'Ibu ingin punya kesempatan untuk lebih baik, Ri. Tapi Ibu juga ingin mendengar apa yang harus dihadapi.'
Rindu menatap Ani, menahan dorongan untuk segera mengatakan semuanya akan baik.
'Aku akan menemani Ibu mendengarkan.'
'Bukan hanya mendengarkan kabar yang menyenangkan.'
'Iya.'
Ani merapatkan kedua tangan di atas selimut.
'Kalau ada hal yang menakutkan, jangan kamu tutupi hanya supaya Ibu tidak cemas. Ibu mungkin memang akan cemas. Tetapi Ibu tidak ingin kamu memikulnya diam-diam.'
Rindu mengangguk kecil. Ia teringat perceraian yang baru berani diceritakan setelah begitu lama. Menjaga ibunya dari segala kesedihan ternyata juga bisa menjadi cara menjauhkan mereka.
'Aku tidak akan mengatakan sudah mengerti kalau sebenarnya belum.'
'Itu juga berlaku untuk Ibu.'
Mereka tersenyum tipis. Percakapan tidak membuat keadaan Ani berubah, tetapi Rindu merasa kursi yang didudukinya tidak lagi menjadi tempat seorang penjaga yang harus menentukan seluruh hidup orang lain.
Ia duduk lebih lama, mendengarkan ibunya berbicara tentang keinginan pulang tanpa menetapkan tanggal. Ani ingin memakai pakaian pilihannya sendiri, melihat cahaya pagi di luar jendela rumah, dan tidak menghitung hari hanya dari pergantian petugas.
Rindu mendengar tanpa menjanjikan bahwa semua itu pasti segera terjadi.
'Aku ingin menemani Ibu sampai ke sana,' katanya.
'Kalau begitu, sekarang temani Ibu di sini dulu.'
***
Keesokan harinya, Rindu dan Ani mendapat kesempatan mengulang beberapa pertanyaan kepada Dokter Adrian. Zavin berada di kamar setelah Ani mengizinkan, duduk agak jauh agar tidak mengambil ruang percakapan.
Rindu memperhatikan bagaimana dokter itu berbicara langsung kepada Ani, bukan hanya kepadanya. Sesekali ibunya meminta penjelasan diulang. Adrian menyesuaikan kata-katanya, sementara Rindu menuliskan hal yang ingin diingat.
'Jadi kalau nanti ada perubahan, kami akan mendapat penjelasan lagi?' tanya Ani.
'Ya, Bu. Rencana akan dibicarakan sesuai perkembangan yang ada.'
Rindu menatap catatan. Tidak semua ketakutan dapat dijawab dengan kepastian, tetapi ia mulai dapat membedakan pertanyaan yang perlu diajukan sekarang dari sesuatu yang memang belum diketahui.
Setelah Adrian pergi, Zavin bertanya apakah catatan yang dibuat Rindu sudah cukup jelas untuk dibaca kembali.
'Ada satu bagian yang ingin saya tanyakan lagi nanti.'
'Catat saja. Tidak perlu mengandalkan ingatan.'
Rindu menuliskannya. Lalu ia memandang lelaki itu.
'Terima kasih sudah tidak menjawab untuk kami.'
'Saya memang tidak datang untuk memutuskan.'
Ani memperhatikan keduanya, kemudian meminta gelas. Rindu menyerahkannya dan menunggu sampai ibunya minum.
'Kalau kalian terus begitu serius, Ibu merasa seperti sedang mengikuti rapat,' ujar Ani.
Rindu tertawa. Zavin tersenyum, lalu menggeser pembicaraan pada sesuatu yang lebih ringan. Mereka tidak perlu menjadikan setiap menit sebagai latihan menghadapi kabar buruk.
Menjelang sore, Rindu keluar sebentar untuk makan. Zavin menemaninya setelah Ani menyuruh mereka pergi bersama. Di meja, Rindu meletakkan ponsel dekat tangan.
'Bapak tidak keberatan kalau percakapan kita sering berhenti karena Ibu?'
'Tidak.'
'Saya tahu saya sering bertanya hal yang sama.'
'Mungkin karena kamu belum percaya jawabannya akan tetap sama.'
Rindu menatapnya. Kalimat itu tidak terdengar seperti teguran, tetapi cukup tepat untuk membuatnya diam.
'Saya sedang belajar.'
'Saya juga.'
Mereka makan tanpa membicarakan perasaan lebih jauh. Bagi Rindu, rasa nyaman hari itu bukan sesuatu yang harus segera dibuktikan dengan janji. Ia hanya tahu bahwa ketika pikirannya tersendat, Zavin tidak terburu-buru mengisinya dengan keputusan.
