Rendra merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya ketika mendapatkan notifikasi pesan. Sembari berjalan menelusuri tangga rumah, ia membaca pesan itu. Dari Rindu.
Terima kasih untuk semuanya. Aku pergi.
Langkahnya seketika terhenti di pertengahan tangga. Dahinya terlipat, Rendra merasa bingung atas pesan yang baru saja dibaca. Tidak biasanya Rindu berpamitan sesingkat dan sedatar itu.
Mencoba tidak berpikir berlebihan, Rendra membalas pesan istrinya untuk menanyakan kelanjutan operasi sang mertua. Apakah keadaannya baik-baik saja atau sedang terjadi sesuatu? Rendra menerka bahwa saat ini Rindu tengah khawatir. Pria berkemeja putih dengan jas tersampir di tangan itu tak urung mengetikan kalimat penyemangat nan menenangkan.
Rendra melanjutkan langkah menelusuri satu per satu anak tangga. Saat masuk ke kamar, pria itu belum menyadari apapun. Setelah menyimpan jas miliknya di kasur, Rendra memilih duduk di sofa bed favoritnya dan Rindu.
Memeriksa seluruh pesan yang masuk, pria itu bernapas lega ketika melihat laporan pengeluaran senilai yang Rindu perlukan untuk kebutuhan operasi. Berarti semuanya berjalan lancar. "Syukurlah."
Pria itu meletakan ponsel di sampingnya. Beralih membuka kancing kemeja bagian atas sembari mengedarkan pandangan. Aroma parfum milik Rindu seperti terhidu oleh hidung mancung Rendra. Namun detik berikutnya Rendra terpaku ketika menyadari ada yang berubah dalam kamarnya.
Lantas berdiri seketika, Rendra berjalan gontai menuju lemari besar yang terbuka. Sepasang mata tajam itu membola mendapati seluruh pakaian Rindu sudah tak ada lagi. Dicarinya koper milik sang istri. Nihil. Tak ada satupun benda milik Rindu di kamarnya setelah Rendra memeriksa seluruh sudut ruangan.
Dia menyugar rambutnya sendiri merasa bingung sekaligus frustasi. Cepat Rendra mengambil ponselnya di atas sofa bed tadi untuk menelepon Rindu. Deringan demi deringan terdengar, tapi sudah panggilan ke sekian sama sekali tak ada jawaban.
Gusar, Rendra memilih menemui Bi Darmi untuk menanyakan apa yang terjadi. Namun belum sempat asisten rumah tangganya itu menjawab, Hesti sudah menyela lebih dulu.
"Rindu pergi dari rumah," jawabnya sebelum Bi Darmi buka suara. Kepala Hesti memberi kode agar wanita paruh baya itu kembali ke kamarnya. Tentu saja tak mau kalau semua rencananya terbongkar begitu saja.
"Pergi? Tapi kenapa, Kak? Kalau hanya menginap, haruskah membawa semua barang miliknya?" tanya Rendra semakin gelisah. Tidak pernah Rindu meninggalkan rumah meski di antara mereka sedang ada masalah sekalipun.
Hesti memilih duduk di salah satu sofa ruang tengah itu. "Dia ... ingin bercerai denganmu."
Bagaikan petir di siang bolong. Gelegarnya menghantam Rendra hingga mematung di tempat. Napasnya seketika tercekat. Tak ada sedikitpun udara yang memasuki rongga d**a. "Jangan asal bicara!" pekiknya tak terima.
Pria tampan yang wajahnya terlihat lelah usai memenuhi keinginan ibunya untuk menyiapkan pernikahan itu mengambil langkah lebar untuk mendekati kakaknya. Berdiri menjulang di depan Hesti, Rendra menatap tajam kemudian berkata, "Bagaimana mungkin Rindu ingin bercerai denganku?!"
Hesti bersikap santai saja meski Rendra meneriakkinya. Dia malah mengendikkan kedua bahu tanda tak tahu. "Mungkin saja sudah menemukan pria lain. Tadi saat di rumah sakit aku melihatnya memeluk pria tampan. Tapi aku tidak kenal padanya." Kembali bibir Hesti berdusta agar semuanya berjalan lancar.
"Tidak mungkin! Kakak hanya membual saja, 'kan?! Jangan menambah rumit keadaan, Kak!" Rendra benar-benar kesal hingga dadanya kembang-kempis. Membayangkan istrinya dipeluk oleh pria lain, rasanya dia ingin membunuh pria yang berani menyentuh miliknya.
"Jangan menuduhku membual, ya?!" Hesti bangun dari duduknya menengadah menatap Rendra menantang adiknya. "Tadi aku juga lihat pria itu menyeka wajah rindu dengan sapu tangan miliknya."
"Bullshit!" Rendra tetap tak percaya kalau Rindu bisa melakukan semua yang disebutkan oleh Hesti. Nyatanya selama ini wanita yang sangat dicintainya tidak pernah mempunyai teman dekat pria.
