Wina melewati ambang pintu dengan langkah pelan. Ia tidak segera mengulurkan tangan kepada Rindu. Matanya lebih dahulu mencari Ani, yang duduk di kursi dekat jendela.
'Bu Ani.'
'Silakan duduk, Bu Wina.'
Hesti masuk setelah ibunya. Rendra menutup pintu, lalu mengambil kursi agak jauh dari meja. Ia sudah membantu mereka datang; percakapan ini tidak boleh kembali menjadi sesuatu yang ia wakili.
Rindu duduk di sisi Ani.
Wina merapikan ujung lengan bajunya dua kali sebelum berbicara.
'Saya pernah menganggap rumah dan uang membuat saya berhak menilai orang,' katanya. 'Saya memperlakukan anak Ibu seolah dia harus terus membuktikan bahwa pantas berada di keluarga kami.'
Ani mendengarkan. Wajahnya tidak keras, tetapi ia juga tidak tersenyum untuk memudahkan Wina melanjutkan.
'Saya membiarkan dia merasa kecil. Bahkan ketika Ibu sakit, saya lebih sibuk memikirkan keluarga saya sendiri.'
Suara Wina merendah.
'Saya malu datang ke sini. Tetapi saya lebih malu kalau terus bersembunyi di balik kondisi saya.'
Rindu memandang tangan Wina. Jemarinya saling menekan, seperti sedang menahan kalimat yang dahulu mungkin akan berubah menjadi pembelaan.
'Saya minta maaf kepada Ibu,' lanjut Wina. 'Karena yang kami sakiti bukan hanya Rindu. Ibu ikut menanggungnya.'
Ani menarik napas perlahan.
'Ketika anak saya pulang membawa kesedihan, saya tidak selalu tahu apa yang terjadi,' katanya. 'Dia sering menutupinya agar saya tidak ikut susah.'
Rindu menatap lantai.
'Jadi jangan meminta saya menjelaskan semuanya hari ini. Ada bagian yang bahkan baru saya pahami belakangan.'
'Saya tidak meminta, Bu.'
'Dan jangan meminta Rindu cepat baik hanya karena Ibu sudah mengatakan maaf.'
Wina menggeleng. Matanya basah.
'Saya tidak punya hak itu.'
Hesti mengangkat wajah. Selama Wina berbicara, ia nyaris tidak bergerak. Kini ia menatap Ani, lalu Rindu, tetapi pandangannya tidak bertahan lama.
'Saya juga harus meminta maaf.'
Kalimat itu terdengar kaku. Hesti menelan ludah dan mencoba lagi.
'Uang untuk perawatan Ibu dulu saya ambil. Saya menggunakan kebutuhan saya sendiri sebagai alasan. Sebagiannya saya belanjakan untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan keadaan Ibu.'
Rindu tetap diam.
'Saya mengembalikan sedikit kepada Rendra, lalu marah ketika dia masih meminta pertanggungjawaban. Seolah dengan mengembalikan sisanya, saya boleh menganggap semua akibatnya selesai.'
Hesti mengusap sisi hidungnya. Wina tidak meraih tangannya atau membantu meneruskan.
'Saya juga membuatmu percaya uang operasi diberikan dengan syarat bercerai, Rindu. Surat cerai yang kubawa kemudian kutukar dengan surat gugatan ketika kamu berada di kamar mandi. Aku melipat bagian atasnya supaya kamu tidak memeriksa judulnya. Setelah itu aku berpura-pura menelepon Rendra agar kamu percaya dia sedang menyiapkan pernikahan. Itu perbuatanku, bukan sesuatu yang bisa kusebut salah paham.'
Hesti berhenti sebelum melanjutkan.
'Ada pesan dari nomormu yang mengatakan ingin bercerai,' kata Rindu kepada Rendra. 'Di pengadilan pesan itu tidak ada pada ponselmu.'
'Aku yang membalas,' Hesti menyela. 'Akun pesan Rendra masih terhubung pada laptopku. Sebelumnya aku memakai ponselnya untuk menghubungkannya tanpa memberitahunya. Setelah meninggalkanmu di rumah sakit, aku membaca pertanyaanmu dan mengirim jawaban itu. Percakapannya kemudian kuhapus dari sisi akun Rendra. Pesan pada ponselmu tidak ikut hilang.'
Rendra menatap kakaknya, lalu Rindu.
'Aku tidak menulis jawaban itu. Tetapi waktu kamu menelepon di tengah kemacetan, aku menjawab tanpa memastikan apa yang sedang kamu tanyakan. Setelahnya aku malah menuduhmu. Pesan palsu itu tidak membuat perbuatanku benar.'
Rindu meminta Hesti menuliskan pengakuannya untuk disampaikan kepada Hadi dan Dina. Hesti menyetujui, termasuk pemeriksaan akses akunnya. Mereka akan mencatat keterangan baru itu tanpa menganggapnya menghapus perceraian atau tuduhan yang sudah terbukti salah.
'Jangan ada lagi yang menyebut ini salah paham biasa,' kata Rindu.
'Tidak,' jawab Hesti.
