Rindu membaca pertanyaan yang baru ditulisnya, lalu memiringkan ponsel agar Ani bisa melihat.
'Aku mau menanyakan ini kepada Dokter Doni besok.'
Ani membaca tanpa mengambil ponselnya.
'Pertanyaannya jelas.'
'Terlalu menuntut?'
'Kamu menanyakan nama, bukan meminta orang itu menyerahkan hidupnya kepadamu.'
Rindu tersenyum samar. Ia mengembalikan ponsel ke pangkuan, tetapi belum mengunci layar.
'Kenapa aku selalu takut terdengar tidak bersyukur, ya, Bu?'
'Karena kamu sedang menerima sesuatu yang besar.'
'Aku bahkan belum tahu bagaimana harus membalas.'
Ani menatapnya.
'Ri, kamu belum tahu apakah orang itu meminta balasan.'
'Itu juga yang ingin kutanyakan.'
'Kalau jawabannya tidak meminta?'
Rindu terdiam. Selama ini ia memikirkan kemungkinan ada tuntutan tersembunyi, tetapi tidak pernah benar-benar membayangkan bagaimana hidup dengan bantuan yang tidak ditagih.
'Aku mungkin tetap merasa harus melakukan sesuatu.'
'Boleh berterima kasih. Boleh mengingat kebaikannya. Tapi jangan buru-buru menjanjikan hal yang tidak kamu sanggupi.'
Rindu menutup map. Ia teringat rumah yang telah dijual, uang yang telah dipakai, dan saldo yang kini harus dibagi dengan hati-hati. Semua mempunyai jumlah yang bisa dicatat. Hanya rasa berutang budinya yang tidak pernah memiliki batas jelas.
'Aku ingin Ibu tetap dirawat tanpa aku merasa ada orang yang bisa menentukan hidupku.'
Ani mengulurkan tangan.
'Itu dua hal yang boleh kamu inginkan sekaligus.'
Rindu menyambutnya. Ibunya tidak sedang memberi jalan keluar untuk semua angka, tetapi setidaknya tidak meminta ia menyerahkan dirinya sebagai harga pertolongan.
Setelah Ani beristirahat, Rindu menyusun ulang lembar biaya. Ia memisahkan pembayaran awal yang sudah diselesaikannya di Jakarta dari bantuan perawatan yang diterima kemudian. Uang penjualan rumah memiliki jejaknya sendiri. Ia tidak ingin kelak salah mengira semuanya berasal dari orang yang sama.
Di bagian belakang rincian, ia menulis hal yang ingin dipahami tanpa menuduh siapa pun: bantuan mana yang sudah diterima, apakah ada kewajiban yang belum dijelaskan, dan apakah pemberinya bersedia ditemui.
Ia tidak menuliskan janji untuk melunasi semuanya. Angka yang belum bisa ditanggung tidak akan menjadi lebih kecil hanya karena ia malu menerima bantuan.
Ani kembali membuka mata ketika mendengar map dirapatkan.
'Kamu sudah menemukan yang ingin ditanyakan?'
'Sudah. Aku tidak akan membawa daftar terlalu panjang.'
'Panjang juga tidak apa-apa kalau memang perlu.'
Rindu meletakkan map di kursi. 'Aku cuma takut nanti pertanyaanku berubah menjadi permintaan maaf.'
'Kalau itu terjadi, baca lagi yang kamu tulis.'
Rindu tersenyum. Ia memasukkan secarik catatan ke bagian depan map, bukan menyimpannya di halaman yang sulit ditemukan. Besok ia tidak ingin pulang hanya dengan perasaan lega karena berhasil bersikap sopan, sementara hal yang membawanya bertanya tetap tidak terjawab.
***
Sore itu, ketika Rindu sedang makan di luar kamar, Sarah menelepon. Pesannya beberapa saat sebelumnya menanyakan kabar Ani, dan Rindu sudah membalas bahwa dirinya punya waktu untuk berbicara.
'Mbak, bagaimana Ibu hari ini?'
'Masih dalam perawatan, Mbak. Besok Dokter Doni akan menjenguk.'
'Semoga beliau bisa memberi semangat juga.'
'Iya.'
Sarah bertanya apakah kiriman foto mereka dahulu sudah dilihat Ani. Rindu menjelaskan bahwa ibunya masih sesekali membukanya, terutama foto makanan yang sempat membuat mereka tertawa.
'Kalau sudah pulang nanti, mudah-mudahan bisa makan bersama lagi,' kata Sarah.
