Rindu menyalakan lampu kembali setelah hampir satu jam berusaha tidur. Ia duduk di tepi ranjang dan minum, berharap gerakan sederhana itu dapat menghentikan pikirannya.
Ponsel tidak berbunyi. Tidak ada panggilan Rendra, tidak ada pesan Zavin yang menanyakan apakah ia sudah berubah pikiran. Keduanya memberi jarak seperti yang diminta, tetapi keheningan tidak serta-merta membuatnya tenang.
Ia membuka bungkus makanan yang dibawa dari rumah sakit. Selera makannya belum kembali. Rindu menatapnya sebentar, lalu menyadari bahwa ia tidak bisa terus menunggu ingin makan sebelum mencoba merawat dirinya sendiri.
Beberapa suap masuk dengan susah payah. Setelah itu ia merapikan meja, mematikan lampu, dan kembali berbaring.
Tidurnya terputus-putus. Ketika pagi datang, kepalanya terasa berat dan tubuhnya seperti belum beristirahat sama sekali.
Rindu duduk perlahan. Ia sempat mempertimbangkan menelepon rumah sakit untuk memberi kabar akan datang lebih siang. Namun, bayangan Ani menunggunya membuat ia memaksakan diri bersiap.
Ia makan sedikit sebelum berangkat. Di kendaraan, Rindu menyandarkan kepala, memejamkan mata karena jalan terasa lebih melelahkan daripada biasanya.
Sesampainya di rumah sakit, ia berhenti di dekat pintu masuk untuk mengatur napas. Bukan karena sesak, melainkan karena tubuhnya terasa lemah dan pandangannya sempat tidak nyaman ketika berdiri terlalu cepat.
Ia duduk sampai lebih baik, lalu melanjutkan langkah.
Di depan kamar, Rindu merapikan wajahnya sebelum masuk. Kebiasaan itu hampir terasa lucu: bahkan setelah semua percakapan tentang kejujuran, ia masih ingin memastikan orang pertama yang disayanginya tidak melihat betapa buruk keadaannya.
***
Ani langsung mengetahui sesuatu yang berbeda.
'Kamu pucat, Ri.'
'Aku kurang tidur.'
'Makan?'
'Sudah sedikit.'
'Sedikit itu berapa?'
Rindu tidak menjawab. Ia meletakkan tas di kursi, lalu mencoba mengambil barang yang diminta Ani. Ketika membungkuk, kepalanya terasa berputar.
Tangannya berhenti di sisi meja.
'Ri?'
'Aku duduk dulu, Bu.'
Rindu mencapai kursi dan duduk dengan tubuh menunduk. Ia tidak jatuh, tetapi kedua telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
Ani memanggil bantuan menggunakan sarana yang tersedia di dekat ranjang. Rindu hendak mengatakan tidak perlu, lalu melihat wajah ibunya yang ketakutan.
Ia menahan ucapan itu.
Petugas yang datang membantu memastikan Rindu mendapat pemeriksaan. Ia dibawa ke tempat yang sesuai untuk dinilai, sementara Ani tetap didampingi sesuai keperluan perawatannya.
Rindu menjelaskan beberapa malam tidur yang buruk, makan yang tidak teratur, dan pusing yang baru memberatkannya pagi itu. Ia tidak menyebut satu percakapan sebagai penyebab pasti seluruh keluhannya.
Setelah diperiksa, ia diminta beristirahat dan tetap dipantau sesuai keadaan. Penjelasan yang diterimanya menekankan bahwa ia tidak boleh terus memaksakan aktivitas ketika tubuh sudah lemah.
Rindu memegang ponselnya. Hal pertama yang ingin dilakukan adalah kembali meyakinkan Ani, tetapi kali ini ia meminta kabar disampaikan kepada ibunya bahwa dirinya sedang ditangani.
Ia tidak perlu menjadi orang yang mengantarkan setiap pesan dengan berjalan sendiri.
Beberapa waktu kemudian, saat sudah lebih tenang untuk berbicara, Rindu menelepon Ani.
'Bu, aku sudah diperiksa.'
'Kamu di mana sekarang?'
'Masih istirahat. Nanti kalau boleh, aku memberi kabar lagi.'
'Ibu tidak meminta kamu datang sekarang.'
Rindu menutup mata. Suara ibunya terdengar lemah tetapi tegas.
'Aku membuat Ibu khawatir.'
'Ibu memang akan khawatir kalau anak Ibu sakit. Itu bukan alasan untuk menyembunyikannya.'
'Aku pikir masih sanggup.'
'Dan sekarang?'
Rindu menarik napas.
