'Saya tunggu ajakanmu,' jawab Zavin.
Ia tidak menentukan jam sebelum Rindu memeriksa kebutuhan Ani. Setelah lelaki itu pergi, Rindu merapikan botol di meja, lalu mendengar ibunya tertawa pelan.
'Apa, Bu?'
'Kamu seperti sedang mengatur perjalanan ke tempat jauh.'
Rindu duduk di sisi ranjang. 'Aku sudah lama tidak keluar tanpa merasa harus segera mengerjakan sesuatu.'
'Besok tidak usah mencari tugas baru sepanjang jalan.'
'Aku akan mencoba.'
Keesokan siangnya, Rindu memastikan Ani sedang beristirahat dan keperluannya mudah dijangkau. Ia memberitahu tim perawatan bahwa dirinya tetap berada di area rumah sakit, lalu mengirim pesan kepada Zavin yang sudah menunggu di tempat duduk lorong.
Ketika Rindu keluar, lelaki itu berdiri.
'Siap?'
'Iya. Kita jalan sekarang.'
Mereka berjalan berdampingan tanpa bergandengan. Rindu membawa ponsel dan tas kecil, tetapi meninggalkan map di kamar. Ia ingin mencoba beberapa menit tanpa merasakan kertas-kertas itu menekan lengannya.
Di dekat lobi, langkahnya melambat. Zavin ikut melambat tanpa bertanya apakah ia lelah.
'Saya biasanya lewat sini sambil memikirkan sesuatu yang harus dibayar,' kata Rindu.
'Hari ini?'
'Masih teringat. Tapi saya sedang mencoba melihat tempatnya.'
Zavin memandang pintu depan yang terlihat dari sana.
'Kalau begitu kita sampai sana dulu.'
Udara di dekat pintu terasa berbeda. Rindu berdiri sebentar, memperhatikan orang turun dari kendaraan, seseorang membetulkan tali tas, dan sebuah keluarga yang berhenti untuk menentukan arah. Kehidupan di luar kamar Ani ternyata terus bergerak tanpa menunggu kabar yang ditunggunya.
Zavin tidak menariknya untuk berjalan lebih jauh.
'Bapak sendiri kalau sedang takut, biasanya melakukan apa?' tanya Rindu.
'Sibuk.'
'Supaya tidak perlu memikirkan?'
'Kadang. Kadang karena saya mengira selama terus bergerak, semuanya bisa saya kendalikan.'
Rindu menoleh. Jawaban itu mengingatkannya pada percakapan mereka tentang bantuan.
'Padahal tidak semua bisa dikendalikan.'
'Iya.'
Mereka duduk sebentar di kursi dekat pintu. Rindu meletakkan tas di pangkuan, lalu memeriksa ponselnya. Tidak ada panggilan dari kamar Ani.
Zavin melihat gerakannya, tetapi tidak mengatakan ia harus berhenti khawatir.
'Saya belum bisa santai sepenuhnya,' kata Rindu.
'Kita bisa kembali.'
'Belum. Saya masih ingin duduk.'
'Baik.'
Rindu menyimpan ponsel setelah memastikan bunyinya tidak dibisukan.
'Saya tidak ingin setiap kali keluar selalu merasa meninggalkan Ibu.'
'Kamu sudah memberi tahu beliau ke mana kita pergi.'
'Iya. Beliau malah menyuruhku.'
Zavin menoleh, menunggu apakah Rindu masih ingin meneruskan. Ia tidak menawarkan cara agar rasa bersalah itu hilang seketika.
'Mungkin saya harus mengalaminya sendiri,' kata Rindu. 'Keluar sebentar, kembali, lalu melihat bahwa saya masih bisa menjadi anak yang memperhatikan Ibu.'
'Hari ini kamu sedang melakukannya.'
Rindu memandangi pintu masuk. Untuk sekali ini, ia tidak menghitung menit sebagai ukuran apakah dirinya sudah terlalu lama menikmati sesuatu. Ia hanya memastikan jalan kembali tetap dekat dan ponselnya bisa dihubungi.
Rindu tersenyum kecil. Tidak semua kalimat harus diikuti perubahan rencana. Ia boleh mengakui khawatir dan tetap menikmati udara yang bergerak dari pintu.
Setelah beberapa menit, ia bertanya tentang hari Zavin sebelum datang menjenguk. Lelaki itu menceritakan pekerjaan yang perlu dijawab lewat telepon, tanpa nama orang atau uraian bisnis yang tidak dipahami Rindu.
'Jadi Bapak juga pernah tidak tahu harus membalas apa?'
'Pernah. Lebih sering daripada kelihatannya.'
'Saya kira Bapak selalu tahu jawabannya.'
