Rindu memandang kursi yang ditunjuk Ani, kemudian mengetik balasan kepada Rendra. Ia mengizinkannya datang esok siang, setelah memastikan ibunya tidak keberatan menerima percakapan itu.
'Aku tinggal sementara di rumah lama. Rumah itu tetap milik Pak Ridwan dan Mbak Sarah. Datang untuk menjelaskan, Ren. Jangan membawa permintaan lain.'
Sesudah mengirim alamat dan waktu, ia meletakkan telepon.
'Kalau Ibu lelah nanti, kita berhenti.'
'Kalau kamu yang lelah, juga boleh berhenti,' jawab Ani.
Rindu memutar kunci rumah di tangannya.
'Aku takut mendengarnya. Tapi aku juga capek memikirkan bagian yang tidak pernah dia katakan.'
'Besok kamu tidak harus memutuskan apa pun.'
'Aku tahu.'
Ani memiringkan kepala sedikit.
'Tahu dan percaya itu kadang berbeda.'
Rindu menaruh kunci di meja. Malam pertama di rumah itu ia habiskan dengan menyiapkan kebutuhan Ani, bukan membuka lemari lama atau mencari bekas kehidupan mereka. Beberapa barang telah berubah tempat. Ia belajar meminta izin kepada rumah yang pernah begitu dikenalnya.
Sebelum tidur, ia membaca lagi pesan Rendra. Laki-laki itu mengatakan Dokter Doni hanya memberitahukan bahwa Ani telah kembali ke Jakarta setelah menanyakan apakah kabar umum itu boleh diteruskan. Rendra tidak meminta alamat melalui dokter.
Rindu membalas singkat bahwa waktu yang ia berikan tetap berlaku.
***
Rendra tiba keesokan siangnya dengan sebuah map tipis. Ia turun dari kendaraan pesanan, berdiri sebentar di depan pagar, lalu mengirim pesan bahwa dirinya sudah datang.
Rindu membuka pintu tanpa mempersilakannya membantu pekerjaan apa pun.
'Masuk, Ren.'
'Terima kasih.'
Ani duduk di dekat meja. Rendra menundukkan kepala ketika menyapanya, kemudian menunggu sampai Rindu menunjukkan kursi.
'Kamu sudah makan, Bu?' tanyanya.
'Sudah. Duduklah.'
Rendra duduk. Map itu diletakkannya di depan dirinya sendiri, bukan langsung didorong kepada Rindu seolah sebuah hadiah.
'Aku menuliskannya supaya tidak mengubah kata-kata ketika kamu bertanya,' katanya. 'Tapi aku tetap harus mengatakannya di depanmu.'
Rindu merapatkan kedua tangannya di pangkuan.
'Aku mendengarkan.'
'Hesti membawa kesempatan kerja sama usaha. Ada modal dari orang-orang yang dijanjikan bagian dari hasil usaha. Aku mengetahui tujuan uang itu ketika menerimanya.'
Ia berhenti, bukan untuk mencari tanggapan, melainkan untuk menarik napas.
'Sebagiannya dipakai membangun rumah keluarga kami sebelum kewajiban penggunaan dan hak mereka dipenuhi. Hesti mengusulkan. Aku menyetujui.'
'Kamu tahu mereka tidak diberi penjelasan yang utuh?'
'Tahu.'
'Dan kamu tetap menggunakan rumah itu.'
'Iya.'
Ani memandang Rendra tanpa menyela.
'Kami mengatakan uangnya akan diganti setelah usaha membaik,' lanjutnya. 'Lalu kami memperlakukan rencana mengganti itu seperti izin. Padahal bukan.'
Rindu menatap mapnya.
'Selama aku menjadi istrimu, apa kamu pernah berniat mengatakan itu?'
'Pernah terpikir. Aku tidak melakukannya.'
'Kenapa?'
'Aku takut kamu melihatku berbeda.'
Rindu tertawa pendek, tanpa kegembiraan.
'Jadi kamu memilih aku melihat sesuatu yang tidak benar.'
'Iya.'
Jawaban itu membuat ruangan terasa lebih sunyi daripada pembelaan panjang. Rindu ingin marah terhadap satu kalimat yang bisa dipatahkan. Rendra justru sedang menaruh kesalahannya tanpa pelindung, dan rasa sakitnya tidak berkurang.
'Sesudah perceraian juga begitu?' tanyanya.
Rendra menatapnya.
'Iya. Aku ingin kamu melihat bahwa aku berubah sebelum mengetahui semuanya. Itu tetap menyembunyikan sesuatu darimu.'
