Halaman kosong itu masih terbuka ketika Ani meminta Rindu membantu mematikan lampu ruang tengah. Rindu menutup bukunya, lalu membawa gelas terakhir ke dapur.
'Kamu mau membacakan semuanya besok?' tanya Ani.
'Tidak. Kalau terlalu takut, mungkin aku melihat catatannya.'
'Takut boleh. Jangan sampai karena takut kamu mengatakan yang bukan maumu.'
Rindu berhenti di depan kamar ibunya.
'Aku ingin mereka tetap menganggap aku orang baik.'
Ani memandangnya dengan lembut.
'Itu yang tidak bisa kamu atur.'
Rindu mengiyakan. Ia tidak kembali duduk untuk memperbaiki kalimat-kalimat yang belum diucapkan. Sesudah berpamitan tidur, ia meninggalkan buku di meja.
Pagi berikutnya, ia bangun dengan rasa gugup yang tidak hilang sesudah sarapan. Namun, tubuhnya tidak selemah beberapa hari sebelumnya. Ia makan, menemani Ani menjalani rutinitas perawatan, kemudian mandi dan mengganti pakaian dengan yang paling nyaman.
Tidak ada gaun yang pernah dipuji Rendra. Tidak ada barang pemberian Zavin yang sengaja ditonjolkan atau disembunyikan. Ia hanya ingin dapat duduk dan bernapas tanpa merasa sedang memainkan peran tertentu.
Sarah datang bersama Ridwan menjelang waktu pertemuan.
'Boleh saya membantu menyiapkan minum?' tanyanya.
'Boleh, Mbak. Terima kasih.'
Di dapur, Sarah tidak menanyakan keputusan Rindu. Ia membilas gelas, sementara Rindu menyiapkan nampan.
'Saya takut suara saya gemetar.'
'Kalau gemetar, ambil jeda.'
'Saya takut menangis.'
'Tisu ada di meja.'
Rindu tertawa singkat. 'Mbak Sarah membuatnya terdengar sederhana.'
'Tidak sederhana. Tapi tidak semuanya harus diatasi sebelum mulai.'
Dari ruang depan, Ridwan memberi tahu bahwa Zavin sudah datang. Rindu mengeringkan tangan, lalu keluar untuk menyambutnya.
Zavin menyapa Ani terlebih dahulu. Ia menanyakan keadaan beliau tanpa menjadikannya percakapan panjang untuk menunda tujuan kedatangan.
Rendra tiba beberapa menit kemudian. Ketika keduanya sudah duduk, Rindu membawa buku catatannya dan mengambil tempat di dekat Ani.
Ridwan serta Sarah duduk agak menyamping. Mereka tidak membentuk barisan di belakang Rindu.
***
'Terima kasih sudah datang,' kata Rindu.
Suaranya terdengar lebih kecil daripada yang ia harapkan. Ia menarik napas dan mencoba lagi tanpa meminta maaf.
'Saya meminta pertemuan ini karena menunda jawaban sudah mulai menyakiti kita semua.'
Zavin memandangnya. Rendra meletakkan kedua tangannya di lutut.
'Sebelum bicara tentang perasaan, saya ingin menjelaskan satu hal. Saya tidak ingin hidup saya ditentukan oleh siapa yang paling banyak menolong atau paling banyak mengembalikan uang.'
Rendra membuka mulut sedikit, lalu menunggu.
Rindu menatap Zavin.
'Pak, bantuan Bapak membuat Ibu mendapat pertolongan yang sangat berarti. Saya tidak akan mengecilkan itu supaya lebih mudah mengatakan hal lain. Tetapi saya tidak bisa menjadikan hidup bersama seseorang sebagai pembayaran.'
'Saya tidak pernah meminta pembayaran seperti itu,' jawab Zavin.
'Saya tahu. Yang saya bicarakan juga cara saya sendiri memandang bantuan Bapak.'
Rindu merapatkan halaman buku yang hampir terlipat.
'Kadang saya merasa harus membuat Bapak bahagia supaya layak menerima pertolongan itu. Padahal Bapak tidak mengatakan begitu. Saya membawa pikiran itu sendiri, lalu sulit membedakan terima kasih dengan sesuatu yang lain.'
Zavin menggeser pandangannya sesaat kepada gelas.
