Pesan Rendra sampai ketika Rindu sedang duduk di samping Ani. Ia membacanya sekali, lalu mengulang dari awal. Kabar Wina dirawat membuat ingatan lama kembali begitu cepat sehingga ponsel hampir terlepas dari tangannya.
'Ada apa, Ri?'
Rindu menatap ibunya.
'Ibu Wina sakit lagi. Rendra mengabari.'
Ani menunggu.
'Beliau ingin meminta maaf lewat panggilan video.'
Rindu menyerahkan ponsel agar Ani bisa membaca. Ibunya mengembalikannya tanpa memberi keputusan.
'Kamu ingin menerima?'
'Aku belum tahu.'
'Kalau belum tahu, jangan jawab sekarang.'
Rindu menatap pesan itu. Ada bagian dirinya yang langsung merasa wajib bersedia karena Wina sedang sakit. Bagian lain justru ingin menutup layar dan tidak mendengar apa pun.
'Aku takut kalau menolak, nanti dianggap tidak punya hati.'
'Dan kalau kamu menerima hanya karena takut, apa yang kamu inginkan dari percakapannya?' tanya Ani.
Rindu berpikir lama.
'Mungkin aku ingin mendengar beliau benar-benar menyebut kesalahannya. Bukan mengatakan aku harus mengerti karena beliau orang tua.'
'Kalau nanti yang kamu dengar berbeda?'
'Aku bisa mengakhirinya.'
Ani mengusap punggung tangannya. 'Pegang itu. Menerima panggilan bukan berarti harus bertahan mendengar apa pun.'
Rindu membaca pesan Rendra sekali lagi. Ia belum membalas, tetapi sekarang pertanyaannya tidak hanya apakah Wina akan kecewa. Ia mulai memikirkan batas yang bisa dijaganya sendiri jika akhirnya memilih mendengar. Ponsel itu tetap berada di tangannya, dan keputusan belum berpindah kepada siapa pun.
Ani menyentuh tangannya.
'Ibu juga sakit, tetapi Ibu tidak ingin sakit dipakai untuk menentukan perasaan orang lain.'
Rindu mengangguk kecil. Ia tidak membalas pesan tersebut siang itu. Rendra tidak mengirim panggilan susulan, dan ketiadaan desakan memberinya ruang untuk memikirkan apa yang sungguh ia inginkan.
Sore hari, saat Zavin datang sesuai jadwal kunjungan, ia melihat Rindu lebih banyak diam. Lelaki itu tidak langsung bertanya di depan Ani. Baru setelah mereka berada di lorong, ia menawarkan untuk mendengar.
'Ibu Rendra ingin meminta maaf,' kata Rindu.
Zavin mengamati wajahnya, lalu bertanya, 'Kamu ingin saya melakukan sesuatu?'
'Tidak. Saya cuma ingin mengatakan kenapa saya diam.'
'Baik.'
'Bapak tidak akan menyarankan saya menerima atau menolak?'
'Itu keputusanmu.'
Rindu mengembuskan napas pelan. Ia belum sepenuhnya terbiasa menyampaikan persoalan tanpa orang lain segera mengambil alih.
Malamnya, ia membalas Rendra. Ia bersedia mendengar besok siang, setelah menyesuaikan waktu perawatan Ani. Ia juga menuliskan bahwa kesediaan menerima panggilan tidak berarti ia siap membicarakan hubungan mereka.
Rendra menjawab bahwa ia memahami.
***
Keesokan siangnya, Rindu memilih duduk di tempat yang cukup tenang di rumah sakit. Ani mengetahui rencananya dan tidak meminta ikut melihat layar. Zavin tidak hadir dalam panggilan itu.
Ketika Rendra menanyakan apakah waktunya sudah sesuai, Rindu membalas singkat.
'Bisa sekarang.'
Panggilan video masuk tidak lama kemudian. Wajah Rendra muncul lebih dulu.
'Ri, terima kasih sudah bersedia. Ibu ada di sini.'
Rindu hanya menatap layar. Rendra mengalihkan kamera dan membantu menempatkan ponsel agar Wina bisa terlihat tanpa harus memegangnya terlalu lama.
Wajah perempuan itu tampak pucat. Rindu merasakan ingatan tentang ruang tamu dan suara keras Wina bertabrakan dengan keadaan di hadapannya.
'Rindu.'
Rindu tetap diam. Ia tidak memalingkan layar, tetapi juga tidak mengeluarkan sapaan yang biasa muncul secara otomatis.
Wina menelan ludah.
'Ibu mau meminta maaf.'