'Kalau saya tampak begitu, jangan terlalu percaya.'
Rindu tertawa. Zavin ikut tersenyum, tetapi tidak memakai suasana hangat itu untuk mengingatkan pengakuannya saat makan malam.
Ketika Rindu akhirnya berdiri, keputusan kembali datang darinya sendiri.
'Ayo, Pak. Saya sudah cukup.'
Zavin berdiri dan memberi jalan. Rindu tidak merasa perjalanan singkat itu gagal hanya karena ia ingin cepat menemui ibunya.
***
Di kamar, Ani sedang terjaga. Ia memandang wajah putrinya, kemudian Zavin yang masuk setelah dipersilakan.
'Sudah keliling seluruh Singapura?'
Rindu tertawa. 'Kami cuma sampai dekat pintu depan.'
'Kelihatannya lumayan jauh. Wajahmu tidak sekusut tadi.'
Zavin duduk sebentar, lalu berpamitan ketika Ani ingin berbicara dengan Rindu. Ia tidak menanyakan apa yang akan dibicarakan.
Setelah pintu tertutup, Ani meraih tangan putrinya.
'Kamu senang?'
'Iya, Bu.'
'Dengan berjalan, atau dengan orang yang menemani?'
Rindu berpikir, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum.
'Aku belum bisa memisahkan.'
'Tidak perlu sekarang.'
Rindu duduk lebih dekat. Ia menceritakan bahwa mereka tidak membahas jawaban cinta atau biaya. Untuk beberapa menit, ia hanya menjadi perempuan yang sedang mengobrol, bukan orang yang harus menjelaskan musibahnya.
Ani mendengarkan dengan wajah lembut.
'Pegang perasaan itu secukupnya. Jangan langsung kamu jadikan kewajiban untuk bahagia besok juga.'
Rindu menyandarkan kepala sebentar pada sisi ranjang. Ia mulai memahami bahwa membuka hati bukan satu keputusan besar yang membuat semua ketakutan lenyap. Kadang hanya berarti bersedia mengatakan bahwa ia menikmati sebuah percakapan.
Malamnya ia mengirim pesan terima kasih kepada Zavin. Ia tidak menambahkan permintaan maaf karena perjalanan mereka terlalu singkat.
***
Keesokan paginya di Jakarta, Wina sedang duduk di ruang tengah ketika gelas di tangannya turun terlalu cepat ke meja. Bi Darmi yang baru masuk segera mendekat.
'Ibu kenapa?'
Wina menggeleng, tetapi jawaban yang hendak dikeluarkannya tersendat. Napasnya terasa pendek, dan ia memegang sisi kursi seperti sedang mencari sesuatu untuk menahan tubuh.
Hesti keluar dari kamar setelah mendengar Bi Darmi memanggil.
'Bu?'
'Duduk...' Wina berusaha mengatur napas. 'Ibu mau duduk saja.'
'Ibu sudah duduk.'
Hesti berlutut di depannya. Wajah ibunya lebih pucat daripada beberapa menit sebelumnya, dan ketakutan segera mengalahkan keinginan untuk menganggap keluhan itu biasa.
Bi Darmi meminta bantuan medis dihubungi. Hesti mengambil ponsel, berbicara dengan terburu-buru, lalu menelepon Rendra setelah bantuan sedang diatur.
Rendra baru tiba di kantor ketika melihat panggilan kakaknya.
'Ada apa, Kak?'
'Ibu sesak lagi. Aku sudah minta bantuan. Kamu ke rumah atau langsung menyusul, cepat!'
Rendra berdiri sebelum Hesti menuntaskan kalimat.
'Jangan tinggalkan Ibu sendiri. Aku menyusul. Beri tahu kalau sudah bergerak ke rumah sakit.'
'Ren, jangan lama!'
Panggilan berakhir. Rendra mengambil tas dan memesan kendaraan. Ia tidak punya mobil yang bisa langsung dibawa keluar seperti dahulu, dan detik-detik menunggu terasa menyiksa.
Di rumah, Hesti memegang tangan Wina sementara Bi Darmi menyiapkan barang yang diperlukan. Ketika bantuan tiba, Hesti memberi ruang dan mengikuti arahan yang diberikan, tidak mencoba memindahkan ibunya sendiri dengan tergesa.
Wina menoleh kepadanya sebelum dibawa keluar.
'Rendra sudah tahu?'
'Sudah, Bu. Dia menyusul.'
Jari Wina mencengkeram tangan Hesti sebentar.
'Jangan bilang dia harus pulang tinggal di sini.'
Hesti menatapnya, tidak yakin telah mendengar dengan benar. Namun, Wina sudah memejamkan mata, dan pertanyaan itu harus ditahan sampai mereka tiba di rumah sakit.