'Apakah semua waktu bersama saya hanya karena pikiran itu?'
'Tidak.'
Jawaban Rindu keluar cepat, lalu ia mengulanginya lebih pelan.
'Tidak, Pak. Saya senang bersama Bapak. Saya merasa didengar. Ketika Bapak datang, banyak hal terasa lebih ringan. Itu sungguh terjadi.'
'Lalu?'
'Saya akan mengatakan semuanya. Saya hanya tidak ingin memulainya dengan menghapus bagian yang baik.'
Zavin bersandar sedikit. 'Baik. Saya mendengarkan.'
Rindu membuka halaman catatannya.
'Saya ingin mencicil penggantian bantuan untuk Ibu sesuai kemampuan saya. Bukan langsung semuanya dan bukan dengan janji angka yang sekarang tidak bisa saya penuhi.'
Ani memandang putrinya, tetapi tidak menyela.
'Saya juga ingin mencocokkan catatan. Dana dari Rendra kemarin harus tercatat agar tidak dihitung lagi sebagai kewajiban saya.'
Zavin menatap buku itu.
'Ri, sejak awal bantuan tersebut tidak saya berikan sebagai pinjaman.'
'Saya memahami. Saya tidak sedang mengubah masa lalu menjadi tagihan Bapak. Ini keinginan saya untuk ikut menanggung, sedikit demi sedikit.'
'Kalau keinginan itu membuat kebutuhan Ibu atau kebutuhanmu sendiri terabaikan, saya tidak mau.'
'Saya tidak akan menjanjikan yang mengorbankan perawatan Ibu.'
Rendra bergerak di kursinya.
'Bagian yang seharusnya kutanggung jangan kamu ambil, Ri.'
Rindu beralih kepadanya.
'Aku tidak sedang menghapus bagianmu. Uang untuk Ibu yang dulu tidak sampai tetap harus dibereskan dengan jelas. Tetapi kamu juga tidak boleh menggunakan itu untuk melarang aku membuat keputusan tentang kemampuanku sendiri.'
Rendra menarik napas. 'Aku mengerti.'
Ridwan baru berbicara ketika jeda menjadi cukup panjang.
'Mungkin yang perlu dipisahkan hari ini adalah niat, catatan, dan kesanggupan. Tidak semuanya harus menghasilkan angka sebelum kalian pulang.'
Rindu mengangguk. 'Itu yang saya maksud, Pak.'
Zavin menatapnya beberapa saat.
'Saya bersedia membicarakan pencatatannya setelah ini. Tidak ada bunga, tidak ada desakan waktu dari saya, dan tidak ada kaitan dengan jawabanmu tentang hubungan kita.'
'Terima kasih.'
'Tetapi saya ingin kamu mengatakannya sekali lagi untuk dirimu sendiri. Kamu tidak perlu membayar supaya berhak menolak saya.'
Rindu merasakan matanya panas.
'Saya berhak menentukan pilihan meskipun belum bisa mengembalikan bantuan itu.'
Zavin menundukkan kepala sejenak. 'Ya.'
Kalimat sederhana itu justru membuat Rindu sulit melanjutkan. Ia mengambil air, meneguk sedikit, lalu menaruh gelas dengan kedua tangan agar tidak berbunyi keras.
Ani menyentuh sisi bukunya.
'Berhenti sebentar kalau perlu.'
'Saya ingin tetap di sini, Bu.'
Sarah menggeser kotak tisu ke tempat yang lebih mudah dijangkau. Tidak seorang pun mengisi jeda dengan nasihat atau pertanyaan baru.
Rindu mengambil satu lembar tisu. Ia menyeka sudut mata, lalu menutup buku catatan yang sejak tadi menjadi tempatnya menunduk.
'Pak Zavin, saya tidak meminta Bapak menunggu sampai saya merasa cukup baik untuk berbicara jujur.'
Zavin mengangkat wajah.
'Kalau begitu, katakan sekarang.'
Rindu melihat Rendra, kemudian kembali menatap Zavin. Ia tidak ingin menyampaikan jawaban kepada satu orang melalui tatapan yang ditujukan kepada orang lain.
'Perasaan saya kepada Bapak nyata. Tetapi bukan perasaan yang bisa saya janjikan sebagai seorang istri.'