Ani memandang nama Rindu di ujung pena itu, kemudian menarik kursi agar bisa duduk lebih dekat.
'Mulai dari dirimu tidak berarti menghapus orang lain.'
'Aku takut kelihatannya begitu, Bu.'
'Menurut siapa?'
Rindu tidak langsung menjawab. Di kepalanya ada suara Hesti yang dahulu menuntut, wajah Wina ketika menangis, juga keheningan Zavin sesudah diminta menjaga jarak. Semuanya terasa memiliki tempat sebelum keinginannya sendiri.
'Aku terbiasa memikirkan siapa yang akan kecewa.'
'Ibu juga mungkin kecewa pada keputusanmu suatu hari. Itu tidak membuat keputusanmu otomatis salah.'
Rindu meletakkan pena. 'Kalau Ibu merasa aku mengulangi kesalahan?'
'Ibu akan mengatakannya. Setelah itu, Ibu tetap harus mendengarkan alasanmu.'
Ani mengusap ujung kertas yang terlipat.
'Tetapi malam ini jangan memaksa dirimu menemukan jawaban hanya supaya besok terlihat kuat.'
Rindu membantu ibunya kembali ke kamar. Sesudah memastikan kebutuhan Ani berada dalam jangkauan, ia merapikan meja tanpa menyobek kertas itu. Pengakuan Rendra tetap terletak di sampingnya. Ia tidak ingin memilih hanya bagian masa lalu yang menyenangkan untuk dibawa ke hari berikutnya.
Malam itu ia tidur setelah mengatur pengingat untuk kebutuhan pagi. Ketika terbangun keesokan harinya, rumah masih sunyi. Ia menyiapkan sarapan sederhana sebelum duduk kembali di depan empat nama tersebut.
Di samping nama Zavin ia menulis: terima kasih.
Lalu berhenti.
Dua kata itu benar, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan semua yang pernah dirasakannya. Ia pernah menunggu kedatangan Zavin. Pernah merasa lebih tenang hanya karena laki-laki itu duduk di seberang meja. Menyebut semuanya sebagai utang budi akan menghapus kehangatan yang sungguh pernah ada.
Rindu menambahkan: nyaman, dihargai.
Di samping nama Rendra, ia menulis: luka.
Tangannya tidak bergerak beberapa saat sebelum menambahkan kata lain yang selama ini selalu diikutinya dengan bantahan.
Rindu.
Ia memandangi kata yang juga merupakan namanya sendiri itu, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Merindukan seseorang tidak otomatis membuat orang itu aman. Tetapi menyangkal kerinduan juga tidak serta-merta menjadikannya hilang.
'Aku belum memaafkan semuanya,' bisiknya kepada ruangan kosong.
Kalimat itu tidak membatalkan kata yang telah ia tulis.
***
Ridwan dan Sarah datang menjelang siang setelah memberi kabar. Rindu membukakan pintu, sementara Ani menunggu di ruang tengah.
Sarah meletakkan tas di dekat kursinya.
'Kami tidak membawa rencana apa-apa,' katanya. 'Mbak Rindu yang ingin bicara.'
Rindu tersenyum kecil. 'Saya justru sudah menyiapkan terlalu banyak kalimat.'
'Kalau begitu, pilih yang paling perlu dulu,' ujar Ridwan.
'Saya ingin mengundang Rendra dan Pak Zavin besok. Saya ingin mengatakan apa yang selama ini saya tunda. Tetapi rumah ini milik Bapak dan Mbak Sarah. Saya tidak ingin menggunakannya seolah semua bebas saya putuskan.'
'Kalian boleh menerima mereka,' jawab Ridwan. 'Kami hanya perlu tahu kapan supaya tidak datang di tengah percakapan.'
'Saya ingin Bapak dan Mbak Sarah ada. Bukan untuk membela saya.'
Sarah memandangnya dengan sungguh-sungguh.
'Untuk menemani?'
Rindu membenarkan.
Ani menambahkan bahwa dirinya pun ingin hadir, selama kondisinya memungkinkan. Rindu segera menawarkan agar pertemuan dibuat singkat, tetapi Ani mengangkat tangan sebelum anaknya mulai mengatur terlalu jauh.
'Ibu boleh beristirahat kalau perlu. Percakapanmu tidak harus berhenti setiap kali Ibu masuk kamar.'
