Map itu dibawa Rindu ketika berangkat ke rumah sakit keesokan pagi. Ia tidak membukanya sepanjang perjalanan. Pertanyaan-pertanyaan sudah ditulis; sekarang ia hanya perlu menunggu orang yang bisa menjawab.
Ani sedang terjaga saat ia tiba.
'Dokter Doni sudah sampai?'
'Belum mengabari, Bu. Nanti setelah tiba beliau akan menghubungi.'
'Kamu jangan berdiri di dekat pintu terus.'
Rindu melihat dirinya sendiri, lalu tersenyum malu. Ia memang belum duduk sejak menaruh tas.
'Aku mengambilkan minum dulu.'
'Setelah itu duduk.'
Rindu menurut. Menunggu sambil menemani Ani terasa lebih panjang daripada menunggu sendirian di hotel, karena setiap kali ponselnya menyala, ia harus menahan gerakan terburu-buru.
Menjelang siang, kabar Doni datang. Ia sudah tiba di Singapura dan akan menuju rumah sakit. Rindu memberi tahu Ani, kemudian menyesuaikan waktu kunjungan agar tidak mengganggu kebutuhan perawatan.
Ketika Doni akhirnya masuk, Ani tersenyum lebar.
'Dokter jauh-jauh datang.'
'Saya ingin menjenguk Ibu. Bagaimana rasanya dirawat di sini?'
'Yang paling cerewet masih Rindu.'
Doni tertawa kecil. Ia menanyakan kabar Ani, mendengarkan ceritanya, dan tidak mengambil alih tugas tim yang sedang merawat. Rindu duduk di sisi lain ranjang, menyaksikan ibunya berbicara dengan orang yang sudah dikenalnya sejak lama.
Ada rasa lega melihat Ani tidak harus menjelaskan dirinya dari awal. Doni memahami kebiasaan kecilnya, termasuk cara perempuan itu mengalihkan pertanyaan tentang keluhan dengan menanyakan apakah orang lain sudah makan.
'Dokter sendiri sudah makan?' tanya Ani.
'Nanti setelah ini, Bu.'
'Nah, Rindu sering begitu juga.'
Rindu ikut tersenyum. Untuk beberapa saat, map di dalam tas tidak mengganggu pikirannya.
Setelah cukup lama berbicara, Ani mulai ingin beristirahat. Doni berpamitan sebentar, dan Rindu mengantarnya keluar. Mereka memilih tempat duduk di lorong yang tidak menghalangi orang lewat.
'Terima kasih sudah datang, Dok.'
'Saya senang bisa melihat ibumu.'
Rindu mengambil map.
'Boleh sekarang saya bertanya?'
Doni menatap berkas itu, lalu mempersilakannya duduk.
***
Rindu menjelaskan rincian yang telah diberikan rumah sakit. Ia menunjukkan bagian yang ditanggung bantuan, lalu bertanya apakah ada kewajiban lain yang belum disampaikan.
'Saya tidak ingin salah memahami, Dok. Saya tetap mengatur kebutuhan harian kami sendiri. Saya hanya ingin tahu bantuan ini sampai di mana.'
'Untuk cakupan yang tercatat, kamu sudah mendapat keterangan dari rumah sakit. Kalau ada perubahan, tetap tanyakan melalui bagian yang menangani.'
'Kalau saya menerima bantuan itu, apakah ada yang harus saya janjikan?'
'Tidak ada janji pribadi yang diminta dari kamu. Zavin sudah memastikan—'
Doni berhenti.
Rindu tidak bergerak. Jemarinya masih menunjuk satu baris pada lembar, tetapi matanya telah terangkat.
'Zavin?'
Doni menutup bibir. Keheningan itu menjadi jawaban sebelum ia mengucapkan apa pun lagi.
'Pak Zavin yang membayar perawatan Ibu?'
'Ri...'
'Saya sedang bertanya, Dok.'
Doni menarik napas, lalu menatapnya langsung.
'Iya. Bantuan itu berasal darinya, melalui yayasan.'
Kertas di tangan Rindu melengkung karena genggamannya mengencang. Ia menurunkannya ke pangkuan, takut merobek sesuatu hanya karena tidak tahu harus melakukan apa.
'Sejak kapan Dokter tahu?'
'Saya sudah mengetahui ketika kamu menelepon menanyakan namanya.'
'Dan Dokter membiarkan saya bertanya ke mana-mana.'
'Saya diminta tidak menyebut namanya.'
'Diminta oleh beliau?'
'Iya.'
Rindu memalingkan wajah. Di ujung lorong, seseorang sedang memindahkan kursi. Bunyi gesekannya terdengar sangat jelas, seolah seluruh suara lain menjauh.
