Rindu menulis kalimat yang ingin diucapkannya kepada Zavin, lalu membacanya kembali. Terlalu banyak terima kasih di awal, terlalu banyak maaf di akhir. Di tengahnya, permintaannya justru hampir tidak terlihat.
Ia menghapus beberapa bagian dan berhenti pada satu kalimat.
Saya perlu menjauh sebentar.
Rindu tidak mengirimkannya. Zavin telah menyetujui pertemuan esok, dan ia tidak ingin menggantikan percakapan langsung dengan pesan yang disusun agar tidak perlu melihat wajah orang yang mungkin terluka.
Malam itu ia tidur sedikit. Setiap kali memejamkan mata, ucapan Hesti kembali terdengar. Ia membayangkan dirinya memasuki rumah Pangestu sebagai istri, percaya bahwa pekerjaan dan keberhasilan keluarga itu merupakan hal yang dapat dibanggakan.
Kini ia tahu bahwa ada cerita yang sengaja ditinggalkan di luar pintu.
Pagi berikutnya, Rindu menemui Zavin di tempat duduk rumah sakit setelah memastikan Ani tidak sedang membutuhkan bantuannya. Lelaki itu sudah menunggu, tetapi tidak berdiri terlalu dekat ketika ia datang.
'Kamu ingin duduk di sini?'
Rindu menyatakan tempat itu cukup. Ia meletakkan tas di pangkuan dan menghadap Zavin.
'Saya ingin meminta jarak, Pak.'
Zavin terdiam. Ia tidak segera bertanya apa yang telah dilakukannya.
'Jarak seperti apa?'
'Saya belum ingin menerima kunjungan atau ajakan makan. Saya perlu mendampingi Ibu tanpa terus memikirkan apakah saya sedang memberi harapan kepada Bapak.'
Zavin memandang wajahnya.
'Apakah ini karena ada sesuatu yang baru saya lakukan?'
'Bukan. Ada hal tentang masa lalu Rendra yang baru saya ketahui. Tetapi saya tidak ingin pembicaraan ini hanya tentang dia.'
Rindu menarik napas.
'Setelah mendengarnya, saya langsung ingin mencari Bapak. Saya ingin merasa aman lagi. Lalu saya sadar, saya terlalu sering mendekat ketika sedang membutuhkan tempat berlindung.'
Zavin menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya.
'Merasa aman bukan sesuatu yang salah.'
'Saya tahu. Tapi saya tidak ingin menamainya cinta hanya karena saya takut kehilangan rasa aman itu.'
Suara Rindu bergetar. Ia meletakkan kedua tangannya rata di atas tas agar tidak terus meremas tali.
'Saya sudah menerima kebaikan Bapak. Ibu ditolong. Saya didampingi. Setiap kali Bapak datang, ada bagian dari saya yang berpikir bahwa saya harus menyambut dengan perasaan yang lebih besar.'
'Saya tidak meminta itu.'
'Saya tahu Bapak mengatakan tidak. Tetapi perasaan berutang itu tetap ada di dalam diri saya.'
Zavin tidak segera menjawab. Rindu membiarkannya diam, tidak buru-buru menambal ucapan sendiri dengan janji bahwa mungkin ia akan segera berubah.
'Saya belum bisa memberikan perasaan yang sama,' lanjutnya. 'Dan saya takut kesempatan yang saya berikan kemarin dibaca sebagai jawaban yang sedang menuju iya.'
'Saya pernah mengatakan ingin lebih mengenal Bapak. Itu tidak bohong. Tetapi sekarang saya melihat ada bagian yang saya sendiri belum pahami.'
'Kamu boleh mengubah batas setelah memahami sesuatu yang baru.'
'Saya tidak ingin terus berubah lalu meminta Bapak menyesuaikan.'
'Kalau suatu saat saya tidak sanggup, saya juga perlu mengatakannya. Kita tidak harus saling menjanjikan akan kuat terus.'
Rindu menatap Zavin dengan mata basah. Ia semula menyiapkan diri untuk dibujuk, tetapi kejujuran tentang kemungkinan lelaki itu juga mempunyai batas terasa lebih menyakitkan sekaligus lebih adil. Ia tidak bisa memintanya tetap berada di tempat yang sama selamanya, hanya karena dirinya belum tahu arah pulang.
'Kalau kamu mengatakan belum tahu, saya perlu mendengarnya sebagai belum tahu.'
'Tapi sekarang saya juga ingin berhenti sejenak. Bukan hanya meminta Bapak menunggu sambil tetap menemani setiap hari.'
Zavin mengembuskan napas pelan.
