Zavin tetap memandang Rindu. Sesaat kemudian, ia menarik napas melalui hidung dan meletakkan gelas yang belum diminumnya.
'Apakah kamu sudah yakin?'
'Saya yakin bahwa saya tidak boleh menjanjikan pernikahan kepada Bapak dengan perasaan yang saya miliki sekarang.'
'Sekarang,' ulang Zavin pelan.
Rindu merasakan betapa mudahnya satu kata dipakai untuk meninggalkan pintu yang sebenarnya tidak sanggup ia jaga.
'Saya tidak sedang meminta Bapak menunggu perubahan perasaan saya.'
Zavin mengusap ibu jarinya dengan jari telunjuk. Gerakan kecil itu lebih sulit dilihat Rindu daripada sebuah kemarahan.
'Baik.'
Rindu tidak langsung beralih kepada Rendra. Ia membiarkan jawaban itu tinggal di antara mereka, tanpa menutupinya dengan pujian.
'Maaf karena saya membutuhkan waktu begitu lama untuk mengatakan ini.'
'Saya memang memberi kamu waktu.'
'Tetapi saya juga membiarkan diri saya menerima kedekatan tanpa cukup jujur tentang kebingungan saya.'
Zavin tidak membantah. Ia memandang ke arah jendela sebelum kembali menatapnya.
'Saya ingin mendengar bagian berikutnya.'
Rindu meluruskan punggung.
'Ren, aku masih mencintaimu.'
Tangan Rendra terlepas dari lututnya. Ia tampak hendak bergerak mendekat, tetapi berhenti ketika Rindu mengangkat telapak tangan sedikit.
'Dengarkan sampai aku tidak punya lagi yang harus kukatakan.'
Rendra menahan diri. 'Iya, Ri.'
'Aku tidak memilihmu karena kamu mengembalikan uang. Bukan karena ibumu dan Kak Hesti sudah meminta maaf. Bahkan sebelum semua itu, perasaanku belum hilang.'
Matanya mulai basah lagi, tetapi suaranya tidak mengecil.
'Aku mencoba menganggap perasaan itu sebagai sesuatu yang memalukan. Seolah kalau aku masih mencintaimu, berarti semua luka yang kamu buat tidak penting.'
Rendra menunduk.
'Ternyata keduanya masih ada. Aku mencintaimu, dan aku belum bisa mempercayaimu seperti dulu.'
Ani menutup bibirnya rapat-rapat. Sarah diam di samping Ridwan.
'Kalau kita mencoba lagi,' lanjut Rindu, 'aku tidak mau kembali ke kehidupan yang sama. Aku tidak mau menjadi istri yang harus meminta izin untuk menjaga ibunya, atau terus menyesuaikan diri supaya keluargamu tidak marah.'
'Aku tidak akan meminta itu.'
'Tunggu, Ren. Aku perlu mengatakan batasnya, bukan hanya mendengar bahwa kamu setuju.'
Rendra memandangnya. 'Katakan.'
'Kita sudah bercerai. Hari ini tidak menghapusnya. Aku bukan istrimu lagi hanya karena aku mengatakan cinta.'
'Aku tahu.'
'Aku tetap tinggal bersama Ibu di sini selama izin dan kebutuhannya begitu. Kamu tetap di tempat tinggalmu. Tidak ada keputusan menikah hari ini.'
Rendra mengangguk sekali.
'Kalau nanti kita membangun rumah tangga lagi, tempat tinggal dan pengeluaran harus kita bicarakan sendiri. Bukan sesuatu yang ditentukan keluargamu, kemudian disampaikan kepadaku sebagai kewajiban.'
'Ya.'
'Aku tidak melarangmu merawat ibumu atau membantu Kak Hesti sesuai kemampuan. Tetapi bantuannya harus jujur, jelas, dan tidak mengambil hak orang lain.'
Rendra menatap map pengakuan yang diletakkan Rindu di atas buku.
'Termasuk hal yang memalukan bagimu,' tambah Rindu. 'Justru terutama itu.'
Rendra menarik napas panjang.
Rindu memperhatikan tangannya yang kini terbuka di atas lutut. Dulu ia sering mengisi jeda seperti ini dengan persetujuan, bahkan sebelum memahami apa yang sedang ditawarkan. Sekarang ia menunggu. Rendra harus menjawab sebagai dirinya sendiri, bukan menerima jawaban yang diam-diam sudah disiapkan Rindu untuk memudahkan mereka berdua.
