Udara dingin menyelimuti ruangan di mana Ani, ibunya Rindu, dirawat. Hanya putrinya seorang diri yang setia menamani. Pukul 03.15 dini hari begini rasa kantuk tak menerpa sama sekali. Sedari tadi siang Rindu memikirkan bagaimana nasib ibunya? Ani harus segera dioperasi sementara dirinya tak punya tabungan.
"Ibu ... kumohon bertahan." Rindu mengecup lembut punggung tangan Ani yang bebas dari jarum infus. "Aku hanya punya Ibu. Bagaimana hidupku jika tanpamu? Ibu harus kuat," gumamnya ditengah isak.
Rindu memutuskan meninggalkan ruang rawat dan menuju kantin rumah sakit. Perutnya terasa perih karena semenjak siang belum terisi. Wanita muda yang mengenakan jaket itu memesan satu porsi soto ayam dan sepiring nasi. Tak lupa teh manis panas turut dipesannya.
Suasana di kantin pagi ini sangat ramai sampai Rindu harus mencari meja yang masih kosong sedikit jauh dari tempatnya memesan soto. Tidak tahu para pengunjung itu kelaparan sama sepertinya atau efek cuaca dingin akibat hujan deras yang melanda ibu kota.
Menarik kursi untuk duduk, Rindu mendapat meja kosong terakhir di dekat jendela kaca yang lebar. Tampak rintik hujan masih terlihat dari tempatnya duduk. Tetesnya mendarat di seluruh permukaan kaca menimbulkan titik-titik indah dipandang mata.
"Ini pesanannya, Bu." Ibu pedagang soto tadi mengantar satu nampan berisi pesanan Rindu. Setelah semuanya tersaji di meja, wanita itu pamit.
Aroma kuah soto yang khas rempah tanah air menguar menggelitik penciuman Rindu untuk segera menyeruput. Belum lagi kuah soto dan kepulan asapnya menari melambai seakan meminta disantap detik itu juga.
Segera Rindu mencicipi sedikit kuah soto sebelum melahapnya sampai habis. Biasanya hal itu adalah kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di tanah air. Jika merasa kurang atau lebih, tak urung mereka mengobrak-abrik menu pesanan dengan menambah bumbu lain atau mengurangi air jika terasa asin. Begitupun dengan Rindu, pantang makan sebelum rasanya sesuai standar.
Baru sesuap ia menyantap soto, acara mengisi perutnya harus terganggu dengan kedatangan seorang pria tinggi mengenakan sweater abu-abu.
"Permisi, maaf mengganggu. Apa saya boleh bergabung duduk denganmu? Tidak ada meja kosong lagi." Pria itu menatap sembari tersenyum kaku. Benar-benar merasa tak enak karena menghentikan acara makan wanitu itu.
"Oh." Rindu mengedarkan pandang menatap sekeliling. Benar saja, sudah tak ada lagi tempat kosong di ruangan itu. Rindu mengangguk melepas senyum mengizinkan pria di hadapannya untuk duduk. "Silakan, Pak."
Pria yang baru menyimpan nampan itu terkekeh mendengar panggilan Rindu padanya. "Apa saya terlihat seperti bapak-bapak? Ck. Ternyata wajah saya boros."
"Maaf, Pak. Eh!" Rindu menutup mulutnya sendiri karena kelepasan. "Jadi saya harus panggil apa? Mas?" tanya Rindu serius, takut membuat pria itu tak nyaman.
Bukan menjawab, lelaki yang telah duduk di depannya malah tergelak. "Ayolah, apa saya terlihat seperti mas-mas penjual bakso?"
"Salah lagi, ya?" Rindu mulai mencari panggilan yang tepat lagi. Namun tak menemukan yang cocok untuk pria itu. Entah karena dirinya yang lelah atau akibat perut yang kembali perih. Sepertinya cacing dalam perut Rindu langsung berebut memakan soto yang baru saja mendarat. Serupa ikan kelaparan yang dilempari pakan. Lagi pula acara makan kenapa mendadak menjadi ajang pencarian panggilan? "Bagaimana kalau Kakak?" Hanya itu yang terbersit dalam pikiran.
Pria di hadapannya mengangguk. "Sebenarnya kamu bebas memanggil saya dengan sebutan apa saja."
