'Rendra mengakui?' tanya Ani.
Rindu menyerahkan ponselnya. Ibunya membaca pesan itu perlahan, lalu mengembalikannya tanpa memberi alasan untuk lelaki yang baru mengaku.
'Aku tidak tahu harus mempercayai bagian mana lagi, Bu.'
'Yang belum jelas bisa ditanyakan. Tetapi kamu tidak harus menanyakan semuanya malam ini.'
'Dia pernah meminta maaf seolah yang tersisa hanya tuduhan tentang aku. Ternyata ada kehidupan lain yang tidak pernah diceritakannya.'
Rindu menatap jendela. Ia mengingat ruang keluarga tempat Wina menuntut Rendra menikah lagi, kamar yang pernah dianggap aman, dan pintu yang dilewati ketika barang-barangnya dikemas.
Rumah itu masih sama dalam ingatannya. Maknanya yang berubah.
'Aku pernah merasa tidak pantas tinggal di sana karena dianggap tidak membawa apa-apa. Padahal mereka sendiri menyembunyikan dari mana sebagian uangnya datang.'
Ani meraih tangannya.
'Kamu tidak menjadi bersalah karena pernah tinggal di rumah itu tanpa tahu.'
'Tapi aku merasa bodoh.'
'Kamu dipercaya untuk mencintai, bukan diberi semua keterangan. Itu berbeda.'
Rindu mengusap mata. Ia ingin menyetujui kalimat tersebut, tetapi bagian dirinya yang terluka tetap mencari kesalahan pada hal yang dulu gagal dilihatnya.
Malam itu ia membalas Rendra dengan singkat.
'Aku belum mau menerima telepon. Jangan datang ke Singapura. Aku perlu waktu memahami pengakuanmu tanpa dibujuk.'
Rendra menyatakan mengerti. Rindu tidak tahu apakah ia lega karena batas itu diterima atau semakin sedih karena begitu banyak percakapan mereka kini hanya berisi larangan.
***
Keesokan paginya di Jakarta, Rendra menemui Hesti di rumah keluarga setelah memastikan Wina tetap didampingi di rumah sakit. Ia meminta kakaknya datang untuk berbicara, bukan memulai pertengkaran di depan ranjang ibu mereka.
Hesti berdiri dekat meja ruang tengah ketika ia masuk.
'Rindu sudah mengadu?'
'Dia bertanya. Kakak yang meneleponnya.'
'Memang. Aku lelah kamu membuat seolah aku satu-satunya orang yang pernah salah.'
Rendra meletakkan ponsel di meja.
'Aku tidak akan menyangkal bagianku. Tapi kenapa Kakak membongkarnya sambil meminta dia mencari uang melalui Zavin?'
Hesti mengalihkan pandangan.
'Aku sedang terdesak.'
'Itu tidak membuat Rindu menjadi jalan keluar untuk utang Kakak.'
'Utang perusahaan juga belum beres. Bank terus menagih. Gajiku belum seluruhnya dibayar.'
'Semua itu sudah kita bicarakan. Aku tidak membebaskanku dari tanggung jawab.'
'Tapi kamu ingin bebas dari masa lalu.'
Rendra terdiam. Hesti melihatnya dan tertawa pendek.
'Akhirnya kamu diam.'
'Aku memang ingin dia melihat aku berubah,' kata Rendra. 'Dan aku menunda memberitahu sesuatu yang seharusnya dia ketahui.'
'Jadi selama kamu duduk menunggu operasi ibunya, hal itu masih kamu simpan?'
Rendra menatap kakaknya. 'Iya.'
'Tapi kamu berharap dia percaya kepadamu.'
'Aku salah mengira sikapku sekarang bisa berdiri sendiri tanpa menjelaskan yang dulu.'
Hesti menyeringai tipis, tetapi Rendra tidak memberinya kesempatan mengubah pengakuan tersebut menjadi pembenaran untuk memeras rasa bersalah Rindu.
'Itu tidak membuat permintaan Kakak kepadanya menjadi benar,' katanya.
'Kamu selalu kembali ke sana.'
'Karena aku bisa bersalah dan tetap mengatakan Kakak tidak berhak menuntut uang darinya. Kita tidak harus memilih hanya satu orang yang boleh disalahkan.'
Rendra menahan suaranya agar tidak meninggi. Ia ingin percakapan ini meninggalkan kebenaran, bukan sekadar pertengkaran baru yang bisa dipakai untuk mengalihkan persoalan.
'Menunda? Bertahun-tahun?'
Rendra menatap kakaknya.
'Iya. Itu juga salahku.'
Kejujuran tersebut tidak membuat Hesti menang. Wajahnya justru menegang, karena ia tidak bisa lagi mengubah percakapan menjadi perebutan siapa yang paling berhak marah.