'Aku ingin mencoba dengan cara itu. Bukan supaya kamu berhenti bertanya, tetapi supaya aku tidak perlu menyembunyikan jawabannya.'
Rindu mengusap air mata di pipinya.
'Dan kalau keluargamu kembali merendahkanku, aku tidak mau kamu menyuruhku memahami mereka lebih dahulu.'
'Aku yang harus berbicara kepada mereka.'
'Di depan mereka. Bukan hanya menghiburku setelahnya.'
'Di depan mereka,' ulang Rendra.
***
Ani meminta waktu sebentar untuk beristirahat. Rindu bangkit mendampinginya ke kamar, sementara Sarah mengambil gelas yang sudah kosong. Percakapan di ruang tamu berhenti; tidak ada keputusan baru yang dibuat saat Rindu tidak berada di sana.
Di kamar, Ani duduk perlahan.
'Apakah Ibu takut?' tanya Rindu.
Ani tidak segera menjawab.
'Iya.'
Rindu menundukkan wajah.
'Ibu takut kamu akan terluka lagi,' lanjut Ani. 'Tetapi Ibu juga mendengar bahwa hari ini kamu tidak menyerahkan semua keputusanmu kepadanya.'
'Aku tidak bisa berjanji tidak akan salah.'
'Ibu tidak meminta janji itu.'
'Aku juga tidak ingin menjadikan Ibu alasan. Seolah aku memilih Ren karena Ibu mengenalnya lebih lama.'
Ani meraih tangannya.
'Pilihanmu harus kamu pegang sendiri. Ibu menemani, bukan menggantikan.'
Rindu duduk di kursi dekat ranjang sebentar. Ia ingin tinggal lebih lama, bersembunyi dalam percakapan yang tidak akan menolaknya. Namun, Zavin masih berada di luar, mendengar pilihan yang menyakitinya.
'Aku kembali dulu, Bu.'
'Pergilah. Ibu akan menyusul kalau sudah nyaman.'
Ketika Rindu masuk lagi ke ruang tamu, Rendra masih di kursinya. Zavin sedang menatap telapak tangannya sendiri. Ridwan berdiri dekat jendela dan segera kembali duduk.
Rindu mengambil tempat semula.
'Ada hal lain yang perlu kamu dengar, Ren. Aku tidak sedang memberimu hadiah karena sudah mengakui kesalahan.'
'Aku mengerti.'
'Kalau setelah ini kamu menganggap tidak perlu lagi membereskan tanggung jawab karena aku memilihmu, berarti kamu tidak mendengar apa yang kukatakan.'
Rendra meluruskan tubuh.
'Aku akan tetap membereskannya, bahkan kalau nanti kamu menilai kita tidak bisa melangkah lebih jauh.'
Rindu menatapnya cukup lama untuk memastikan ia tidak sekadar mengucapkan kalimat yang diinginkannya.
'Aku memilih mencoba membangun sesuatu yang baru denganmu. Bukan melanjutkan yang lama dari tempat kita berhenti.'
Untuk sesaat Rendra menutup mata. Ketika membukanya lagi, ia tidak tersenyum lebar.
'Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya, Ri.'
'Jangan berterima kasih seolah aku baru mengampuni semuanya.'
'Baik. Aku senang mendengarnya. Tapi aku tahu ada pekerjaan yang belum kulakukan.'
Rindu mengembuskan napas. Itu jawaban yang lebih bisa ia terima daripada janji bahwa dirinya tidak akan pernah menangis lagi.
Zavin bergerak di kursinya. Semua orang menoleh, tetapi ia hanya mengambil air dan meneguknya sebelum meletakkan gelas kembali.
'Saya perlu mengatakan sesuatu juga,' katanya.
Rindu menatapnya langsung.
'Tentu, Pak.'
'Saya menghargai kejujuranmu. Tetapi saya tidak bisa berpura-pura bahwa mendengar ini tidak menyakitkan.'
Rindu menahan dorongan untuk meminta maaf lagi sebelum laki-laki itu meneruskan.
Zavin mengusap rahangnya, lalu menatap pintu yang mengarah ke teras.
'Boleh saya berdiri di luar sebentar sebelum menjawab lebih jauh?'