Aku juga tidak akan ikut menentukan hidup kalian,' katanya. 'Kalau aku mulai melakukannya, kamu boleh menghentikanku.'
'Aku akan mengatakan,' jawab Rindu.
Tidak ada pelukan panjang yang menghapus seluruh masa lalu. Mereka duduk dan makan bersama, membiarkan kesopanan yang sederhana menjadi sesuatu yang harus terus dijaga setelah hari ini.
***
Zavin tiba ketika tamu mulai menikmati makanan. Ia sudah memberi kabar kepada Rindu pada pagi hari bahwa dirinya akan datang sebentar. Tidak seorang pun menunggu kedatangannya sebagai syarat lengkapnya acara.
Rindu berdiri ketika melihatnya di dekat pintu.
'Terima kasih sudah datang, Pak.'
'Selamat, Ri.'
Zavin menyalami Rendra. Genggamannya singkat dan tenang.
'Semoga kalian menjaga yang sudah dipilih.'
'Terima kasih,' jawab Rendra. 'Sudah datang atas keinginan Anda sendiri.'
Zavin tersenyum tipis. 'Memang begitu.'
Ia menyapa Ani, kemudian duduk sebentar bersama mereka. Tidak ada pembicaraan tentang siapa yang lebih pantas mendapatkan Rindu. Ketika Sarah menawarkan makanan, ia menerima porsi kecil dan menanyakan keadaan rumah baru mereka.
'Tempat sewa sederhana, Pak,' jawab Rindu. 'Kami mulai menempatinya hari ini. Ibu ikut bersama kami.'
'Semoga nyaman.'
Rindu mengambil map tipis yang sudah diletakkannya di dekat tas. Seusai makan, dengan sepengetahuan Rendra dan Ani, ia memperlihatkan catatan bantuan yang selama beberapa hari terakhir telah dicocokkan bersama Zavin. Pengembalian dari Rendra tercatat terpisah, demikian pula bagian yang Rindu ingin cicil.
'Yang ini saya sanggupi dari bagian uang saya yang tidak dipakai untuk kebutuhan Ibu,' katanya. 'Kalau kemampuan saya berubah, saya akan mengatakan. Saya tidak akan mengorbankan perawatan Ibu untuk mengejar angka.'
Zavin membaca catatan tersebut sekali lagi.
'Saya menerima niatmu. Jangan menganggap hari pernikahan harus menjadi hari membayar sesuatu kepada saya.'
'Saya tidak menganggapnya begitu. Saya hanya ingin kita memegang catatan yang sama.'
Mereka menyepakati bagian yang dapat dijalankan tanpa menjadikannya alasan untuk terus saling bergantung. Rindu menyimpan kembali map itu. Cicilan masih akan berlangsung, tetapi tidak lagi menjadi pertanyaan tentang kepada siapa hatinya harus diserahkan.
Sebelum berpamitan, Zavin mengeluarkan saputangan putih yang terlipat rapi. Huruf ZE terlihat di salah satu sudutnya.
Rindu menatap benda itu.
'Pak, saputangan ini dulu sudah saya kembalikan.'
'Sekarang saya memberikannya. Bukan menitipkan supaya kamu punya alasan mencari saya.'
Rindu menerima dengan kedua tangan.
'Sebagai restu saya,' lanjut Zavin. 'Semoga lebih sering dipakai untuk air mata bahagia.'
Mata Rindu kembali basah. Ia tersenyum sambil mengusap sudutnya dengan saputangan itu, kali ini tanpa bertanya apakah ia sedang menerima kewajiban baru.
'Terima kasih, Pak Zavin.'
Zavin berpamitan kepada Ani dan yang lain. Ia meninggalkan rumah dengan langkah biasa, tanpa menoleh untuk meminta seseorang memanggilnya kembali.
***
Sore itu, Rindu menyerahkan kunci rumah lama kepada Ridwan dan Sarah setelah barang mereka dipindahkan. Ani menyentuh sisi pintu sebentar sebelum keluar.
'Terima kasih sudah memberi kami waktu di sini,' kata Rindu.
Sarah menggenggam tangannya.
'Kalian tidak perlu memiliki rumah ini untuk tetap membawa kenangannya.'
Rindu memandang jendela yang dikenalnya sejak kecil, lalu berbalik mengikuti Ani.
Di tempat sewa mereka, Rendra sedang menata kursi agar ibunya Rindu dapat duduk nyaman. Tidak ada ruang tamu luas atau lemari penuh barang mahal. Di meja kecil terdapat dokumen rumah tangga, catatan usaha, dan jadwal perawatan Ani dalam tempat yang berbeda.
Rindu meletakkan tasnya.
'Ren, meja kerja jangan terlalu dekat pintu kamar Ibu.'
Rendra melihat letaknya, lalu mengangkat ujung meja.
'Ke sebelah sini?'
'Iya. Aku bantu.'
Mereka memindahkannya bersama. Ani mengawasi dari kursi, sesekali memberi petunjuk yang membuat keduanya tertawa.
Ketika malam turun, Rindu menyimpan saputangan ZE di laci bersama barang pribadinya. Ia kemudian keluar membawa dua gelas air. Rendra menggeser kursi untuknya, bukan menyuruhnya duduk di tempat yang telah ditentukan.
'Lelah?' tanyanya.
'Lelah. Tapi aku ingin duduk di sini dulu.'
Rendra duduk di sampingnya.
Dari kamar, Ani memanggil untuk menanyakan letak bukunya. Rindu menjawab, lalu Rendra mengambilkannya dari meja. Kehidupan mereka tidak mendadak ringan, tetapi permintaan kecil tidak lagi berubah menjadi pertengkaran tentang siapa yang lebih berhak diperhatikan.
Saat Rendra kembali, Rindu meraih tangannya.
'Aku pulang, Ren.'
Laki-laki itu menggenggamnya dengan lembut.
'Selamat pulang, Ri.'
Di rumah yang tidak megah itu, Rindu tidak harus mengecilkan dirinya untuk mendapat tempat. Ia duduk dengan seluruh luka, cinta, dan keberaniannya, bersama orang-orang yang kini belajar mendengarnya.
TAMAT