'Sekarang aku perlu istirahat.'
Ani terdiam sebentar. Lalu suaranya melembut.
'Ya. Itu jawaban yang Ibu tunggu.'
'Aku takut kalau beristirahat, ada sesuatu yang kulewatkan.'
'Kalau ada yang perlu kamu ketahui, kamu bisa diberi kabar.'
'Aku terbiasa melihat sendiri.'
'Dan sekarang kamu perlu membiarkan orang lain membantu.'
Rindu mengusap ujung matanya. 'Ibu tidak merasa ditinggalkan?'
'Tidak. Ibu tahu kamu sedang sakit, bukan pergi karena tidak peduli.'
'Aku ingin datang setelah ini.'
'Datang kalau memang sudah boleh dan sanggup. Bukan karena harus membuktikan kamu sayang.'
Rindu terdiam, lalu memandang tangannya yang lebih tenang setelah beristirahat. Ia ingin menjawab dengan janji akan segera pulih, tetapi menahannya.
'Aku tidak bisa memastikan kapan kuat lagi, Bu.'
'Ibu tidak meminta kepastian itu.'
'Kalau malam ini aku di hotel?'
'Istirahatlah. Besok kita bicara lagi.'
Rindu menggenggam ponsel, menahan air mata. Ia merasa gagal menjadi orang yang kuat tepat ketika Ani masih memerlukan pendampingan. Namun, ibunya tidak menuduhnya meninggalkan tanggung jawab.
'Kalau Ibu perlu sesuatu...'
'Ada yang membantu Ibu di sini. Kamu tidak harus bangun setiap kali membayangkannya.'
Rindu membiarkan kalimat itu tinggal dalam dirinya sebelum menjawab.
'Baik, Bu.'
***
Menjelang sore, setelah mendapat arahan mengenai istirahat dan kapan perlu meminta bantuan kembali, Rindu dapat kembali ke hotel. Ia tidak memaksakan kunjungan tambahan ke kamar Ani. Keperluan pendampingan ibunya sudah ia konfirmasikan, dan ia memberi tahu bahwa ponselnya tetap bisa dihubungi.
Perjalanan pulang terasa sunyi. Rindu tidak menelepon Rendra atau Zavin untuk menguji siapa yang akan datang lebih cepat. Ia juga tidak menganggap meminta bantuan medis sebagai pelanggaran terhadap keinginannya menjaga jarak dari kedua lelaki itu.
Di hotel, ia berbaring setelah makan secukupnya dan menyiapkan kebutuhan sederhana dalam jangkauan. Untuk beberapa saat, ia hanya memperhatikan langit-langit.
Rasa bersalah tidak langsung hilang. Tetapi tubuhnya terlalu lelah untuk terus mengajaknya berdebat.
Ia tertidur lebih lama daripada malam sebelumnya.
Ketika terbangun, hari sudah gelap. Ponselnya berisi pesan Ani yang menanyakan apakah ia sudah beristirahat. Rindu membalas, kemudian menelepon setelah memastikan ibunya masih terjaga dan berkenan.
'Aku tidur, Bu. Lumayan lama.'
'Bagus.'
'Pusingnya sudah lebih ringan.'
'Besok jangan terburu-buru.'
Rindu memandang pakaian yang belum disiapkan. Biasanya ia akan langsung bangkit, menyusun tas, menghitung semua yang harus dibawa. Kali ini ia tetap bersandar.
'Aku akan melihat keadaanku dulu.'
'Iya.'
Mereka diam beberapa saat. Rindu bisa mendengar suara kecil dari kamar ibunya melalui ponsel.
'Bu, aku merasa seperti semua orang sudah memberiku masalah, lalu aku malah menjadi masalah untuk Ibu.'
Ani tidak langsung menjawab. Ketika suaranya terdengar lagi, Rindu merasakan tenggorokannya menyempit.
'Kamu anak Ibu. Bukan masalah.'
Rindu menutup mata dan membiarkan air mata mengalir.
'Aku capek, Bu.'
'Ibu tahu.'
'Bukan cuma badan.'
'Ibu tahu.'
Rindu tidak mencari kata-kata yang lebih baik. Ia mengaku lelah, dan untuk malam itu, pengakuan tersebut tidak dibalas dengan tuntutan untuk segera bangkit.
Sebelum panggilan berakhir, Ani berbicara pelan.
'Kalau besok kamu sudah cukup kuat untuk datang, jangan datang hanya sebagai orang yang menjaga Ibu.'
Rindu mengusap pipinya.
'Lalu sebagai apa?'
'Sebagai anak Ibu yang boleh minta dipeluk.'