Rindu menggenggam tangan Ani sekali lagi, lalu merapikan ujung selimut yang terlipat di dekat siku ibunya.
'Aku pulang ke hotel dulu, Bu.'
'Iya. Jangan mampir membeli macam-macam.'
'Cuma makan.'
'Makan sambil duduk. Bukan sambil melihat telepon.'
Rindu tersenyum kecil. 'Ibu masih sempat mengatur.'
'Anak Ibu masih perlu diingatkan.'
Dokter Adrian menunggu di sisi pintu. Rindu menggeser kursinya agar pemeriksaan Ani tidak terganggu, kemudian mengambil tas. Kali ini ia tidak berdiri lama untuk memastikan setiap benda sudah berada di tempat yang paling mudah dijangkau. Tombol panggil ada di dekat tangan ibunya. Petugas berada di luar. Ani tidak sedang ditinggalkan sendirian di sebuah rumah kosong.
Sesudah berpamitan kepada dokter, Rindu keluar.
Di hotel, ia benar-benar duduk untuk makan. Ponselnya diletakkan menghadap meja. Sesekali ia tergoda membaliknya, bukan karena menunggu pesan tertentu, melainkan karena selama berbulan-bulan bunyi telepon selalu berarti sesuatu yang harus segera ditangani.
Ia membiarkannya diam sampai makanannya habis.
Barulah ia mengirim kabar singkat kepada Ani bahwa dirinya sudah tiba. Tidak ada pesan untuk Rendra atau Zavin. Menjaga jarak ternyata bukan satu keputusan besar yang langsung membuat hati tenang. Ia harus melakukannya lagi setiap kali merasa ingin bersandar kepada seseorang sebelum memahami keinginannya sendiri.
Sore itu ia tidur. Ketika terbangun, cahaya di balik tirai sudah berubah redup.
Dalam percakapan sebelum malam, Ani mengatakan pemeriksaannya telah dilakukan dan Dokter Adrian ingin berbicara dengan mereka esok hari.
'Tentang perawatan berikutnya?' tanya Rindu.
'Iya. Kamu datang sesudah sarapan.'
'Aku tidak akan terlambat.'
'Ibu tidak menyuruhmu datang paling pagi.'
Rindu menarik selimut sampai pinggang. 'Aku tahu, Bu.'
Ia menyiapkan buku kecil dan daftar pertanyaan, lalu menutupnya. Untuk malam itu, ia hanya perlu tidur lagi.
***
Keesokan paginya, Rindu duduk di samping Ani dengan buku terbuka di pangkuan. Dokter Adrian menarik kursi agar penjelasannya dapat didengar keduanya tanpa harus meninggikan suara.
'Perkembangan Ibu memungkinkan kita menyiapkan kepulangan,' katanya. 'Namun, keluar dari rumah sakit tidak berarti perawatannya berhenti.'
Ani menoleh kepada Rindu, kemudian kembali kepada dokter.
'Saya boleh pulang ke Jakarta, Dok?'
'Setelah penilaian terakhir dan pengaturan tindak lanjutnya sesuai, perjalanan dapat direncanakan. Jangan berangkat hanya karena tiket sudah dibeli.'
Rindu menahan pertanyaan yang hampir melompat dari mulutnya. Ia menuliskan satu kalimat terlebih dahulu: jangan membeli tiket sebelum kepastian.
'Apa yang harus kami siapkan di rumah, Dok?'
Dokter Adrian menjelaskan kebutuhan lingkungan yang nyaman, pendampingan, keteraturan obat sesuai petunjuk tim, dan jadwal pemeriksaan berikutnya. Ia tidak menyerahkan semua pembicaraan kepada Rindu. Beberapa kali ia bertanya langsung kepada Ani mengenai keluhan dan kesanggupannya.
'Kalau ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, saya harus mengatakan, bukan menunggu anak saya melihat?' tanya Ani.
'Betul, Bu Ani. Petunjuk yang perlu diperhatikan akan diberikan tertulis. Bila ragu, hubungi tim yang menangani.'
Rindu menggeser bukunya sedikit. 'Dokter Doni selama ini membantu Ibu di Jakarta. Boleh kami menghubungkan beliau dengan tim di sini?'
'Boleh, dengan persetujuan Ibu.'
'Saya setuju,' jawab Ani, sebelum Rindu sempat menoleh.
Jawaban itu membuat Rindu berhenti menggenggam pulpennya terlalu erat. Selama ini ia begitu sering menjadi orang yang menjelaskan kebutuhan ibunya sampai kadang lupa bahwa Ani masih bisa menyatakan kehendaknya sendiri.
