Rendra memperlambat langkah ketika melihat Rindu menoleh. Zavin berdiri sedikit di belakangnya, cukup dekat untuk mendengar tetapi tidak menutupi pandangan mereka.
'Ri.'
Rindu menoleh sepenuhnya kepadanya.
'Kamu sudah sampai.'
'Iya. Bagaimana Ibu Ani?'
'Sedang menjalani persiapan. Aku hanya bisa bicara sebentar.'
'Tidak apa-apa.'
Rendra meletakkan tas di dekat kakinya. Ia ingin bertanya apakah Rindu sudah makan, apakah sudah tidur, apakah tangannya sedingin yang terlihat. Namun, semua pertanyaan itu akan menuntut jawaban dari seseorang yang sudah memperingatkan bahwa tenaganya sedang dipusatkan pada ibunya.
Zavin memberi sapaan singkat. Rendra membalas tanpa mengulurkan tangan atau membuat pertemuan itu menjadi kelanjutan pembicaraan mereka di Jakarta.
'Terima kasih sudah menunggu,' kata Rindu kepada Rendra. 'Aku akan kembali ke Ibu.'
'Silakan.'
Rindu menatap Zavin.
'Pak, saya masuk dulu.'
'Saya di sini.'
Rendra mendengar jawaban tersebut dan merasakan kecemburuan kecil yang tajam. Zavin tidak perlu meminta tempat; Rindu sudah mengetahui ia akan tetap ada. Rendra harus mengingat bahwa rasa sakit itu miliknya sendiri, bukan kesalahan orang yang sedang menemani.
Setelah Rindu pergi, kedua lelaki itu berdiri tanpa berbicara beberapa saat. Rendra kemudian mengambil tas dan memilih kursi yang tidak menghalangi pintu.
'Anda tidak perlu memberi saya penjelasan tentang keadaan mereka,' katanya kepada Zavin. 'Saya akan menunggu kabar yang Rindu bersedia sampaikan.'
Zavin menatapnya.
'Baik.'
'Saya datang untuk Ibu Ani. Saya tidak ingin membuat keadaan Rindu lebih berat.'
'Kalau begitu, jaga yang sudah Anda katakan.'
Rendra tidak membantah. Ia duduk dan meletakkan ponsel di tangan, memberi kabar kepada Hesti bahwa dirinya telah tiba di rumah sakit. Balasan kakaknya hanya menyatakan Wina masih didampingi. Ia membaca itu sebagai kabar yang diperlukan, bukan undangan membuka pertengkaran baru.
Zavin duduk di kursi lain. Mereka berada di lorong yang sama, tetapi tidak menjadi teman hanya karena sama-sama menunggu seorang perempuan keluar dari kamar.
***
Di dalam, Rindu mendekati Ani dan berusaha membuat langkahnya tampak tenang. Ibunya melihat wajahnya sebelum ia sempat mengatakan sesuatu.
'Rendra sudah datang?'
'Sudah, Bu. Menunggu di luar.'
'Kamu tidak merasa terpaksa menerima?'
'Aku mengizinkan dia menunggu. Aku tidak menjanjikan yang lain.'
Ani menatapnya, kemudian mengangguk kecil.
'Kalau begitu, jangan sekarang kamu merasa harus mengurus dua orang sekaligus.'
Rindu duduk dekat ranjang.
'Aku hanya mau menemani Ibu.'
Ani meraih tangannya. Jari-jari mereka saling menggenggam seperti begitu banyak hari sebelumnya, tetapi Rindu menyadari bahwa tak lama lagi ia harus melepaskan genggaman itu.
'Aku sudah menyiapkan barang Ibu,' katanya. 'Yang tidak perlu kubawa kusimpan. Ponsel Ibu ada padaku.'
'Baik.'
'Kalau nanti ada yang ingin Ibu tanyakan...'
'Ibu akan bertanya.'
Rindu terdiam, lalu tertawa pelan di antara air mata yang mulai naik.
'Aku mengulang semuanya lagi, ya?'
'Karena kamu takut.'
'Iya.'
Ani mengusap ibu jarinya.
'Ibu juga takut. Tetapi Ibu tidak berubah pikiran hanya karena takut.'
Rindu membungkuk dan mencium tangan ibunya. Ia tidak mengucapkan permintaan agar Ani berjanji pasti kembali dengan keadaan baik. Janji seperti itu terlalu berat untuk diberikan seseorang yang juga sedang menghadapi ketidakpastian.
'Aku menunggu, Bu.'
'Ibu tahu.'
Rindu mengangkat wajah.
'Aku akan ada di sini.'
'Dan kamu boleh duduk, minum, atau menangis selama menunggu. Jangan mengira harus berdiri di depan pintu terus supaya Ibu tahu kamu sayang.'