Terang saja Rindu seketika terperangah setelah mendengar ucapan itu. Memang nasib orang yang tidak enakan akan seperti ini. Pikirnya. "Lalu kenapa dari tadi Bapak seperti tidak setuju?" tanya Rindu sengaja memanggil "bapak".
"Saya hanya ingin mengajakmu mengobrol. Kamu sudah tidak sedih lagi?" tanyanya, kemudian menyantap soto sekaligus nasi.
"Hmm." Rindu yang ingin memasukkan sendok ke dalam mulut urung seketika. Dia menatap heran. "Bapak ...."
"Saya yang memberikan sapu tangan padamu kemarin." Pria tampan itu menatap Rindu yang kini tersedak. Menyodorkan gelas teh miliknya dan berkata, "Pelan-pelan."
Tanpa pikir panjang, Rindu meneguk teh dalam gelas yang telah disodorkan. "Jadi Bapak yang kemarin itu? Saya belum mengucapkan terima kasih, Pak."
"Tidak perlu. Itu hanya sapu tangan. Saya masih punya banyak di rumah." Akhiri pria itu dengan senyum simpul.
"Tapi tetap saja, Pak. Terima kasih untuk sapu tangan dan kalimat motivasinya." Rindu memberi senyum tulus padanya.
Mereka melanjutkan makan dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan antara piring dan sendok. Juga suara ricuh percakapan dari pengunjung lain.
Belum setengah mangkuk Rindu menghabiskan makanannya, ponsel di saku jaket berdering membuyarkan fokus. "Hallo, suster?"
Sepasang mata Rindu membelalak mendengar ucapan perawat di sebrang sana. Lantas ia mematikan ponsel dan berlari meninggalkan makanannya tanpa kata.
"Ibu kenapa, Sus?" tanya Rindu membuka cepat pintu kamar. Spontan pandangannya tertuju pada 2 orang yang berada tak jauh dari ranjang pesakitan, Rendra dan Wina. Namun dia berlalu begitu saja melewati keduanya mendekati Ani.
"Dokter ... ibu kenapa?" tanya Rindu berjarak selangkah dari tempat tidur pasien. Air mata luruh begitu deras melihat ibunya yang sesak tak mampu bernapas.
Tim medis tak ada yang menjawab pertanyaannya. Semua fokus pada tugas masing-masing. Dokter memasang alat bantu napas dan menyuntikkan cairan yang entah gunanya untuk apa. Rindu bernapas lega karena mesin pendeteksi detak jantung sudah kembali normal setelah sebelumnya berdenging mengkhawatirkan.
"Ibu kenapa, Dok?" tanya Rindu di sela sesegukkannya.
"Saya sangat menyesalkan ini, Ri. Jadwal operasi yang terlewat belum lagi serangan jantung yang baru saja dialami pasien, sepertinya mengakibatkan ibu Ani mengalami gagal jantung," jelas Doni apa adanya. "Tapi kita harus melakukan tes untuk meyakinkan dugaan."
Rindu terbelalak menganga lebar namun setelahnya kembali menangis meratapi nasib Ani yang semakin memburuk. "Ba-bagaimana selanjutnya? Apa ibu masih bisa sembuh dengan operasi?"
Doni menggeleng pelan menatap pasrah pada pasiennya. "Sebenarnya ada satu tindakan yang bisa membuatnya sembuh, Ri. Tapi ...."
Ucapan Doni yang menggantung membuat jantung Rindu berdetak dilanda ketakutan. Rindu paham jika semua tindakan pasti ada persentasi berhasil dan gagal. "Tapi apa, Dok?"
"Tapi ... ini tidak mudah. Butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit--"
"Apapun itu, Dok. Saya akan usahakan," tekad Rindu yang sangat ingin ibunya sembuh.
"Jalan satu-satunya ... hanya transplantasi jantung. Itupun harus menemukan jantung yang cocok dengan jantung pasien. Tentu saja biayanya akan lebih besar dari biaya operasi kemarin. Untuk itu saya menyarankan untuk mempercepat, Ri."
Tangisnya kembali pecah detik itu juga. Tubuhnya luruh ke lantai bertumpu pada kedua lutut tepat di samping ranjang. "Ibu, maafkan aku."
"Kalau begitu saya tinggal dulu, Ri." Doni dan tim medis berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari wanita yang bergetar kedua bahunya itu.
Rendra yang sejak tadi diam di sudut ruangan mulai melangkah mendekati istrinya. Meski hatinya masih tercabik perihal penemuan surat cerai yang dibubuhi tanda tangan Rindu, tapi melihat wanita yang ia cintai dalam keadaan rapuh begitu, hati Rendra melemah juga. "Ri ...."
