'Nanti, Bu. Sekarang Ibu istirahat dulu.'
Rindu menjawab pelan, menerima bahwa percakapan penting tidak harus dipaksakan ketika tubuh Ani memerlukan jeda. Ia melepaskan tangan ibunya dan duduk tanpa kembali membuka daftar pertanyaan.
Di luar, Rendra dan Zavin masih menunggu kabar. Rindu keluar setelah memastikan Ani beristirahat, lalu menyampaikan bahwa kunjungan berikutnya akan disesuaikan dengan keadaan.
'Jangan datang hanya karena merasa harus ada sepanjang waktu,' katanya.
Rendra menatapnya, tetapi tidak segera bertanya apakah kalimat itu khusus untuk dirinya.
Zavin mengangguk singkat.
'Kamu juga bisa mengatakan kalau ingin menemani ibumu sendiri,' katanya.
'Iya, Pak.'
Rindu kembali ke kamar setelah mereka berpamitan. Ia merasa sedikit bersalah karena tidak meminta keduanya tetap tinggal, tetapi tidak mengubah keputusannya hanya untuk menghilangkan perasaan tersebut.
Dua hari kemudian, ketika Ani sudah mempunyai waktu terjaga yang lebih nyaman untuk percakapan singkat, ibunya kembali pada kalimat yang sempat tertunda.
'Ri, soal berutang itu.'
Rindu sedang melipat kain kecil miliknya. Ia meletakkannya di atas tas dan duduk lebih dekat.
'Aku mendengarkan, Bu.'
'Kamu merasa harus memilih Zavin karena biaya perawatan Ibu?'
Rindu terdiam. Pertanyaan itu terlalu langsung untuk dijawab dengan senyum.
'Aku takut ada bagian dari diriku yang begitu.'
Ani menatapnya tanpa mencela.
'Aku senang ditemani beliau. Aku lebih mudah bicara. Tapi setiap mengingat semua yang sudah ditanggung, rasanya aku tidak boleh membuatnya sedih.'
'Jadi kamu mencampurkan apa yang kamu rasakan dengan apa yang menurutmu harus kamu bayar.'
Rindu menunduk.
'Mungkin.'
'Terima kasih bisa kamu katakan. Soal bantuan bisa dibicarakan dengan jelas. Tetapi hidupmu bukan uang kembalian, Ri.'
Air mata Rindu mulai menggenang. Ia sudah mendengar gagasan serupa sebelumnya, tetapi setelah operasi berhasil, rasa berutang itu justru membesar. Kini bantuan tersebut terasa memiliki wajah ibunya yang kembali membuka mata.
'Kalau bukan karena bantuan itu, kita tidak akan sampai sejauh ini.'
'Dan Ibu bersyukur. Tapi Ibu tidak menjalani operasi supaya anak Ibu merasa kehilangan hak atas hatinya.'
Rindu menggenggam tangan Ani.
'Aku tahu Ibu tidak pernah meminta.'
'Jadi jangan meminta hal itu dari dirimu sendiri atas nama Ibu.'
Rindu menarik napas panjang. Ia memandang ibunya, mencoba memisahkan kelegaan dari kewajiban yang tanpa sadar dibangunnya.
'Lalu Rendra?' tanyanya.
'Apa yang kamu rasakan ketika melihatnya?'
'Rumit. Ada bagian yang masih mengingat rumah kami. Ada bagian yang langsung takut semuanya terulang.'
'Apakah kamu harus menjawabnya hari ini?'
'Tidak.'
'Kalau begitu jangan memilih Rendra karena masa lalu, dan jangan memilih Zavin karena merasa berutang. Dengarkan hatimu, tetapi beri hatimu waktu mengenali kenyataan juga.'
Rindu tidak menjawab. Ia takut kalimat sederhana itu akan menjadi jauh lebih sulit saat dijalankan.
Ani menepuk tangannya pelan.
'Ibu tidak sedang menyuruhmu memilih salah satu sekarang.'
'Kalau nanti pilihanku membuat orang yang sudah menunggu merasa disia-siakan?'
'Kamu sudah memberi janji?'
'Tidak.'
'Kalau begitu, jangan membuat janji hari ini hanya untuk membenarkan penantian mereka kemarin.'
Rindu memandang Ani. Ia teringat dua kursi di lorong, tas perjalanan Rendra, dan waktu yang disisihkan Zavin. Semuanya nyata. Namun, kenyataan bahwa mereka hadir tidak otomatis menjawab siapa yang ingin ia pilih.
'Aku boleh menghargai mereka tanpa langsung menerima salah satunya.'
'Boleh. Tetapi jangan pula meminta mereka terus menunggu kalau kamu sudah tahu tidak menginginkannya.'