Kalimat itu membuat tangis Rindu jatuh. Ia menyekanya sebelum mengganggu kegiatan tim yang sedang menyiapkan Ani.
Ketika waktu untuk bergerak tiba, Rindu berjalan di sisi ibunya sejauh yang diperbolehkan. Ia mendengarkan arahan yang diberikan dan tidak mencoba memperpanjang perpisahan dengan pertanyaan yang sudah dijawab.
Di batas tempat ia harus berhenti, tangannya melepaskan genggaman Ani.
'Bu.'
Ani memandangnya sekali lagi.
'Ri.'
Tidak ada kalimat panjang. Rindu hanya mengangguk, berusaha tersenyum, lalu membiarkan tim membawa ibunya melanjutkan persiapan operasi.
Pintu tertutup di hadapannya.
***
Rindu tetap berdiri sampai Zavin mendekat tanpa menyentuhnya lebih dulu.
'Kamu ingin duduk?'
Rindu mengangguk. Ia mengikuti langkahnya menuju kursi, lalu melihat Rendra bangkit di sisi lain.
'Ibu sudah masuk?' tanya Rendra pelan.
'Sudah.'
Rendra tidak menambahkan pertanyaan. Ia menggeser tas agar ruang di dekat kursi lebih lapang.
Rindu duduk. Zavin menawarkan air, dan ia menerimanya dengan kedua tangan. Rendra memperhatikan tanpa menjadikan gerakan itu alasan untuk menunjukkan bahwa dirinya juga mampu membantu.
Untuk beberapa saat, suara di sekitar mereka terasa jauh. Rindu menatap botol yang belum dibuka, lalu menyadari tangannya terlalu gemetar.
'Boleh saya bantu?' tanya Zavin.
Rindu menyerahkannya. Lelaki itu membuka tutup, mengembalikan botol, lalu duduk agak jauh agar ia tetap memiliki ruang.
Rendra menunduk pada ponselnya yang tidak sedang berbunyi. Dahulu ia mungkin akan menganggap kedekatan itu sebagai sesuatu yang harus dihentikan. Sekarang ia melihat perempuan yang sedang berusaha menelan air di antara ketakutan, dan merasa malu karena kecemburuannya sempat hadir juga.
Rindu memandangnya setelah beberapa menit.
'Ren, aku tidak tahu kapan akan ada kabar.'
'Aku akan menunggu.'
'Kalau kamu perlu menghubungi keluargamu, lakukan saja. Jangan bertanya terus kepadaku.'
'Baik.'
Rendra menatap pintu di ujung lorong sebelum kembali memandang Rindu.
'Aku akan menyampaikan kepada mereka bahwa kita masih menunggu. Tidak lebih.'
Rindu melepaskan napas pelan. 'Terima kasih.'
Ia kembali memegang botol, lalu menyadari airnya masih hampir penuh. Zavin tidak mengingatkannya berkali-kali. Rendra juga tidak berusaha mengalahkan perhatian lelaki itu dengan menawarkan sesuatu yang lain.
Keheningan tersebut tidak nyaman bagi mereka semua, tetapi Rindu tidak diminta memperbaikinya. Ia membiarkan kedua lelaki itu mengurus perasaan masing-masing. Untuk saat ini, tempat duduk yang ditempatinya bukan tempat memilih pasangan. Ia hanya ingin menjadi anak yang menunggu ibunya dan tetap mempunyai tenaga ketika kabar berikutnya datang.
Rindu kembali menatap pintu. Ia tidak mempunyai tenaga untuk memikirkan hal lain di luar kabar ibunya.
Waktu berjalan lambat. Mereka menerima keterangan bahwa proses operasi berlangsung dan kabar berikutnya akan disampaikan ketika tersedia. Belum ada hasil yang bisa dibawa pulang dalam doa atau percakapan.
Rindu merapatkan tas yang berisi ponsel Ani. Benda itu terasa seperti bagian kecil ibunya yang ditinggalkan dalam penjagaannya.
Zavin tidak mengatakan semuanya pasti baik. Rendra juga tidak. Untuk sementara, ketiganya hanya bisa menunggu di lorong yang sama, dengan harapan yang bertemu tetapi keinginan tentang masa depan yang belum sejalan.
Ketika Rindu mulai memejamkan mata, suara pintu dari arah ruang tindakan membuatnya langsung berdiri. Kedua lelaki itu ikut menoleh.
'Dok?'
Pertanyaan Rindu keluar sebelum ia mengetahui apakah orang yang muncul membawa kabar tentang ibunya. Tangannya mencengkeram tali tas, dan ia menunggu kalimat berikutnya tanpa berani duduk kembali.