Dokter Adrian yang muncul dari arah ruang tindakan. Rindu melangkah mendekat sebelum menyadari kedua kakinya terasa lemah.
'Dok, Ibu saya?'
Adrian berhenti di hadapannya. Rendra dan Zavin berdiri beberapa langkah di belakang, tidak mendahului pertanyaan Rindu.
'Operasi transplantasinya berhasil dilakukan, Bu Rindu.'
Rindu memandangi wajah dokter itu, seakan kalimat yang paling ditunggunya justru membutuhkan waktu paling lama untuk dipahami.
'Berhasil?'
'Ya. Ibu Anda akan menjalani pemantauan ketat setelah operasi. Masih ada masa pemulihan yang perlu dilalui, jadi kami tetap akan mengamati perkembangannya.'
Rindu menutup mulut dengan tangan. Air matanya jatuh tanpa isak. Ia mendengar penjelasan berikutnya tentang penantian dan kunjungan yang akan diatur, tetapi seluruh tubuhnya seperti baru menyadari betapa lama ia menahan napas.
'Beliau masih harus banyak dipantau, ya, Dok?'
'Betul.'
'Saya boleh melihat Ibu?'
'Nanti akan diberi tahu ketika kunjungan memungkinkan. Jangan terburu-buru. Tim masih menangani keperluan setelah operasi.'
Rindu mengangguk. Ia ingin memastikan kegembiraannya tidak membuat penjelasan penting terlewat.
'Kalau ada perubahan, saya tetap di sini.'
'Kami tahu bagaimana menghubungi Anda.'
'Saya boleh mengabari keluarga bahwa operasinya berhasil, tetapi Ibu masih perlu pemantauan?'
'Ya. Itu sesuai dengan yang saya sampaikan.'
'Bukan mengatakan beliau sudah pulih.'
'Betul.'
Rindu menatap catatan yang belum sempat dibukanya. 'Maaf kalau saya mengulang.'
'Tidak apa-apa. Lebih baik Anda memastikan daripada pulang dengan pemahaman yang berbeda.'
'Saya belum ingin pulang ke hotel, Dok.'
'Ikuti pengaturan kunjungan dan tetap jaga diri selama menunggu.'
Rindu menarik napas, lalu mengucapkan terima kasih. Ia ingin terus menahan dokter di sana karena setiap jawaban terasa seperti pegangan. Namun, pekerjaan di balik pintu masih berlangsung. Ia membiarkan Adrian kembali kepada tim, mencoba percaya bahwa tidak melihat ibunya setiap saat bukan berarti ibunya ditinggalkan.
Setelah Adrian kembali, Rindu masih berdiri di tempat yang sama. Ia menatap pintu, lalu menunduk pada tangannya yang gemetar.
Zavin mendekat sedikit.
'Ri, duduk dulu.'
Rindu berbalik, tetapi lututnya seperti tidak segera mengikuti. Ia memegang sandaran kursi, lalu duduk dengan napas yang terputus-putus. Zavin berada di dekatnya tanpa langsung memeluk.
'Ibu berhasil melewatinya,' katanya lirih.
'Iya.'
Rindu menangis lebih keras. Ia tidak berusaha terlihat tenang untuk kedua lelaki yang berdiri di hadapannya.
Rendra mengambil tisu dari tas dan meletakkannya di kursi kosong dekat Rindu. Sesudah itu ia mundur sedikit, memberi ruang. Rindu mengambilnya tanpa melihat siapa yang meletakkan.
'Terima kasih,' ucapnya.
Rendra menundukkan kepala.
Tidak ada yang menjadikan ucapan itu miliknya sendiri.
***
Beberapa waktu kemudian, setelah tangisnya mereda, Rindu membaca ulang hal yang sempat dicatat dari penjelasan Adrian. Ada bagian yang harus ditanyakan lagi nanti. Keberhasilan operasi bukan berarti Ani sudah dapat berbicara atau pulang, dan ia tidak ingin memberi kabar kepada orang lain dengan kalimat yang terlalu jauh.
'Aku akan mengabari Dokter Doni,' katanya.
Rendra mengangkat wajah karena sapaan itu tidak ditujukan khusus kepada siapa pun. Zavin hanya mempersilakan dengan gerakan kecil.
Rindu mengirim kabar singkat: operasi berhasil dilakukan, Ani masih dalam pemantauan, dan mereka menunggu kesempatan melihatnya. Ia tidak menambahkan janji bahwa semuanya telah aman.
