'Kalau menangis, kamu tetap bisa menjawab,' kata Zavin pelan.
Rindu menatapnya, lalu mengusap pipi yang mulai basah lagi.
'Saya ingin Ibu melihat saya tenang.'
'Ibumu mengenal kamu bahkan saat kamu tidak tenang.'
Rindu tidak membalas. Ia hanya mengendurkan pelukan pada tas. Di kursi lain, Rendra menunduk, memberi mereka ruang tanpa sengaja pergi agar kehadirannya harus dicari.
Malam itu berakhir dengan kunjungan yang diatur dan kabar yang diterima sesuai kesempatan. Rindu beristirahat sebentar setelah memastikan dirinya tetap dapat dihubungi. Ia tidak tidur nyenyak, tetapi setidaknya tidak lagi memaksa tubuhnya berdiri sepanjang waktu.
Keesokan harinya, ketika diizinkan menemui Ani lagi, Rindu masuk dengan langkah lebih lambat. Ia tidak ingin membawa seluruh kegelisahan dari lorong ke dekat ranjang.
Mata ibunya bergerak saat ia menyebut namanya.
'Bu, ini aku.'
Rindu berhenti. Ia melihat Ani berusaha memusatkan pandangan, dan segera mendekat dalam batas yang diperbolehkan.
'Ri...'
Suara itu lemah, tetapi cukup untuk membuat seluruh pertahanan Rindu luruh.
'Iya, Bu. Aku di sini.'
Air matanya jatuh meskipun ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak menangis. Rindu cepat menyekanya, lalu tersenyum dengan bibir bergetar.
'Ibu tidak perlu bicara banyak.'
Ani memandangnya. Rindu mengikuti arahan agar tidak mengajak ibunya berbicara terlalu lama. Ia hanya memberitahu bahwa operasi telah dilakukan dan sekarang mereka akan menjalani masa pemulihan.
'Ibu sudah melewatinya. Aku menunggu di luar.'
Ani menggerakkan tangan sedikit. Rindu menyambut dengan hati-hati setelah memastikan tidak mengganggu keperluan perawatan.
'Menangis?'
Pertanyaan pendek itu membuat Rindu tertawa di antara air mata.
'Sedikit.'
Tatapan Ani seolah mengatakan ia tidak percaya. Namun, perempuan itu tidak mempunyai tenaga untuk menegur panjang seperti biasanya.
Rindu merasakan sesuatu yang hangat dan perih di dadanya. Ibunya belum mampu melakukan banyak hal, tetapi satu pertanyaan itu telah mengembalikan bagian kecil dari hubungan mereka.
'Iya, banyak,' aku Rindu pelan. 'Sekarang Ibu istirahat lagi.'
Ia tidak menanyakan apakah Ani mengingat seluruh kejadian sebelum operasi. Ia tidak menguji ingatannya dengan nama-nama atau memaksanya meyakinkan bahwa semuanya baik.
Saat waktunya cukup, Rindu melepaskan tangan ibunya dan berpamitan. Ia keluar dengan wajah basah, lalu melihat Zavin yang langsung berdiri.
'Ibu memanggil namaku.'
Zavin tersenyum, mengembuskan napas panjang yang mungkin telah ditahannya sejak semalam.
'Syukurlah.'
Rendra mendekat satu langkah, lalu berhenti.
'Beliau sudah bisa bicara?'
'Sedikit. Kami tidak boleh membuatnya lelah.'
'Aku mengerti.'
'Aku juga belum bisa menjawab semua pertanyaan,' kata Rindu. 'Tadi aku hanya ingin mendengar suaranya.'
'Tidak perlu menjelaskan lebih banyak sekarang,' jawab Rendra.
Zavin menggeser kursi kosong agar Rindu lebih mudah duduk.
'Kamu ingin minum?'
'Sebentar lagi. Saya masih takut kalau bergerak, rasanya akan hilang.'
'Suara ibumu?'
Rindu mengangguk. 'Tadi beliau masih sempat bertanya kenapa saya menangis.'
Zavin tersenyum kecil. 'Itu terdengar seperti Ibu Ani.'
'Iya. Itu yang membuat saya semakin menangis.'
Rindu mengusap wajah, lalu tertawa pendek karena menyadari dirinya menjelaskan hal yang sama berulang kali. Tidak seorang pun menyuruhnya berhenti. Untuk beberapa menit, ia boleh mengulang kabar baik tanpa harus mengubahnya menjadi laporan yang rapi.
Rindu duduk tanpa menunggu ditawari. Ia ingin menceritakan suara ibunya berulang kali, tetapi akhirnya hanya menatap kedua telapak tangannya.
Tadi, tangan itu kembali disambut.