'Dulu kamu setuju,' katanya.
'Aku tahu.'
'Kamu yang bilang ketika usaha menghasilkan, bagian yang dipakai bisa ditutup lagi.'
'Aku mengatakannya. Aku membiarkan keinginan mempunyai rumah lebih besar daripada kewajiban yang sudah dijanjikan.'
Hesti menyandarkan tangan pada meja.
'Aku yang mendatangkan uangnya. Aku yang meyakinkan orang-orang. Sekarang kamu bertindak seolah rumah ini hanya sesuatu yang memalukan.'
'Yang memalukan adalah cara kita menutupinya.'
Rendra memandang sekeliling. Perabot dan dinding tidak berubah, tetapi ia tidak lagi dapat menggunakannya sebagai bukti bahwa keluarga mereka pernah berhasil dengan jujur.
'Perusahaan itu sejak dulu bukan sekadar milik kita,' lanjutnya. 'Ada hak orang lain yang kita perlakukan seperti bisa menunggu hanya karena kita ingin terlihat kaya.'
'Kamu juga menikmatinya.'
'Aku tidak menyangkal.'
'Jadi jangan terus mengajariku.'
'Aku sedang meminta Kakak berhenti memakai Rindu untuk mengurus akibatnya.'
Hesti melipat tangan. 'Aku tidak akan menelepon untuk meminta maaf.'
'Aku tidak meminta Kakak berpura-pura menyesal. Aku meminta berhenti menekan dia.'
Rendra mengambil ponsel. Ia ingin mengirim penjelasan panjang kepada Rindu, tetapi pesan perempuan itu masih jelas: belum mau menerima telepon, jangan datang, perlu waktu tanpa dibujuk.
Ia tidak akan melanggar permintaan tersebut hanya karena takut diam membuat dirinya terlihat lebih buruk.
Sebelum pergi, ia menoleh.
'Kalau aku memperbaiki sesuatu, itu harus dimulai dari mengakui apa yang benar-benar kulakukan. Bukan membuat Kakak menanggung semuanya, dan bukan membuat Rindu menanggung kita.'
Hesti tidak menjawab. Rumah yang dahulu menjadi alasan mereka saling membanggakan kedudukan terasa sunyi ketika Rendra meninggalkannya.
***
Di Singapura, Rindu membaca pesan lanjutan dari Rendra menjelang siang. Lelaki itu menyatakan bahwa inti pengakuan Hesti benar: ia mengetahui sebagian dana dipakai untuk rumah dan menyembunyikannya, bukan sekadar baru mengetahui setelah semuanya terjadi.
Ia tidak menyertakan pembelaan bahwa semua dilakukan demi keluarga.
Rindu membaca, lalu menutup percakapan. Pengakuan singkat itu cukup untuk membuatnya berhenti berharap bahwa Hesti hanya sedang menciptakan kebohongan baru.
Zavin mengirim pesan menanyakan waktu kunjungan. Rindu hampir membalas seperti biasa, kemudian berhenti.
Ia ingin mendengar suara lelaki itu. Ia ingin duduk di sampingnya dan merasa bahwa masih ada orang yang tidak menyalahkannya. Namun, keinginan mencari tempat berlindung tiba-tiba terasa menakutkan.
Apakah ia sedang membuka hati, atau hanya berlari dari luka yang baru disentuh lagi?
Rindu akhirnya membalas bahwa ia ingin menemani Ani sendiri hari itu.
Zavin menyatakan mengerti, tidak menanyakan alasan panjang. Jawaban yang baik itu justru membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Ani memperhatikan ketika Rindu meletakkan ponsel.
'Pak Zavin mau datang?'
'Aku meminta beliau tidak datang hari ini.'
'Karena kamu ingin sendiri?'
Rindu memandang ibunya.
'Karena aku takut setiap kali terluka oleh Rendra, aku menjadikan beliau tempat bersembunyi.'
Ani tidak segera menjawab.
'Aku menyukainya sebagai orang yang baik,' lanjut Rindu. 'Aku senang bersamanya. Tapi aku belum tahu apakah itu cinta, atau cuma rasa aman setelah ditolong begitu banyak.'
'Kamu ingin mengatakan itu kepadanya?'
'Aku harus.'
Rindu membuka percakapan dengan Zavin sekali lagi, lalu meminta bertemu sebentar esok hari. Bukan untuk ditemani, melainkan untuk mengatakan sesuatu yang mungkin membuat keduanya harus menjaga jarak.
Ketika balasan persetujuan datang, ia menatap layar dengan mata basah.
Kali ini, ia tidak boleh bersembunyi di balik ucapan terima kasih.