'Aku ingin tidak takut setiap kali mengatakan apa yang kurasakan, Bu.'
Rindu menjawab sambil menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia harus menarik napas sebelum sanggup melanjutkan.
'Aku ingin kalau bilang belum siap, orang tidak langsung menganggap aku tidak tahu berterima kasih.'
'Pak Zavin mengatakan begitu?'
'Tidak. Beliau menerima jawabanku.'
'Lalu ketakutan itu datang dari mana?'
Rindu memandangi wajah ibunya. Ia bisa menyebut rumah yang ditinggalkan, tuduhan Rendra, atau ucapan Hesti. Namun, setelah semua itu, ketakutan tersebut masih tinggal di dalam dirinya bahkan saat orang di hadapannya tidak sedang mengancam.
'Aku terbiasa memikirkan reaksi orang lebih dulu.'
Ani mengusap punggung tangannya.
'Itu tidak berubah hanya karena malam ini kamu makan bersama seseorang.'
'Aku tahu.'
'Jadi jangan memaksa dirimu memberi nama pada setiap perasaan sekarang.'
Rindu mengangguk pelan. Ia tidak menjawab ingin kembali kepada Rendra atau ingin menerima Zavin. Ternyata ada keinginan lain yang lebih dahulu perlu didengarnya sendiri: ia ingin punya kesempatan berbicara tanpa segera dihukum oleh jawaban yang diberikannya.
'Aku senang tadi bisa meminta waktu,' katanya.
'Kalau begitu, jangan sekarang kamu ambil waktu itu dari dirimu sendiri.'
Rindu tertawa lirih di antara rasa sesak. Ia mengendurkan genggaman agar tidak menekan tangan Ani terlalu kuat, lalu membantu ibunya merapikan selimut.
'Apakah Ibu kecewa karena aku belum tahu jawabannya?'
'Ibu lebih khawatir kalau kamu mengatakan sudah tahu hanya supaya pembicaraan cepat berakhir.'
Rindu menunduk. Ia pernah melakukan hal seperti itu dalam perkara kecil, mengiyakan supaya tidak bertengkar, lalu membayar persetujuannya dengan rasa kesal yang dipendam.
'Aku tidak mau mengulanginya.'
'Mulai dari hal kecil. Kalau lelah, bilang lelah. Kalau tidak ingin ditemani, katakan. Tidak setiap penolakan akan membuat seseorang pergi.'
'Kalau ternyata pergi?'
Ani menatapnya tanpa buru-buru menenangkan.
'Ibu tidak bisa menjanjikan semua orang akan bertahan.'
Rindu mengusap ujung selimut. 'Itu yang kutakutkan.'
'Tapi kamu juga tidak bisa terus mengatakan iya hanya supaya ada orang di sampingmu.'
Rindu terdiam. Ia mengingat pulang sendirian setelah makan malam, keputusan kecil yang diterima Zavin tanpa pertengkaran. Rupanya ia masih menunggu akibat buruknya, seolah ketenangan hanyalah jeda sebelum seseorang berubah pikiran.
'Tadi aku memilih kembali sendiri,' katanya.
'Dan sekarang kamu ada di sini. Ceritakan yang benar-benar terjadi, Ri, bukan hanya yang kamu takutkan.'
Mereka duduk beberapa saat tanpa membicarakan kedua lelaki itu lagi. Ani mulai mengantuk, dan Rindu menunggu sampai ibunya siap beristirahat sebelum berpamitan.
Di hotel, ia menerima pesan Zavin yang menanyakan apakah Ani sudah tidur. Rindu membalas seperlunya, lalu mengatakan dirinya juga ingin beristirahat.
'Baik, Ri. Selamat beristirahat.'
Pesan itu berhenti di sana. Rindu menatap layar yang tidak kembali menyala, kemudian meletakkan ponsel. Tidak ada pertanyaan susulan tentang jawaban cintanya. Ia mencoba membiarkan kenyataan kecil tersebut menjadi kenyataan, bukan mencari ancaman yang belum ada.
***
Pagi berikutnya, Doni mengirim pesan saat Rindu sedang menyiapkan barang untuk dibawa ke rumah sakit. Dokter itu memberitahukan rencana datang ke Singapura esok hari dan ingin menjenguk Ani bila waktunya sesuai.
Rindu membaca pesan tersebut dua kali. Nama Doni masih membawa kepercayaan lama sekaligus percakapan yang belum memberinya jawaban tentang donatur.
