'Boleh, Mbak Sarah. Terima kasih,' jawab Rindu. 'Saya kirimkan rincian kedatangannya sesudah ini. Kalau ada perubahan, saya kabari.'
'Jangan sungkan. Kami menjemput, bukan meminta kalian terburu-buru.'
Rindu tertawa pelan. 'Ibu juga mengatakan begitu.'
'Boleh saya menyapa Ibu sebentar?'
Rindu mendekatkan telepon kepada Ani. Percakapan mereka singkat, tentang perjalanan dan keinginan Ani melihat Jakarta lagi. Sarah tidak menanyakan Rendra ataupun mendesak Rindu menjelaskan rencana hidupnya.
Sesudah panggilan berakhir, Rindu mulai memeriksa barang-barang yang akan dibawa. Ia memisahkan dokumen perawatan dari pakaian, meletakkan keperluan selama perjalanan dalam tas yang mudah dijangkau, lalu mencocokkan semuanya dengan catatan.
Ani memperhatikannya.
'Yang itu sudah kamu periksa.'
'Aku takut tertinggal.'
'Kalau kamu kelelahan sebelum berangkat, yang tertinggal justru tenagamu.'
Rindu meletakkan map. 'Satu kali lagi, lalu berhenti.'
'Janji?'
'Janji.'
Malam itu, setelah kembali ke hotel untuk berkemas dan beristirahat, Rindu mengirim kabar kepulangan kepada Zavin. Tidak ada permintaan untuk menjemput atau menemani. Ia hanya merasa orang yang telah membantu perawatan Ani patut mendengar kabar itu langsung darinya.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
'Syukurlah Ibu bisa pulang. Semoga perjalanan kalian lancar.'
Rindu membaca kalimat itu tanpa mencari sesuatu di balik kesederhanaannya. Ia mengetik terima kasih, lalu menambahkan bahwa Ridwan dan Sarah akan menjemput mereka.
Zavin membalas bahwa dirinya juga akan kembali ke Jakarta, dengan penerbangan berbeda. Ia tidak menawarkan mengubah jadwal agar dapat bersama mereka.
Untuk sesaat Rindu merasakan sepi yang aneh. Dahulu, kehadiran Zavin terasa begitu mudah ditemukan. Sekarang laki-laki itu melakukan persis apa yang ia minta, dan Rindu harus belajar tidak menganggap penghormatan itu sebagai penolakan.
Ia meletakkan telepon, mematikan lampu, dan mencoba tidur.
***
Keesokan harinya, mereka berangkat setelah urusan kepulangan Ani dituntaskan oleh tim rumah sakit. Rindu mendengarkan kembali petunjuk yang diberikan, memastikan dokumen tindak lanjut dibawa, dan tidak mengganti rencana perjalanan atas dasar keinginan cepat tiba.
Di bandara, bantuan yang telah diminta membuat Ani tidak perlu memaksakan diri berjalan jauh. Rindu mendampingi tanpa berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama. Ketika Ani mengatakan ingin duduk lebih nyaman, ia membantu; ketika ibunya ingin diam, ia tidak mengisinya dengan kecemasannya sendiri.
'Bu, kalau aku terlalu cerewet, bilang.'
Ani meliriknya. 'Sekarang kamu meminta Ibu mengawasi kecerewetanmu juga?'
Rindu tersenyum malu.
'Ibu bisa mengatakan kalau perlu sesuatu,' lanjut Ani. 'Kamu boleh duduk.'
Rindu duduk di sebelahnya. Tas dokumen ia letakkan di pangkuan, tidak lagi dipeluk erat.
Sepanjang penerbangan, Ani lebih banyak beristirahat. Rindu sesekali memandang wajahnya, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan di Jakarta akan disusun kembali. Tetapi kali ini ia tidak membawa ibunya pergi untuk mengejar satu-satunya harapan. Ia membawanya pulang dengan perawatan yang masih harus dijaga.
Saat akhirnya mereka melewati pintu kedatangan, Sarah melambaikan tangan. Ridwan berdiri di sampingnya, kemudian maju untuk membantu barang setelah meminta izin.
'Selamat pulang, Bu Ani.'
'Terima kasih sudah repot,' jawab Ani.
'Tidak merepotkan,' kata Sarah. 'Kita duduk sebentar sebelum menuju mobil.'
Mereka berhenti di tempat duduk yang tidak terlalu ramai. Sarah menyerahkan air kepada Rindu, lalu menatap Ani.