Rindu menarik napas. 'Baik, Bu.'
Ridwan bertanya apakah kedua laki-laki itu sudah mengetahui tujuan pertemuan. Rindu menjawab belum; ia tidak ingin menyampaikan keputusan melalui undangan, tetapi juga tidak hendak membuat mereka datang dengan harapan yang sengaja dibesarkan.
'Katanya bagaimana, ya, Pak?'
'Katakan yang bisa mereka harapkan,' jawab Ridwan. 'Mendengar pilihanmu, bukan merundingkan pilihanmu sampai berubah.'
Sarah melirik suaminya, kemudian kembali kepada Rindu.
'Dan jangan menjanjikan bahwa semua orang akan pulang dengan lega. Itu di luar kuasa Mbak Rindu.'
Rindu mengambil ponsel. Di hadapan mereka, ia menyusun pesan untuk Zavin dan Rendra secara terpisah. Ia meminta keduanya datang esok siang, menjelaskan bahwa ia ingin berbicara mengenai hubungannya dengan mereka, dan menyebutkan siapa saja yang akan hadir.
Sebelum mengirim, ia membacanya sekali lagi.
'Terlalu dingin?' tanyanya.
Sarah tidak mengambil ponsel itu dari tangannya.
'Apakah kalimatnya mengatakan yang Mbak Rindu maksud?'
'Iya.'
'Kalau begitu, tidak perlu dibuat manis sampai artinya berubah.'
Rindu menekan tombol kirim.
***
Setelah Ridwan dan Sarah berpamitan, Rindu menemani Ani makan. Mereka tidak membicarakan undangan sampai kedua ponsel bergetar hampir berurutan di meja.
Rendra menjawab bahwa ia akan datang tepat waktu.
Zavin menanyakan apakah Rindu menginginkan pertemuan bersama sejak awal atau percakapan terpisah lebih dahulu.
Rindu membaca pertanyaan itu dua kali. Bahkan sekarang laki-laki itu masih memberinya pilihan bentuk pertemuan.
Ia membalas bahwa dirinya ingin berbicara bersama terlebih dahulu. Jika kemudian ada hal yang perlu dikatakan terpisah, ia tidak keberatan, selama semua orang bersedia.
Zavin menjawab singkat bahwa ia memahami.
Rindu meletakkan ponsel.
'Dia selalu berusaha membuatku nyaman.'
Ani menyendok makanannya perlahan. 'Itu hal yang baik.'
'Kadang justru itu yang membuatku takut berkata jujur.'
'Karena?'
'Karena rasanya tidak pantas mengecewakan orang sebaik itu.'
Ani menaruh sendok.
'Rindu, apa kamu ingin dipilih seseorang karena dia merasa kamu terlalu baik untuk ditolak?'
Rindu menggeleng.
'Kalau begitu, jangan berikan sesuatu yang kamu sendiri tidak ingin menerima.'
Ia terdiam cukup lama. Dari jendela, terdengar daun bergesekan dengan pagar. Rumah ini tidak lagi milik mereka, tetapi pagi itu Rindu dapat duduk tanpa memikirkan kapan harus meminta maaf karena menempatinya.
Sore itu ia memeriksa catatan bantuan dan pengeluaran yang ada padanya. Beberapa bagian masih harus dicocokkan dengan Zavin. Ia tidak mengarang angka untuk membuat tekadnya terlihat besar. Dana yang telah diserahkan Rendra juga harus dicatat terpisah agar tidak dihitung dua kali.
Di halaman kosong, ia menulis satu kalimat tentang mencicil sesuai kemampuan.
Ani memperhatikan dari kursinya.
'Kamu sedang menyiapkan ucapan atau hukuman untuk dirimu sendiri?'
Rindu menatap halaman itu.
'Ucapan, Bu. Aku tidak mau memaksa diriku membayar semuanya besok.'
'Bagus. Jangan menukar satu beban dengan janji yang tidak sanggup kamu jaga.'
Ketika malam tiba, Rindu melipat kertas berisi nama-nama itu dan menyimpannya di bawah buku catatan. Untuk pertemuan esok, ia hanya menyiapkan halaman kosong.
Ia ingin mendengar jawaban mereka, bukan sekadar menunggu giliran berbicara.