'Aku ingin mencoba, Bu.'
Rindu menjawab sambil meletakkan ponselnya di dalam tas, bukan di pangkuan seperti biasanya. Kabar Rendra sudah sampai tidak menghapus perasaannya, tetapi setidaknya ia tidak perlu memeriksa apakah perjalanan itu telah berjalan baik.
Ani mengamatinya.
'Kalau masih sedih, tidak apa-apa.'
'Aku sedih. Tapi aku juga merasa lebih lega.'
'Keduanya bisa ada.'
Rindu menggeser kursi sampai nyaman. Untuk sisa waktu kunjungan hari itu, ia mendengarkan ibunya bercerita tentang hal kecil yang membuat waktu terasa panjang: cahaya dari jendela, bunyi langkah di lorong, dan rasa bosan karena harus banyak beristirahat.
Ia tidak mengubah semuanya menjadi pembicaraan tentang Rendra.
***
Tiga hari setelah kepulangan Rendra, Rindu mulai lebih mengenali irama pemulihan Ani. Masih ada hari ketika ibunya mudah lelah, dan masih ada hal yang harus ditanyakan kepada tim perawatan. Kabar baik operasi tidak membuat setiap pagi bebas dari kekhawatiran.
Namun, Rindu tidak lagi membuka mata di hotel dengan pikiran bahwa ia harus mengurus seluruh kemungkinan sebelum sarapan.
Siang itu, Zavin datang setelah memastikan waktu kunjungan sesuai. Ia berhenti di luar kamar ketika melihat Rindu sedang membaca pesan dari Sarah.
'Ada kabar?'
'Mbak Sarah mengirim foto makanan. Ibu minta diperlihatkan, lalu mengeluh kenapa fotonya tidak bisa dimakan.'
Zavin tertawa kecil.
'Itu keluhan yang masuk akal.'
'Jangan membela Ibu. Nanti saya yang diminta mengubah foto jadi makanan.'
Mereka masuk setelah dipersilakan. Ani mendengar ujung percakapan dan langsung menatap putrinya.
'Ibu tidak meminta yang aneh-aneh.'
'Baru saja Ibu menuduhku menyiksa karena menunjukkan foto.'
'Berarti lain kali tunjukkan foto yang tidak membuat lapar.'
Rindu tertawa. Suaranya lebih lepas daripada beberapa hari sebelumnya, dan ia baru menyadarinya ketika Zavin ikut tersenyum tanpa menatap seolah sedang menyaksikan sesuatu yang harus dirayakan besar-besaran.
Ani memandang mereka sebentar, lalu meminta ponselnya.
'Foto yang waktu di rumah Ridwan itu masih ada?'
'Ada, Bu.'
Rindu mencarinya. Ia memperlihatkan wajah Sarah dan Ridwan, lalu foto dirinya yang berdiri di antara keduanya. Rumah lama tampak di belakang, cukup untuk membuat dadanya terasa hangat sekaligus sakit.
Ani menyentuh layar dengan ujung jari.
'Nanti kalau sudah cukup kuat, Ibu ingin bertemu mereka.'
'Kita lihat keadaan Ibu dulu.'
'Ibu bilang nanti. Bukan sekarang.'
Rindu tersenyum malu. Ia masih sering menjawab harapan dengan daftar hal yang harus dipastikan.
Zavin tidak menawarkan untuk menyelesaikan semuanya. Ia hanya bertanya apakah Rindu ingin membalas salam dari Sarah, lalu menunggu saat Ani menyebutkan kalimatnya sendiri.
Rindu mengetik sesuai ucapan ibunya, tanpa menambahkan tanggal pulang yang belum diberikan tim perawatan.
Setelah Ani ingin beristirahat, mereka keluar sebentar. Rindu duduk di kursi lorong dan menoleh kepada Zavin.
'Saya tertawa cukup keras tadi.'
'Memang ada yang lucu.'
'Saya tahu. Hanya terasa aneh setelah begitu lama.'
Zavin memperhatikan tangannya yang terletak santai di atas tas.
'Kamu tidak perlu meminta maaf kepada kesedihanmu karena sempat tertawa.'
Rindu menggeleng sambil tersenyum.
'Bapak kadang berbicara seperti sudah memikirkan kalimatnya sejak pagi.'
'Tidak. Kadang kalimatnya juga terdengar lebih bagus di kepala.'
Rindu tertawa lagi. Kali ini ia tidak segera menahannya.
Keakraban tersebut tidak membuatnya memberi jawaban cinta. Ia tetap belum mengetahui arah hatinya, tetapi mulai mengizinkan dirinya menikmati percakapan tanpa langsung mencari harga yang harus dibayar.
