'Kamu masih bisa menghubungi Rendra, kan?'
Suara Hesti langsung terdengar tanpa menanyakan keadaan Ani. Rindu berhenti beberapa langkah dari pintu kamar, menjauh agar ibunya tidak terbangun.
'Bisa, Kak. Ada apa?'
'Suruh dia jangan terus menunda urusan uang. Tagihan bank tidak berhenti hanya karena dia ingin kelihatan berubah di depanmu.'
Rindu mengerutkan dahi.
'Aku tidak mengurus keuangan Rendra.'
'Tapi dia mendengarkanmu.'
'Itu bukan alasan Kakak meneleponku untuk menyampaikan tuntutan.'
Hesti mengembuskan napas keras. Di seberang terdengar bunyi benda diletakkan ke meja.
'Aku juga punya tagihan. Sejak dia mencopotku, semuanya jadi makin sulit.'
'Kalau ada hak Kakak yang belum dibayar, bicarakan dengan Rendra. Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu atas namanya.'
'Pandai sekali kamu menjaga jarak sekarang. Padahal bertahun-tahun tinggal di rumah yang kami biayai.'
Rindu memegang ponsel lebih erat.
'Aku tidak meminta Kakak membicarakan masa lalu untuk menagih bantuan dariku.'
'Pria yang sekarang dekat denganmu itu punya uang. Kalau dia bisa membantu ibumu, masa tidak bisa memberi jalan keluar untuk urusan yang lebih kecil?'
Wajah Rindu memanas.
'Jangan bawa Pak Zavin ke dalam ini.'
'Aku cuma memberi usul.'
'Dan aku menolak. Itu bukan uangku, bukan kewajibannya.'
Hesti tertawa pendek, tetapi tidak ada sesuatu yang ringan dalam bunyinya.
'Kamu membela dia. Rendra dulu juga begitu, membela keluarga, sampai mau ikut apa pun yang kusarankan.'
Rindu hendak mengakhiri panggilan, tetapi kalimat berikutnya menahannya.
'Kamu pikir rumah Pangestu itu dibangun hanya dari hasil kerja keras adikku yang bersih?'
Rindu terdiam.
'Apa maksud Kakak?'
'Selama ini dia selalu ingin kamu percaya dia berbeda dariku. Padahal dia tahu dari mana uangnya.'
'Uang apa?'
'Uang yang dipakai membangun sebagian rumah itu. Yang membuat keluarga kami kelihatan berhasil sebelum benar-benar sanggup.'
Rindu memandang jendela di ujung lorong. Senyum yang tadi muncul saat melihat foto bersama Ani sudah tidak tersisa.
'Katakan dengan jelas, Kak.'
Hesti diam sesaat, seperti menikmati kesempatan membuat Rindu menunggu.
'Dulu aku mendatangkan uang kerja sama. Ada bagian hasil usaha yang dijanjikan kepada pihak yang menanamkan modal. Tapi sebagian uang yang seharusnya dipakai menjalankan kesepakatan itu malah kami pakai untuk rumah.'
'Kami?'
'Aku dan Rendra. Dia tahu. Dia setuju memakai uangnya dulu, dengan alasan nanti bisa ditutup kalau usaha sudah menghasilkan.'
Rindu merasa perutnya mengeras.
'Apakah pihak yang memberi uang tahu dipakai untuk rumah?'
'Tentu tidak semuanya dijelaskan begitu. Kalau dijelaskan, menurutmu mereka akan diam?'
Rindu menutup mata.
'Dan Rendra menyembunyikannya dariku.'
'Menurutmu dia akan mengaku? Kamu selalu percaya rumah itu hasil kerja keras keluarga. Dia senang kamu percaya.'
'Kakak mengatakan ini karena ingin aku mengetahui kebenaran, atau karena ingin aku marah kepadanya?'
'Apa bedanya kalau yang kukatakan benar?'
'Bedanya ada pada apa yang Kakak harapkan dariku setelah ini.'
Hesti tidak langsung menjawab. Rindu mendengar suara napasnya di seberang, lalu gesekan pendek seperti kertas yang dipindahkan.
'Aku ingin dia berhenti bersikap paling suci.'
'Kalau begitu bicarakan itu kepada dia. Aku tidak akan menjadi orang yang Kakak kirim untuk menghukumnya.'
