'Boleh, Pak,' jawab Rindu.
Zavin berdiri. Ridwan ikut bangkit, tetapi tidak langsung menyusul.
'Perlu ditemani?'
'Sebentar sendiri dulu.'
Ridwan duduk kembali. Zavin berjalan ke teras dan berhenti di dekat pagar rendah, membelakangi ruang tamu tanpa menutup pintu.
Rindu memandangi gelas yang ditinggalkannya. Ia ingin keluar, menjelaskan sekali lagi bahwa Zavin tidak kurang baik, tidak kalah, tidak terlambat menjadi sesuatu yang lain. Namun, semua penjelasan itu terdengar seperti cara meminta laki-laki tersebut segera merasa lebih baik agar dirinya tidak terlalu bersalah.
Sarah menyentuh tepi nampan.
'Airnya masih ada. Kalau dia perlu, kita bawa nanti.'
Rindu membenarkan pelan. Ia tetap di kursinya.
Rendra tidak memanfaatkan jeda itu untuk berbicara tentang mereka. Map di atas meja pun tidak disentuhnya. Untuk beberapa menit, hanya suara dari halaman yang masuk melalui pintu terbuka.
Di teras, Zavin merasakan udara hangat menyentuh wajahnya. Ia telah membayangkan kemungkinan ini sejak Rindu meminta jarak. Membayangkannya ternyata tidak membuat kata-kata tadi lebih mudah didengar.
Ia bukan kehilangan sesuatu yang pernah menjadi miliknya. Justru itulah yang membuat kesedihan ini sulit dijelaskan. Ada masa depan yang diam-diam ia susun, lalu disadarinya selama ini hanya berdiri di dalam kepalanya sendiri.
Zavin merogoh saku, mengeluarkan saputangan putih yang telah lama kembali kepadanya. Huruf ZE di sudutnya tampak ketika ia membukanya untuk mengusap peluh.
Ia melipatnya lagi dan memasukkannya ke saku.
Ketika Ridwan akhirnya muncul di ambang pintu, Zavin tidak keberatan.
'Saya tidak akan bertanya apakah kamu baik-baik saja,' kata Ridwan.
Zavin tertawa pendek. 'Terima kasih.'
'Mau duduk?'
'Sebentar lagi saya masuk.'
Ridwan berdiri di sampingnya tanpa merapat terlalu dekat.
'Yang paling menyakitkan,' kata Zavin setelah beberapa saat, 'saya tidak bisa menunjuk satu hal yang harus diperbaiki agar jawabannya berubah.'
Ridwan memandang halaman.
'Memang bukan selalu ada yang bisa diperbaiki.'
'Saya tahu. Tapi bagian dari diri saya masih ingin bertanya apa yang kurang.'
'Kalau pertanyaan itu kamu berikan kepada Rindu, apa pun jawabannya mungkin akan terdengar seperti tawaran untuk mencoba lagi.'
Zavin mengembuskan napas.
'Saya tidak ingin membuat dia harus membela pilihannya terus-menerus.'
Ridwan tidak menepuk bahunya atau mengatakan ia pasti segera menemukan orang lain. Ia hanya berdiri sampai Zavin berbalik ke pintu.
***
Rindu mengangkat wajah ketika Zavin kembali. Laki-laki itu duduk di kursi semula, sementara Ridwan mengambil tempat di dekat Sarah.
'Saya tidak akan meminta kamu mengulang jawabanmu,' kata Zavin.
Rindu merapatkan jari-jarinya.
'Saya mendengar dengan jelas. Kamu memilih mencoba lagi dengan Rendra.'
'Iya, Pak.'
'Saya tidak menyukai jawabannya. Tapi saya menerima bahwa itu pilihanmu.'
Rindu menahan napas yang hampir berubah menjadi tangis.
'Terima kasih sudah mendengarkan.'
'Saya juga perlu jarak setelah hari ini.'
'Tentu.'
'Mungkin saya tidak akan langsung bisa bertemu atau mendengar semua perkembangan kalian. Itu bukan hukuman.'
'Saya tidak akan menganggapnya begitu.'
Zavin memandang Rendra untuk pertama kali sejak kembali masuk.
'Saya tidak ingin memberikan nasihat seolah saya tahu cara membahagiakan Rindu lebih baik daripada dirinya sendiri. Dia sudah menjelaskan yang dia perlukan.'
Rendra menjawab dengan suara rendah. 'Saya mendengarnya.'
'Kalau begitu, dengarkan lagi nanti ketika yang dikatakannya tidak menyenangkan untuk Anda.'
