Rindu menatap muram angka per angka yang tertera pada secarik kertas di genggamannya. Melangkah pelan, Rindu mengembuskan napas berat serasa batu besar menghimpit d**a. Kurang tidur, makan tidak teratur hingga masalah yang mendera sukses membuatnya frustasi sekaligus lemas.
Seusai membaca, ia menurunkan kedua lengan dengan kertas dipegang oleh tangan kiri. Keramaian di sekitarnya tak begitu jelas terdengar terkalahkan oleh ucapan dokter Doni tadi pagi yang terus terngiang. Hatinya teriris mengingat sang ibu yang kepayahan bernapas akibat serangat jantung tadi.
Amarah kembali menyeruak kala mengingat Rendra dan Wina. Benar-benar tak terduga. Mereka datang pagi buta hanya untuk menanyakan hal gila. Menuduhnya selingkuh? Yang benar saja! Sejak menikah, Rendra membatasi pergaulannya dengan para lelaki hingga sekarang Rindu sama sekali tak punya teman pria. Jadi dia mau berselingkuh dengan siapa? Sementara kehidupannya dibatasi bahkan harus menjadi ibu rumah tangga saja.
Dibukanya pintu kamar perawatan Ani. Wanita paruh baya itu masih terlelap sejak tadi. Melihat tubuh ringkih nan pucat terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit sukses meluruhkan kembali air mata yang rencananya tak ingin Rindu keluarkan lagi.
Dia duduk di kursi samping ranjang. Meraih satu tangan ibunya untuk digenggam. Ribuan kata maaf ingin ia lontarkan karena ibunya harus mendengar hal tidak-tidak dari mulut Rendra. Sedih, sakit, terluka. Sudah direndahkan kemudian difitnah sebegitu keji. Wanita itu tidak tahu akan bisa memaafkan suaminya atau tidak. Perilakunya sudah tak bisa dimaklumi.
"Ibu," panggilnya lembut. "Aku tidak melakukan hal yang diucapkan Rendra, Bu. Sungguh," monolog Rindu yang sudah tak tahan untuk menjelaskan segelanya pada Ani.
Sejak ibunya terdiagnosa kardiomiopati, Rindu selalu menjaga ucapan dan meminimalisir berita buruk yang sampai ke telinga Ani. Lalu sekarang, Rendra dan Wina seenak jidat memberi kabar bahkan yang hanya berisi omong kosong belaka.
"Ri ...." Ani menggumam tak jelas karena mulutnya tertutup sungkup oksigen. Tangan kanan yang digenggam Rindu mulai bergerak pelan. Disusul kedua bola mata Ani bergulir kanan-kiri menunjukan kalau sebentar lagi ibunya akan bangun. "Ri ... ndu." Sekali lagi Ani memanggil.
"Iya, Bu." Sigap Rindu duduk tegak menunggu sepasang mata ibunya membuka. Tak lupa ia menyeka air mata agar Ani tak melihat wajah basahnya. Rindu membantu Ani membuka sungkup oksigen agar dapat leluasa bicara, pun terdengar jelas.
"Ri ... kenapa selingkuh?" tanya Ani susah payah karena keadaannya masih lemah. Sejak mendengar hal itu dari Rendra, Ani benar-benar ingin bertanya segala hal pada putrinya.
Rindu lantas menggeleng cepat. "Rindu nggak melakukan itu, Bu. Sungguh! Ucapan mereka hanya omong kosong. Ibu harus percaya padaku."
"Surat ce-rai?" Kedua retina wanita itu berembun hingga terlihat kilatan di sana. Ketika cairan bening tak mampu lagi bertahan, Rindu cepat mengusap lelehannya tak mau melihat sang ibu menangis.
"Ibu tidak perlu memikirkan surat itu. Aku janji, setelah Ibu sehat maka aku akan ceritakan semuanya. Asal Ibu harus janji juga untuk bertahan dan berjuang sampai sembuh. Percaya padaku, Bu. Aku tidak melakukan kesalahan apapun apalagi selingkuh. Demi Tuhan!" Rindu membenamkan wajahnya di atas punggung tangan Ani. Menangis tersedu di sana bersama jutaan kesakitan yang tercipta.
