Ani membaca kalimat itu, lalu mengembalikan buku kepada Rindu.
'Mulai dari yang paling kecil dulu.'
'Seperti tidak meminta Pak Zavin menghiburku karena aku sedih setelah menolaknya?'
'Iya. Dan tidak membuat Rendra merasa semua akses kepadamu sudah kembali hanya karena kamu memilihnya.'
Rindu menutup buku.
'Aku ingin bertemu dia lagi.'
'Itu juga boleh kamu inginkan.'
'Tapi aku tidak ingin terburu-buru.'
'Kalau begitu, katakan kapan kamu bersedia. Jangan berharap dia menebak.'
Malam itu Rindu mengirim pesan kepada Rendra bahwa ia belum ingin menerima kunjungan esok hari. Ia perlu menemani Ani dan memberi waktu bagi dirinya sendiri setelah pertemuan. Mereka dapat berbicara singkat melalui telepon pada sore hari.
Rendra membalas bahwa ia akan menunggu waktu yang disepakati.
Rindu membaca balasan tersebut tanpa menambahkan alasan panjang. Ia tidak sedang meminta izin untuk memiliki satu hari yang tenang.
Keesokan paginya, ia membantu Ani sarapan. Mereka memeriksa kembali kebutuhan perawatan dan jadwal yang harus diikuti. Setelah itu Rindu mencatat pengeluaran rumah tangga yang menjadi bagian mereka selama tinggal sementara.
Di seberang kota, Rendra tiba di rumah keluarganya dengan membawa catatan kewajiban yang belum dibereskan. Ia tidak membawa Rindu, foto pertemuan, atau kabar pernikahan.
Wina duduk di ruang tengah. Hesti baru meletakkan cangkir ketika Rendra masuk.
'Bagaimana pertemuan kemarin?' tanya Wina.
Rendra duduk, tidak langsung membuka map.
'Rindu memilih mencoba membangun hubungan lagi dengan saya.'
Wina mengangkat wajah. Hesti berhenti menyentuh gagang cangkir.
'Tetapi kami tidak kembali menjadi suami istri,' lanjut Rendra. 'Belum ada keputusan menikah. Saya perlu menjelaskan itu sebelum Ibu membayangkan yang lain.'
Wina perlahan menurunkan tangannya.
'Dia tidak akan kembali ke sini?'
'Kalau nanti kami menikah lagi, kami akan menentukan tempat tinggal sendiri.'
Hesti memalingkan muka ke jendela.
'Jadi permintaan maaf kemarin tidak cukup.'
Rendra tidak meninggikan suara.
'Permintaan maaf bukan biaya masuk supaya kehidupan lama dikembalikan.'
Hesti menoleh tajam, tetapi Rendra tidak menghindari tatapannya.
'Kakak boleh menyesal. Rindu tetap boleh membutuhkan batas.'
***
Rendra membuka map setelah Wina meminta waktu untuk minum. Ia meletakkan catatan itu di meja tanpa mendorongnya kepada ibunya seperti sebuah tuntutan.
'Saya tetap anak Ibu. Saya akan membantu perawatan Ibu sesuai kemampuan. Tapi saya tidak akan lagi mengambil uang yang punya tujuan lain atau menyembunyikan keadaan keuangan demi membuat kita terlihat mampu.'
Wina menatap angka-angka di halaman teratas.
'Kalau nanti Ibu membutuhkan sesuatu?'
'Katakan kepada saya. Kita bicarakan apa yang benar-benar diperlukan dan bagaimana memenuhinya. Bukan dengan meminta Rindu merasa bersalah.'
'Ibu tidak ingin menjadi beban.'
'Saya tidak menyebut Ibu beban. Saya sedang mengatakan batas kemampuan saya.'
Hesti menyilangkan tangan.
'Dan kalau aku butuh?'
'Aku akan mendengar. Jawabannya mungkin tidak. Itu tidak berarti Kakak boleh menagih kepada Rindu.'
Hesti hendak membantah, tetapi Wina menyentuh tepi meja.
'Biarkan dia bicara.'
Rendra memandang kakaknya.
'Aku juga tidak akan memperlakukan hak Kakak yang memang belum dibayar seolah hilang karena Kakak punya kesalahan. Kita harus mencatat semuanya dengan benar. Hak orang lain juga begitu.'
Hesti menurunkan tangannya perlahan. Kini ia melihat halaman di meja, bukan wajah adiknya.
