Rendra menerima panggilan Doni sebelum deringnya berhenti. Ia sedang berada di lorong rumah sakit tempat Wina dirawat, dan nama dokter itu membuat pikirannya langsung kembali kepada ibunya.
'Ada apa, Dok?'
'Saya ingin menyampaikan kabar tentang Ibu Ani. Rindu dan ibunya mengizinkan kabar umum ini disampaikan kepada Anda.'
Rendra berdiri tegak.
'Ada perubahan?'
'Tim di Singapura mendapat kabar donor yang cocok dan sedang mempersiapkan operasi. Rindu mendampingi ibunya.'
Untuk beberapa detik, Rendra tidak menjawab. Ia memandang pintu kamar Wina, lalu menurunkan suara.
'Rindu sendirian?'
'Saya tidak menelepon untuk membahas siapa yang berada di sampingnya. Saya menyampaikan kabar yang telah diizinkan.'
Rendra memejamkan mata sebentar. Pertanyaan pertamanya sudah memperlihatkan sesuatu yang seharusnya ditahannya.
'Maaf, Dok.'
'Rindu juga menegaskan bahwa kabar ini bukan permintaan agar Anda datang atau membicarakan hubungan kalian.'
'Saya mengerti.'
'Kalau Anda ingin melakukan sesuatu, bicarakan langsung dengannya. Jangan menganggap saya sedang mengundang Anda.'
Rendra mengucapkan terima kasih. Setelah panggilan berakhir, ia duduk dan memandangi ponselnya.
Ia ingin pergi. Keinginan itu muncul begitu cepat sampai hampir mengalahkan semua pertimbangan. Namun, di balik pintu ada ibunya yang juga sedang dirawat, dan di seberang laut ada perempuan yang tidak lagi wajib menerima kedatangannya.
Rendra membuka percakapan dengan Rindu.
'Aku sudah mendapat kabar dari Dokter Doni. Aku ingin ke Singapura untuk menunggu kabar Ibu Ani. Kalau kehadiranku membuatmu tidak nyaman, katakan. Aku tidak akan meminta masuk atau mengganggu keputusan kalian.'
Ia membaca pesan itu, menghapus satu kalimat tentang betapa khawatirnya ia, lalu mengirim. Rindu sedang menghadapi sesuatu yang lebih besar daripada kebutuhan Rendra agar perasaannya diketahui.
***
Di dalam kamar, Wina memperhatikan ketika putranya masuk.
'Ada kabar apa?'
Rendra duduk di sisinya dan menjelaskan secara singkat. Ia tidak menyebut rincian yang tidak diterimanya, hanya kabar donor dan persiapan operasi.
Wina terdiam.
'Rindu ada yang menemani?'
'Aku belum menanyakan.'
'Kamu ingin ke sana?'
'Iya, Bu.'
Hesti yang berada di dekat lemari langsung menoleh.
'Ibu masih dirawat.'
'Aku tahu.'
'Lalu kamu mau pergi begitu saja?'
Rendra menatap kakaknya.
'Aku akan memastikan pendampingan Ibu dan keperluannya di sini. Aku tidak berangkat tanpa mengaturnya.'
Hesti mendengus. Wina mengangkat tangan sedikit, meminta keduanya berhenti sebelum suara mereka meninggi.
'Ibu tidak sendirian di sini,' katanya.
'Bu, bukan begitu,' sahut Hesti.
'Ibu tahu kamu juga lelah, Hes. Kita bisa mengatur dengan Bi Darmi.'
Rendra menatap ibunya. Ia tidak ingin menjadikan persetujuan itu alasan mengabaikan keadaan yang masih perlu dipantau.
'Aku akan memastikan dulu kepada tim bahwa kebutuhan pendampingan sudah jelas. Kalau ada perubahan mendesak, hubungi aku.'
Wina mengangguk pelan.
'Dan jangan datang untuk meminta Rindu memikirkanmu ketika ibunya sedang menjalani operasi.'
Wina memandang tangan Rendra yang memegang ponsel.
'Dia sudah mengatakan kamu boleh datang?'
'Aku sudah bertanya. Belum ada jawaban.'
'Kalau jawabannya tidak?'
Rendra menatap layar yang gelap. Ia belum membeli tiket, tetapi di kepalanya perjalanan itu sudah berlangsung.
'Aku harus menerimanya.'
'Kamu sanggup?'
'Aku tidak tahu akan semudah apa. Tapi aku tidak bisa membuat penolakannya menjadi kesalahan baru.'