Dalam waktu beberapa hari masalah seperti tak mau melepaskannya. Terus membelit hingga terasa melilit. Mulai dari tawaran gila untuk mengizinkan Rendra menikah lagi, drama surat cerai dan uang operasi kemudian sekarang harus menerima kenyataan pahit bahwa Ani menderita penyakit yang jauh lebih parah dari sebelumnya.
"Ibu ... percaya. Jangan menangis." Meski payah, tangan lemah itu berusaha mengangkat untuk mengusap kepala putrinya. "Jangan menangis."
***
"Harus ke Singapura, Dok?" tanya Rindu terperangah terkejut bukan main. "Apa ... tidak bisa operasi di Indonesia saja?" Pengobatan rumah sakit selama beberapa hari di sini saja biayanya sudah cukup besar. Apalagi harus operasi dan melakukan perawatan di Singapura?
Pantas saja sejak Doni memanggilnya untuk bicara di ruangan, Rindu sudah mempunyai firasat tak enak. Ternyata benar. Jalan menuju kesembuhan Ani masih berliku belum menemukan titil terang.
"Operasi tidak bisa dilakukan di sini, Ri, karena belum ada dokter yang berpengalaman serta resiko yang cukup besar," jelas Doni semakin membuat kepala Rindu terasa berat.
"Lalu ... bagaimana dengan pendonor? Apa akan ada yang jantung yang cocok dengan ibu saya?" Tentu saja hal ini adalah yang paling penting. Jangan sampai sudah memutuskan, tapi sampai di sana malah tidak ada kejelasan.
"Tim medis di sana akan melakukan pencocokan dulu setelah itu baru akan tahu jawabannya apakah ada jantung cocok atau tidak. Saya sudah menghubungi salah satu dokter yang akan menangani ibumu nanti. Beliau akan mengupayakan agar pasien bisa menerima donor segera. Namun semua kembali lagi pada hasil pencocokkan, Ri." Penjelasan Doni membuat Rindu mengembuskan napas frustasi.
"Satu lagi ...."
Rindu menatap tak percaya pada pria yang duduk di sebrangnya. Selain semua yang sudah diungkapkan, ternyata masih ada lagi. "Apalagi, Dok?" tanya Rindu yang sudah setengah depresi memikirkan rentetan angka yang harus ia lunasi.
"Saya memohon maaf, Ri. Surat rujuk dari rumah sakit ini akan bisa ke luar kalau kamu sudah melunasi seluruh biaya pengobatan." Doni mengembuskan napas berat. Sejatinya pria itu juga tidak tega memberi tahu Rindu, tapi itu semua sudah ketentuan rumah sakit. "Saya harap kamu bisa maklum."
Wanita di depannya hanya mengangguk pasrah menunduk dalam memijat pangkal hidung. Kenapa semakin banyak masalah yang menerpa hidupnya? Pagi tadi Rendra dan sekarang biaya rumah sakit yang rasanya Rindu sendiri ragu apakah bisa dilunasi olehnya atau tidak.
"Kalau begitu ... saya permisi, Dok. Secepatnya saya akan melunasi seluruh biaya agar ibu bisa dirujuk ke rumah sakit Singapura," tuturnya ragu.
"Baiklah. Jika ada kabar terbaru, saya akan langsung menghubungi kamu. Saya juga akan bantu mencari jalan ke luar untuk masalahmu ini, Ri. Jangan menyerah." Doni mengembangkan senyum tipis untuk sekadar memberikan semangat pada Rindu.
Wanita malang itu melangkah pelan menelusuri lorong menuju ke ruangan ibunya. Tatapannya kosong tampak menerawang. Rindu menghentikan langkah di samping jendela kaca besar. Ditatapnya langit biru nan cerah siang ini. Mampukah ia bertahan dan melewati semua masalah dalam hidupnya?
