'Saya akan datang. Saya tidak akan meminta kamu mendengar penjelasan lewat pesan.'
Balasan Zavin membuat Rindu meletakkan ponsel di meja. Ia tidak merasa lebih tenang, tetapi setidaknya lelaki itu tidak menyangkal atau menyuruhnya berhenti bertanya.
Malam itu ia tinggal lebih lama di sisi Ani. Doni sudah berpamitan setelah kunjungannya, dan Rindu belum ingin menghubunginya lagi. Ia perlu menghadapi satu percakapan pada satu waktu.
Keesokan paginya, Rindu menemui Zavin di tempat duduk hotel seperti yang disepakati. Ia datang membawa map rincian biaya, bukan untuk menyerahkan tagihan, melainkan agar tidak ada yang dapat mengubah pembicaraan menjadi salah paham tanpa dasar.
Zavin berdiri ketika melihatnya.
'Ri.'
Rindu duduk tanpa menjawab sapaan itu dengan senyum. Zavin kembali duduk di seberangnya.
'Saya yang memberikan bantuan melalui yayasan,' katanya sebelum Rindu bertanya. 'Saya yang meminta nama saya tidak disebut.'
'Kenapa?'
'Saya tidak ingin kamu merasa berutang kepada saya.'
Rindu menatapnya.
'Apakah setelah dirahasiakan, utang budi itu hilang?'
'Tidak.'
'Lalu kenapa Bapak yang memutuskan apa yang boleh saya ketahui?'
Zavin mengusap telapak tangannya, kemudian meletakkannya di atas lutut.
'Saya mengira kamu akan lebih mudah menerima pertolongan kalau tidak tahu itu dari saya.'
'Dan lebih mudah menerima kedekatan Bapak?'
Zavin terdiam. Rindu merasakan tenggorokannya menegang, tetapi ia mempertahankan tatapan.
'Saya tidak merencanakan agar bantuan itu menjadi cara membeli perasaanmu.'
'Saya tidak mengatakan dibeli. Saya bertanya apakah Bapak sadar bahwa saya mengenal Bapak dengan informasi yang tidak lengkap.'
'Saya sadar sekarang bahwa keputusan saya membuatmu berada dalam keadaan itu.'
Rindu membuka map, lalu menutupnya lagi. Angka-angka di dalamnya tidak bisa menjawab bagian yang paling melukai.
'Saat makan malam, saya mengatakan takut salah mengartikan rasa terima kasih. Bapak masih diam.'
Zavin menunduk sesaat.
'Saya seharusnya mengatakan saat itu.'
'Kenapa tidak?'
'Saya takut setelah kamu tahu, semua yang saya katakan tentang perasaan saya terdengar seperti tuntutan.'
'Tetapi sekarang terdengar seperti sesuatu yang sengaja disimpan sampai saya menerima Bapak.'
Zavin tidak mencoba meraih tangannya.
'Saya mengerti kenapa kamu melihatnya begitu.'
Rindu menarik napas. Ia ingin menangis, tetapi kemarahannya menahan air mata tepat di belakang mata.
'Sejak kapan Bapak mengetahui keadaan saya?'
'Sebelum kita berbicara di kantin. Saya sudah mendengar tentang seorang anak yang kesulitan membiayai perawatan ibunya melalui lingkungan yayasan.'
'Sudah tahu nama saya?'
'Iya.'
Rindu memandangnya tanpa berkedip.
'Jadi saputangan itu...'
'Saya memang ingin mendekat dan mengenal kamu. Ketika melihat kamu menangis di kursi tunggu, saya menghampiri.'
'Dan di kantin?'
'Saya memilih duduk dan mengajakmu bicara karena sudah mengenali kamu. Bukan sekadar bertemu orang asing.'
Rindu menyandarkan punggung. Kalimat-kalimat lama kembali terdengar: kuatlah sebentar lagi, tidak perlu berterima kasih, hanya membantu mempertemukan dengan pembeli rumah.
'Kenapa waktu itu tidak mengatakan Bapak sudah mendengar tentang saya?'
'Saya tidak ingin datang sebagai orang yang membawa cerita kesulitanmu. Saya pikir kamu akan lebih nyaman mengenal saya biasa saja.'
'Biasa bagi Bapak. Saya yang tidak tahu apa-apa.'
'Iya.'
'Apakah sejak itu Bapak ingin saya meninggalkan Rendra?'
'Tidak. Saya tahu kamu masih menikah. Saya ingin mengenalmu dan membantu, tetapi saya tidak berhak menentukan rumah tanggamu.'
'Namun Bapak tetap mendekat.'
'Iya. Saya tidak akan mengubah pengakuan itu menjadi seolah semuanya terjadi tanpa pilihan saya.'
