'Aku akan menanyakan,' jawab Rendra. 'Kalau mereka belum bersedia, jangan datang sendiri.'
Hesti menarik catatan pengeluaran ke hadapannya lagi.
'Aku dengar.'
Rendra tidak menganggap dua kata itu sebagai perubahan yang sudah utuh. Yang dihadapinya tetap kakak yang pernah pandai mengubah kebutuhan menjadi hak. Namun, kali ini Hesti tidak menyuruhnya membawa nama Wina untuk memaksa Rindu membuka pintu.
Di hotel malam itu, Rendra mengeluarkan amplop kecil yang sejak ditolak Rindu ia simpan. Ia tidak memasukkannya ke dalam hitungan tabungan pribadinya. Uang yang asal dan tanggung jawabnya harus dijelaskan tidak boleh disamarkan sebagai kemurahan hatinya.
Ia memisahkan catatan kebutuhan perawatan Wina, kewajiban usaha, dan dana pribadi yang masih tersedia. Angkanya tidak membuatnya bangga. Ketika dulu ia merasa menjadi penopang banyak orang, ia jarang benar-benar melihat berapa bagian yang miliknya dan berapa yang hanya lewat di tangannya.
Pesan dari Rindu masuk sebelum ia menutup catatan. Zavin bersedia bertemu esok pagi di rumah Ridwan. Rindu telah meminta izin kepada pemilik rumah untuk menerima tamu. Tentang Wina dan Hesti, Ani bersedia menerima pada sore hari, selama kondisinya nyaman dan percakapan tidak dipaksakan panjang.
Rendra membalas tanpa menambahkan ucapan rindu.
Ia kemudian menghubungi Hesti untuk menyampaikan waktu dan batas pertemuan.
'Jangan membawa barang mahal,' katanya.
'Kamu pikir aku masih punya uang untuk itu?'
'Aku tidak sedang menyindir. Mereka tidak meminta hadiah.'
Hesti diam beberapa saat.
'Ibu sudah tidur,' katanya kemudian. 'Besok pagi aku beri tahu.'
***
Keesokan paginya, Rindu membuka pintu untuk Zavin. Laki-laki itu datang tanpa bunga atau makanan yang dapat menjadi alasan tinggal lebih lama.
'Pak Zavin sudah kembali sejak kemarin?'
'Iya. Perjalanan saya lancar. Bagaimana Ibu?'
'Sedang beristirahat. Nanti kalau beliau ingin keluar, saya bantu.'
Zavin memandang ruang tamu sebentar. 'Kamu nyaman di sini?'
'Saya masih menyesuaikan.'
'Itu wajar.'
Percakapan berhenti ketika Rendra tiba. Ia menyapa Zavin, kemudian duduk di tempat yang ditunjukkan Rindu. Tidak seorang pun menempati kursi Ani.
Rindu meletakkan segelas air di depan masing-masing.
'Saya ingin jelas dulu,' katanya. 'Pertemuan ini bukan untuk menentukan hubungan saya dengan siapa pun.'
'Saya mengerti,' jawab Zavin.
'Aku juga,' kata Rendra.
Rendra membuka map kecil. Bukan pengakuan yang kemarin sudah ditinggalkannya, melainkan catatan mengenai dana pribadinya.
'Saya ingin menyerahkan tabungan pribadi yang masih tersedia kepada Anda,' katanya kepada Zavin. 'Sebagai bagian penggantian biaya yang telah Anda keluarkan untuk Bu Ani.'
Zavin tidak langsung mengambil kertas yang disodorkan.
'Saya membantu Bu Ani tanpa syarat Rindu harus bersama saya.'
'Saya tahu.'
'Dan Anda tidak sedang mengambil alih suatu hak atas Rindu dengan menyerahkan uang ini.'
Rendra menatapnya. 'Saya tahu itu juga.'
Rindu tetap duduk tegak. Ia tidak ingin kedua laki-laki itu menjadi terlalu sopan sampai menghindari hal yang paling perlu dikatakan.
'Dulu ada uang untuk Ibu yang tidak sampai kepada kami,' katanya. 'Sekarang jangan ada uang milik orang lain yang dipakai untuk menutup rasa malu.'
Rendra menerima kalimat itu tanpa menunduk.