'Kamu berharap aku terlanjur percaya lagi.'
'Aku berharap begitu. Aku malu mengatakannya, tetapi benar.'
Ani menggeser tangannya di atas sandaran kursi.
'Rendra, penjelasanmu ini untuk meminta Rindu kembali atau untuk mengakui perbuatanmu?'
'Untuk mengakui, Bu. Kalau saya masih menjadikannya cara mendapatkan Rindu, saya mengulang hal yang sama.'
Rindu mengulurkan tangan. Rendra menyerahkan map itu.
Di dalamnya ada beberapa lembar yang menguraikan peran Hesti, persetujuannya sendiri, alasan yang dahulu mereka gunakan, dan hal-hal yang belum dibereskan. Tidak ada kalimat yang menyebut Rindu tidak memahami tekanan seorang suami. Tidak ada paragraf tentang pengorbanannya menjaga Ani sebagai penyeimbang.
Pada bagian terakhir tertera nama dan tanda tangannya.
'Ini bukan bukti bahwa semua sudah diperbaiki,' kata Rindu.
'Bukan.'
'Aku akan menyimpannya.'
'Boleh.'
'Dan aku tidak mau kamu mengatakan kepada keluargamu bahwa aku menerima pengakuan berarti aku menerima kamu.'
'Aku tidak akan mengatakan itu.'
Rindu menutup map, tetapi tidak menaruhnya jauh-jauh. Ia masih membutuhkan waktu untuk membacanya tanpa kehadiran orang yang menulisnya.
'Uang Ibu yang dulu ditahan Kak Hesti juga belum bisa dianggap hilang dari persoalan hanya karena sekarang Ibu sudah dioperasi,' katanya.
'Aku tahu. Bantuan orang lain tidak menghapus kewajibanku.'
Rendra menunduk. 'Aku perlu mengetahui satu hal, kalau kamu bersedia menjawab. Bantuan biaya Ibu itu dari Pak Zavin?'
'Ya. Sekarang aku sudah tahu sumbernya. Dia yang membantu melalui jalur donasi itu.'
'Aku ingin menyerahkan seluruh tabungan pribadi yang masih tersedia sebagai bagian penggantian biayanya.'
Rindu menatapnya tajam.
'Pak Zavin tidak menjual pertolongannya.'
'Aku tidak mengatakan begitu.'
'Kalau kamu melakukannya untuk bersaing, jangan.'
'Aku perlu bertanggung jawab atas bagian yang dulu kutinggalkan. Aku ingin berbicara kepadanya langsung, dengan sepengetahuanmu.'
Rindu tidak langsung menjawab.
'Kalau dia bersedia, aku ingin hadir. Jangan membicarakan aku seolah aku sesuatu yang bisa diserahkan bersama uang.'
Rendra menelan ludah. 'Baik, Ri.'
***
Sore harinya, Rendra mendatangi rumah keluarganya. Wina beristirahat di kamar, sementara Hesti berada di meja makan dengan beberapa catatan pengeluaran.
'Kamu sudah menemui dia?' tanya Hesti.
'Sudah.'
'Dan semua salahku kamu ceritakan?'
'Kesalahanku juga.'
Hesti menggeser kursi. 'Mudah sekali sekarang menjadi orang jujur setelah semuanya berantakan.'
'Tidak mudah. Tapi kesulitanku tidak membuat kebohongannya benar.'
Wina muncul di pintu kamar. Rendra berdiri untuk membantunya duduk, tetapi ibunya memberi tanda bahwa ia bisa berjalan perlahan sendiri.
'Saya mau menemui Bu Ani,' kata Wina.
Rendra menunggu.
'Selama ini saya meminta maaf kepada Rindu. Ada banyak yang saya lakukan terhadap ibunya juga.'
Hesti menunduk ke catatan.
Wina menoleh kepadanya. 'Kamu ikut?'
'Bu Ani pasti membenci saya.'
'Mungkin beliau marah,' jawab Wina. 'Kita tidak bisa menyuruhnya jangan.'
Rendra tidak membujuk Hesti. Ia hanya mengatakan akan meminta izin terlebih dahulu, lalu membawa gelas ke dekat ibunya.
Ketika hendak pergi, suara Hesti menghentikannya.
'Kalau aku datang, Rindu mau mendengar?'
'Aku belum tahu.'
Hesti memandangi tangannya sendiri.
'Tanyakan,' katanya. 'Tapi jangan bilang dia harus memaafkan.'