'Meminta maaf bukan merendahkan diri, Kak.'
Rendra menjawab tanpa meninggikan suara. Ia melangkah sedikit menjauh dari pintu kamar agar Wina tidak harus mendengar percakapan mereka.
Hesti mengikuti.
'Kalau begitu kamu memang ingin aku melakukannya.'
'Aku ingin Kakak mengakui yang Kakak lakukan.'
'Aku sudah mengembalikan kartumu.'
'Itu bukan hal yang sama.'
Hesti menyilangkan tangan. Wajahnya mengeras, tetapi Rendra tidak menunggu sampai pertengkaran membesar di lorong.
'Kita tidak perlu membicarakannya di depan kamar Ibu. Besok aku membawa catatan pengeluaran yang perlu kita bicarakan.'
'Catatan apa lagi?'
'Urusan yang masih menjadi tanggungan. Bukan alasan untuk saling menyalahkan.'
Hesti memalingkan wajah. Rendra kembali mengurus keperluan ibunya, lalu berpamitan setelah memastikan pergantian pendampingan jelas. Malam itu ia pulang ke hotel tanpa mengirim kabar tambahan kepada Rindu.
Ia sempat membuka percakapan mereka, tetapi menutupnya kembali. Diam Rindu tidak perlu diberi pertanyaan baru hanya karena keluarganya tidak nyaman menerimanya.
Keesokan siangnya, Rendra datang dengan catatan yang dijanjikan. Wina sedang beristirahat. Ia dan Hesti duduk agak jauh dari kamar, di tempat yang tidak menghalangi lalu lintas orang.
'Aku sudah mencatat kebutuhan Ibu yang harus dipenuhi,' katanya. 'Di luar itu, kita tetap punya kewajiban yang belum terbayar.'
Hesti melihat lembar tersebut tanpa menyentuhnya.
'Perusahaan itu kamu yang menjalankan sekarang. Aku sudah tidak diberi pekerjaan.'
'Sebagian gaji karyawan masih tertunda. Urusan bank belum ringan. Aku tidak bisa menganggap semuanya tanggung jawabku sendiri sementara Kakak terus meminta pengeluaran lain dipenuhi.'
'Kamu menjual mobil dan jam. Bukankah uangnya ada?'
'Sudah dipakai membayar sebagian kewajiban. Barang yang dijual sekali tidak menghasilkan uang lagi setiap kali kita membutuhkannya.'
Hesti menarik napas tajam.
'Jadi kamu ingin aku bagaimana? Mobilku juga sudah dijual.'
'Aku tahu. Karena itu jangan membuat seolah kita masih bisa hidup tanpa mengurangi apa pun.'
'Hak gajiku bagaimana?' tanya Hesti.
'Tetap dicatat seperti yang sudah kukatakan. Dihilangkan dari posisi tidak berarti hak yang memang masih harus dibayar ikut hilang.'
'Tapi belum kamu bayar seluruhnya.'
'Karena belum semua tersedia. Itu juga yang dialami karyawan lain. Aku tidak bisa mendahulukan Kakak hanya karena kita bersaudara.'
Hesti menatap lembar di pangkuan Rendra.
'Aku juga punya kebutuhan.'
'Aku tidak menyangkal. Tapi kebutuhan bukan alasan mengambil uang yang diperuntukkan bagi orang lain, atau membuat janji pembayaran dengan uang yang belum ada.'
Rendra membuka kembali satu halaman, menunjukkannya tanpa menyerahkan seluruh keputusan kepada Hesti. Ia ingin pembicaraan tetap mengenai kewajiban nyata, bukan berubah menjadi perlombaan siapa yang paling menderita dalam keluarga mereka.
Hesti mengetuk ujung kursi dengan jarinya.
'Kalau kamu tidak membatalkan rencana dengan keluarga Pranoto, kita tidak akan seterdesak ini.'
Rendra menatapnya.
'Aku tidak akan mengulang pembicaraan itu.'
'Karena sekarang semua harus demi Rindu.'
'Utang perusahaan tidak berubah menjadi salah Rindu hanya karena aku menolak menikahi orang lain demi uang.'
Hesti melengos. Ada jeda cukup panjang sebelum ia kembali berbicara.
'Uang yang dulu di kartu itu jangan kamu masukkan lagi ke pembicaraan.'
'Kenapa?'
'Sudah lewat.'
'Uangnya dipakai. Akibatnya belum hilang.'
'Aku sudah mengembalikan sisanya.'
'Dan aku yang pernah menuduh Rindu menghabiskannya. Kakak tahu itu tidak benar.'
Hesti menatap lantai. Untuk sesaat Rendra mengira kakaknya akan mengakui sesuatu. Namun, ketika wajahnya terangkat, kemarahannya justru lebih jelas.
