'Aku ingin, Bu.'
Jawaban itu keluar sebelum Rindu sempat menganggapnya kekanak-kanakan. Di seberang, Ani tidak menertawakan atau mengingatkan bahwa putrinya sudah dewasa.
'Kalau begitu istirahat dulu. Besok lihat keadaanmu.'
'Iya.'
Setelah panggilan berakhir, Rindu meletakkan ponsel dalam jangkauan dan kembali berbaring. Kali ini ia tidak membuka percakapan dengan Rendra untuk membaca pengakuan yang telah melukainya, tidak pula mencari pesan Zavin untuk menenangkan rasa bersalah.
Ia sudah mengetahui keduanya memberi jarak. Malam itu ia ingin mencoba memberi ruang yang sama kepada tubuhnya sendiri.
Tidurnya masih beberapa kali terputus, tetapi ia tidak bangkit untuk mengerjakan sesuatu. Ia minum ketika perlu, lalu kembali beristirahat.
Pagi berikutnya, Rindu merasa lebih kuat. Ia tidak langsung berangkat begitu membuka mata. Ia makan, menilai kembali keluhannya, dan mengikuti arahan yang telah diberikan sebelum memutuskan pergi ke rumah sakit.
Kepada Ani, ia mengirim kabar bahwa dirinya akan datang lebih lambat dan tidak tinggal terlalu lama.
Balasan ibunya singkat.
'Ibu tunggu. Tidak usah bawa apa-apa.'
Rindu memandangi tas yang biasanya penuh. Ia tetap membawa barang penting, tetapi tidak menambahkan sesuatu hanya agar kedatangannya terasa berguna.
Di perjalanan, ia menatap jalan tanpa membuka ponsel. Ia masih terluka. Tidak ada satu malam istirahat yang membuat kebohongan Rendra atau perasaannya terhadap Zavin menjadi sederhana.
Namun, pagi itu ia tidak perlu membawa jawaban untuk keduanya.
***
Ani menoleh ketika pintu kamar terbuka. Rindu berhenti di dekat kursi, mendadak merasa malu seperti anak yang baru pulang setelah terlalu lama menahan tangis.
'Bagaimana badanmu?'
'Lebih baik, Bu. Masih cepat lelah.'
'Duduk.'
Rindu meletakkan tas dan menarik kursi mendekati sisi ranjang. Ani tidak bangkit untuk menyambutnya. Tubuhnya sendiri masih memerlukan pemulihan, dan Rindu tidak ingin membebaninya.
Mereka saling memandang beberapa saat.
'Aku datang,' kata Rindu, suaranya pecah.
'Ibu lihat.'
Rindu tertawa pendek, lalu menangis.
Ani mengulurkan satu tangan. Rindu mendekat dari kursinya dengan hati-hati, membiarkan ibunya merangkul bahunya tanpa menekan tubuh Ani atau mengganggu keperluan perawatan.
Pelukan itu tidak erat seperti pelukan yang dulu dikenalnya. Justru kelembutannya membuat Rindu tidak lagi sanggup bertahan.
'Maaf aku membuat Ibu khawatir.'
'Kamu boleh sakit, Ri.'
'Aku tidak mau.'
'Tidak ada yang ingin. Tetapi kamu tidak bersalah karena tubuhmu kelelahan.'
Rindu menangis dengan wajah dekat bahu ibunya. Ia tidak menumpukan berat tubuhnya, hanya menerima sentuhan yang tidak meminta pembuktian apa pun.
Ani mengusap rambutnya perlahan.
'Di sini kamu tidak perlu menjadi orang yang paling kuat.'
Kalimat itu membuat isak Rindu semakin sulit ditahan. Selama ini ia berdiri di antara tagihan, tuduhan, dan keputusan, berusaha menjadi orang yang tidak tumbang karena Ani membutuhkan seseorang.
Sekarang orang yang ingin dilindunginya justru sedang memeluknya.
'Aku merasa kehilangan tempat pulang, Bu.'
'Ibu ada.'
'Rumah kita sudah dijual. Rumah Rendra ternyata...'
Rindu berhenti, menelan sesak.
'Ibu tidak sedang bicara tentang bangunan.'
Rindu menutup mata. Ia tidak tahu ke mana mereka akan tinggal setelah perawatan berakhir. Ketidakpastian itu masih nyata, dan pelukan tidak menggantikan biaya atau alamat. Tetapi untuk beberapa menit, ia tidak harus mencari semuanya sebelum boleh merasa dicintai.
Setelah tangisnya sedikit mereda, Rindu kembali duduk tegak agar Ani tidak kelelahan.
'Ibu sakit kalau aku dekat begitu?'
'Tidak. Tapi sekarang kita duduk baik-baik.'
Rindu mengambil tisu dan menyeka wajah. Ani menunggu sampai ia bisa berbicara tanpa terisak.