Rindu tersenyum, tetapi tidak mengubah ajakan makan itu menjadi janji tempat tinggal. Ia tahu rumah lama telah menjadi milik pasangan tersebut. Kerinduan tidak memberinya hak untuk menentukan apa yang harus mereka tawarkan.
'Mbak Sarah, boleh saya bertanya?'
'Boleh.'
'Bagaimana caranya menerima bantuan tanpa terus memikirkan bahwa kita harus membalas semuanya?'
Sarah diam sebentar.
'Ada yang meminta sesuatu?'
'Belum ada.'
'Kalau begitu saya tidak mau menebak niat orang itu. Tetapi kalau Mbak belum tahu batas bantuannya, bertanya bukan hal yang salah.'
'Saya ingin bertanya. Saya hanya takut orang mengira saya curiga.'
'Mbak bisa menyampaikan apa yang belum dipahami. Tidak harus menuduh.'
Rindu memandang makanan di depannya. Ia baru menyadari betapa mudahnya kata bantuan memenuhi seluruh percakapan, seolah hidupnya tidak mempunyai bagian lain yang bisa dibicarakan.
'Saya juga tidak ingin setiap orang mengenal saya hanya karena saya sedang kesulitan.'
Sarah menjawab lebih pelan.
'Waktu Mbak makan di sini, saya senang karena bisa mengobrol dengan Mbak. Bukan karena bisa memberi makan orang yang kesulitan.'
Mata Rindu memanas.
'Terima kasih sudah mengatakan itu.'
'Makanannya jangan dibiarkan dingin. Dari tadi suara sendok Mbak tidak terdengar.'
Rindu tertawa kecil, lalu mengambil satu suapan. Mereka berbicara sebentar lagi sebelum Sarah berpamitan. Panggilan itu tidak menghasilkan solusi, tetapi mengembalikan Rindu pada sesuatu yang sering terlupakan: ia masih bisa disukai sebagai dirinya, bukan hanya dikasihani.
***
Malamnya, setelah Ani cukup tenang untuk ditinggal beristirahat, Rindu kembali ke hotel. Ia menaruh map di meja dan memeriksa keterangan kunjungan Doni. Dokter itu telah mengirim jadwal kedatangannya untuk esok hari, disertai pesan bahwa ia akan menghubungi setelah tiba.
Rindu membalas bahwa Ani menunggu dan waktunya sudah disesuaikan dengan kegiatan perawatan.
Ponsel kembali menyala beberapa menit kemudian. Kali ini Zavin.
'Bagaimana ibumu malam ini, Ri?'
'Sudah beristirahat, Pak. Saya baru sampai hotel.'
'Jangan terlalu lama mengurus berkas.'
Rindu memandangi map di meja.
'Saya masih punya beberapa pertanyaan.'
'Kepada Dokter Doni?'
'Iya. Saya ingin mendengar penjelasan langsung.'
Balasan Zavin datang setelah jeda.
'Semoga besok berjalan baik.'
Rindu hampir mengetik pertanyaan apakah lelaki itu pernah memberikan bantuan tanpa mau diketahui orang. Jemarinya berhenti. Ia tidak ingin menggunakan percakapan biasa untuk menguji jawaban seseorang yang belum mempunyai hubungan jelas dengan urusan tersebut.
Sebagai gantinya, ia mengatakan ingin beristirahat. Zavin tidak menahannya.
Rindu mengisi botol minum, menata pakaian untuk esok, lalu duduk kembali. Di meja, lembar rincian biaya tidak lagi bercampur dengan dokumen perceraian. Ia memasukkan masing-masing ke tempat yang berbeda.
Dulu ia pernah merasa cukup menerima penjelasan orang selama pertolongan datang tepat waktu. Keadaan Ani yang genting membuatnya tidak mempunyai tenaga untuk menanyakan segala hal. Sekarang kebutuhan bertanya itu datang kembali, bukan karena bantuan menjadi kurang berarti, melainkan karena hidup mereka telah terus berjalan di atasnya.
Rindu membuka catatan pertanyaan dan mengubah satu kalimat. Ia tidak ingin bertanya mengapa nama itu dijauhkan seolah sudah mengetahui niat buruk di baliknya. Ia menulis alasan apa yang membuat nama pemberi bantuan tidak disampaikan.
Sesudahnya, ia menutup ponsel.
Sebelum tidur, sebuah pesan dari Doni masuk.
'Sampai bertemu besok, Ri. Kita bicarakan yang ingin kamu tanyakan setelah saya menjenguk ibumu.'
Rindu membalas bahwa ia akan menunggu di rumah sakit. Map itu diletakkannya di atas tas agar tidak mungkin tertinggal.