***
Dua hari berikutnya dilalui dengan pemantauan dan waktu kunjungan yang disesuaikan. Rindu tidak menganggap setiap saat Ani lebih lelah sebagai tanda bahwa semuanya kembali ke awal. Ia bertanya kepada tim ketika khawatir, lalu mencoba mendengar jawaban tanpa mencari kepastian yang tidak dijanjikan.
Pada hari ketiga setelah operasi, Ani dapat mengikuti percakapan singkat dengan lebih baik. Ketika Rindu masuk, ibunya memandang ke arah pintu.
'Yang menunggu... siapa?'
Rindu duduk dekat ranjang.
'Pak Zavin ada. Rendra juga masih di sini.'
Ani menatap putrinya.
'Mereka belum pulang?'
'Belum.'
'Rendra sudah bekerja?'
'Dia mengurus beberapa hal dari sini. Aku tidak menanyakan semuanya.'
Ani mengangkat tangan sedikit, lalu meletakkannya kembali.
'Ibu boleh melihat mereka?'
Rindu tidak menjawab terlalu cepat. Ia memastikan kepada tim bahwa kunjungan singkat memungkinkan, kemudian bertanya lagi apakah ibunya sungguh ingin bertemu.
Ani menyatakan iya.
Rindu keluar untuk menyampaikan keinginan tersebut. Ia menegaskan agar mereka tidak membicarakan perkara yang membuat ibunya harus berpikir terlalu berat atau mengharapkan percakapan panjang.
Zavin menerima. Rendra juga.
Saat masuk, kedua lelaki itu menjaga jarak dari ranjang sampai dipersilakan mendekat. Ani melihat mereka bergantian. Rindu berdiri di sisi ibunya, tidak di antara kedua lelaki tersebut.
'Terima kasih sudah menunggu,' kata Ani pelan.
'Semoga pemulihannya lancar, Bu,' jawab Zavin.
Rendra menunduk sedikit.
'Saya bersyukur Ibu sudah melewati operasinya.'
Ani memandang wajahnya lebih lama. Rendra tidak memakai kesempatan itu untuk meminta Ani membujuk Rindu atau menyampaikan penyesalan yang akan menguras tenaganya.
'Ibumu?' tanya Ani.
'Masih dirawat di Jakarta. Hesti dan Bi Darmi mendampingi.'
Ani memperhatikan, lalu mengangguk kecil. Rindu menyentuh sisi ranjang agar ibunya tahu ia berada dekat.
'Jangan banyak bertanya dulu, Bu.'
Ani menatap putrinya dengan tatapan yang hampir menjadi gurauan.
'Kamu... masih cerewet.'
Rindu tersenyum, dan kedua lelaki di dekat pintu ikut melunak. Untuk beberapa detik, tidak ada persaingan yang tampak di wajah mereka. Mereka hanya menyaksikan seorang ibu kembali mempunyai tenaga untuk menggoda anaknya.
Ketika Ani mulai lelah, Rindu meminta kunjungan diakhiri. Zavin berpamitan lebih dulu. Rendra menunggu sebentar untuk memastikan tidak ada keperluan yang diminta, lalu keluar juga.
Ia tidak berusaha tinggal lebih lama daripada lelaki lain.
***
Rindu merapikan barang setelah kunjungan. Ia tidak memindahkan apa pun yang menjadi urusan tim perawatan, hanya menata tas dan benda pribadinya agar tidak mengganggu.
Ani mengamati.
'Ri.'
Rindu menoleh.
'Iya, Bu?'
'Kamu sendiri... sudah istirahat?'
'Sudah sedikit.'
'Jangan hanya mengurus orang lain.'
'Aku sedang duduk sekarang.'
Ani menatapnya sampai Rindu benar-benar menarik kursi dan duduk, bukan sekadar membungkuk di dekat ranjang.
'Begini?'
Perempuan itu tersenyum samar. Rindu merasa dadanya menghangat, lalu teringat kedua lelaki yang baru saja keluar.
'Aku takut mereka terus menunggu sesuatu dariku, Bu.'
Ani tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sebentar, mengumpulkan tenaga, lalu kembali memandang putrinya.
'Jangan sekarang kamu memilih karena takut mengecewakan.'
Rindu merapatkan kedua tangan.
'Aku belum memilih.'
'Bagus. Kenali dulu yang kamu rasakan.'
Rindu tidak meneruskan pertanyaan ketika melihat ibunya perlu beristirahat. Ia hanya menggenggam tangannya sebentar.
Namun, sebelum mata Ani tertutup, perempuan itu sempat berbisik.
'Nanti kita bicara... tentang apa yang membuatmu merasa berutang.'