'Aku akan mendengarkan,' jawab Rendra.
Rindu menatapnya sebentar, memastikan kalimat itu tidak segera disusul permintaan agar ia berubah pikiran sebelum bicara. Sesudahnya ia masuk kembali ke kamar Ani.
Rendra tetap berada di luar beberapa saat. Ia dapat menebak arah percakapan besok, tetapi tidak mengirim pesan panjang untuk mendahuluinya. Malam itu ia hanya memastikan waktu pertemuan, lalu mencoba beristirahat dengan pertanyaan yang tidak memperoleh jawaban.
Keesokan paginya, Rindu datang ke tempat duduk dekat lobi setelah memastikan kebutuhan Ani ditangani. Rendra sudah menunggu.
Ia berdiri ketika melihat Rindu, lalu duduk kembali setelah perempuan itu memilih kursi di seberangnya.
'Aku ingin kamu pulang ke Jakarta, Ren.'
Kalimat itu diucapkan sebelum mereka sempat berbasa-basi.
Rendra menatapnya. Ada jeda panjang sebelum ia bertanya.
'Karena Ibu Ani sudah melewati operasi?'
'Karena aku perlu mendampingi pemulihannya tanpa merasa harus mengatur kehadiranmu juga.'
Rendra menunduk, lalu kembali mengangkat wajah.
'Aku sudah berusaha tidak mengganggu.'
'Aku tahu. Tapi kehadiranmu tetap membuatku memikirkan banyak hal. Aku tidak bisa berpura-pura kita hanya dua orang yang kebetulan menunggu pasien.'
Rendra merapatkan telapak tangan.
'Apakah ada yang kulakukan selama di sini?'
'Ini bukan daftar kesalahan baru. Kamu sudah menjaga batas selama menunggu. Aku menghargai itu.'
'Tapi kamu tetap ingin aku pergi.'
'Iya.'
Rindu menahan keinginan menjelaskan dengan kalimat yang semakin panjang. Ia tidak ingin kejujurannya berubah menjadi pembelaan seolah kebutuhan akan jarak harus disetujui dahulu.
Rendra memandang orang-orang yang berjalan menuju pintu, lalu kembali kepadanya.
'Zavin akan tetap di sini?'
Pertanyaan itu membuat Rindu terdiam sebentar.
'Aku tidak sedang membandingkan kalian.'
'Aku tahu. Maaf.'
'Aku belum memilih pasangan. Memintamu pulang bukan pengumuman bahwa aku memilih dia.'
Rendra mengembuskan napas, tetapi Rindu segera melanjutkan.
'Dan itu juga bukan janji bahwa kamu boleh kembali menunggu sampai aku memilihmu.'
Rendra menatapnya. Harapan kecil yang baru muncul harus dikembalikan ke tempatnya.
'Baik.'
'Aku tidak ingin kamu menafsirkan sesuatu yang tidak kukatakan.'
'Aku mengerti.'
Rindu melonggarkan genggaman pada tas.
'Ibumu masih dirawat. Pekerjaanmu juga menunggu. Tapi aku tidak memakai itu untuk menyamarkan permintaanku. Aku sendiri yang ingin kamu pulang.'
Rendra memejamkan mata sesaat. Ia pernah berpikir bahwa jika bisa hadir pada saat yang penting, kehadirannya akan perlahan menemukan tempat kembali. Kini ia harus menerima bahwa datang pada saat dibutuhkan tidak berarti berhak menetap.
'Aku akan mencari penerbangan pulang,' katanya.
Rindu tidak langsung percaya percakapan itu bisa berhenti tanpa pertengkaran.
'Kamu tidak akan membujukku?'
'Aku ingin. Tetapi kamu sudah jelas.'
Air mata Rindu menggenang tanpa sempat dicegah. Ia mengusapnya, kesal karena tidak ingin tangis itu disalahartikan.
'Aku tidak sedang meminta kamu merasa dihukum.'
'Aku tahu kamu datang karena khawatir pada Ibu,' lanjut Rindu. 'Aku tidak akan mengubah itu menjadi sesuatu yang buruk.'
Rendra memandangnya.
'Tetapi kebaikan selama beberapa hari tidak membuatku siap hidup dekat denganmu lagi.'
'Aku mendengar.'
'Aku juga tidak ingin setiap kali kamu bersikap baik, aku harus memberi tanda bahwa masih ada harapan.'
Rendra mengusap telapak tangannya. Ia pernah menghitung balasan pesan, sapaan, bahkan ucapan terima kasih seolah semuanya dapat dijumlahkan menjadi kesempatan kembali. Mendengar Rindu menyebutnya membuat ia malu.
'Aku akan berhenti menanyakan arti dari setiap hal kecil yang kamu lakukan.'