***
Tiga hari berikutnya berlalu dengan pemantauan Ani dan kunjungan yang diatur agar tidak membuatnya kelelahan. Rindu tetap menanyakan hal yang belum dipahami. Zavin datang pada waktu yang disepakati, kadang lebih singkat karena harus mengurus pekerjaannya, dan selalu memberi kabar jika jadwal berubah.
Pada hari itu, hampir dua minggu setelah operasi, Rindu membantu Ani merapikan barang pribadi di meja. Tidak ada keputusan pulang yang mereka terima, sehingga koper di hotel belum dikemas seolah perawatan sudah berakhir.
Ani memegang sisir dan menyerahkannya.
'Tolong sebentar.'
Rindu berdiri di samping ranjang, menyisir rambut ibunya dengan pelan. Gerakan yang dulu terasa biasa kini membuatnya harus beberapa kali menahan rasa haru.
'Jangan menangis karena rambut Ibu sulit dirapikan,' kata Ani.
Rindu tersenyum. 'Bukan karena itu.'
'Kalau begitu jangan ditarik.'
'Aku tidak menarik.'
Ani memandang bayangan mereka di layar ponsel yang dipakai sebagai cermin. Rindu melihat wajahnya sendiri di belakang ibunya, masih letih tetapi tidak lagi tampak seperti orang yang terus menunggu dipanggil untuk menerima kabar buruk.
Zavin tiba setelah mereka selesai. Ia mengetuk ringan dan menunggu izin sebelum masuk.
'Rambut Ibu rapi sekali.'
'Rindu mengerjakannya dengan wajah seperti sedang menghadapi ujian.'
Rindu memutar mata kecil, lalu tertawa. Zavin menaruh tasnya dan duduk tanpa menambahkan komentar yang membuatnya semakin malu.
Ani meminta foto mereka berdua, hanya dirinya dan Rindu, untuk disimpan. Zavin membantu mengambil gambar setelah Rindu menyerahkan ponsel.
Pada foto pertama, Rindu masih terlihat tegang. Ani menoleh kepadanya.
'Kamu sedang foto dengan Ibu, bukan mengurus dokumen.'
Rindu tertawa tepat ketika gambar berikutnya diambil.
Zavin memperlihatkan hasilnya. Rindu melihat dirinya tersenyum sungguhan di sisi Ani, bukan senyum yang disusun untuk menenangkan orang lain.
'Yang ini,' kata Ani.
'Ibu tidak ingin mengambil ulang?' tanya Rindu. 'Mataku hampir terpejam.'
'Karena kamu tertawa.'
'Tetap saja fotonya tidak rapi.'
'Ibu suka.'
Rindu memperbesar gambar, kemudian mengembalikannya ke ukuran semula. Ia bisa melihat kerutan lelah di wajahnya sendiri dan tubuh Ani yang belum kuat, tetapi juga sesuatu yang tidak ingin dihapus dengan memilih gambar lebih sempurna.
Zavin menyerahkan ponsel tanpa menyarankan gaya lain.
'Kalian terlihat sedang menikmati waktu bersama.'
'Kami memang sedang begitu,' jawab Rindu.
Setelah mengatakannya, ia berhenti sebentar. Kalimat itu keluar tanpa harus menimbang apakah hari tersebut sudah cukup baik untuk disebut menyenangkan. Ia menyimpan foto pilihan Ani, lalu memberikan ponsel agar ibunya dapat melihat sekali lagi.
Rindu menyimpan foto itu. Ia tidak mengirimkannya kepada Rendra untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, atau kepada siapa pun untuk membuktikan mereka telah melewati semuanya. Foto tersebut cukup menjadi milik hari itu.
Menjelang sore, Ani ingin beristirahat. Zavin berpamitan setelah memastikan Rindu tidak meminta bantuan lain. Rindu mengantarnya sampai pintu.
'Terima kasih untuk fotonya, Pak.'
'Senangnya karena fotonya atau karena kamu tidak dimarahi lagi?'
Rindu tersenyum lebar.
'Dua-duanya.'
Zavin ikut tersenyum, lalu berjalan menuju lift. Rindu memandangnya sebentar sebelum kembali ke kamar.
Ponselnya bergetar saat ia hendak menyimpan foto ke folder yang lebih mudah dicari. Nama Hesti muncul di layar.
Senyum Rindu perlahan mereda.
Ia memandang Ani yang mulai memejamkan mata, lalu melangkah keluar agar percakapan tidak mengganggu. Panggilan itu terus berdering di tangannya.
Rindu menekan tombol untuk menerima.
'Halo, Kak Hesti?'