Rindu menjawab pertanyaan dalam catatannya sendiri sebelum mematikan layar. Ia akan mendengarkan tim yang merawat bersama Ani lebih dulu. Setelah itu, ia boleh meminta Zavin mendampingi dan mengabari Doni tanpa harus menyampaikan semuanya kepada setiap orang sekaligus.
Urutan sederhana itu tidak menjamin ia akan tenang. Namun, ia tidak lagi merasa harus berlari ke segala arah begitu ponsel berbunyi.
Keesokan paginya, Rindu datang dengan wajah mengantuk tetapi sudah sarapan. Ani menanyakan apakah ia kembali menatap catatan sampai larut.
'Tidak sampai larut, Bu.'
'Tapi tetap ditatap.'
Rindu tersenyum. 'Aku hanya menyiapkan nomor yang mungkin perlu dihubungi.'
'Nomor Ibu jangan lupa.'
Rindu tertawa sebelum menyadari ibunya sedang menggodanya. Ia duduk lebih dekat dan memperlihatkan catatan itu.
'Yang paling dulu aku dengarkan tetap Ibu.'
Ani memandangnya lama, kemudian menepuk tangannya.
'Itu sudah lebih baik.'
Hari tersebut berjalan tanpa kabar yang mereka tunggu. Ada pemeriksaan dan penjelasan singkat, ada saat Ani lelah lalu ingin tidur. Rindu tidak menganggap keheningan berarti segala persiapan sia-sia.
Siang hari, Zavin datang dan membantu Rindu mengingat kebutuhan sederhana yang terlupakan di antara kecemasannya. Ia menanyakan apakah pakaian yang ingin dibawa dari hotel sudah dimasukkan ke tas, bukan mengambil keputusan tentang perawatan.
'Saya bisa mengambil sendiri setelah Ibu beristirahat,' kata Rindu.
'Baik. Saya tunggu di sini jika Ibu mengizinkan.'
Ani mengangkat tangan sedikit. 'Ibu mengizinkan. Asal jangan kalian membuat jadwal seperti menjaga barang pecah belah.'
Rindu tersenyum dan akhirnya pergi mengambil keperluannya. Ketika kembali, ia merasa lelah yang wajar, bukan kelelahan karena terus membayangkan sesuatu yang belum terjadi.
***
Sore berikutnya, suasana berubah ketika Dokter Adrian meminta berbicara dengan Ani dan Rindu. Zavin belum berada di kamar. Rindu berdiri, tetapi Adrian mempersilakannya tetap dekat ibunya.
'Kami mendapat kabar mengenai donor jantung yang dinilai cocok untuk Ibu Ani. Tim sedang menyiapkan langkah berikutnya, dan kami perlu membicarakan rencana operasi dengan Ibu.'
Rindu memegang sisi kursi. Ia telah menunggu kalimat itu begitu lama sampai saat akhirnya terdengar, pikirannya justru kosong.
Ani menatap dokter, lalu putrinya.
'Ri.'
Rindu segera duduk.
'Iya, Bu. Aku dengar.'
Adrian memberi mereka waktu singkat sebelum menjelaskan rencana yang sedang disiapkan. Ia tidak menjanjikan bahwa kecocokan itu menghapus seluruh risiko atau bahwa hasilnya dapat dipastikan.
Rindu mencoba mencatat. Huruf yang ditulisnya tampak lebih berantakan daripada biasanya.
'Dok, boleh diulang bagian yang harus kami pahami sebelum menyetujui rencana itu?'
Adrian mengulangi penjelasan. Ani bertanya dengan suara pelan, sesekali berhenti untuk menarik napas. Rindu mendengarkan jawaban yang ditujukan kepada ibunya, kemudian menanyakan hal yang masih belum jelas baginya.
Keberanian yang dibayangkannya tidak datang sebagai ketenangan penuh. Ia tetap takut, tetap merasakan keinginan meminta seseorang berkata bahwa pilihannya pasti benar.
'Saya ingin mencoba kesempatan ini,' kata Ani akhirnya.
Adrian memastikan bahwa Ani masih mempunyai ruang untuk bertanya. Ia tidak segera menutup penjelasan hanya karena mendengar kesediaan tersebut.
'Ada yang masih ingin Ibu tanyakan?'
Ani menyebut satu hal yang belum jelas baginya, lalu mendengarkan jawaban sampai selesai. Rindu memperhatikan ibunya menimbang kata-kata dokter. Perempuan yang selama ini dianggap terlalu ringkih untuk mendengar kabar berat ternyata sedang berusaha memahami dengan tenaganya sendiri.