'Aku takut tidak bisa percaya kepada siapa pun lagi.'
'Kamu masih percaya kepada Ibu?'
'Masih.'
'Kalau begitu katakan apa yang kamu perlukan sekarang.'
Rindu menatap tasnya. Ia hampir menyebut pekerjaan kecil yang belum dilakukan, lalu menggeleng.
'Aku tidak ingin ditanya harus memilih siapa.'
'Ibu tidak akan menanyakannya.'
'Aku juga belum ingin mendengar bahwa semua ini pasti ada hikmahnya.'
Ani mengusap tangannya perlahan. 'Kita tidak perlu mencari kalimat indah untuk menutupi rasa sakitmu.'
Rindu menelan sesak. Ia baru menyadari betapa lama dirinya mempersiapkan jawaban untuk orang lain, padahal kebutuhan paling sederhana adalah diberi ruang untuk tidak mempunyai jawaban.
'Aku cuma ingin Ibu tahu aku sudah berusaha.'
'Ibu tahu, Ri. Kamu tidak perlu menunjukkan sampai tubuhmu habis.'
'Kamu tadi mengatakan takut tidak bisa percaya kepada siapa pun lagi,' kata Ani. 'Mulai dari yang masih bisa kamu percaya. Tidak perlu memutuskan semuanya hari ini.'
Rindu mengangguk kecil. Ia memandang tangan ibunya, lalu menyambutnya di atas selimut.
***
Menjelang siang, setelah Ani sempat beristirahat, mereka berbicara lebih tenang. Rindu menceritakan inti pengakuan Rendra: uang kerja sama yang digunakan untuk rumah, pengetahuan dan persetujuannya, serta tahun-tahun ketika ia membiarkan Rindu mempercayai cerita yang berbeda.
Ani mendengarkan tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan bahwa seluruh pernikahan Rindu tidak pernah mempunyai cinta.
'Ibu tidak tahu apa saja yang masih perlu dia jelaskan,' katanya. 'Tetapi kamu berhak mendengarnya dengan jelas saat kamu siap.'
'Aku belum ingin bertemu.'
'Kalau begitu jangan memaksa diri.'
'Aku juga meminta Pak Zavin tidak datang.'
Ani menatap putrinya.
'Karena belum tahu perasaanmu?'
'Iya. Aku tidak ingin menyakiti beliau lebih jauh hanya karena aku takut sendirian.'
'Jujur sekarang bisa tetap menyakitkan. Tetapi itu bukan berarti lebih baik kamu berpura-pura.'
Rindu menarik napas.
'Aku tidak ingin kembali pada Rendra hanya karena masih ada kenangan. Tapi aku juga tidak ingin memilih Pak Zavin karena merasa hidup Ibu ada berkat beliau.'
Ani mengusap punggung tangannya.
'Kalau begitu jangan memilih hari ini.'
'Kapan aku akan tahu?'
'Ibu tidak bisa memberikan tanggal.'
Rindu tertawa kecil, lelah tetapi tidak lagi putus asa seperti semalam.
'Aku selalu mencari tanggal atau kepastian, ya, Bu.'
'Karena kamu ingin merasa bisa menyiapkan diri untuk semuanya.'
'Aku tidak bisa.'
'Tidak. Ibu juga tidak.'
Mereka diam, menerima kenyataan itu tanpa menjadikannya sesuatu yang memalukan. Rindu tidak memperoleh jawaban tentang masa depan, tetapi ia tidak lagi merasa harus menuntutnya dari orang yang sedang belajar pulih.
Ketika waktu kunjungan cukup, Ani menyuruhnya kembali beristirahat.
'Besok juga tidak perlu datang paling pagi.'
'Aku akan mengabari.'
'Dan makan.'
'Iya, Bu.'
Rindu berdiri perlahan. Ia mengecek tubuhnya, tidak memaksa gerakan cepat. Tas diangkat setelah memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal.
Sebelum keluar, ia membuka foto bersama Ani yang diambil beberapa hari lalu. Senyum di dalamnya tidak lagi terasa seperti sesuatu yang telah hilang selamanya.
Ia memperlihatkannya kepada ibunya.
'Aku ingin bisa tertawa begitu lagi.'
Ani tersenyum.
'Tidak harus sekarang.'
Rindu menyimpan ponsel. Di dekat pintu, Dokter Adrian datang untuk melihat perkembangan Ani. Ia mempersilakan Rindu tetap beristirahat dan mengatakan bahwa pada kesempatan berikutnya mereka akan membahas kebutuhan perawatan lanjutan.
Rindu tidak langsung menafsirkannya sebagai izin pulang. Ia hanya mencatat hal itu, lalu menoleh kepada ibunya.
'Kita dengarkan bersama nanti, ya, Bu.'
Ani mengulurkan tangan sekali lagi. Rindu kembali mendekat untuk menggenggamnya sebelum benar-benar berpamitan.