Rindu mengusap sudut matanya. 'Saya perlu mendengar itu. Saya tidak ingin setiap jawaban hanya berisi niat baik.'
'Saya mengerti.'
'Saya yang hidup dengan akibatnya, Pak. Ketika ada orang mengetahui kesulitan saya lebih dulu, saya perlu tahu dengan siapa saya sedang berbicara.'
Rindu mengusap pipinya ketika air mata akhirnya jatuh.
'Apakah tas saya benar-benar tertinggal?'
'Benar. Kamu pergi terburu-buru setelah mendapat telepon. Saya mengembalikannya. Saya tidak membuat tas itu tertinggal.'
'Rumah yang dibeli Pak Ridwan?'
'Itu pembelian sungguhan. Beliau memutuskan setelah melihat tawaran dan menerima jaminan saya. Uang untuk biaya awal yang kamu lunasi berasal dari transaksi itu, bukan pembayaran diam-diam yang saya samarkan.'
Rindu mendengarkan, memisahkan hal yang telah terjadi dari maksud yang baru diketahuinya. Ia tidak boleh mengubah seluruh hidupnya menjadi sandiwara hanya karena satu bagian telah ditutup darinya.
'Pertemuan dengan Rendra di hotel?'
'Tidak saya rencanakan. Saya tidak tahu dia akan berada di sana.'
Rindu menutup mata sebentar. Ia tidak sedang mencari pembenaran bagi tuduhan mantan suaminya. Mengetahui Zavin sengaja mendekat tidak membuat tuduhan perselingkuhan itu menjadi benar.
'Perbuatan Rendra tetap salah,' katanya pelan. 'Tetapi itu tidak membuat Bapak boleh memutuskan semuanya untuk saya.'
'Saya tahu.'
***
Percakapan terhenti ketika Rindu meminta waktu mengambil minum. Ia berdiri sendiri dan kembali beberapa menit kemudian. Zavin masih duduk di tempat yang sama, tidak mengikuti atau memenuhi ponselnya dengan penjelasan.
Rindu meletakkan gelas di meja.
'Saya berterima kasih Ibu mendapat pertolongan. Itu tidak berubah.'
Zavin mengangkat wajah.
'Tetapi saya marah.'
'Kamu berhak marah.'
'Saya tidak memerlukan izin untuk itu, Pak.'
Zavin mengembuskan napas. 'Maaf. Saya tidak bermaksud membuatnya terdengar seperti izin.'
Rindu menggenggam gelas agar tangannya tidak terus gemetar.
'Saya belum bisa mengatakan bagaimana ini mengubah jawaban saya tentang perasaan Bapak.'
'Saya tidak akan menanyakannya.'
'Dan saya tidak ingin perawatan Ibu dibicarakan sebagai bagian dari hubungan kita.'
'Bantuan itu tidak bergantung pada jawabanmu.'
'Saya ingin keterangan yang jelas tentang bantuan yang diterima. Bukan hanya kalimat agar saya tidak khawatir.'
'Saya akan membantu memastikan kamu mendapat rinciannya melalui pihak yang menangani. Kalau ada yang kamu tanyakan kepada saya, saya jawab.'
Rindu menatapnya lama.
'Termasuk hal yang mungkin membuat saya menjauh?'
'Termasuk itu.'
Lelaki itu tampak lelah, tetapi Rindu tidak menjadikan kelelahan di wajahnya alasan untuk menarik kemarahannya. Ia sudah terlalu sering merapikan perasaan orang lain sebelum memahami perasaannya sendiri.
'Saya ingin kembali ke Ibu sekarang. Hari ini saya tidak ingin ditemani.'
'Baik.'
'Kalau saya belum membalas pesan, jangan datang ke kamar Ibu untuk mencari jawaban.'
'Saya akan menunggu kamu yang menghubungi.'
Rindu memasukkan map ke tas. Ketika berdiri, ia teringat saputangan putih yang sudah dikembalikan. Benda itu pernah menolongnya menyeka air mata di hari-hari yang buruk. Kebaikan tersebut sungguh terjadi, tetapi kini ia harus belajar menerima bahwa orang yang memberikannya juga bisa salah.
Zavin berdiri tanpa menghalangi.
'Saya minta maaf, Ri.'
Rindu mengangguk kecil, bukan tanda memaafkan. Ia hanya menunjukkan bahwa kalimat itu telah didengar.
Setelah meninggalkan hotel menuju rumah sakit, ia tidak segera menghubungi siapa pun. Ia ingin tiba di hadapan Ani sebelum menangis lagi.
Namun, ketika ibunya melihatnya masuk dan mengulurkan tangan, pertahanan itu langsung runtuh.
'Bu, aku marah, tapi aku juga takut kehilangan orang yang sudah begitu baik.'