Seketika tangis Rindu mereda mengangkat kepala dan menoleh menatap tajam pada Rendra. "Untuk apa kamu ke sini?!" Wanita itu berdiri sembari menyeka wajah basahnya. "Apa yang kalian lakukan di sini sampai ibuku mengalami serangan jantung?! Apa?! Jawab!"
"Ri ... itu--"
"Kami hanya bertanya pada ibumu tadi kenapa kamu pergi dari rumah dan menandatangani surat cerai? Itu saja," jawab Wina santai. Memang begitu kenyataannya.
Rendra yang tidak bisa tidur sejak semalam mengajak Wina untuk meluruskan perihal kepergian Rindu dan surat cerai. Saat tiba di ruangan ini kebetulan Ani sudah siuman. Kemudian tanpa pikir panjang menanyakan 2 hal yang tentu saja membuat ibu dari Rindu itu mengalami serangan jantung.
"Apa kalian berdua tidak punya akal?!" tanya Rindu benar-benar murka dengan d**a kembang-kempis. Kedua tangannya mengepal hingga gemetar. Sorotnya disesaki kekecewaan teramat dalam. "Pergi dari sini!"
Rindu mendorong Rendra kuat-kuat hingga pria itu berhasil ia bawa ke luar ruangan. Wina dengan melipat tangan berjalan santai mengikuti keduanya.
"Dasar gila! Tidak waras!" rutuknya hingga beberapa orang di lorong itu menoleh ke arah sumber suara.
"Ini salahmu! Kenapa ke luar dari rumah dan menandatangani surat ini, huh?! Kamu ingin bercerai denganku?" Rendra menunjukkan kertas yang sedari tadi berada di tangannya.
"Jangan memutarbalikkan fakta! Jelas-jelas kamu yang mengirim Kak Hesti ke sini untuk memberikan surat itu. Kamu ingin memberi uang operasi asalkan kita bercerai? Memangnya kamu pikir aku apa?!" desis Rindu di sela gigi. Tatapannya tajam menghunus bagai pisau ke arah Rendra.
"Kamu yang memutarbalikkan fakta--"
"Maaf." Suara seorang pria memecah fokus keduanya. "Maaf saya mengganggu. Hanya ingin memberikan tas milikmu. Tadi ketinggalan di kantin." Pria tadi menyerahkan tas kecil milik Rindu yang tergeletak di kursi kantin.
"Wah! Jadi dia pria yang Hesti maksud?" Rendra seketika berubah sinis. Baru saja dia mengingat ucapan Hesti bahwa pernah melihat Rindu dan seorang pria tampan di rumah sakit.
Rindu mengambil tas dari tangan pria tadi. "Terima kasih, Pak."
"Aku juga sudah membayar makananmu tadi," beritahunya lagi.
Gemuruh tepukan tangan menggema dan mereka menoleh pada Rendra yang merupakan pelakunya. "Ternyata semua yang diucapkan Hesti benar? Kalian selingkuh?"
"Apa?" Rindu dan pria itu saling melempar pandang tak mengerti. "Jangan asal menuduh! Kami bahkan tidak saling mengenal, Ren."
"Benarkah? Bagaimana mungkin dua orang yang baru saling mengenal bisa sepakat bertemu di rumah sakit? Apa namanya kalau bukan selingkuh?!" Rendra menuding Rindu tepat di depan wajahnya.
Rindu hanya berdecih menggeleng lemah tak menyangka akan mendapat tuduhan serendah itu dari suaminya sendiri. "Terserah! Aku tidak peduli! Yang pasti sekarang juga kamu bawa ibumu pergi dari sini!" pintanya tegas.
"Dengan senang hati!" Rendra dan Wina lantas meninggalkan tempat itu setelah melempar tatapan membunuh pada pria di samping Rindu.
"Saya ... saya minta maaf, Pak. Anda harus melihat kejadian ini." Rindu menyeka kedua pipi.
"Tidak masalah. Maaf tadi saya menyela percakapan kalian. Saya harus segera kembali ke ruang ICU."
"Tidak apa-apa, Pak. Rindu" perkenalkannya dengan mengulurkan tangan.
Detik itu juga si pria menyambut uluran tangan Rindu. "Zavin."
Bersambung...