"Kalau kamu memang tidak percaya, silakan cari sendiri buktinya. Aku pikir wajar saja Rindu lebih memilih pria itu dan meninggalkanmu, penampilannya serupa bos-bos besar yang sering berseliweran di majalah bisnis. Satu lagi, parfum yang dipakai pria itu juga dari merk terkenal." Hesti masih saja mengoceh mengarang bebas tanpa menyadari bahwa adiknya mengepalkan kedua tangan dirundung kesal teramat sangat.
"Sudahlah diam!" teriak Rendra tak tahan lagi mendengar semua peristiwa rekaan Hesti yang sukses mengobarkan bara api dalam diri. "Aku akan mencari bukti! Jika semua ucapanmu adalah bohong, maka--"
"Apa?! Kamu mau melakukan apa padaku?! Perlu diingat, sebagian dari rumah ini adalah milikku! Jadi jangan macam-macam!" tunjuk Hesti tepat di depan wajah Rendra.
"Milikmu? Sadarlah kalau uang yang kamu punya untuk membangun rumah ini didapat dari hasil yang tidak benar!" ingatkan Rendra menatap tajam Hesti.
"Harusnya kamu juga sadar kalau perusahaan tempatmu mencari uang bukan seluruhnya milikmu! Kamu--"
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut malam-malam? Kepala Ibu pusing mendengarnya!" Suara Wina sukses mengalihkan pandangan pada wanita paruh baya yang baru datang lengkap dengan baju tidur dan krim malam tanpa tutup di tangannya. "Rendra, Hesti. Ada apa?"
"Rindu pergi dari rumah, Bu," ujarnya sendu mengingat lagi kepergian sang istri. Pikirannya sedang mengingat-ingat kesalahan apa yang dia lakukan, tapi sialnya tidak menemukan apapun. Lalu kenapa Rindu mendadak pergi?
"A-apa? Rindu pergi? Kenapa dia pergi?" Wanita satu itu juga bersandiwara. Tentu saja Hesti telah melaporkan secara rinci semua yang terjadi. "Apa kalian bertengkar? Tapi apa masalahnya sampai Rindu pergi dari rumah?"
Wina mendekati Rendra dan mengusap bahu kekar putranya. "Coba ceritakan masalah kalian, Ren. Setahu Ibu kemarin masih baik-baik saja."
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, Bu. Aku pusing," jawabnya frustasi.
"Rindu punya selingkuhan, Bu," kata Hesti santai.
"Hesti!" murka Rendra hingga hanya memanggil nama saja pada kakaknya. Bukankah semua ceritanya belum terbukti? Bisa jadi Hesti salah lihat. Tidak ada yang tidak mungkin.
"Selingkuh?! Ya ampun!" Wina menutup mulutnya yang menganga lengkap dengan raut wajah terkejut. "Rendra!"
"Kak Hesti hanya asal bicara saja, Bu. Itu tidak mungkin!" Sekuat tenaga Rendra mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Rasa percayanya pada Rindu sebegitu kuat hingga ucapan Hesti belum mampu menembus logika.
Hesti melipat kedua tangan di perut. Wajahnya memberenggut kesal karena Rendra yang sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Rindu sukar sekali untuk dibodohi.
"Benar itu Hesti. Jangan asal bicara. Selama ini Rindu tidak ada tanda-tanda selingkuh sama sekali." Wina mengusap punggung Rendra guna menenangkannya.
"Benarkah?" Wanita ular itu tersenyum licik. "Lalu kenapa dia sampai menandatangani surat cerai segala?"
Wina dan Rendra serempak menoleh pada Hesti ketika mendengar hal itu. Wina tersenyum senang. Sementara Rendra merasa dunianya hancur seketika.
"A-apa? Surat ... cerai?" tanya Rendra tergagap. Jantungnya serasa berhenti ketika menyebutkan "surat cerai" dari bibirnya.
Kakaknya mengangguk pasti dan menatap ke arah kamar Rendra di atas. "Surat itu ada di kamar kalian. Tadi dia meninggalkannya di atas meja kerja. Kalau tidak percaya lihat saja sendiri."
Tanpa banyak kata Rendra meninggalkan 2 wanita yang tengah melakukan tos itu menuju ke kamar. Membuka keras pintu, Rendra memusatkan langkahnya menuju meja kerja. Di atas sana tergeletak surat gugatan cerai yang telah dibubuhi oleh tanda tangan yang sangat ia kenali. "Rindu ...."
Rendra meremas kertas yang berada di tangan dan membuangnya begitu saja. Pria yang diselimuti amarah itu mengacak-acak seisi kamar guna menyalurkan amarah yang bercokol di hatinya.
"Rindu!" teriak Rendra bersamaan guntur serta petir yang menggelegar.
Bersambung...