'Saya juga menelepon Rindu waktu dia masih di Singapura. Saya meminta dia mencari jalan untuk masalah kami. Ketika dia menolak, saya mengatakan rahasia rumah itu karena ingin melukai Rendra lewat dirinya.'
Rendra menunduk sebentar. Ia tidak menyela untuk mengurangi bagian kesalahannya sendiri.
'Rahasia itu benar,' kata Hesti. 'Tapi cara saya mengatakannya bukan karena saya tiba-tiba ingin jujur. Saya ingin dia sama marahnya dengan saya.'
Ani memandangnya lama.
'Apa yang Ibu harapkan dari Rindu sekarang?'
Hesti membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
'Saya ingin dimaafkan,' jawabnya akhirnya. 'Tapi saya tahu saya tidak bisa menyuruhnya.'
'Kalau dia belum bisa?'
Jari Hesti meremas lipatan rok.
'Saya harus menerima.'
Rindu tidak berdiri untuk memeluk Hesti. Pengakuan itu perlu didengar, tetapi ia belum siap memberi maaf.
Hesti memandangnya.
'Saya minta maaf, Rindu.'
Rindu mengangguk sekali.
Ia hanya menunjukkan bahwa pengakuan itu telah didengar.
Wina menyeka pipinya.
'Terima kasih sudah mengizinkan kami datang.'
Rindu kembali mengangguk. Ani meletakkan tangannya dekat tangan putrinya, tidak menuntunnya ke arah siapa pun.
***
Beberapa saat kemudian, Ani meminta jeda. Rindu membantunya kembali ke kamar, sementara Wina tetap duduk untuk mengatur napas sebelum perjalanan pulang.
Di kamar, Ani menahan tangan Rindu sebentar.
'Kamu tidak harus keluar lagi kalau belum ingin.'
'Aku hanya memastikan Ibu nyaman.'
'Ibu nyaman. Kamu?'
Rindu memandang pintu yang terbuka sedikit.
'Aku tidak tahu harus mengatakan apa.'
'Kalau begitu, jangan memaksa kata-kata keluar.'
'Aku mendengar mereka, Bu.'
'Ibu tahu.'
'Tapi rasanya belum berubah banyak.'
Ani mengusap punggung tangannya.
'Luka tidak mengikuti jadwal kunjungan.'
Rindu duduk sebentar di tepi kursi. Dari ruang tamu terdengar suara gelas diletakkan, kemudian langkah Rendra menuju pintu depan. Ia tidak masuk menyusul atau memanggil namanya.
Ketika Rindu kembali, Hesti sudah berdiri di dekat Wina.
'Kami pulang,' kata Wina. 'Ibu perlu beristirahat.'
Rindu membukakan pintu. Hesti berhenti sebentar di ambangnya, terlihat ingin mengucapkan sesuatu, lalu mengurungkannya.
Rendra menunggu sampai ibu dan kakaknya berjalan menuju kendaraan.
'Aku akan mengantar mereka,' katanya.
Rindu memegang tepi pintu.
'Ya.'
Laki-laki itu melihat map pengakuannya yang masih terletak di sudut meja. Ia tidak menanyakan apakah Rindu sudah membaca ulang atau apakah kedatangan keluarganya mengubah sesuatu.
'Aku tidak akan datang lagi tanpa izin.'
'Terima kasih.'
Rendra pergi. Rindu menutup pintu setelah kendaraan bergerak, lalu tetap berdiri di sana beberapa detik.
Di luar, orang-orang yang dahulu menentukan banyak hal dalam hidupnya sedang pulang membawa jawaban yang belum mereka peroleh. Di dalam, Ani memanggilnya untuk meminta air. Rindu mengambil gelas dan masuk ke kamar, mengerjakan sesuatu yang kecil dan jelas sebelum menghadapi hal yang lebih sulit.
Menjelang malam, setelah Ani makan dan kebutuhan perawatannya tertata, Rindu menelepon Sarah. Ia mengucapkan terima kasih karena telah diizinkan menerima tamu, kemudian meminta waktu untuk berbicara dengan Sarah serta Ridwan.
'Apakah ada yang membuat kalian tidak nyaman di rumah?' tanya Sarah.
'Tidak, Mbak. Justru karena kami merasa diterima, saya ingin meminta izin dengan benar.'
'Untuk apa?'
'Saya ingin mengundang Pak Zavin dan Rendra sekali lagi. Bukan malam ini. Saya perlu beberapa hari untuk memikirkan apa yang akan saya katakan.'
Sarah tidak menanyakan siapa yang akan dipilih.
'Besok kami bisa mampir membicarakannya. Kalau Mbak Rindu memang ingin kami ada, kami akan mendampingi.'
'Saya ingin begitu.'
Sesudah panggilan itu, Rindu mengambil selembar kertas. Ia meletakkannya di samping pengakuan Rendra, lalu menulis tiga nama: Ani, Zavin, Rendra.
Di bawahnya ia menuliskan namanya sendiri.
Ani melihat dari kursinya di pintu kamar.
'Nama yang paling sulit kamu dengarkan yang mana?'
Rindu menggeser kertas itu agar ibunya bisa melihat. Ujung penanya berhenti pada nama terakhir.
'Besok aku mau mulai dari yang ini, Bu.'