Hesti menunggu sampai Wina berada dalam penanganan sebelum mengulang kalimat yang didengarnya tadi. Namun, ketika Rendra tiba di rumah sakit, pertanyaan itu berubah menjadi keluhan.
'Ibu tadi bilang jangan menyuruhmu pulang tinggal di rumah.'
Rendra memandang pintu tempat ibunya ditangani.
'Bagaimana keadaan Ibu sekarang?'
'Masih diperiksa. Kamu dengar yang kukatakan?'
'Aku dengar, Kak. Tapi sekarang kita tunggu kabarnya dulu.'
Hesti merapatkan tas di pangkuan. Biasanya ia akan menganggap jawaban itu sebagai penghindaran, tetapi ketakutannya belum cukup reda untuk memulai pertengkaran.
Rendra duduk, kemudian berdiri lagi ketika Doni mendekat setelah mendapat keterangan dari tim yang menangani Wina. Dokter itu sudah kembali bertugas di Jakarta setelah perjalanannya dari Singapura.
'Ibu Anda perlu dirawat dan dipantau kembali,' katanya.
'Apakah kondisinya sudah lebih baik, Dok?'
'Keluhannya sedang ditangani. Kami perlu melihat perkembangannya, jadi jangan terburu-buru membicarakan pulang.'
Rendra mendengarkan. Ia tidak meminta janji bahwa ibunya akan segera baik, tetapi menanyakan apa yang bisa dilakukan keluarga saat ini.
Doni menjelaskan keperluan pendampingan secara umum, lalu meminta mereka menunggu sampai Wina siap menerima kunjungan. Setelah dokter itu pergi, Hesti menoleh kepada adiknya.
'Biayanya bagaimana?'
'Aku akan menanyakan rinciannya.'
'Tabunganmu masih cukup?'
Rendra menatap tangan sendiri. Uang yang masih bisa digunakan bukan sesuatu yang ingin diumumkannya sambil menjanjikan semua akan mudah.
'Aku akan mengatur yang diperlukan. Tapi jangan mengambil keputusan pengeluaran sendiri tanpa bicara denganku.'
Hesti mengalihkan pandangan. Rendra tidak meneruskan pembicaraan mengenai uang yang dulu diambilnya. Saat ini ibunya sedang dirawat, dan persoalan itu tidak perlu dipakai untuk melukai kakaknya di depan orang lain.
Menjelang sore, mereka akhirnya bisa melihat Wina. Perempuan itu tampak letih, jauh dari nada keras yang biasa memenuhi ruang tengah rumah mereka.
'Ren.'
Rendra mendekat. 'Aku di sini, Bu.'
'Ibu membuatmu meninggalkan pekerjaan lagi.'
'Pekerjaan bisa diatur. Sekarang Ibu istirahat.'
Wina memandangnya. Ia seperti menunggu kalimat lain, mungkin janji pulang atau pembelaan terhadap keluhannya. Ketika tidak ada, matanya justru basah.
'Hesti cerita yang Ibu bilang tadi?'
'Iya.'
'Ibu tidak mau kamu pulang karena takut Ibu kenapa-kenapa.'
Rendra terdiam. Hesti berdiri di sisi lain ranjang dengan wajah tidak nyaman.
'Bu, tidak usah membicarakan itu sekarang,' katanya.
Wina menggeleng sedikit.
'Justru Ibu selalu bilang nanti.'
Rendra menarik kursi. Ia duduk agar ibunya tidak perlu terus mendongak.
'Ibu mau mengatakan apa?'
Wina membuka mulut, tetapi napas dan tangis membuat kata-katanya tertahan. Rendra mengambil tisu, meletakkannya dalam jangkauan, lalu menunggu tanpa menebak jawaban.
'Ibu ingat waktu menuduh Rindu di rumah sakit,' kata Wina akhirnya. 'Ibunya juga sedang terbaring.'
Nama itu membuat Hesti menegakkan tubuh.
'Ibu jangan memikirkan dia dulu.'
Wina tidak menoleh. Matanya tetap tertuju kepada Rendra.
'Waktu itu Ibu tidak peduli.'
Rendra merasakan dadanya menegang. Ia masih ingat suara mereka, juga keyakinannya sendiri bahwa kemarahan memberinya hak untuk mendesak.
'Aku juga bersalah, Bu.'
'Tapi Ibu tidak bisa terus bersembunyi di belakang kesalahanmu.'
Wina mengusap ujung tisu yang belum dipakainya.
'Dulu Ibu merasa kalau kamu membela Rindu, berarti kamu tidak membela Ibu.'