Rindu menatapnya, tidak menjawab dengan senyum yang mungkin akan dibaca sebagai hadiah.
'Aku tahu kamu tidak berkewajiban membuat kepulanganku terasa ringan.'
Rindu menatapnya. Jawaban itu tidak menghapus masa lalu, tetapi ia menghargai bahwa Rendra tidak memaksanya membawa perasaan lelaki itu ke kamar Ani.
***
Setelah waktu pulang dipastikan untuk keesokan hari, Rendra bertanya apakah ia boleh berpamitan sebentar kepada Ani jika keadaan memungkinkan. Rindu menanyakannya kepada ibunya dan menyesuaikan dengan waktu kunjungan.
Ani bersedia.
Saat Rendra masuk, ia berdiri di dekat ranjang tanpa membawa hadiah atau meminta percakapan panjang.
'Saya pulang ke Jakarta besok, Bu.'
Ani memandangnya, lalu Rindu yang berada di sisi ranjang.
'Hati-hati.'
'Terima kasih sudah mengizinkan saya menunggu.'
Ani tidak mengatakan bahwa ia harus kembali secepatnya. Ia hanya menanyakan apakah Wina masih didampingi.
'Masih, Bu. Saya akan langsung menemui Ibu setelah tiba.'
'Baik.'
Rendra menunduk sedikit.
'Semoga pemulihan Ibu semakin baik.'
'Amin.'
Rindu memperhatikan percakapan itu dengan dada sesak. Ia tidak ingin menjadikan kesedihannya sebagai alasan membatalkan permintaan yang telah dipikirkan.
Ketika mereka keluar, Rendra berhenti di lorong.
'Aku akan mengabari setelah sampai. Kamu tidak perlu menjawab kalau sedang sibuk.'
'Baik.'
Ia tidak meminta pelukan. Rindu juga tidak menawarkan sesuatu yang akan membuat batas mereka kembali kabur.
Zavin tidak hadir dalam percakapan pamit tersebut. Rendra tidak mencarinya untuk mengumumkan bahwa ia pulang atau meminta lelaki itu menjaga Rindu atas namanya.
Rindu bukan sesuatu yang dapat dititipkan dari satu orang kepada orang lain.
***
Keesokan paginya, Rendra menuju bandara dengan barang yang dibawanya dari Jakarta. Rindu tidak mengantar. Ia telah mengatakan ingin berada di sisi Ani, dan Rendra tidak mengirim pesan agar perempuan itu merasa bersalah karena tidak datang.
Saat menunggu penerbangan, ia melihat pesan singkat dari Rindu.
'Hati-hati di perjalanan, Ren.'
Ia membacanya dua kali, lalu menjawab terima kasih. Tidak ada pertanyaan tentang apakah Rindu akan merindukannya.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang daripada keberangkatan. Saat datang, ia membawa kekhawatiran yang memberinya alasan bergerak. Kini ia membawa penolakan yang tidak disampaikan dengan kebencian, sehingga ia tidak bisa menggunakannya untuk marah.
Setelah tiba di Jakarta, Rendra mengabari Hesti dan Rindu, lalu menuju rumah sakit untuk menemui Wina. Tasnya tetap dibawa karena ia belum kembali ke hotel.
Wina menatapnya ketika ia masuk.
'Sudah pulang.'
'Iya, Bu.'
'Ibu Ani bagaimana?'
'Operasinya berhasil. Sekarang masih menjalani pemulihan dan pemantauan.'
Wina mengucap syukur, lalu mengamati wajah putranya.
'Rindu yang meminta kamu pulang?'
Rendra duduk.
'Iya.'
Wina menunduk. Untuk sesaat Rendra mengira ibunya akan menyebut Rindu tidak berterima kasih. Namun, kalimat yang keluar berbeda.
'Kalau begitu, beri dia yang diminta.'
Rendra memandang ibunya lama.
'Aku sedang berusaha.'
Hesti tidak berada di kamar saat itu. Rendra tidak meminta Wina menyampaikan pembicaraan ini kepadanya, dan tidak berniat menjadikan kepulangannya bahan pertengkaran lain.
Setelah mengurus keperluan ibunya, ia kembali ke hotel. Barang-barang yang ditinggalkan masih berada di tempatnya. Amplop kecil sisa uang yang ditolak Rindu tetap tersimpan terpisah.
Rendra duduk di tepi ranjang dan menaruh paspor.
Di Singapura, Rindu membaca kabar bahwa ia sudah sampai. Ia menyimpan ponsel, menoleh kepada Ani, lalu menarik kursi lebih dekat.
'Ren sudah tiba di Jakarta, Bu.'
Ani memandang putrinya.
'Sekarang, apakah kamu bisa duduk di sini tanpa merasa sedang menunggu jawaban dari dia?'