Ia menelepon setelah mendapat balasan bahwa Doni bisa berbicara sebentar.
'Dokter akan datang besok?'
'Iya. Saya ingin melihat keadaan ibumu langsung. Tentu menyesuaikan dengan tim yang merawatnya di sana.'
'Ibu pasti senang.'
'Bagaimana kabarnya hari ini?'
'Saya baru akan ke rumah sakit. Kemarin beliau cukup tenang.'
'Kalau begitu, nanti tanyakan apakah beliau berkenan dijenguk.'
Rindu mengatakan akan menanyakannya. Sesudah itu, ia berhenti sebentar, mendengar suara kertas bergeser dari seberang.
'Dok, kalau datang nanti, boleh saya bertanya lagi tentang bantuan yayasan?'
Doni tidak langsung menjawab.
'Kita bisa berbicara saat bertemu, Ri.'
'Saya masih menyimpan rinciannya. Saya tidak ingin salah memahami bantuan yang sudah diterima Ibu.'
'Bawa saja kalau kamu ingin memastikan keterangannya.'
Jawaban itu tidak menjanjikan sebuah nama. Namun, setidaknya Rindu akan menghadapi seseorang yang mengenalnya sejak awal, bukan hanya membaca penjelasan di atas kertas.
Setelah panggilan berakhir, ia mengambil map rincian biaya. Akta cerai tetap disimpan terpisah. Ia tidak ingin setiap urusan hidupnya terus bercampur menjadi satu tumpukan yang hanya menimbulkan takut ketika dibuka.
***
Ani menyambut kabar kedatangan Doni dengan senyum.
'Sudah lama Ibu tidak melihatnya.'
'Beliau ingin menjenguk besok. Aku akan memastikan waktunya tidak mengganggu pemeriksaan.'
'Tentu boleh.'
Rindu mengirim persetujuan itu, lalu meletakkan ponsel di meja. Ani memperhatikan map di tangannya.
'Berkas bantuan?'
'Iya.'
'Kamu masih ingin tahu orangnya.'
'Aku ingin tahu lebih dari sekadar ada uang yang dibayarkan. Kalau seseorang membantu sebanyak itu, aku tidak ingin bersikap seolah semua datang tanpa siapa-siapa.'
Ani menyentuh ujung map, lalu menarik tangannya.
'Mengetahui orangnya belum tentu membuatmu lebih ringan.'
'Kenapa, Bu?'
'Karena sekarang kamu bisa berterima kasih tanpa membayangkan wajah yang harus kamu bahagiakan.'
Rindu terdiam. Ucapan tersebut bukan larangan bertanya, tetapi ia mengerti ibunya melihat sesuatu yang selama ini enggan diakuinya.
'Aku tetap ingin tahu.'
'Kalau begitu tanyakan. Ibu tidak melarang.'
Siang itu Zavin mengabari bahwa ia bisa menjenguk sebentar. Rindu memeriksa keadaan Ani, lalu menyetujui waktu yang sesuai. Ketika lelaki itu tiba, ia tidak membicarakan makan malam di hadapan ibunya.
Zavin duduk di kursi tamu. Rindu tetap berada di sisi ranjang, dan percakapan berlangsung tentang keadaan Ani serta hal sederhana yang bisa membuat kunjungan tidak terasa seperti pemeriksaan tambahan.
Saat hendak pulang, Zavin bertanya pelan kepada Rindu di luar kamar.
'Apakah kunjungan saya hari ini membuatmu tidak nyaman setelah pembicaraan kemarin?'
'Tidak, Pak. Terima kasih sudah tidak menanyakan jawaban lagi.'
'Saya sudah mengatakan akan memberi waktu.'
Rindu merapikan pegangan map di tangannya.
'Besok Dokter Doni datang. Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang biaya Ibu.'
Zavin memandang map itu, kemudian kembali menatapnya.
'Semoga kamu mendapat penjelasan yang diperlukan.'
'Saya harap begitu.'
Rindu tidak menangkap perubahan apa pun yang cukup jelas untuk ditanyakan. Zavin berpamitan, dan ia kembali ke kamar dengan map masih dibawa.
Ani sedang menunggu gelas yang tadi hendak diambilnya. Setelah memberikan minum, Rindu duduk dan membuka rincian biaya di pangkuan.
Ia menulis pertanyaan yang selama ini selalu dibelokkan: siapa yang sudah menolong mereka, dan mengapa nama itu harus dijauhkan darinya?