'Kalau begitu, saya mulai dengan hal yang kurang menyenangkan,' jawab Zavin.
Rindu tetap berdiri di dekat kursi. Ia memandang lelaki itu dengan alis sedikit terangkat.
'Apa, Pak?'
'Saya tidak pandai menghadapi keadaan ketika tidak bisa membantu. Saya sering buru-buru menawarkan jalan keluar, padahal orangnya mungkin hanya ingin didengarkan.'
Rindu menatapnya beberapa saat, kemudian menurunkan pandangan ke tasnya.
'Termasuk saat saya bertanya tentang biaya Ibu?'
'Termasuk itu. Saya menganggap menghilangkan kekhawatiranmu lebih penting daripada menjawab pertanyaanmu.'
'Padahal saya tetap khawatir.'
'Iya.'
Jawaban tersebut tidak membuat persoalan mereka lenyap, tetapi Rindu menghargai bahwa Zavin tidak memilih cerita yang hanya membuatnya tampak baik. Ia tidak perlu memancing pengakuan tambahan dengan pertanyaan yang semakin tajam.
'Saya juga sering begitu kepada Ibu,' katanya. 'Kalau beliau bertanya, saya malah sibuk mencari cara supaya beliau tidak memikirkannya.'
Zavin tidak segera memakai pengakuan itu untuk menyamakan kesalahan mereka. Ia hanya mendengarkan.
'Tapi saya tidak mengatakan itu supaya keputusan Bapak kemarin jadi benar.'
'Saya mengerti.'
Rindu melirik jam. Ia sudah harus kembali ke kamar Ani. Percakapan yang tadinya dibayangkan berlangsung singkat ternyata mengambil lebih banyak tenaga daripada yang disangkanya.
'Saya masuk dulu, Pak.'
'Baik. Besok saya menunggu kabarmu tentang waktu kunjungan.'
Rindu menyetujui, lalu berjalan menuju kamar. Zavin tidak mengikutinya tanpa diminta. Di ambang pintu, ia menoleh sekali. Lelaki itu masih berada di tempatnya, memasukkan ponsel ke saku sebelum menuju lift.
Ani mengangkat wajah ketika putrinya masuk.
'Kamu kelihatan tidak semarah tadi.'
'Aku masih kecewa, Bu.'
'Ibu tidak bilang sudah tidak kecewa.'
Rindu duduk dan meletakkan tas. Ia menceritakan bahwa dirinya bersedia mengenal Zavin lebih dekat, tetapi belum memberi jawaban mengenai hubungan.
Ani mendengarkan tanpa bersorak atau menganggap sebuah keputusan besar telah diambil.
'Kamu mengatakannya dengan jelas?'
'Sudah.'
'Kalau begitu lihat bagaimana kalian menjalankannya.'
Rindu menarik napas panjang. Selama ini banyak keputusan terasa seperti pintu yang harus segera ditutup atau dibuka lebar. Kali ini ia membiarkan pintu itu terbuka sedikit, tanpa harus berpura-pura tidak takut.
***
Keesokan paginya, Doni mengirim kabar bahwa ia akan kembali ke Jakarta hari itu. Rindu membaca pesannya di sisi ranjang Ani. Dokter itu juga menanyakan apakah ia masih ingin membicarakan pertemuan terakhir mereka.
Rindu membalas setelah berpikir sejenak.
'Saya masih kecewa karena pertanyaan saya dulu tidak dijawab, Dok. Tetapi saya sudah berbicara langsung dengan Pak Zavin. Terima kasih sudah menjenguk Ibu.'
Doni menerima jawaban itu tanpa membela diri melalui pesan panjang. Ia menitipkan salam kepada Ani dan mengatakan akan tetap dapat dihubungi setelah perjalanannya.
Rindu menyampaikan salam tersebut. Ani mengingatkan agar ia tidak mengubah rasa kecewa menjadi keengganan menghubungi dokter jika memang ada kebutuhan.
'Aku tidak akan mengabaikan urusan Ibu, Bu.'
'Ibu tahu. Ibu hanya tidak ingin kamu merasa harus memilih antara percaya sepenuhnya atau tidak boleh meminta bantuan lagi.'
Rindu menyimpan ponsel. Ia belum sanggup merasa biasa saja kepada Doni, tetapi tidak lagi memikirkan percakapan itu setiap kali membuka rincian biaya.
Siang hari, Zavin datang pada waktu yang telah mereka sepakati. Ia membawa pekerjaan yang bisa ditinggalkan di dalam tas dan tidak membukanya ketika Ani mengajak bicara.
'Sudah makan?' tanya Ani.
'Sudah, Bu.'
'Jawabannya jangan meniru Rindu. Dia kadang baru makan satu suap sudah bilang sudah.'
