Rindu mengikuti Dokter Adrian keluar kamar. Ia menoleh sekali, melihat Zavin kembali duduk dekat pintu sementara Ani mengawasinya dengan wajah tenang yang terlalu susah payah dipertahankan.
'Silakan duduk, Bu Rindu.'
Rindu duduk di tempat yang ditunjukkan. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
'Ada perubahan kondisi Ibu, Dok?'
'Kita perlu membicarakan kembali persiapan perawatannya dan memastikan penjelasan yang sudah diberikan dipahami dengan baik. Saya tidak sedang mengabarkan bahwa donor yang cocok sudah tersedia.'
Rindu mengembuskan napas. Ia tidak tahu apakah yang dirasakannya lega atau kecewa.
'Saya kira...'
'Saya mengerti. Menunggu membuat setiap panggilan terasa seperti kabar besar.'
Adrian memberinya waktu sebelum melanjutkan. Ia menjelaskan bahwa tim masih melakukan evaluasi dan akan memberi kabar jika ada perkembangan yang memungkinkan langkah berikutnya. Rindu mendengarkan, tetapi pikirannya beberapa kali melompat pada bayangan Ani dibawa melewati pintu yang tidak boleh diikutinya.
'Kalau nanti kesempatan itu datang, apakah saya harus langsung tahu jawabannya?'
'Anda dan ibu Anda akan mendapatkan penjelasan mengenai rencana yang ditawarkan. Karena itu, pertanyaan yang sudah ada sekarang sebaiknya tidak disimpan.'
Rindu menunduk.
'Saya takut memilih sesuatu yang salah untuk Ibu.'
'Ibu Anda juga perlu dilibatkan sesuai keadaan dan kemampuannya. Anda mendampingi beliau, bukan diminta mengetahui semua hal sendirian.'
Rindu mengangkat wajah. Selama ini ia menempatkan dirinya di tengah segala kebutuhan, seolah setiap keputusan bergantung pada seberapa kuat ia bisa berdiri.
'Saya boleh meminta penjelasan diulang?'
'Tentu.'
'Kadang setelah keluar dari pembicaraan, saya baru sadar ada bagian yang tidak saya mengerti.'
'Catat bagian itu. Jangan merasa harus mengatakan sudah paham agar percakapan cepat berakhir.'
'Saya sering begitu, Dok. Setelah keluar, baru saya bertanya kepada diri sendiri apakah tadi benar-benar mengerti.'
'Anda bisa mengulang dengan kata-kata sendiri. Kalau ada yang kurang tepat, kita luruskan saat itu juga.'
Rindu mencoba melakukannya. Ia mengatakan bahwa yang sedang dibicarakan adalah persiapan dan pemahaman mereka, bukan kepastian donor tersedia hari itu. Adrian membenarkan bagian tersebut, kemudian meminta ia menyebutkan hal yang masih mengganggu.
'Saya ingin tahu bagaimana menemani Ibu tanpa membuat beliau merasa sudah tidak boleh menentukan apa-apa.'
'Mulailah dengan mendengar pertanyaan beliau juga.'
Rindu menatap pintu. Ia sempat ingin meninggalkan ibunya di luar semua ketakutan, padahal Ani yang akan menjalani perawatan. Kesadaran itu membuatnya malu, tetapi juga memberi alasan untuk kembali dengan cara berbeda.
Rindu mengeluarkan ponsel. Ia menulis beberapa pertanyaan, lalu membacanya satu per satu. Adrian menjawab dalam batas yang bisa dijelaskan saat itu, tanpa menjanjikan hasil yang belum dapat dipastikan.
Pembicaraan tersebut tidak menghilangkan ketakutannya. Namun, ketika bangkit, Rindu membawa sesuatu yang lebih berguna daripada dugaan: ia tahu bahwa persiapan belum berarti operasi sedang dimulai, dan tahu kepada siapa harus menanyakan hal yang belum jelas.
Sebelum kembali ke kamar, ia berhenti.
'Dok, apakah wajar kalau saya ingin kabar itu cepat datang, tetapi juga takut mendengarnya?'
Adrian menatapnya.
'Anda boleh merasakan keduanya. Yang penting, jangan membiarkan rasa takut membuat Anda diam ketika memerlukan penjelasan.'
Rindu mengucapkan terima kasih dan berjalan kembali. Kali ini langkahnya tidak secepat saat keluar, tetapi tangannya masih dingin.
***
Ani langsung menoleh ketika pintu dibuka.
'Bagaimana, Ri?'