Wina terdiam. Hesti memalingkan wajah, seolah percakapan itu menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak perlu. Rendra tetap duduk. Ia ingin berangkat, tetapi tidak ingin tiba dengan alasan bahwa kekhawatirannya lebih penting daripada batas yang sudah diberikan Rindu. Ia harus menunggu jawaban sebelum mengubah keinginan menjadi perjalanan.
Rendra kembali menegaskan bahwa ia akan menunggu izin Rindu sebelum membeli tiket. Wina mengangguk, lalu memintanya menjaga maksud kedatangannya.
Rendra memegang tangan ibunya sebentar. Ia tidak menjanjikan bahwa kepergiannya akan menghasilkan kabar bahagia untuk hubungan mereka.
Sesudahnya ia dan Hesti membicarakan pergantian pendampingan bersama Bi Darmi melalui panggilan singkat. Kebutuhan Wina dicatat, pembayaran yang perlu ditangani diperiksa, dan nomor Rendra tetap dapat dihubungi setelah perjalanan. Hesti masih kesal, tetapi menyetujui untuk berada di sana.
'Kamu jangan mematikan ponsel tanpa kabar,' katanya.
'Aku akan memberi tahu waktu penerbangan dan setelah tiba.'
Rendra juga memastikan urusan kerja yang tidak bisa menunggu telah diteruskan melalui pesan yang diperlukan. Perusahaan tidak mendadak pulih karena ia sedang ingin pergi, tetapi ia tidak boleh meninggalkan orang lain tanpa penjelasan.
Ketika kembali melihat ponsel, balasan Rindu telah masuk.
'Kamu boleh menunggu di rumah sakit. Jangan meminta aku menemanimu atau menjelaskan apa pun selain kabar Ibu. Aku sedang fokus pada persiapan operasi.'
Rendra membaca setiap kalimat.
'Baik, Ri. Aku akan menjaga batas itu.'
Ia tidak menambahkan pertanyaan apakah Zavin juga berada di sana. Jawaban tentang hal tersebut tidak akan mengubah alasan yang ia nyatakan untuk datang.
***
Rendra kembali ke hotel menggunakan kendaraan pesanan, mengambil paspor dan keperluan perjalanan, lalu memeriksa penerbangan yang masih memungkinkan. Setelah memperoleh tiket, ia mengabari Hesti mengenai waktu keberangkatan.
Barang yang dibawa sedikit. Ia tidak mengambil amplop sisa uang yang pernah ditolak Rindu untuk dijadikan alasan mendekat lagi. Amplop itu tetap disimpan terpisah bersama barang pribadinya di tempat yang aman.
Ia memastikan uang perjalanan tidak diambil dari dana yang baru dialokasikan untuk kebutuhan Wina. Jumlah yang tersisa membuatnya harus berhitung, tetapi perjalanan itu tetap menjadi keputusan yang harus ia tanggung sendiri.
Di bandara, Rendra berdiri di antara orang-orang yang mempunyai tujuan masing-masing. Ia tidak membeli hadiah. Tidak ada benda yang pantas disodorkan kepada Rindu sebagai pengganti sikap yang harus dijaganya.
Sebelum naik pesawat, ia mengirim kabar kepada Hesti dan Rindu bahwa dirinya akan sulit dihubungi selama penerbangan. Kepada Rindu, ia tidak meminta balasan.
Saat duduk, ia membuka kembali pesan batas yang diberikan perempuan itu. Ia ingin mengingatnya sebelum melihat wajah Rindu, bukan sesudah kecemburuan membuatnya lupa.
Jangan meminta aku menemanimu.
Rendra menyimpan ponsel. Ia pernah mengira menjadi suami berarti berhak memperoleh perhatian bahkan ketika Rindu sedang takut kehilangan ibunya. Sekarang ia datang sebagai mantan suami yang hanya diberi izin menunggu.
Pesawat berangkat malam itu. Selama perjalanan, Rendra tidak banyak tidur. Ia memikirkan Ani yang dahulu masih menyambutnya dengan hangat, lalu teringat dirinya datang membawa tuduhan ketika perempuan itu terbaring sakit.
Penyesalan tidak membuat jarak penerbangan menjadi lebih pendek.
Setelah mendarat pada dini hari berikutnya, ia mengaktifkan ponsel dan mengirim kabar singkat kepada Hesti. Rindu juga diberi tahu bahwa ia sedang menuju rumah sakit, tanpa diminta menjemput.
Di kendaraan, Rendra memandang jalan yang belum dikenalnya dengan baik. Ketika rumah sakit akhirnya terlihat, ia menggenggam tas dan membaca sekali lagi pesan Rindu.
Boleh menunggu.
Ia turun, masuk, lalu mengikuti arahan menuju tempat yang telah diberitahukan Rindu. Di ujung lorong, ia melihat perempuan itu berdiri bersama Zavin.