Rindu menggeser catatan agar Ani bisa melihatnya.
'Ini yang tadi kutulis, Bu. Kalau ada yang kurang, kita tanyakan lagi.'
Ani membaca sebentar, lalu menyentuh tangan putrinya. 'Kamu dengarkan Ibu baik-baik, ya. Ibu takut, tetapi Ibu tidak mengatakan iya hanya supaya kamu berhenti khawatir.'
Rindu menahan tangis dan mempersilakan ibunya melanjutkan.
'Ibu sudah mendengar penjelasannya. Ibu ingin melanjutkan sesuai rencana yang dokter jelaskan.'
Air mata Rindu memenuhi matanya. Ia menggenggam tangan ibunya, menunggu sampai suaranya tidak terlalu bergetar.
'Aku akan menemani Ibu.'
Adrian melanjutkan pembicaraan tentang persiapan yang diperlukan dan urusan persetujuan. Rindu membaca, mendengarkan, lalu bertanya lagi ketika ada kalimat yang belum dipahaminya. Ia tidak sekadar membubuhkan tanda tangan untuk mengusir rasa takut.
Setelah tim kembali bekerja menyiapkan keperluan, Rindu masih duduk dengan tangan Ani dalam genggamannya.
'Aku takut, Bu.'
'Ibu juga.'
Jawaban jujur itu membuat tangisnya jatuh.
'Tapi Ibu tidak ingin kamu mengira ketakutan berarti Ibu tidak punya keinginan,' lanjut Ani. 'Ibu ingin kesempatan ini.'
Rindu mengangguk, menyeka pipinya dengan tangan yang bebas.
'Baik, Bu.'
***
Rindu keluar sebentar untuk menghubungi Zavin setelah Ani mengetahui dan menyetujuinya. Ia menekan nomor yang sudah disiapkan, lalu menunggu dengan punggung menempel pada dinding.
'Pak, ada kabar donor yang cocok. Tim sedang menyiapkan operasi.'
'Saya menuju ke sana. Kamu sedang di kamar ibumu?'
'Di luar sebentar.'
'Saya temui di sana.'
Zavin tidak menanyakan apa yang sudah diputuskan sebelum tiba. Ketika datang, ia meminta izin masuk dan mendengarkan penjelasan Rindu bersama Ani. Ia tidak membuat kehadirannya menjadi pengganti tim medis atau kehendak pasien.
'Saya masih takut salah memahami sesuatu,' kata Rindu di lorong setelah Ani perlu dibantu melakukan persiapan.
'Kalau ada yang belum jelas, kita tanyakan lagi.'
'Kami sudah memilih melanjutkan. Ibu mengatakannya sendiri.'
Zavin menatapnya.
'Dan kamu mendampinginya.'
Rindu menekan bibirnya, berusaha menahan tangis berikutnya.
'Kalau nanti aku tidak sanggup menunggu...'
'Kamu tidak perlu memikirkan seluruh waktu menunggu sekaligus.'
Rindu memperhatikan wajahnya. Ia tidak mendapatkan janji bahwa semuanya pasti baik, tetapi mendapatkan seseorang yang tetap berdiri di hadapannya ketika keadaan tidak bisa dikendalikan.
'Saya ingin Bapak tetap di sini.'
'Saya akan tetap di sini selama kamu berkenan.'
Rindu kembali ke kamar untuk memastikan keperluan Ani, lalu menghubungi Doni sesuai rencana. Ia menyampaikan kabar umum dan mengatakan tim sedang mempersiapkan operasi segera.
Doni mendengarkan, menanyakan apakah ada penjelasan yang belum dipahami, lalu mengingatkan bahwa pertanyaan tentang rencana saat ini tetap perlu ditujukan kepada tim yang menangani.
'Soal Rendra, apakah izin menyampaikan kabar umum itu masih berlaku?' tanyanya.
Rindu memandang pintu kamar.
'Iya, Dok. Ibu juga sudah mengizinkan. Tapi jangan menjadikannya permintaan agar dia datang.'
'Saya akan menyampaikan batas itu.'
Rindu mengakhiri panggilan. Ia tidak membuka percakapan dengan Rendra untuk menjelaskan ulang semuanya. Ada kelelahan yang harus disimpannya untuk menunggu ibunya, bukan untuk mengatur perasaan orang lain terhadap kabar tersebut.
Zavin berdiri ketika ia kembali mendekati kursi.
'Sudah?'
'Sudah. Sekarang saya mau menemui Ibu lagi.'
Rindu melangkah ke kamar. Di Jakarta, pada saat yang sama, nama Dokter Doni muncul di layar ponsel Rendra.