'Rumah ini bagaimana?' tanya Wina.
Rendra memandang dinding yang selama bertahun-tahun menjadi ukuran keberhasilan keluarganya.
'Kita perlu menyiapkan pembicaraan mengenai aset yang bisa dilepas. Bukan memindahkan semuanya kepada Rindu atau berharap Pak Zavin menolong lagi.'
Wina menelan ludah.
'Menjual rumah?'
'Itu salah satu hal yang harus diperiksa, Bu. Saya tidak akan menjanjikan hasil sebelum urusan kepemilikan, kewajiban, dan prosesnya jelas. Tetapi saya tidak bisa menjanjikan kita mempertahankan semuanya.'
Hesti mengusap dahinya.
'Kalau dilepas, orang-orang akan tahu keadaan kita.'
'Mereka yang haknya belum dipenuhi sudah merasakan keadaan kita,' jawab Rendra. 'Selama ini kita lebih takut orang melihat daripada memikirkan yang mereka tanggung.'
Wina menatap pintu kamar. Rendra tahu ibunya sedang memikirkan semua barang di dalamnya, kebiasaan yang pernah dianggap tidak mungkin berubah, dan hari-hari yang tidak lagi dapat diatur dengan uang.
'Ibu belum bisa menjawab semuanya sekarang,' katanya.
'Tidak harus sekarang. Tetapi kita tidak bisa terus menghindar.'
Rendra menarik selembar kertas kosong, lalu mulai menulis daftar dokumen yang perlu dikumpulkan untuk dibicarakan dengan pihak yang menangani urusan mereka. Belum ada aset terjual. Tidak satu pun kewajiban berubah hanya karena mereka akhirnya duduk bersama.
Hesti memandang pena itu.
'Catatan yang ada padaku kubawa nanti.'
Rendra berhenti menulis.
'Terima kasih.'
'Jangan berterima kasih dulu. Aku masih marah.'
'Aku juga tidak meminta Kakak langsung senang.'
***
Sore harinya, Rindu menerima telepon Rendra pada waktu yang disepakati. Ani sedang beristirahat, sehingga ia berbicara di teras dengan suara pelan.
'Aku sudah mengatakan kepada Ibu dan Kak Hesti,' ujar Rendra.
'Apa jawaban mereka?'
'Belum semuanya bisa diterima. Kak Hesti sempat menganggap permintaan maaf seharusnya membuatmu kembali seperti dulu.'
Rindu menatap pagar.
'Lalu kamu bilang apa?'
'Bahwa itu bukan hak yang mereka dapat setelah meminta maaf. Aku juga mengatakan pilihan untuk hidup mandiri adalah pilihanku, bukan perintahmu.'
Rindu tidak langsung memberi pujian. Ia membiarkan dirinya mendengar tanpa mengubah satu percakapan menjadi bukti akhir.
'Terima kasih sudah memberi tahu.'
'Aku ingin menemuimu. Tapi aku ingat kamu tidak menerima kunjungan hari ini.'
'Aku memang belum ingin.'
'Aku tidak datang.'
Jawaban pendek itu membuat bahu Rindu sedikit turun.
'Kita bisa membicarakan waktu lain nanti,' katanya.
'Baik.'
Rendra menjelaskan bahwa keluarganya mulai mengumpulkan catatan untuk pembicaraan aset dan kewajiban. Rindu tidak menawarkan diri menjadi pengurus semuanya.
'Kalau ada hal yang akan memengaruhi hidup kita nanti, aku perlu tahu,' katanya. 'Tapi membereskan kewajibanmu bukan pekerjaan yang otomatis berpindah kepadaku.'
'Aku mengerti.'
Sesudah panggilan berakhir, Rindu kembali ke dalam. Ani sudah bangun dan meminta buku yang tadi ditinggalkan di meja. Rindu membawakannya, lalu duduk di sebelah ibunya.
Sementara itu, di hotel, Rendra mengeluarkan amplop kecil yang masih tersimpan terpisah. Ia meletakkannya di samping catatan, menandai asal uangnya agar tidak tercampur dengan dana lain.
Ponselnya berada di dekat siku. Ia membuka kontak Dina Kania, lalu menekan tombol panggil.
'Saya ingin mulai membicarakan pemberesan aset dan kewajiban,' katanya ketika sambungan dijawab. 'Kali ini saya akan membawa catatan yang utuh.'