'Utuh berarti termasuk yang selama ini tidak Bapak masukkan dalam pembicaraan dengan saya,' jawab Dina Kania di seberang telepon.
Rendra memandangi amplop kecil di meja.
'Iya. Ada kewajiban kepada pemberi modal yang perlu saya jelaskan. Bukan hanya bank.'
'Jangan mengambil keputusan penjualan malam ini. Besok bawa dokumen dan catatannya. Kita periksa apa yang bisa dilakukan, bukan sekadar apa yang Bapak ingin dengar.'
'Saya akan datang.'
Sesudah sambungan terputus, Rendra menuliskan hal yang paling takut ia sampaikan: rumah keluarganya tidak boleh terus dilindungi sementara hak orang lain tertahan. Ia tidak bisa menjanjikan pembelinya segera ada, tetapi ia bisa berhenti menolak kemungkinan menjualnya.
Malam itu ia tidak menghubungi Rindu untuk meminta dikuatkan. Ia mengumpulkan dokumen yang telah disiapkan, memisahkan dana pribadi dari uang dengan peruntukan lain, lalu menyimpan semuanya dalam map yang berbeda.
Keesokan paginya, ia menemui Dina. Pengakuan mengenai modal kerja sama ia sampaikan langsung, termasuk persetujuannya menggunakan sebagian dana untuk rumah.
Dina mendengarkan tanpa memotong. Ketika Rendra berhenti, ia menanyakan catatan yang mendukung penjelasan itu.
'Ini yang saya punya. Ada bagian yang masih harus dicocokkan dengan mereka.'
'Berarti jangan menganggap daftar Bapak sudah menjadi kesepakatan.'
'Saya mengerti.'
'Dan jangan menawarkan nama baik keluarga sebagai alasan mereka harus menunggu lebih lama.'
Rendra menatapnya. 'Saya tidak akan meminta itu.'
Mereka memeriksa daftar aset dan kewajiban. Peralatan yang masih diperlukan untuk pekerjaan yang benar-benar dapat dijalankan dipisahkan dari barang yang hanya menambah biaya. Rendra tidak berencana mengganti usaha dengan sesuatu yang sama sekali asing. Ia ingin mempertahankan bagian kecil Pangestu yang masih mampu bekerja dengan uang yang memang tersedia.
'Lebih kecil tidak otomatis lebih jujur,' kata Dina.
'Karena itu saya ingin pencatatannya terbuka. Tidak ada uang pekerjaan dipindahkan untuk kebutuhan rumah.'
'Itu harus dijalankan, bukan hanya ditulis.'
Menjelang siang, mereka menemui Ratih. Rendra meletakkan rencana penjualan di meja, tetapi tidak menyebutnya sebagai pelunasan yang sudah pasti.
'Saya ingin menggunakan hasil aset untuk membayar kewajiban sesuai perhitungan yang dikonfirmasi. Kalau ada yang tidak bisa diproses, saya perlu mengetahuinya sekarang.'
Ratih membaca catatan di hadapannya.
'Kami akan memeriksa bagian yang berkaitan dengan fasilitas di sini. Urusan pada bank lain tetap harus dicocokkan dengan pihak masing-masing.'
Rendra membenarkan. Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa menghapus seluruh persoalan dengan satu tanda tangan.
***
Sore itu, Rendra kembali ke rumah keluarganya bersama Dina untuk membicarakan rencana pelepasan aset. Wina duduk di kursi dekat jendela. Hesti membawa catatan yang kemarin dijanjikannya.
'Kita benar-benar akan melepas rumah ini?' tanya Wina.
'Kalau pemeriksaan dokumen dan prosesnya memungkinkan, iya, Bu,' jawab Rendra. 'Saya ingin keputusan itu dibicarakan sekarang, bukan setelah ada orang datang membawa barang.'
Wina melihat sekeliling. Dinding, lampu, dan lemari yang dulu dipilihnya dengan bangga mendadak tampak seperti benda-benda yang tidak dapat lagi melindunginya.
'Di mana Ibu tinggal?'
'Kita mencari tempat sewa yang lebih kecil untuk Ibu dan Kak Hesti. Biayanya masuk hitungan kebutuhan, bukan mengambil dana yang harus dibayarkan kepada orang lain.'