'Ini bukan dana gaji karyawan. Bukan uang yang sudah dialokasikan untuk perawatan Ibu saya. Kewajiban itu masih harus saya tangani sendiri. Ini seluruh saldo tabungan pribadi yang tersedia setelah bagian-bagian tersebut dipisahkan.'
'Bagaimana biaya hidupmu?' tanya Rindu.
'Aku sudah membatasi kebutuhan yang harus kubayar sekarang. Setelah ini aku tetap harus bekerja dan membereskan kewajiban. Aku tidak akan datang meminta kamu menopangku.'
Zavin membaca catatan itu dengan singkat.
'Jumlahnya tidak perlu Anda besar-besarkan.'
'Saya tidak sedang mengatakan ini mengganti semuanya.'
'Kalau saya menerima, pencatatannya harus jelas. Untuk biaya Bu Ani, bukan untuk hal lain.'
'Ya.'
Rindu menggeser gelasnya sedikit.
'Saya juga tidak ingin Bapak merasa harus menerima agar dia tidak malu.'
Zavin menatapnya. 'Saya akan memutuskan sendiri, Ri.'
Jawaban itu membuat Rindu diam. Selama ini ia begitu sibuk berusaha tidak diatur sampai hampir lupa bahwa orang lain pun berhak memutuskan tanpa ia lindungi dari semua ketidaknyamanan.
Zavin kemudian menyampaikan rincian rekening untuk penyerahan dana. Rendra mencocokkannya dengan saksama sebelum melakukan pemindahan di hadapan mereka. Sesudah muncul bukti transaksi, ia memperlihatkannya, lalu menunggu Zavin memeriksa penerimaan.
'Sudah masuk,' kata Zavin.
Rendra meletakkan ponsel.
'Terima kasih sudah menerima.'
'Simpan buktinya. Saya juga akan mencatat bagian ini terpisah.'
Tidak ada jabat tangan yang mengubah mereka menjadi dua sahabat. Tidak ada ucapan bahwa semua persoalan sudah lunas. Rindu justru merasa ruang tamu itu menjadi lebih nyata: tiga orang yang harus menanggung akibat pilihannya sendiri, tanpa satu pun memperoleh jawaban yang paling diinginkan.
Ani muncul di ambang pintu kamar setelah memanggil Rindu pelan. Rindu segera mendekat dan mendampinginya duduk.
'Ibu mengganggu?'
'Tidak, Bu,' jawab Zavin sambil berdiri sesaat.
Ani melihat wajah mereka bergantian.
'Jangan membuat biaya hidup Ibu menjadi harga anak Ibu.'
Rendra menjawab lebih dahulu. 'Tidak, Bu.'
Zavin meletakkan kedua tangannya di atas lutut.
'Saya menerima penggantian sebagian dana. Tidak lebih dari itu.'
Ani menatap Rindu. Putrinya membalas tatapan itu, kali ini tanpa perlu menjelaskan bahwa dirinya masih belum memilih.
***
Sesudah kedua laki-laki itu berpamitan secara terpisah, Rindu membawa gelas ke dapur. Di dekat bak cuci, ia berhenti dengan tangan masih memegang tepi nampan.
Ani memanggil dari ruang tengah.
'Kamu baik-baik saja?'
'Aku hanya sedang mencoba memahami rasanya, Bu.'
'Rasanya apa?'
'Melihat Ren mengembalikan uang tidak membuatku langsung percaya. Tapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa usahanya tidak ada.'
'Kamu boleh melihat keduanya.'
Rindu kembali dan duduk di dekat ibunya.
'Pak Zavin menerima tanpa meminta apa-apa. Aku malah takut tidak pernah bisa membalas.'
'Balasan tidak selalu harus berupa sesuatu yang orang lain inginkan.'
Rindu mengusap telapak tangannya pada rok.
'Aku belum tahu apa yang bisa kuberikan.'
'Kalau belum tahu, jangan menjanjikan.'
Menjelang sore, mereka memindahkan kursi agar Ani dapat duduk lebih nyaman. Rindu meletakkan air di meja dan memastikan ibunya masih bersedia menerima Wina serta Hesti.
Ani menjawab iya.
Tak lama kemudian terdengar kendaraan berhenti. Dari balik kaca, Rindu melihat Rendra membantu Wina turun. Hesti menyusul tanpa tas belanja atau bingkisan.
Ketukan terdengar pelan.
Rindu membuka pintu, lalu memberi ruang agar Wina masuk.