'Untuk saya,' Rindu berkata, 'saya baru beberapa hari ini kurang sehat karena kelelahan. Saya membaik, tetapi saya khawatir tidak bisa mengerjakan semuanya.'
'Kami akan membicarakan kebutuhan pendampingan secara realistis. Anda juga perlu menjaga kondisi.'
Ani menyentuh lengan anaknya.
'Kita tidak harus membuktikan bahwa berdua berarti mengerjakan semuanya berdua.'
Rindu memandang ibunya. 'Aku sedang belajar, Bu.'
Sesudah dokter keluar, mereka membaca kembali hal-hal yang dicatat. Kepulangan itu belum berupa koper di depan pintu. Masih ada pemeriksaan, dokumen, dan pengaturan yang harus mengikuti kondisi Ani.
'Kalau diizinkan besok, kita ke mana setelah tiba?' tanya Ani.
'Aku memikirkan penginapan dulu. Tempat yang tenang sambil mengatur langkah berikutnya.'
'Jangan memilih hanya karena paling murah.'
'Aku akan lihat kebutuhannya.'
'Dan jangan menghubungi orang karena merasa harus menerima semua pertolongannya.'
Rindu memahami siapa yang tidak disebut ibunya.
'Aku tidak akan meminta Pak Zavin menentukan tempat tinggal kita.'
'Kalau kamu perlu bantuan, boleh meminta. Ibu cuma ingin kamu tahu apa yang kamu minta.'
Rindu menutup buku. 'Untuk sekarang, aku ingin memastikan Ibu bisa berangkat dengan nyaman.'
***
Di Jakarta, pada hari yang sama, Rendra berdiri di sisi ranjang Wina ketika Dokter Doni menerangkan bahwa perawatan selanjutnya dapat dilakukan di rumah dengan petunjuk dan kontrol yang harus diikuti.
Wina tidak langsung tersenyum.
'Di rumah nanti siapa yang mengingatkan saya, Dok?'
'Hesti bersama Ibu,' jawab Rendra. 'Saya juga akan datang. Tetapi Ibu tetap perlu memberi tahu kalau ada keluhan.'
Doni menatap Wina, menunggu jawaban darinya.
'Saya mengerti,' kata Wina. 'Saya hanya sudah terlalu lama di sini.'
'Kami akan memastikan petunjuknya jelas sebelum Ibu pulang.'
Setelah Doni keluar, Hesti melipat pakaian di kursi. Gerakannya lebih keras daripada yang diperlukan.
'Biaya rumah juga tidak berhenti waktu Ibu di sini,' katanya.
Rendra mengambil kantong pakaian kotor. 'Aku tahu.'
'Kamu tahu banyak hal, Ren. Tapi semuanya masih harus dibayar.'
'Aku tidak bilang tidak.'
Wina memandang kedua anaknya. 'Jangan mulai lagi.'
Rendra menurunkan kantong itu.
'Saya tidak mau bertengkar, Bu. Saya cuma tidak akan mencari Rindu supaya dia ikut menanggungnya.'
Hesti berhenti melipat.
'Dia sudah tahu?'
'Yang Kakak katakan kepadanya sudah aku akui. Bukan semua penjelasannya.'
Wina memejamkan mata sesaat. 'Lalu kamu mau apa?'
'Mengatakan bagian saya tanpa bersembunyi di belakang Kak Hesti.'
Tidak seorang pun menjawab. Hesti memasukkan pakaian yang masih berlipat miring ke dalam tas.
Menjelang sore, Wina dibawa pulang setelah urusan kepulangannya diatur. Rendra membantu sampai ibunya duduk di kamar, lalu menyerahkan salinan petunjuk perawatan kepada Hesti. Ia tidak kembali menetap di rumah itu.
Sementara itu, di Singapura, Rindu menerima penjelasan lanjutan bahwa perjalanan esok hari dapat diatur sesuai hasil penilaian tim. Ia baru kemudian memesan perjalanan dan mengirim kabar kepada Ridwan serta Sarah, yang sebelumnya menanyakan keadaan Ani.
Sarah membalas bahwa mereka bisa menjemput.
Rindu menunjukkan layar itu kepada ibunya.
'Kalau Ibu nyaman, kita menerima jemputannya.'
Ani tersenyum tipis. 'Bilang terima kasih. Dan tanyakan dulu jam berapa mereka bisa.'
Rindu mengetik, lalu berhenti ketika Sarah menelepon.
'Mbak Rindu,' suara Sarah terdengar hangat, 'besok kami menunggu di tempat kedatangan, ya?'