Rindu menghela napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan guna menenangkan pergolakan batin yang sedang terjadi dalam hatinya. Bingung, marah, kesal dan takut semua melebur menjadi satu-kesatuan rasa yang sukses mengobrak-abrik ketenangan jiwa. Dia memegang permukaan kaca untuk menyangga tubuhnya yang mulai lemah. Kepalanya berputar lengkap dengan tatapan yang mulai berembun. "Ya Tuhan, tolong aku," jeritnya dalam hati yang tersayat-sayat. Seketika air mata tak mampu lagi ia tahan. Mengucur begitu saja dan mendarat ke lantai.
"Rindu!" panggil Doni dari arah belakang. "Ada hal penting yang ingin saya katakan padamu." Doni menatap lekat Ridnu yang masih memejam. "Hei. Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa, Dok. Saya ...."
Seketika itu juga tubuh rampingnya hampir limbung ke kanan. Beruntung Doni sigap menahan Rindu agar tidak tersungkur ke lantai.
"Ayo ... kita duduk di kursi tunggu saja." Doni membantu Rindu sampai bisa beristirahat di kursi tunggu terdekat. Tak lupa dokter itu mengambilkan botol air mineral di ruangannya untuk wanita itu.
"Saya sudah katakan sebelumnya, orang yang menunggui pasien harus menjaga kesehatan dan jangan ikut sakit. Kamu pasti tidak mendengarkan ucapan saya waktu itu," omel Doni khas seorang dokter pada umumnya jika mendapati pasien yang nakal semacam Rindu.
"Maaf, Dok. Akhir-akhir ini ... saya banyak masalah," keluhnya tanpa ia sadari. Jujur saja sekarang kepalanya terasa penuh berisi masalah yang tentu saja belum Rindu ketahui jalan ke luar untuk menyelesaikannya.
Doni menutup botol air mineral yang telah Rindu minum. Mendengar ucapan Rindu, sedikit banyak Doni paham bagaimana keadaan rumah tangga dan kehidupan wanita di sampingnya sekarang.
"Oh, ya. Dokter bilang ada hal yang penting? Ada apa, Dok?" Rindu tidak berharap banyak pada apa yang akan ia dengar nantinya. Yang ia lakukan sekarang hanya menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang ada.
"Oh. Itu. Barusan saya mendapat telepon dari teman yang aktif di bidang sosial dan kesehatan. Ternyata yayasan milik ibunya mempunyai donatur tetap yang bisa membantu biaya pengobatan bahkan operasi. Saya mengobrol sedikit tentang kondisi ibumu dan teman saya mengatakan kalau donatur itu bisa membantu semua biaya pengobatan yang dibutuhkan oleh pasien," jelas Doni bersemangat.
Sontak saja Rindu seketika membola melongo tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "Be-benarkah, Dok?"
Doni mengangguk tegas mengulum senyum. "Sangat benar."
"Ta-tapi ... semua biaya itu sangat besar. Bagaimana mungkin--"
"Sekarang bukan itu yang harus kamu pikirkan, Ri. Ingat, surat rujukan akan turun kalau kamu sudah melunasi seluruh biaya rumah sakit. Jadi ... apa bisa berusaha secepatnya? Kita tidak punya banyak waktu. Kondisi ibumu juga semakin memburuk setiap harinya." Doni membuka pikiran Rindu agar fokusnya teralihkan.
"Baik, Dok. Saya akan berusaha melunasi biaya rumah sakit dulu. Sekali lagi terima kasih, atas bantuannya, Dok." Rindu menundukan kepalanya tanda terima kasih. "Kalau begitu saya permisi."
Rindu melangkah gontai menuju ruangan ibunya. Jauh di dalam lubu hati terdalam, wanita itu mengucap ribuan syukur yang tak berujung. Ternyata harapan masih sudi datang dalam hidupnya. Tapi apa yang harus dia lakuakn sekarang? Bagaimana cara melunasi biaya rumah sakit dalam waktu singkat?
Bersambung...