'Kamu boleh merasakan keduanya, Ri.'
Ani menggenggam tangan putrinya dan menariknya mendekat. Rindu duduk dengan air mata yang belum berhenti.
'Kalau aku marah, rasanya aku melupakan semua yang sudah dia lakukan.'
'Marah karena disembunyikan sesuatu bukan berarti kamu lupa ibumu telah ditolong.'
'Tapi kalau aku tetap ingin bertemu, apa berarti aku membiarkan semuanya begitu saja?'
'Tergantung apa yang kamu lakukan saat bertemu.'
Rindu mengusap wajahnya. Ia menceritakan percakapan di hotel, termasuk pengakuan Zavin bahwa ia sudah mendengar kisahnya sebelum pertemuan di kantin. Ani mendengarkan tanpa menyebut semua itu wajar hanya karena bantuan yang diberikan besar.
'Dia seharusnya jujur,' kata Ani setelah Rindu berhenti.
'Iya.'
'Dan kamu sudah mengatakan apa yang membuatmu marah?'
'Sudah.'
'Dia mendengarkan?'
'Dia tidak membantah. Tapi aku belum tahu apakah aku bisa kembali merasa nyaman.'
Ani menggeser tangannya di atas selimut.
'Kamu tidak perlu memutuskan seluruh hubungan hari ini.'
Rindu memandang ibunya. Sebagian dirinya ingin sebuah jawaban yang keras dan jelas, sehingga ia tinggal mengikutinya. Namun, Ani tidak akan mengambil keputusan itu darinya.
'Aku takut kalau aku memberinya kesempatan, ternyata hanya karena biaya Ibu.'
'Kalau begitu jangan beri jawaban tentang cinta sekarang.'
'Beliau juga mengatakan tidak menuntut.'
'Pegang itu. Lihat apakah tindakannya sesuai.'
Rindu menunduk. Ia sudah meminta tidak ditemani hari ini, dan Zavin membiarkannya pergi. Itu bukan penghapusan kesalahan, hanya satu tindakan yang bisa dilihat tanpa harus ditafsirkan sebagai janji besar.
Ani menyentuh pipinya.
'Ibu berterima kasih kepada orang yang membantu perawatan Ibu. Tapi Ibu tidak meminta kamu membayarnya dengan hidupmu.'
Tangis Rindu pecah lagi. Ia memeluk ibunya dengan hati-hati, menahan tubuh agar tidak membebani ranjang.
'Aku tahu, Bu.'
'Kali ini dengarkan benar-benar.'
Rindu tetap berada di sana sampai napasnya lebih tenang. Ia tidak membicarakan Zavin sepanjang sisa hari. Ketika ada kebutuhan Ani yang harus diurus, ia melakukannya. Ketika lelah, ia duduk. Ia tidak mengubah kesibukan menjadi cara menghukum diri sendiri karena masih memikirkan lelaki itu.
Malamnya, di hotel, ponselnya tetap sunyi dari pesan Zavin. Rindu sempat merasa ditinggalkan, lalu mengingat permintaannya sendiri. Ia yang meminta ruang, dan lelaki itu sedang menghormatinya.
Ia menaruh ponsel jauh dari bantal agar tidak terus menunggu bukti perhatian yang baru saja dimintanya berhenti.
***
Keesokan paginya, Rindu membaca kembali catatan pertanyaan tentang bantuan. Kini nama pemberinya sudah terisi. Hal yang belum dipahaminya bukan siapa, melainkan bagaimana melanjutkan kedekatan tanpa membawa rasa wajib di setiap langkah.
Ia menghubungi Zavin, meminta bertemu sebentar menjelang siang di tempat duduk rumah sakit. Ia memilih tempat terbuka dan waktu yang tidak mengganggu perawatan Ani.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
'Saya bisa. Terima kasih sudah menghubungi.'
Rindu memberitahu Ani tentang rencananya.
'Aku ingin mendengarkan kalau masih ada yang perlu dijelaskan. Setelah itu aku ingin mengatakan apa yang bisa kulakukan sekarang.'
Ani menatapnya.
'Kamu tidak perlu pulang membawa jawaban yang bisa membuat Ibu lega.'
'Aku mengerti.'
Saat Zavin tiba, Rindu sudah menunggu. Lelaki itu berhenti beberapa langkah darinya sebelum mendekat.
'Boleh saya duduk?'
'Boleh, Pak.'
Mereka duduk dengan jarak yang wajar. Zavin tidak membawa bunga atau hadiah, dan Rindu bersyukur ia tidak perlu menolak sesuatu lagi sebelum mulai bicara.
'Saya masih marah tentang hal yang disembunyikan,' katanya.
'Saya tahu.'
'Tapi setelah memikirkannya, saya tidak ingin menganggap semua bantuan Bapak palsu.'