Rindu menggeleng sambil tersenyum. 'Hari ini aku benar-benar makan.'
Zavin memandangnya dengan gurauan kecil di mata, tetapi tidak menambahkan teguran.
Setelah berbincang, Ani ingin beristirahat. Rindu hendak keluar untuk mengurus satu keperluan, lalu ragu meninggalkan ibunya meskipun hanya sebentar.
'Saya bisa menunggu di sini kalau Ibu berkenan,' kata Zavin. 'Tetapi kalau kamu lebih nyaman meminta bantuan petugas, tidak apa-apa.'
Ani menjawab lebih dulu.
'Tidak perlu ramai-ramai. Ibu cuma mau memejamkan mata. Rindu, pergilah.'
Rindu memandang ibunya, lalu Zavin. Ia menjelaskan bahwa keperluan tersebut tidak lama, dan tim perawatan tetap menjadi tempat meminta bantuan bila ada kebutuhan.
Ketika kembali, ia menemukan Zavin duduk tenang dengan ponsel tersimpan. Ani tampak beristirahat. Lelaki itu tidak menyambutnya dengan laporan seolah telah menyelamatkan sesuatu.
'Semua baik?' bisik Rindu.
'Ibumu sempat meminta gelas didekatkan. Setelah itu tidur.'
'Terima kasih.'
Mereka keluar sebentar ke lorong agar tidak mengganggu. Rindu bersandar ringan pada dinding, baru menyadari betapa tegang bahunya sepanjang pagi.
Zavin memperhatikan tanpa langsung menyentuhnya.
'Kamu ingin duduk?'
'Sebentar saja di sini.'
'Baik.'
Keheningan mereka kali ini tidak terasa seperti pertanyaan yang belum dijawab. Rindu bisa diam tanpa takut Zavin menganggap ia menolak seluruh kehadirannya.
***
Menjelang sore, setelah Ani terbangun, Rindu dan Zavin menemaninya beberapa waktu lagi. Ani menanyakan hal sederhana tentang perjalanan Jakarta dan cuaca, lalu menyuruh putrinya mengambil minum untuk dirinya sendiri.
Rindu membawa dua botol dari tas. Satu ditawarkan kepada Zavin.
'Ini untuk Bapak.'
'Terima kasih.'
'Kalau ada pekerjaan, Bapak boleh mengurusnya dulu,' kata Rindu. 'Saya tidak ingin kehadiran Bapak di sini membuat urusan lain terbengkalai.'
'Ada beberapa hal yang perlu saya jawab sore ini. Setelah berpamitan, saya akan mengurusnya.'
'Kenapa tidak bilang dari tadi?'
'Karena waktu kunjungannya memang sudah saya sisihkan.'
Rindu memandangnya, lalu mengangguk kecil. Ia tidak ingin mengukur perhatian dari berapa banyak urusan yang ditinggalkan seseorang. Dulu ia pernah merasa bersalah setiap kali meminta waktu, seolah kebutuhannya selalu mengganggu sesuatu yang lebih penting.
'Kalau besok perlu mengubah jam, kabari saja, Pak.'
'Saya akan mengabari. Tidak datang juga akan saya katakan, bukan membiarkanmu menunggu.'
Rindu tersenyum. Janji sederhana itu lebih mudah dipahaminya daripada tawaran untuk selalu berada di sana.
Rindu teringat botol air yang tadi diberikannya kepada Zavin. Perhatian sederhana itu tidak perlu dihitung sebagai balasan atas seluruh bantuan. Ia bisa memberi karena ingin, tanpa menganggap dirinya telah melunasi sesuatu.
Zavin membuka tutup botol, kemudian berkata bahwa ia ingin mengajak Rindu berjalan sebentar esok hari, jika keadaan Ani memungkinkan.
'Tidak jauh. Kita bisa tetap di area rumah sakit, menuju pintu depan, lalu kembali.'
Rindu menatap ibunya.
Ani mengangkat alis. 'Kenapa melihat Ibu seperti meminta izin pergi seminggu?'
'Aku cuma memastikan.'
'Pastikan waktunya. Ibu juga tidak ingin kamu hanya melihat ranjang dan meja sepanjang hari.'
Rindu kembali kepada Zavin.
'Boleh, Pak. Tapi saya ingin tetap bisa kembali cepat.'
'Bisa. Kita tidak perlu pergi jauh.'
Rindu tersenyum kecil. Zavin tidak menggodanya atau menganggap kesediaan berjalan bersama sebagai tanda penerimaan cinta.
Ketika hendak berpamitan, ia berhenti di dekat pintu.
'Besok kamu yang menentukan kapan ingin kembali, Ri.'
Rindu mengencangkan tutup botolnya, lalu menjawab, 'Kalau begitu, besok saya yang mengajak Bapak berangkat.'