Rendra tidak berjanji panjang. 'Ya.'
Zavin kembali kepada Rindu.
'Urusan pencatatan bantuan tetap bisa kita bicarakan. Tidak harus hari ini. Setelah catatannya cocok, kamu boleh mengusulkan cicilan yang sungguh mampu kamu jalankan. Kalau keadaan berubah, katakan. Jangan menghilang karena malu.'
'Saya akan mengatakan.'
'Saya tidak akan menanyakan siapa yang kamu pilih setiap kali membicarakan itu.'
Rindu menyeka matanya.
'Dan saya tidak akan menggunakan urusan itu sebagai alasan meminta Bapak tetap dekat ketika Bapak perlu menjauh.'
Zavin menatapnya cukup lama, lalu mengangguk.
Ani kembali ke ruang tamu dengan langkah perlahan. Rindu segera mendampinginya, tetapi ibunya hanya ingin duduk sebentar sebelum Zavin pulang.
'Pak Zavin,' kata Ani, 'Ibu ingin berterima kasih.'
Zavin menegakkan punggung.
'Tidak perlu menyampaikan apa pun untuk memperhalus jawaban Rindu, Bu.'
'Bukan itu. Ibu berterima kasih atas bantuan dan perhatianmu kepada Ibu. Perasaan anak Ibu tidak mengurangi rasa terima kasih tersebut.'
Zavin menundukkan kepala.
'Saya senang Ibu sudah berada di rumah.'
'Ibu berharap kamu juga menjaga dirimu.'
'Saya akan mencoba.'
Rindu tidak menambahkan undangan untuk sering datang. Ia tahu ucapan yang biasanya ramah itu sekarang dapat bertentangan dengan permintaan Zavin sendiri.
Ketika laki-laki itu berdiri, semua orang memberinya ruang untuk berpamitan. Rendra mengucapkan terima kasih, tetapi tidak mengulurkan tangan dengan desakan agar mereka terlihat akrab.
Di pintu, Zavin berhenti sebentar.
'Ri.'
Rindu mendekat, tetap memberi jarak.
'Jangan berusaha membuktikan pilihanmu benar hanya karena orang lain sudah mendengarnya. Kalau nanti ada sesuatu yang tidak baik, kamu tetap boleh mengatakannya.'
Rindu memandangnya dengan mata basah.
'Saya akan mengingatnya.'
Zavin turun dari teras. Ridwan mengantar sampai dekat kendaraan, lalu membiarkannya pergi tanpa percakapan tambahan.
***
Rendra berpamitan tidak lama setelah itu. Rindu mengantarnya hanya sampai pintu, seperti ketika ia datang membawa pengakuan.
'Aku akan berbicara kepada Ibu dan Kak Hesti besok,' katanya.
'Tentang batas yang kubicarakan?'
'Iya. Tidak ada gunanya aku menyetujuinya di sini kalau di rumah aku masih membiarkan mereka mengira semuanya kembali seperti dulu.'
'Jangan mengatakan aku melarangmu menjadi anak atau adik mereka.'
'Aku yang memutuskan tidak mengulangi cara lama.'
Rindu menatapnya.
'Aku ingin kamu mengatakan itu dengan kata-katamu sendiri.'
'Akan kukatakan.'
Setelah Rendra pergi, Ridwan dan Sarah membantu merapikan gelas. Rindu hendak mengambil semua nampan sekaligus, tetapi Sarah menyerahkan hanya satu kepadanya.
'Tidak perlu cepat-cepat.'
Rindu membawa nampan ke dapur. Saat meletakkannya, air matanya jatuh tanpa suara.
Sarah tidak bertanya apakah ia menyesal. Ia menunggu sampai Rindu mampu berbicara.
'Saya lega sudah jujur,' katanya. 'Tapi saya sedih.'
'Keduanya boleh ada.'
'Saya tadi hampir meminta Pak Zavin tetap sering menghubungi saya.'
'Kenapa tidak jadi?'
'Karena itu yang membuat saya nyaman, bukan yang dia minta.'
Sarah mengeringkan gelas terakhir.
Rindu mengusap pipinya, lalu kembali ke ruang tengah. Di atas meja, buku catatannya masih tertutup. Ia membukanya pada halaman kosong, menulis tanggal pertemuan, kemudian satu kalimat pendek tentang apa yang harus dilakukan berikutnya.
Ani memandang pena di tangannya.
'Apa yang kamu tulis?'
Rindu menggeser buku itu.
'Menjaga batas yang sudah kukatakan.'