'Aku tidak akan meminta maaf kepada dia.'
Rendra diam, memberi ruang agar kalimat tersebut tidak berlalu sebagai sesuatu yang tidak sengaja diucapkan.
'Kakak yakin?'
'Iya. Ibu mau melakukannya, silakan. Aku tidak.'
'Rindu tidak meminta kita mengadakan acara untuk mempermalukan Kakak. Dia bahkan tidak meminta panggilan kemarin.'
'Karena dia tahu kalian akan mengejarnya.'
Rendra menutup catatan di pangkuannya.
'Jangan mengarang maksud orang hanya supaya Kakak tidak perlu melihat perbuatan sendiri.'
Hesti berdiri setengah, kemudian duduk lagi ketika beberapa orang melewati mereka.
'Kamu sekarang pandai bicara. Dulu kamu juga percaya.'
'Aku mengaku salah karena percaya dan karena memilih menuduh. Itu tidak membuat bagian Kakak hilang.'
Hesti terdiam. Rendra tidak meneruskan ke hal-hal yang belum siap dibicarakannya. Ia menunjuk catatan kebutuhan rumah dan perawatan, meminta mereka menyepakati pengeluaran yang memang harus didahulukan.
Pembicaraan berlangsung kaku. Hesti tidak berubah menjadi kooperatif, tetapi Rendra menolak menjanjikan uang untuk semua permintaan. Ketika mereka kembali ke kamar Wina, persoalan itu belum tuntas. Yang berubah hanya satu: penolakan Hesti untuk mengakui kesalahan kini diucapkan tanpa ditutupi alasan lain.
***
Pada sore yang sama di Singapura, Rindu duduk bersama Zavin di luar kamar Ani. Ia sudah memberitahu bahwa panggilan video dengan Wina berlangsung kemarin, tetapi belum menceritakan isinya.
Zavin menunggu sampai Rindu sendiri membuka percakapan.
'Beliau meminta maaf untuk tuduhan dan rencana pernikahan Rendra.'
Rindu menatap lantai.
'Saya mendengarkan, tapi tidak bisa menjawab.'
'Kamu masih memikirkannya?'
'Iya.'
'Apakah kamu ingin saya mendengarkan saja?'
Rindu menoleh, lalu mengangguk.
'Iya, Pak.'
Zavin tidak memberi pendapat tentang apakah Wina tulus. Ia tidak berada dalam panggilan itu, dan Rindu tidak membutuhkan orang lain menilai wajah perempuan yang dilihatnya melalui layar.
'Rasanya aneh,' kata Rindu. 'Dulu saya ingin sekali mereka mengakui salah. Setelah diucapkan, saya tetap sakit.'
Zavin membiarkannya meneruskan.
'Saya sempat merasa jahat karena tidak langsung lega.'
'Kamu tidak perlu memperlihatkan rasa lega kepada saya.'
Rindu mengusap ujung matanya.
'Saya tahu. Saya cuma sedang belajar tidak memperlihatkannya kepada diri sendiri juga.'
Di dalam kamar, Ani memanggil. Rindu segera berdiri, dan Zavin mengikutinya sampai pintu sebelum menunggu dipersilakan masuk.
Ani hanya memerlukan barang yang letaknya terlalu jauh. Setelah Rindu membantu, ibunya memperhatikan mata putrinya.
'Masih memikirkan panggilan itu?'
'Iya, Bu.'
'Kalau lelah, duduk. Jangan mengurus seluruh masa lalu dalam satu sore.'
Rindu tersenyum kecil. Zavin menarik kursi agar ia bisa duduk di sisi ranjang, lalu menempati kursi lain. Tidak ada yang membicarakan pasangan mana yang seharusnya dipilih Rindu.
Untuk beberapa saat, mereka menemani Ani dengan percakapan ringan. Rindu mulai dapat ikut tertawa ketika ibunya menggoda kebiasaannya memeriksa isi tas berkali-kali.
Menjelang akhir kunjungan, Dokter Adrian muncul di pintu. Rindu segera berdiri.
'Ada yang perlu saya siapkan, Dok?'
'Saya ingin berbicara dengan Anda mengenai perkembangan evaluasi perawatan ibu Anda. Bisa ikut sebentar?'
Rindu menatap Ani, lalu Zavin. Tangan yang tadi sudah tenang kembali mengencang pada sisi kursi.
Ani menyentuh lengannya.
'Dengarkan dulu, Ri.'
Rindu mengangguk dan melangkah ke arah pintu. Zavin tidak mendahuluinya untuk menjawab dokter. Ia hanya bertanya pelan, 'Kamu ingin saya menunggu di sini?'
Rindu berhenti sesaat.
'Tunggu sebentar, Pak. Saya dengarkan dulu.'