'Bu, kami ingin menawarkan sesuatu. Tidak perlu langsung dijawab kalau Ibu masih lelah.'
Ani merapikan ujung kerudungnya. 'Apa, Nak?'
'Rumah yang dulu itu masih kami miliki,' kata Ridwan. 'Kalau Ibu dan Mbak Rindu bersedia, tinggallah sementara di sana.'
Tangan Rindu berhenti di tutup botol.
'Di rumah lama kami, Pak?'
'Iya. Untuk masa pemulihan Ibu.'
Rindu memandang Ani. Ia melihat keterkejutan yang sama, tetapi juga sesuatu yang rapuh: keinginan yang belum berani disebut.
'Kami tadinya akan mencari penginapan,' kata Rindu. 'Saya belum tahu berapa lama Ibu membutuhkan pendampingan seperti ini.'
'Tidak harus menetapkan semuanya hari ini,' jawab Sarah. 'Kami menawarkan tempat tinggal sementara. Bukan meminta keputusan lain.'
'Apakah Pak Zavin yang meminta?'
Pertanyaan itu keluar lebih cepat daripada yang Rindu rencanakan.
Ridwan menggeleng. 'Saya mengenal Zavin, tetapi tawaran ini dari kami. Dia tidak menitipkan syarat.'
Rindu menunduk sedikit. 'Maaf. Saya perlu memastikan.'
'Memastikan itu boleh,' ujar Sarah.
Ani menyentuh tangan putrinya.
'Ibu ingin melihat rumah itu lagi,' katanya. 'Tapi kalau kamu merasa berat, kita bicarakan.'
'Bukan rumahnya yang membuatku berat, Bu. Aku takut menerima sesuatu yang belum kupahami.'
Ridwan menunggu sampai Rindu menatapnya.
'Rumah itu tetap milik kami. Kalian menempatinya dengan izin kami, sementara. Untuk kebutuhan sehari-hari, kita bicarakan sewajarnya. Tidak ada hubungan dengan siapa yang nanti Mbak Rindu pilih.'
Rindu mengembuskan napas. 'Kalau begitu, kami menerima. Terima kasih.'
***
Perjalanan dari bandara berlangsung tanpa banyak percakapan. Sarah sesekali bertanya apakah Ani nyaman, sementara Ridwan mengemudi dengan tenang. Ketika gerbang rumah lama terlihat, Rindu tanpa sadar menegakkan punggung.
Catnya tidak persis seperti dalam ingatannya. Ada pot yang dipindahkan. Namun, bentuk teras dan letak jendela itu masih sama.
Ani memandang pintu depan lama sekali.
'Bu?'
'Ibu ingat ayahmu pernah memperbaiki pegangan pintu itu sendiri.'
Sarah tidak menyela. Ia menunggu Rindu membantu Ani turun, kemudian membuka pintu dan menunjukkan ruang yang bisa dipakai beristirahat.
Rindu tidak berjalan berkeliling seperti pemilik yang baru pulang bepergian. Ia menanyakan letak barang yang boleh dipakai, tempat menyimpan keperluan Ani, dan hal yang perlu mereka jaga.
'Kalau ada yang harus dipindahkan, bilang kepada saya,' kata Sarah.
'Yang ini sudah cukup, Mbak.'
Ani duduk perlahan. Telapak tangannya menyentuh sisi kursi, seolah memastikan sesuatu yang pernah hilang masih dapat disentuh tanpa harus dimiliki kembali.
Rindu berlutut sebentar untuk merapikan tas di dekat kursi.
'Aku ambilkan pakaian ganti, Bu.'
'Nanti. Duduk dulu.'
Mereka duduk berdampingan sampai Ridwan meletakkan sebuah kunci di atas meja.
'Ini untuk kalian gunakan. Kami tidak akan datang tanpa memberi kabar.'
Rindu memungutnya. 'Saya akan menjaga rumahnya, Pak.'
'Jaga diri kalian juga.'
Setelah Ridwan dan Sarah berpamitan, Ani meminta Rindu membuka sedikit tirai. Cahaya sore jatuh di lantai yang dikenalnya sejak kecil.
Ponsel Rindu bergetar. Pesan Rendra menanyakan apakah ia boleh datang esok hari untuk menyerahkan penjelasan tertulis, tanpa meminta jawaban tentang hubungan mereka.
Rindu membaca pesan itu kepada Ani.
'Ibu mau mendampingi aku?'
Ani menatap kursi kosong di seberang meja.
'Kalau kamu mengizinkan dia datang, biarkan dia duduk di sana.'