'Baik.'
Satu kata itu membuat Rindu hampir menangis.
'Bapak kecewa?'
'Iya.'
Ia mengangkat wajah, terkejut oleh kejujuran yang tidak dibungkus.
'Tetapi kecewa bukan alasan untuk tidak menghormati permintaanmu,' lanjut Zavin.
Rindu menyeka ujung matanya.
'Saya tidak ingin menuntut Bapak selalu menjawab dengan baik.'
'Saya juga tidak ingin membuat kamu harus menghibur saya setelah mengatakan sesuatu yang sulit.'
Mereka duduk tanpa berbicara beberapa saat. Orang-orang berlalu di lorong, dan Rindu menyadari hidup tetap bergerak meskipun percakapan mereka terasa seperti berhenti di tempat yang sempit.
'Ani tahu kamu ingin membicarakan ini?' tanya Zavin akhirnya.
'Ibu tahu saya ingin jujur. Beliau tidak menyuruh saya menjauh.'
'Saya tidak menganggap keputusanmu berasal dari orang lain.'
Rindu memandangnya lama. Justru karena jawaban itu menghargainya, ia semakin yakin tidak boleh menawarkan sesuatu yang belum mampu diberikan.
***
Setelah percakapan mereda, Rindu membicarakan hal praktis yang tidak boleh dibiarkan kabur.
'Untuk kabar Ibu, kalau ada sesuatu yang penting, saya akan menghubungi. Tetapi saya ingin urusan perawatan tetap melalui pihak yang menangani, bukan alasan agar kita harus terus bertemu.'
'Tentu.'
'Saya tidak sedang menolak bantuan yang sudah diterima. Saya juga belum bisa menjanjikan apa pun mengenai pengembaliannya.'
'Jangan membuat janji keuangan karena merasa harus menutup percakapan ini dengan sesuatu.'
Rindu mengangguk kecil.
'Terima kasih.'
Zavin tersenyum tipis, tetapi matanya tidak menyembunyikan kesedihan.
'Kalau kamu memerlukan bantuan mendesak, kamu masih boleh menghubungi saya. Itu tidak berarti permintaan jarakmu dibatalkan.'
'Saya akan mengingatnya.'
Rindu berdiri. Kali ini ia tidak meminta Zavin menemani kembali ke kamar. Lelaki itu juga tidak menawarkan dirinya dengan alasan tidak tega membiarkannya berjalan sendiri.
Mereka berpisah di tempat duduk itu tanpa sentuhan. Rindu membawa rasa sakit yang berbeda: bukan karena dituduh, melainkan karena sebuah kejujuran tetap bisa membuat orang baik terluka.
Namun, ia tidak berbalik untuk mencabut permintaan.
***
Ani memperhatikan wajah putrinya ketika Rindu kembali.
'Sudah bicara?'
'Sudah.'
'Dia marah?'
'Dia kecewa. Tetapi dia menerima.'
Rindu duduk. Tangannya terasa dingin meskipun ruangan tidak lebih dingin daripada biasanya.
'Aku juga meminta Rendra tidak menghubungiku untuk sementara. Aku belum sanggup mendengar penjelasan panjang tentang rumah itu.'
Ani menatapnya.
'Jadi kamu ingin sendiri dari mereka, bukan sendiri dari semua orang.'
Rindu diam.
'Ri, jangan menjauh dari Ibu juga.'
Air matanya jatuh. Ia mengangguk tanpa mampu menyusun jawaban.
Ani meraih tangannya, lalu memberi ruang ketika Rindu ingin menyeka wajah.
'Aku merasa kalau berhenti bicara, pikiranku akan lebih tenang,' kata Rindu.
'Apakah sudah?'
'Belum.'
'Kalau begitu jangan menambah hukuman dengan tidak makan atau tidak beristirahat.'
'Aku tidak sengaja, Bu.'
'Ibu tahu. Tetapi tubuhmu tidak bisa membedakan lupa dengan sengaja.'
Rindu berjanji akan makan setelah menemani ibunya. Namun, ketika keluar beberapa saat kemudian, makanan yang dipesan terasa sulit ditelan. Ia memaksa beberapa suap, minum, lalu membungkus sisanya.
Malamnya, di hotel, ia membuka foto bersama Ani yang diambil Zavin. Senyumnya di sana begitu nyata, sampai ia merasa kehilangan sesuatu yang baru saja sempat dimilikinya.
Ia meletakkan ponsel, mencoba tidur. Tetapi ketika lampu dipadamkan, kepalanya masih dipenuhi suara orang-orang yang tidak lagi berada di kamar itu.