Setelah itu, ia menatap percakapan dengan Sarah dan menyampaikan kabar yang sama. Balasan penuh syukur datang, tetapi Rindu tidak merasa wajib melayani pertanyaan panjang.
Ponsel ditaruh kembali di tas.
'Saya baru sadar belum minum sejak tadi,' katanya kepada Zavin.
Lelaki itu menunjukkan botol yang masih berada di dekatnya. Rindu mengambilnya sendiri dan meneguk perlahan.
Rendra memandang jam di ponselnya, lalu mengirim kabar kepada Hesti bahwa operasi Ani berhasil dan ia masih menunggu perkembangan. Ketika kakaknya membalas menanyakan kapan ia pulang, ia tidak segera memberi tanggal.
Ia belum ingin pergi. Namun, keinginan itu tidak boleh disampaikan sebagai tugas tambahan kepada Rindu.
'Ri,' katanya setelah perempuan itu meletakkan botol.
Rindu menoleh.
'Aku akan tetap di tempat menunggu. Kalau kamu ingin sendiri setelah melihat Ibu Ani, aku tidak akan mengikuti.'
Rindu memandangnya sejenak.
'Baik, Ren.'
Hanya itu. Rendra menerima jawaban tersebut tanpa mencari tanda bahwa sesuatu di antara mereka mulai pulih.
Zavin berdiri untuk membuang gelas kosong yang tidak terpakai, lalu kembali. Dalam gerakan sederhana itu, Rindu merasakan betapa aneh keadaan mereka: tiga orang membawa perasaan yang rumit, tetapi untuk beberapa jam ini hanya satu nama yang membuat mereka menoleh setiap kali pintu terbuka.
Ani.
Rindu menekan tas yang berisi ponsel ibunya. Ia ingin mendengar suara yang biasanya menegurnya terlambat makan. Keinginan itu begitu kuat sampai ia harus kembali mengingatkan diri bahwa tubuh Ani memerlukan waktu.
***
Ketika kesempatan kunjungan diberikan, Rindu mengikuti arahan petugas dan masuk tanpa meminta kedua lelaki itu ikut. Ia sudah mendengar bahwa waktunya terbatas dan ia harus memperhatikan keadaan ibunya.
Melihat Ani setelah operasi membuat langkahnya terhenti.
Ia sudah menyiapkan diri, tetapi kenyataan di hadapannya tetap berbeda dari segala bayangan yang dibuat selama menunggu. Ibunya tampak sangat lelah, dikelilingi keperluan perawatan yang tidak ingin Rindu ganggu.
Rindu mendekat sesuai arahan, menahan keinginan menyentuh semuanya untuk memastikan ibunya benar-benar ada.
'Bu, aku di sini.'
Suaranya nyaris berupa bisikan. Ia tidak menuntut jawaban.
'Dokter bilang operasinya berhasil. Sekarang Ibu istirahat dulu.'
Air mata kembali menggenang. Rindu mengusapnya sebelum jatuh dan mengganggu. Ia tidak ingin menjadikan kunjungan singkat itu sebagai tempat menumpahkan seluruh ketakutannya kepada Ani.
'Aku sudah mengabari yang perlu diberi tahu. Barang Ibu masih kusimpan. Ponselnya juga.'
Ia berhenti, hampir tertawa karena kembali membicarakan barang ketika tidak tahu harus mengatakan apa.
'Ibu pasti nanti bilang aku terlalu banyak memeriksa tas.'
Tidak ada percakapan panjang. Rindu hanya berdiri beberapa saat, menyimpan wajah ibunya dalam ingatan, lalu mengikuti arahan untuk keluar ketika waktunya cukup.
Di luar, Zavin berdiri. Rendra juga bangkit dari kursi, tetapi keduanya menunggu sampai Rindu mau bicara.
'Aku sudah melihat Ibu.'
Rindu menyeka ujung mata.
'Beliau masih perlu istirahat. Aku tidak ingin siapa pun membuat beliau harus menjawab banyak pertanyaan nanti.'
'Tentu,' kata Zavin.
Rendra menyatakan mengerti.
Rindu duduk kembali. Kini penantian mempunyai bentuk baru. Ia tidak lagi menunggu pintu operasi terbuka, melainkan menunggu ibunya cukup kuat untuk mengenali suaranya dan memberi jawaban.
Ia mengeluarkan ponsel Ani dari tas, mematikannya agar tidak berdering di waktu yang salah, lalu memeluk tas itu dekat dada.
'Besok kalau Ibu memanggil namaku,' katanya pelan, 'aku ingin bisa menjawab tanpa menangis dulu.'