Enam pekan setelah pertemuan itu, Rendra duduk bersama Dina di meja penandatanganan pelepasan aset. Pertemuan awal dengan Dina berlangsung sepekan setelah pembicaraan rencana; saat itu mereka hanya memeriksa kelengkapan. Sesudah itu mereka mencari pembeli, membicarakan penawaran, dan mencocokkan kewajiban dengan para pihak. Tidak ada pembayaran yang dianggap lunas selama hasil penjualan belum diterima.
Wina dan Hesti sudah mengetahui nilai yang disepakati. Tidak ada harga ajaib yang mengembalikan seluruh kekayaan mereka. Rumah keluarga serta aset lain yang dilepas cukup untuk membayar beban yang selama ini ditunda, dengan menyisakan bagian usaha yang jauh lebih kecil.
'Masih ingin memeriksa sesuatu?' tanya Dina.
Rendra membaca sekali lagi bagian yang menyebutkan barang dan kepentingan yang terkait. Para pihak yang hadir menunggunya, bukan mendesaknya segera mengambil pena.
'Saya ingin memastikan pembayaran hak karyawan tidak tersisih oleh kebutuhan pribadi kami.'
'Daftarnya ada di sini. Periksa.'
Rendra menelusuri baris-baris itu dengan telunjuk. Nama-nama yang pernah berdiri di depannya menagih gaji bukan lagi sekadar angka dalam laporan. Ia ingat wajah yang menahan marah dan suara yang bertanya kapan keluarga mereka boleh makan tanpa berutang.
Setelah yakin dengan yang dibacanya, ia menandatangani bagiannya. Proses penyerahan dan pembayaran berjalan di hadapan pihak-pihak yang berkepentingan. Rendra menyimpan bukti yang diterimanya, bukan memotretnya untuk menunjukkan kepada Rindu bahwa dirinya layak dicintai.
Ketika pertemuan itu berakhir, ia duduk beberapa saat lebih lama.
'Kehilangan rumah terasa berbeda setelah benar-benar ditandatangani,' katanya.
Dina menutup map.
'Jangan gunakan rasa kehilangan itu untuk merasa sudah membayar semua kesalahan. Yang dibayar hari ini adalah kewajiban yang tercatat.'
Rendra menatap meja kosong. 'Saya tahu.'
***
Pada pertemuan dengan Ratih siang itu, Rendra membawa bukti pembayaran yang diperlukan. Perhitungan akhir diperiksa kembali, lalu Ratih menunjukkan bagian yang menyatakan kewajiban tertunggak pada fasilitas yang ditanganinya telah dibayarkan.
'Pastikan Bapak menyimpan seluruh dokumennya.'
'Saya simpan bersama catatan dari bank lainnya.'
Dina berada di sebelahnya ketika Rendra menerima konfirmasi yang sudah dicocokkan dengan pembayaran. Tagihan bank yang dahulu terasa seperti suara ketukan tanpa henti kini memiliki jawaban berupa bukti, bukan permintaan waktu lagi.
Namun, Rendra tidak langsung pulang.
Pada sore hari, ia menemui perwakilan karyawan di ruang kerja Pangestu. Meja yang dulu terlalu besar untuk percakapan jujur kini dipenuhi daftar hak dan bukti pembayaran. Mereka memeriksa bagian masing-masing, menyampaikan perbedaan jika ada, dan menerima penjelasan tanpa diminta lebih dahulu memuji usahanya.
'Saya meminta maaf karena kalian harus berkali-kali menanyakan sesuatu yang memang hak kalian,' kata Rendra.
Ia menunggu. Sebagian wajah melunak, sebagian tetap lelah. Tidak semua orang ingin terus bekerja bersamanya, dan ia tidak menahan mereka dengan alasan kesetiaan.
'Usaha yang tersisa lebih kecil. Kalau ada pekerjaan berikutnya, jumlah dan kemampuannya akan saya jelaskan sejak awal. Kalian boleh memilih.'
Salah satu lembar dikembalikan kepadanya setelah diperiksa. Rendra menerimanya dengan kedua tangan.
Dalam pertemuan terpisah pada sore yang sama, urusan dana kerja sama lama juga dibicarakan di hadapan pihak pemberi modal. Rendra dan Hesti duduk bersama, bukan saling menunjuk.
'Saya ikut menyetujui penggunaan uang itu,' kata Rendra. 'Saya tidak akan mengatakan saya hanya mengikuti kakak saya.'
Hesti mengangkat wajah.