Zavin menatapnya tanpa menyela.
'Ibu benar-benar ditolong. Rumah benar-benar terjual kepada orang yang baik. Waktu saya menangis, Bapak memang ada. Saya tidak mau menghapus kejadian itu, tetapi saya juga tidak ingin kebaikannya dipakai untuk menutup kesalahan.'
'Saya tidak akan meminta kamu memilih salah satu.'
Rindu merapikan ujung lengan bajunya.
'Ke depan, kalau ada sesuatu yang menyangkut saya atau Ibu, katakan. Jangan memutuskan saya lebih baik tidak tahu.'
'Baik.'
'Kalau saya tidak setuju, Bapak harus bisa mendengarnya.'
'Saya akan mendengarnya.'
Rindu memperhatikan wajah lelaki itu. Ia masih tidak dapat memastikan seperti apa perasaannya akan tumbuh. Namun, di antara kecewa dan lega, ada keinginan kecil untuk mengenal Zavin tanpa kisah yang dipoles agar ia nyaman.
'Saya belum bisa menerima perasaan Bapak sebagai pasangan,' katanya.
Zavin mengangguk pelan.
'Tetapi saya ingin memberi kesempatan untuk kita saling mengenal. Tidak hanya Bapak mengetahui persoalan saya, sementara saya terus menjadi orang yang ditolong.'
'Saya ingin itu juga.'
'Saya ingin bisa bertanya tentang hal biasa tanpa merasa sedang diperiksa apakah sudah cukup bahagia karena ditolong.'
Zavin menatapnya. 'Saya tidak pernah ingin memeriksa kebahagiaanmu.'
'Mungkin bukan itu maksud Bapak. Tapi kadang saya sendiri yang merasa harus memperlihatkan bahwa bantuan Bapak tidak sia-sia.'
'Kamu tidak perlu tersenyum untuk membuktikan itu.'
Rindu menarik napas, kemudian membiarkan tangannya lepas dari tali tas. Ia tidak langsung tersenyum. Untuk beberapa saat, ia mencoba tetap duduk dengan wajah lelah dan perasaan yang belum rapi. Zavin tidak menyuruhnya melupakan percakapan kemarin atau beralih pada sesuatu yang lebih menyenangkan.
'Jangan menjawab hanya karena itu yang ingin saya dengar.'
Zavin tersenyum tipis, lalu kembali serius.
'Kalau saya tidak tahu harus menjawab apa, saya akan mengatakannya. Saya tidak bisa menjanjikan tidak akan pernah salah lagi.'
Jawaban itu membuat Rindu melepaskan napas yang sejak tadi ditahannya. Ia lebih bisa mempercayai ketidaksempurnaan yang diakui daripada janji tanpa celah.
'Rincian bantuannya tetap ingin saya pahami.'
'Saya sudah menanyakan cara agar kamu bisa menerima penjelasan yang lengkap. Nanti kamu bisa memeriksanya melalui pihak yang menangani, tidak hanya dari ucapan saya.'
'Terima kasih.'
Zavin tidak mengatakan bahwa ia seharusnya tidak repot memikirkan biaya. Rindu menyadari perubahan kecil itu, lalu membiarkan dirinya menghargainya tanpa langsung menyebut semuanya sudah baik.
***
Setelah percakapan tersebut, mereka tidak segera beranjak. Rindu melihat jam, memastikan Ani masih mempunyai waktu beristirahat sebelum ia kembali.
'Bapak tidak akan bertanya apakah saya sudah memaafkan?'
'Saya ingin tahu,' jawab Zavin jujur. 'Tetapi saya tidak akan mendesak.'
Rindu menatapnya, lalu tersenyum tipis. Senyum itu bukan jawaban cinta, hanya tanda bahwa ia tidak lagi ingin menutup seluruh pintu.
'Saya belum tahu semuanya, Pak.'
'Baik.'
'Besok, kalau Ibu berkenan, Bapak boleh datang lagi.'
Zavin mengangkat wajah.
'Saya akan menunggu kabarmu tentang waktunya.'
Rindu bangkit, dan Zavin ikut berdiri. Kali ini ia tidak segera berpamitan. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya bukan karena memerlukan pertolongan, melainkan karena sungguh ingin mengenal lelaki di hadapannya.
'Pak.'
'Iya, Ri?'
'Besok jangan hanya menanyakan keadaan saya dan Ibu. Saya juga ingin mendengar tentang hari Bapak.'
Zavin terdiam sesaat, kemudian tersenyum.
'Boleh. Kamu ingin mulai dari apa?'
Rindu memandang pintu kamar Ani, lalu kembali menatapnya.
'Dari hal yang tidak perlu Bapak sembunyikan supaya saya menyukai ceritanya.'