Rindu merapatkan jemari. Ia belum mempunyai jawaban tentang cinta, tetapi ia mulai mengetahui batas kehadiran yang sanggup ditanggungnya sekarang.
'Aku mengerti.'
'Benar-benar mengerti, bukan supaya Ibu berhenti bicara?'
Rindu tertawa kecil sambil menyeka mata.
'Kali ini benar, Bu.'
***
Setelah percakapan itu, Rindu keluar untuk makan. Zavin sudah mengabari bahwa ia akan datang sebentar setelah mengurus pekerjaannya, dan Rindu menunggunya di tempat duduk yang biasa mereka gunakan.
Lelaki itu tiba tanpa membawa sesuatu yang besar. Ia bertanya apakah Ani dapat dijenguk, lalu menerima ketika Rindu mengatakan ibunya sedang beristirahat.
'Kita tunggu nanti saja.'
'Bapak tidak perlu menunggu terus kalau ada pekerjaan.'
'Saya bisa mengurus beberapa hal sambil tidak berada di kamar ibumu. Tetapi saya datang karena ingin bertemu kamu juga.'
Rindu menatapnya. Pengakuan sederhana itu tidak terdengar sebagai tagihan, tetapi tetap membuatnya ingin berhati-hati.
'Saya baru bicara dengan Ibu.'
'Tentang apa?'
'Perasaan yang bercampur dengan rasa berutang.'
Zavin diam, memberi waktu.
'Saya belum punya jawaban baru untuk Bapak. Saya hanya tidak ingin berpura-pura hal itu tidak ada.'
'Saya lebih memilih kamu mengatakan itu daripada memberi jawaban yang sebenarnya tidak kamu inginkan.'
Rindu menyentuh tali tas.
'Kalau nanti saya tidak bisa membalas perasaan Bapak, apakah semua yang terjadi akan terasa sia-sia?'
Zavin memandangnya lebih lama.
'Saya mungkin sedih. Tetapi membantu ibumu tidak akan menjadi sia-sia karena kamu tidak memilih saya.'
Rindu menunduk. Ia tidak ingin menggunakan jawaban tersebut sebagai alasan berhenti memikirkan dampak tindakannya, tetapi ia juga tidak bisa menjadikan kemungkinan kesedihan orang lain sebagai ikatan.
'Terima kasih sudah menjawab.'
'Saya juga perlu menjaga agar perkataan saya sesuai tindakan.'
Rindu mengangkat wajah. Untuk beberapa saat, mereka saling memandang tanpa mencoba mengubah percakapan menjadi sesuatu yang lebih manis.
Saat Ani dapat dijenguk sebentar, Rindu mengantar Zavin masuk. Mereka berbicara ringan dan mengakhiri kunjungan sebelum ibunya terlalu lelah.
Rindu memperhatikan bahwa dirinya tidak perlu memutuskan perasaan untuk bisa menikmati kehadiran lelaki itu hari ini.
***
Menjelang sore, Rendra datang sesuai waktu yang telah ditanyakan melalui pesan. Ia menunggu di luar sampai Rindu keluar, tidak langsung menuju kamar Ani.
'Bagaimana Ibu hari ini?'
'Masih perlu pemantauan. Tapi tadi bisa bicara sedikit lebih lama.'
'Syukurlah.'
Rendra meletakkan tas di kursi. Ia tampak lelah, dan Rindu menyadari bahwa kehadirannya di Singapura mulai menjadi sesuatu yang selalu harus diperhitungkan: kapan datang, kapan boleh masuk, apa yang boleh diketahui.
'Ren, bagaimana keadaan ibumu?'
'Masih dirawat. Kak Hesti dan Bi Darmi bergantian menemani.'
'Pekerjaanmu?'
'Masih ada yang harus kuurus. Aku mengerjakan yang bisa dilakukan dari sini.'
Rindu memandangnya. Ia tidak ingin menggunakan pekerjaan atau Wina sebagai alasan palsu untuk permintaan yang sebenarnya berasal dari dirinya.
'Aku ingin bicara denganmu besok pagi.'
Rendra terdiam sebentar.
'Tentang apa?'
'Tentang kehadiranmu di sini.'
Wajahnya berubah, tetapi ia tidak langsung membela keputusan datang.
'Baik. Di mana?'
'Di tempat duduk dekat lobi. Aku tidak ingin membicarakannya di depan Ibu.'
Rendra menyetujui. Rindu merasa berat melihatnya menahan pertanyaan, tetapi tidak menarik kembali permintaannya.
Sebelum kembali ke kamar, ia menoleh.
'Ren, aku akan mengatakan yang sungguh kubutuhkan. Bukan yang paling mudah kamu dengar.'