'Saya yang mengusulkan dan ikut menggunakan. Kami sudah mencatat bagiannya. Kalau ada yang belum sesuai dengan catatan Anda, kami perlu memeriksanya sekarang.'
Tidak ada pengampunan yang dipertukarkan seperti tanda terima. Pembayaran sesuai hasil pencocokan diserahkan, hak masing-masing ditegaskan, dan salinan penyelesaiannya dibawa pulang. Mereka tidak meminta para pemberi modal datang lagi sebagai penyelamat usaha.
Hadi dan Dina juga telah menerima pengakuan tertulis Hesti tentang surat serta pesan palsu. Akses akun Rendra dari laptop Hesti diputus. Rindu menyimpan salinannya bersama bukti lama; penjelasan baru itu dicatat tanpa mengubah kenyataan bahwa Rendra pernah menuduhnya dan perceraian mereka sudah terjadi.
Ketika Hesti berdiri, tangannya gemetar.
'Aku berharap mereka marah saja tadi,' bisiknya di luar ruangan. 'Diamnya lebih susah.'
Rendra memasukkan dokumen ke tas.
'Mereka tidak wajib membuat kita lebih ringan.'
Hesti tidak membantah.
***
Menjelang malam, Wina duduk di lantai kamar dengan kotak-kotak kecil di sekelilingnya. Hesti baru kembali dan langsung melepas jam tangan sebelum membantu melipat pakaian.
'Yang ini dibawa?' tanyanya sambil mengangkat selimut tebal.
Wina menyentuh bahannya.
'Tempat sewanya tidak seluas sini.'
'Berarti satu saja.'
Hesti melipatnya kembali. Gerakannya lambat, tetapi tidak lagi melempar barang karena kesal. Tempat sewa sederhana yang telah mereka lihat selama sepekan itu sudah dipilih setelah kebutuhan Wina dan biayanya dipertimbangkan. Mereka akan pindah setelah pengemasan, sesuai waktu penyerahan rumah yang disepakati.
Wina memandangi lemari.
'Ibu dulu mengejek Rindu karena tidak punya rumah.'
Hesti berhenti melipat.
'Sekarang rumah ini juga bukan punya kita.'
'Rasanya malu, Hes.'
'Aku juga.'
Wina mengambil foto dari kotak kecil.
'Tapi jangan telepon dia supaya datang menenangkan kita.'
Hesti mengusap pipi dengan punggung tangan.
'Aku tidak akan menelepon.'
Rendra masuk membawa makanan sederhana. Ia tidak membeli banyak untuk menghibur ibunya. Mereka duduk di antara kotak dan makan dari piring yang akan ikut dibawa.
'Urusan hak Kakak sudah masuk?' tanyanya.
Hesti menjawab sudah. Bagiannya dicatat sebagaimana hak orang lain, sementara tanggung jawabnya atas dana yang digunakan juga tidak dihapus. Ia tidak menerima kembali posisi lama atau janji gaji baru.
'Aku harus mengatur uangku sendiri sekarang,' katanya.
'Iya,' jawab Rendra.
Wina menatap putranya.
'Kamu tidak tinggal bersama kami nanti?'
'Saya akan membantu pindahan. Tempat tinggal saya tetap terpisah.'
Wina menunduk, lalu kembali menyendok nasi. Kali ini ia tidak menyebut Rindu.
Sesudah makan, Rendra mengunjungi Rindu dengan izin yang sudah dimintanya. Ia membawa salinan pencatatan yang berkaitan dengan uang Ani, termasuk sisa amplop yang selama ini disimpan. Rindu membukanya di hadapan Ani, mencocokkan asal dan jumlahnya, lalu menerima pengembalian itu sebagai uang yang memang semestinya tersedia bagi ibunya.
'Ini bukan cicilan kepercayaanku, Ren.'
'Aku tahu.'
Untuk rencana mereka sendiri, Rindu meminta satu pekan lagi. Ia ingin melihat pilihan tempat tinggal dan memikirkan tanggal setelah persyaratan pernikahan baru dipastikan, tanpa menjadikan malam ini pesta karena rumah keluarga telah terjual.
'Kita bicara lagi minggu depan, di sini,' katanya.
Rendra menyetujui. Sebelum pulang, ia membantu mengangkat satu kotak ke ruang penyimpanan setelah Rindu memintanya. Bukan mengambil alih rumah, hanya mengerjakan hal yang diminta.
Di luar, kendaraannya sudah menunggu. Rendra membawa tas berisi bukti pembayaran, sementara kunci rumah Pangestu berada di kantong terpisah, menunggu saat penyerahan.