'Belum ada kabar donor yang cocok, Bu. Dokter ingin memastikan kita mengerti persiapannya.'
Rindu menarik kursi dan duduk dekat ibunya. Zavin tetap berada di kursi lain, tidak mendahului dengan pertanyaan.
'Aku tadi takut harus memutuskan sesuatu sendirian,' lanjut Rindu.
Ani memandangnya lama.
'Kenapa sendirian? Ibu ada di sini.'
'Ibu sedang sakit.'
'Dan masih bisa mendengar.'
Rindu menunduk. Ia tidak bermaksud menyingkirkan ibunya dari keputusan, tetapi justru itulah yang hampir dilakukan ketakutannya.
'Aku tidak ingin membebani Ibu.'
'Kamu juga tidak boleh mengambil semua beban sampai Ibu tidak tahu apa yang sedang dihadapi.'
Zavin mengalihkan pandangan ke meja kecil, membiarkan percakapan itu menjadi milik ibu dan anak. Rindu menyadari lelaki tersebut tidak sedang menunggu kesempatan menjadi orang yang paling dibutuhkan.
'Aku mencatat pertanyaan. Nanti kita baca sama-sama, ya, Bu.'
'Ya.'
Rindu membuka catatan. Ani mendengarkan, lalu menambahkan pertanyaan yang tidak terpikir olehnya: bagaimana mereka akan mendapat kabar berikutnya, dan apa yang perlu diketahui sebelum kembali beristirahat.
Hal-hal itu tidak sebesar ketakutan Rindu, tetapi membuat pembicaraan terasa lebih dekat dengan kehidupan yang sedang mereka jalani.
Setelah Ani ingin tidur, Rindu keluar bersama Zavin. Mereka berdiri di dekat kursi tempat menunggu tadi.
'Saya hampir menangis saat dokter bilang saya tidak harus mengetahui semuanya,' kata Rindu.
'Karena kamu merasa harus?'
'Iya. Selama ini kalau ada sesuatu yang kurang, saya merasa itu karena saya tidak cukup teliti.'
Zavin menatapnya.
'Kamu sudah memperhatikan banyak hal. Tapi itu tidak membuatmu harus menjadi seluruh orang yang merawat ibumu.'
Rindu menyandarkan bahu pada dinding.
'Bapak akan membantu saya mendengarkan kalau nanti saya tidak sanggup mengingat semuanya?'
'Kalau kamu dan ibumu mengizinkan, saya akan mendampingi.'
'Bukan menjawab untuk saya.'
'Bukan.'
Rindu tersenyum tipis. Kesepakatan sederhana itu terasa penting setelah semua hal yang sempat disembunyikan darinya. Ia ingin bantuan yang hadir di sampingnya, bukan mengambil tempatnya.
***
Keesokan paginya, Rindu datang membawa catatan yang telah dirapikan. Ia tidak menambahkan pertanyaan sepanjang malam seperti biasanya. Setelah pulang ke hotel, ia memilih tidur karena tahu kelelahan tidak membuatnya lebih siap.
Ani menerima catatan itu dan membaca perlahan.
'Kamu sudah makan?'
'Sudah, Bu. Sebelum berangkat.'
'Bagus. Jadi Ibu tidak perlu mengulang pertanyaan itu sepuluh kali.'
Rindu tertawa, lalu duduk. Mereka membahas hal yang ingin ditanyakan pada kesempatan berikutnya. Sesekali Ani meminta sebuah kalimat disederhanakan agar ia dapat mengingatnya.
Di tengah percakapan, ponsel Rindu menyala. Zavin menanyakan waktu yang cocok untuk menjenguk. Rindu menunjukkan pesannya kepada Ani, lalu membalas setelah ibunya menyetujui.
'Kamu lebih tenang kalau dia ada?' tanya Ani.
'Iya. Tapi aku tidak ingin merasa tidak bisa berbuat apa-apa tanpa beliau.'
'Itu bisa kamu katakan kepadanya.'
'Sudah.'
Ani mengembalikan catatan. Wajahnya tampak letih, tetapi pandangannya tetap tertuju pada putrinya.
'Ri, ada satu hal yang belum kamu tanyakan.'
'Apa, Bu?'
'Apa yang Ibu inginkan.'
Rindu terdiam. Ia sudah menulis begitu banyak hal tentang persiapan, penantian, dan kebutuhan, tetapi belum duduk cukup tenang untuk mendengar kehendak ibunya tanpa langsung melindunginya dari ketakutan.
Ia menggeser kursi lebih dekat.
'Kalau begitu aku ingin mendengarnya sekarang, Bu.'