Tangannya bergerak di atas selimut. Rendra duduk di sisi ranjang, cukup dekat untuk membantu, tidak menyela.
'Ibu salah waktu meminta Rendra menikah lagi. Ibu memperlakukan pernikahan kalian seperti jalan keluar untuk urusan uang.'
Rindu menggenggam ponsel lebih erat.
'Ibu juga ikut menuduhmu. Ibu datang ketika ibumu sedang sakit, tetapi tidak memikirkan bagaimana perasaan kalian.'
Suara Wina pecah. Ia mengambil tisu, lalu berhenti sejenak. Rindu membiarkan keheningan itu berlangsung tanpa merasa harus menenangkan orang yang sedang meminta maaf kepadanya.
'Ibu pernah mengatakan hal yang membuatmu merasa tidak cukup sebagai istri,' lanjut Wina. 'Ibu tidak punya hak menyakitimu seperti itu.'
Rindu merasakan panas di belakang mata. Kata-kata mengenai pernikahan dan anak yang dulu dilemparkan kepadanya belum kehilangan daya lukanya hanya karena kini disebut sebagai kesalahan.
Wina memandang layar, seolah mencari sesuatu di wajah Rindu.
'Ibu tahu kata maaf tidak mengembalikan yang sudah terjadi.'
Rindu tidak menjawab.
Rendra merapatkan ponsel ketika posisinya bergeser. Ia tidak berkata bahwa ibunya sedang menunggu tanggapan. Untuk kali ini, ia membiarkan diam Rindu tetap menjadi haknya.
Wina mengusap pipi.
'Ibu tidak akan meminta kamu datang. Ibu hanya ingin kamu mendengar dari Ibu sendiri.'
Rindu menahan napas. Ia bisa mendengar bunyi dari kamar Wina dan langkah orang di lorongnya sendiri, dua tempat yang jauh tetapi dipertemukan oleh layar kecil.
Ia tidak mengatakan sudah memaafkan. Ia juga tidak mengucapkan kalimat penghiburan demi menutup percakapan dengan rapi.
Setelah beberapa saat, Wina menunduk.
'Terima kasih sudah mendengar.'
Rendra menatap ibunya, kemudian melihat layar.
'Kita akhiri dulu, Ri.'
Rindu menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Wajah Wina hilang, menyisakan pantulan dirinya sendiri yang masih memegang ponsel dengan kedua tangan.
***
Rindu tetap duduk beberapa menit. Ia tidak menangis keras. Air mata hanya turun tanpa bisa ditahan, membasahi bagian pipi yang segera diusap dengan tisu.
Ketika kembali ke kamar, Ani melihatnya dan menggeser tangan di atas selimut. Rindu mendekat.
'Sudah?'
'Sudah, Bu.'
'Apa yang kamu rasakan?'
'Aku tidak tahu.'
Ani tidak memaksanya memilih antara lega dan marah. Ia membiarkan putrinya duduk sampai tangannya tidak lagi gemetar.
'Aku tidak menjawab apa-apa,' kata Rindu.
'Kamu sudah mendengar.'
'Tapi beliau menangis.'
'Menangis tidak selalu berarti orang lain harus segera memberikan sesuatu.'
Rindu menunduk. Ia telah mendengar permintaan maaf, tetapi luka di dalam dirinya belum berubah mengikuti urutan kalimat Wina. Ada rasa lega karena kesalahan itu akhirnya disebut. Ada juga kemarahan karena pengakuan tersebut datang setelah begitu banyak hal pecah.
Di Jakarta, Wina masih menatap ponsel yang layarnya telah padam. Hesti masuk setelah panggilan berakhir dan melihat tisu di tangan ibunya.
'Dia bilang apa?'
Wina menggeleng.
'Tidak membalas sama sekali?' Hesti menatap Rendra. 'Ibu sudah seperti ini, masih juga dia—'
'Cukup, Kak,' potong Rendra.
'Aku cuma bertanya.'
'Ibu meminta maaf, bukan membeli jawaban.'
Hesti mengatupkan bibir. Wina tidak membelanya. Perempuan itu meletakkan tisu dan berkata pelan, 'Ibu sudah diberi kesempatan bicara.'
Rendra mengambil ponselnya. Ia tidak mengirim pesan yang meminta Rindu menjelaskan diamnya. Namun, ketika ia hendak keluar mengurus keperluan, Hesti mengikuti hingga dekat pintu.
'Kalau semua orang harus meminta maaf kepadanya, kamu juga akan menyuruhku merendahkan diri?'