'Saya pernah bilang saya takut menerima sesuatu yang tidak saya pahami.'
'Saya ingat.'
'Tapi Dokter tetap tidak mengatakan.'
'Saya salah membiarkanmu terus menunggu penjelasan.'
'Waktu saya menelepon, saya tidak sedang mencari alasan menolak bantuan,' kata Rindu. 'Saya sedang mencoba percaya bahwa kalau bertanya, saya akan mendapat jawaban.'
Doni memandangnya tanpa menyela.
'Saya sudah bertanya cukup jelas, kan, Dok?'
'Sudah.'
'Jadi bukan karena saya tidak bisa menyampaikan maksud.'
'Bukan, Ri. Keputusan saya yang membuat pertanyaanmu tidak dijawab.'
Rindu menarik tisu dari tasnya. Pengakuan itu penting, tetapi tidak langsung membuatnya tenang. Selama beberapa hari ia memikirkan cara bertanya yang lebih baik, padahal jawabannya sejak awal berada pada orang yang memilih tidak memberikannya.
Rindu menatapnya kembali. Ia tidak ingin permintaan maaf Doni dipakai untuk mengakhiri pertanyaan yang baru dimulai.
'Apakah semua yang dulu Dokter katakan tentang yayasan benar?'
'Yayasan itu benar ada. Informasi bantuan memang melalui hubungan yang saya ceritakan kepadamu. Yang tidak saya sampaikan adalah nama pemberinya.'
'Jadi bukan bantuan yang mendadak datang tanpa ada orang yang mengenal saya.'
Doni menunduk sebentar.
'Saya tidak bisa menjelaskan niat Zavin menggantikan dirinya.'
'Tapi Dokter bisa menjelaskan keputusan Dokter sendiri.'
Doni menerima tatapan itu tanpa mengelak ke pertanyaan tentang kesehatan Ani.
'Saya menganggap menjaga permintaan donatur tidak akan merugikan kamu. Saya seharusnya lebih sungguh-sungguh mendengarkan keberatanmu.'
Air mata Rindu mulai jatuh. Ia segera mengusapnya, kesal karena tubuhnya lebih dulu menunjukkan luka ketika ia masih berusaha menyusun pertanyaan.
'Beliau baru saja mengatakan menyukai saya.'
Doni terdiam.
'Saya meminta waktu karena takut salah mengartikan rasa terima kasih. Sekarang ternyata ada jauh lebih banyak hal yang harus saya syukuri, dan saya bahkan tidak tahu.'
'Kamu tidak harus menjawab perasaannya karena bantuan itu.'
'Saya tahu seharusnya begitu. Tetapi Dokter tidak bisa memerintahkan hati saya supaya langsung memisahkan semuanya.'
Doni tidak menyahut. Kali ini ia membiarkan kalimat Rindu berada di antara mereka tanpa menggantinya dengan nasihat.
***
Rindu kembali ke kamar setelah memastikan Doni tidak akan membicarakan persoalan itu kepada Ani sebelum ia sendiri siap menjelaskan. Ibunya belum tidur lelap, dan langsung memperhatikan matanya.
'Ada apa?'
'Aku sudah tahu siapa yang membantu biaya Ibu.'
Ani menegakkan kepala sedikit.
'Siapa?'
'Pak Zavin.'
Rindu duduk, lalu menceritakan yang baru saja didengarnya tanpa menambahkan dugaan. Ani mendengarkan sampai ia berhenti.
'Kamu sudah bertanya kepadanya?'
'Belum.'
'Kalau begitu, dengarkan penjelasannya. Marah pun boleh, tetapi jangan mengisi bagian yang belum kamu tahu dengan dugaan.'
'Aku cuma merasa semua orang tahu kecuali aku.'
'Ibu juga baru tahu.'
Rindu memandang ibunya. Kalimat itu sederhana, tetapi membuat ia tidak lagi merasa sendirian di sisi yang ditinggalkan.
Ia mengingat saputangan putih, pertemuan di kantin, tas yang dikembalikan, dan tawaran membantu menjual rumah. Dahulu ia sempat menganggap ada yang janggal, lalu menyingkirkan pertanyaan karena keadaan Ani lebih mendesak.
Kini pertanyaan itu kembali dengan nama yang jelas.
Rindu mengirim pesan kepada Zavin, meminta bertemu esok pagi di tempat duduk hotelnya. Ia tidak mau menuntaskan percakapan lewat layar.
Zavin menyatakan bisa. Kemudian ia bertanya apa yang ingin dibicarakan.
Rindu menatap layar sebelum mengetik.
'Saya sudah tahu siapa donatur perawatan Ibu. Besok saya ingin mendengar penjelasan Bapak sendiri.'