Hesti menekan buku catatannya.
'Dan kamu?'
'Untuk sementara tetap di hotel sampai ada tempat yang sesuai kemampuan. Kalau aku dan Rindu menikah lagi, kami akan menyewa tempat sendiri. Ani harus bisa tetap dirawat dengan nyaman. Itu masih perlu kami bicarakan.'
'Jadi sekarang bahkan tempat pulang pun terpisah,' gumam Wina.
Rendra mendekatkan kursinya.
'Terpisah rumah bukan berarti saya berhenti datang, Bu. Tetapi tinggal bersama tidak boleh lagi menjadi cara mengatur hidup kami.'
Dina membiarkan percakapan itu berlangsung. Ia baru menjelaskan langkah pemeriksaan ketika Wina menanyakan apa yang perlu disiapkan.
Hesti membuka catatannya, kemudian meletakkannya di meja.
'Ada uang yang kupakai. Ada juga hakku yang belum dibayar. Aku tidak mau keduanya dicampur supaya salah satunya hilang.'
'Dicatat terpisah,' jawab Rendra. 'Termasuk sisa di amplop yang pernah Kakak berikan. Itu belum kuserahkan kepada Rindu karena dia menolak waktu itu.'
'Jangan tulis seolah aku sudah mengganti semuanya.'
'Aku tidak akan menulis begitu.'
Wina mengusap pipinya.
'Ibu tidak pernah membayangkan harus pergi dari sini.'
Rendra menunggu, membiarkan ibunya menangisi rumah itu tanpa mengubah air matanya menjadi alasan membatalkan keputusan.
Akhirnya Wina bertanya, 'Apa yang boleh Ibu bawa?'
'Barang pribadi yang memang milik Ibu. Kita periksa bersama. Tidak semuanya harus dibuang.'
Wina menarik satu kotak kecil dari meja samping. Di dalamnya ada foto keluarga yang tidak berbingkai mahal.
'Yang ini dulu,' katanya.
***
Rendra menemui Rindu menjelang petang setelah meminta izin. Ani berada di ruang tengah, dan ia menyampaikan rencana tersebut kepada keduanya tanpa membawa janji bahwa keadaan akan segera mudah.
'Aku tidak bisa menawarkan rumah besar,' katanya.
'Aku tidak meminta rumah besar, Ren.'
'Aku tahu. Tapi aku perlu mengatakan bahwa setelah pembayaran, yang tersisa mungkin hanya cukup untuk mempertahankan usaha kecil dan kebutuhan yang sederhana.'
Rindu memandang Ani sebelum kembali kepadanya.
'Kalau nanti kita menikah, aku ingin tempat tinggal kita dipilih bersama. Ibu ikut dibicarakan, bukan menjadi tambahan yang baru disebut setelah semuanya diputuskan.'
'Tentu.'
'Aku juga belum memberi jawaban tentang tanggal.'
'Aku belum meminta tanggal.'
Rindu mengangguk pelan.
'Kalau kamu bersedia, kita boleh mencari tahu persyaratan menikah kembali,' lanjut Rendra. 'Mencari informasi dulu. Bukan mendaftarkanmu tanpa keputusanmu.'
'Aku bersedia mencari tahu. Akta cerai kita harus dipakai dengan benar. Aku tidak mau apa yang sudah terjadi dianggap tidak pernah ada.'
Ani merapatkan tangan di pangkuannya.
'Dan jangan membayar pesta dengan uang untuk kebutuhan sehari-hari.'
Rendra tersenyum kecil. 'Saya bahkan belum berani membayangkan pesta, Bu.'
Rindu tidak ikut tertawa. Ia mengambil buku dan mencatat kebutuhan tempat tinggal: ruang yang mudah dijangkau Ani, biaya yang bisa mereka tanggung, dan tempat kerja yang tidak mengambil alih seluruh rumah.
Malam itu, setelah pulang ke hotel, Rendra menerima jadwal pemeriksaan lanjutan dari Dina. Pertemuan berikutnya direncanakan sepekan lagi bila dokumen dan pihak-pihak yang berkepentingan sudah siap.
Ia menaruh jadwal itu di atas map, lalu mulai menandai lembar yang masih harus dilengkapi.