***
Hari berikutnya, Doni menghubungi untuk menanyakan kabar Ani. Rindu menerima panggilan di luar kamar setelah memastikan ibunya tidak sedang memerlukan bantuan.
Ia menjelaskan bahwa tim masih melakukan evaluasi dan mereka sudah membicarakan beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Doni mendengarkan tanpa membuat janji tambahan.
'Kalau nanti ada kabar besar, kamu boleh menghubungi saya,' katanya.
'Saya akan mengabari, Dok.'
Ada jeda sebelum Doni meneruskan.
'Saya juga ingin menanyakan batas yang kamu inginkan. Rendra pernah menanyakan kabar ibumu secara umum. Saya belum menyampaikan rincian.'
Rindu menatap jendela. Nama itu membuat suasana percakapan berubah.
'Dia menanyakan karena apa?'
'Saya tidak ingin menafsirkan niatnya. Saya hanya ingin memastikan apa yang boleh disampaikan, bukan memutuskan lagi untuk kamu.'
Rindu diam beberapa saat. Kepercayaan yang sempat retak karena rahasia donatur belum sepenuhnya pulih, tetapi pertanyaan Doni menunjukkan bahwa ia mengingat keberatan tersebut.
'Saya tanyakan kepada Ibu dulu.'
'Baik.'
Rindu kembali ke kamar dan menjelaskan maksud panggilan. Ani mendengarkan, lalu bertanya apakah ia merasa tertekan jika Rendra menerima kabar umum.
'Aku tidak ingin itu menjadi alasan dia meminta kita kembali, Bu.'
'Itu bisa kamu batasi.'
'Kalau ada rencana tindakan besar, apakah Ibu keberatan dia diberi tahu?'
Ani menggeleng pelan.
'Untuk kabar tentang Ibu, Ibu tidak keberatan. Tetapi kamu tidak wajib mengundangnya datang.'
Rindu menatap tangan ibunya. Dulu ia selalu berada di tengah, menjadi penyampai segala kabar sekaligus penanggung semua reaksi. Kali ini ia bisa menyampaikan persetujuan tanpa mengikat dirinya pada hal lain.
Ia menghubungi Doni kembali.
'Ibu tidak keberatan kabar umumnya disampaikan kalau nanti ada perkembangan besar, Dok. Tetapi jangan membagikan rincian yang tidak perlu. Dan itu bukan permintaan agar Rendra datang atau membicarakan hubungan kami.'
'Saya mengerti.'
'Saya ingin hal itu disampaikan dengan jelas.'
'Apakah kamu ingin saya meminta dia menghubungimu terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan?' tanya Doni.
'Iya, Dok. Saya tidak mau tiba-tiba harus menerima sesuatu karena katanya sudah diberi tahu dokter.'
'Baik. Izin memberikan kabar bukan berarti saya memberi izin mewakilimu.'
Rindu menyandarkan punggung ke kursi di luar kamar. Ia tidak menyangka menjelaskan batas bisa membutuhkan tenaga hampir sebanyak menerima kabar sulit.
'Terima kasih sudah bertanya dulu kali ini.'
'Saya belajar dari keberatanmu sebelumnya, Ri.'
Rindu tidak mengatakan semuanya telah dilupakan. Namun, ia mendengar jawaban itu dan mengizinkan dirinya menilai tindakan yang sedang dilakukan, bukan hanya mengulang kekecewaan dalam setiap percakapan. Kepercayaan mungkin belum pulih, tetapi setidaknya ia tidak kembali dikeluarkan dari keputusan.
'Akan saya sampaikan.'
Setelah panggilan berakhir, Rindu menyimpan ponsel. Ia tidak memberitahu Zavin untuk menguji reaksinya. Namun, ketika lelaki itu datang menjenguk sore hari, ia menceritakan keputusan tersebut sebagai bagian dari keterbukaan yang mereka sepakati.
Zavin mendengarkan sampai selesai.
'Apakah keputusan itu membuat kamu lebih tenang?'
'Sedikit. Setidaknya saya tidak perlu takut orang memberi kabar tanpa saya tahu.'
'Kalau batasmu nanti dilanggar, kamu boleh mengatakannya lagi.'
Rindu mengangguk. Ia tidak tahu apakah Rendra akan datang atau hanya menerima kabar. Yang diketahuinya, izin untuk mendengar tentang Ani bukan pintu yang otomatis mengembalikan seseorang ke hidupnya.
Malam itu, ia menaruh ponsel dekat bantal dan memastikan bunyinya aktif. Sebelum tidur, ia membaca kembali pertanyaan terakhir yang belum dicoret dari catatan.
Kalau kabar itu datang, siapa yang harus lebih dahulu kuhubungi?