Rendra memandangnya. Kalimat itu begitu dekat dengan banyak pertengkaran yang pernah terjadi di rumah.
'Aku bisa menyayangi Ibu tanpa membenarkan semua perkataan Ibu.'
'Sekarang Ibu mendengarnya.'
'Aku pernah mengatakan itu.'
Wina terdiam, lalu mengangguk pelan. 'Ibu tidak mau mendengar waktu itu.'
Rendra tidak menyahut dengan penghiburan. Ia membiarkan pengakuan tersebut tetap berat sebagaimana mestinya. Di hadapannya ada ibunya yang sakit, tetapi juga orang yang telah melukai Rindu. Ia tidak ingin menghapus salah satu kenyataan hanya karena lebih mudah merawat yang terlihat daripada menghadapi yang sudah lama disembunyikan.
Hesti membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Rendra menatap ibunya, tidak mengucapkan bahwa pengakuan itu sudah cukup.
Wina menyeka pipinya dengan tangan gemetar.
'Ibu lelah sekali hari ini. Lalu Ibu berpikir, bagaimana kalau ada orang datang hanya untuk menuduh, bukan membantu?'
Rendra menunduk. Untuk beberapa saat, tak seorang pun berbicara. Suara dari lorong masuk samar melalui pintu yang belum rapat.
***
Keesokan paginya, keadaan Wina memungkinkan percakapan singkat, meskipun ia masih perlu beristirahat. Rendra datang setelah mengatur pekerjaan yang bisa ditunda. Hesti sedang keluar mengurus keperluan pribadi, sehingga mereka mempunyai waktu tanpa saling menyela.
Wina memandang tas yang dibawa putranya.
'Kamu tetap dari hotel?'
'Iya, Bu.'
Perempuan itu mengangguk lemah. Ia tidak lagi menggunakan pertanyaan tersebut untuk meminta kepindahan.
'Rindu masih di Singapura?'
'Sejauh yang aku tahu, iya.'
'Dia tahu Ibu di sini?'
'Belum. Aku tidak mengabari.'
Wina menatap selimutnya.
'Ibu ingin meminta maaf.'
Rendra tidak langsung menjawab. Ia telah terlalu sering mendengar ibunya menginginkan sesuatu ketika terdesak, lalu mengubah artinya setelah keadaan membaik.
'Kepada Rindu?'
'Iya.'
'Untuk apa, Bu?'
Wina mengangkat wajah, sedikit tersinggung, tetapi perasaan itu tidak lama bertahan.
'Untuk tuduhan Ibu. Untuk memaksamu menikah lagi dan menganggap perasaannya tidak penting.'
Rendra mengembuskan napas.
'Kalau Ibu berharap dia datang atau langsung memaafkan, aku tidak bisa meminta itu.'
'Ibu ingin mengatakan dulu.'
'Dia boleh tidak menjawab.'
Wina meremas ujung selimut. Rendra melihat betapa sulit kalimat itu diterima oleh perempuan yang terbiasa mendapatkan tanggapan dari anak-anaknya.
'Kalau dia tidak mau melihat Ibu?'
'Aku tidak akan memaksanya.'
Wina menatap pintu, kemudian kembali kepada putranya.
'Bisa kamu tanyakan apakah dia mau menerima panggilan video? Ibu ingin mengatakan sendiri. Bukan menyuruhmu menyampaikan bahwa Ibu sudah menyesal.'
Rendra memikirkan batas yang pernah diberikan Rindu. Ia tidak boleh memakai Ani sebagai perantara, tidak boleh mengubah sakit ibunya menjadi alasan mendesak sebuah jawaban.
'Aku akan bertanya. Bukan langsung menelepon.'
'Iya.'
'Dan kalau dia bersedia, Ibu tidak boleh memakai percakapan itu untuk menyuruh kami kembali bersama.'
Wina menutup mata sebentar.
'Ibu dengar.'
Rendra belum menganggap jawaban itu sebagai bukti perubahan yang utuh. Namun, ia bisa memberi kesempatan bagi permintaan maaf tanpa menjanjikan penerimaannya.
Siang harinya, ia keluar ke lorong dan membuka percakapan dengan Rindu. Pesannya ditulis perlahan, dibaca kembali sebelum dikirim.
'Ibu sedang dirawat lagi. Beliau ingin meminta maaf kepadamu langsung melalui panggilan video. Kalau kamu tidak bersedia, aku akan menghormatinya. Kamu tidak perlu datang atau memberi jawaban sekarang.'
Rendra menekan kirim, lalu mematikan layar. Untuk sementara, hal yang bisa dilakukannya hanya kembali menemui ibunya dan menunggu.