Rindu menekan telapak tangan ke sisi kursi. Ia bisa terluka oleh sebuah kebenaran tanpa harus menerima tujuan orang yang menyampaikannya. Memahami perbedaan itu tidak membuatnya lebih tenang, tetapi setidaknya memberi tempat untuk berdiri ketika percakapan mulai menyeretnya ke arah yang tidak diinginkan.
Suara Hesti terdengar tajam, tetapi juga mengandung sesuatu yang seperti pembelaan terhadap dirinya sendiri.
'Jangan hanya aku yang dianggap buruk. Dia ikut menikmati. Dia tinggal di situ, membawa istrinya, membiarkan Ibu merasa punya rumah yang membuat orang menghormatinya.'
'Kakak sedang marah kepadanya.'
'Iya. Bukan berarti semua yang kukatakan bohong.'
Rindu membuka mata. Ia tidak bisa menerima setiap ucapan Hesti sebagai kebenaran tanpa pertanyaan. Perempuan itu pernah membuat dusta untuk menghancurkan hidupnya. Namun, rincian yang baru disebut tidak terdengar seperti tuduhan yang bisa diabaikan begitu saja.
'Jadi tagihan bank sekarang itu sama dengan uang tadi?'
'Bukan itu yang kubilang. Tagihan sekarang tetap harus dibayar. Tapi jangan sampai Rendra bersikap seolah hanya aku yang pernah membuat uang jadi masalah.'
Rindu menarik napas, mencoba menjaga suaranya.
'Aku tidak akan meminta Pak Zavin menutup utang Kakak. Aku juga tidak akan menjadi alat untuk menekan Rendra.'
'Masih mau membela dia?'
'Aku sedang melindungi diriku dari kalian berdua.'
Untuk pertama kali dalam percakapan itu, Hesti terdiam cukup lama.
Rindu tidak memberinya kesempatan mengubah pengungkapan tersebut menjadi tawar-menawar.
'Kalau ada kebenaran yang harus kuketahui, itu bukan imbalan agar aku membantu Kakak.'
Ia mengakhiri panggilan dengan tangan gemetar.
***
Rindu duduk di kursi dekat jendela. Ponselnya masih terasa hangat. Ia menatap layar, lalu membuka percakapan dengan Rendra.
Ada pesan lama tentang kepulangan, kabar selamat tiba, dan jawaban singkat yang selama beberapa hari terakhir membuat jarak terasa cukup aman.
Ia mengetik satu pertanyaan.
'Apakah benar sebagian uang untuk membangun rumah keluargamu berasal dari dana kerja sama yang penggunaannya disembunyikan? Hesti baru meneleponku. Aku ingin jawaban yang jelas, bukan penjelasan bahwa dia sedang marah.'
Rindu membaca ulang, kemudian mengirimkannya.
Ia tidak menunggu sambil menatap layar. Ponsel dimasukkan ke tas, lalu ia mencoba berdiri. Lututnya terasa lemah, tetapi ia masih bisa berjalan kembali ke kamar.
Ani membuka mata ketika pintu bergerak.
'Telepon siapa?'
'Kak Hesti.'
Wajah Ani berubah.
'Ada apa?'
Rindu duduk. Ia tidak ingin kembali mengatakan semuanya baik-baik saja, tetapi belum sanggup menata cerita yang baru didengarnya.
'Dia membicarakan urusan uang keluarga Rendra. Ada hal lama yang belum kuketahui.'
'Apa dia meminta uang?'
'Dia mencoba meminta aku membantu melalui orang lain. Aku menolak.'
Ani mengulurkan tangan.
'Kamu tidak perlu menjawab tuntutannya sekarang.'
'Aku sudah menolak, Bu. Yang membuatku takut justru hal yang dia katakan setelah itu.'
Rindu menggenggam tangan ibunya, tetapi tidak menceritakan semua rincian sebelum mengetahui apakah Rendra akan mengakui atau menyangkal.
Ani tidak memaksanya. Ia hanya meminta Rindu duduk dan minum.
Saat Rindu membuka tas untuk mengambil botol, ponselnya bergetar. Nama Rendra muncul.
Ia tidak menerima panggilan itu. Setelah dering berhenti, sebuah pesan masuk.
'Ada bagian yang benar, Ri. Aku memang tahu dan ikut menyetujui. Aku perlu menjelaskannya kepadamu.'
Rindu membaca sampai kalimat terakhir, lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
'Bukan cuma Kak Hesti yang berbohong, Bu.'