Jam pertemuan itu tetap seperti yang disepakati ketika Rindu memeriksanya kembali sebelum pulang ke hotel. Ia tidak membatalkan undangan, tidak pula menambahkan janji apa pun. Kepada Ani, ia mengatakan akan berangkat setelah memastikan keperluan ibunya esok malam tersedia.
'Jangan membawa semua persoalan ke meja makan sebelum orangnya datang,' kata Ani.
'Aku belum melakukan apa-apa, Bu.'
'Pikiranmu sudah.'
Rindu tertawa kecil. Ia mencium tangan ibunya, lalu berpamitan. Malam itu, ia tidur dengan kegelisahan yang berbeda. Tidak ada sidang yang harus dihadiri, tetapi kemungkinan mendengar sesuatu yang tak terduga membuatnya beberapa kali membuka mata.
Keesokan harinya berlalu dengan perawatan Ani seperti biasa. Menjelang waktu pertemuan, Rindu memastikan tim perawatan mengetahui bahwa ia keluar sebentar dan tetap dapat dihubungi. Ia memberi tahu Ani di mana ia akan makan, lalu kembali ke hotel untuk berganti pakaian.
Ia memilih pakaian yang rapi dan sederhana. Setelah itu, ia menatap dirinya di cermin tanpa mencari wajah perempuan yang seharusnya sudah sembuh dari segala hal.
Di tempat makan hotel, Zavin berdiri ketika melihatnya datang.
'Terima kasih sudah bersedia, Ri.'
'Saya tidak terlambat?'
'Tidak. Saya yang lebih awal.'
Rindu duduk. Ponselnya diletakkan di meja dengan layar menghadap ke atas.
'Saya perlu tetap bisa melihat kalau rumah sakit menelepon.'
'Tentu.'
Mereka memesan makanan. Zavin menanyakan apakah Ani sudah beristirahat dan apakah Rindu ingin kembali pada jam tertentu. Rindu menjawab, lalu memperhatikan lelaki itu menyingkirkan ponselnya sendiri agar tidak mengganggu percakapan.
Beberapa menit pertama berlalu dengan pembicaraan ringan. Namun, setelah makanan mulai disantap, Rindu meletakkan sendok lebih cepat.
'Pak, kemarin Bapak bilang ada yang ingin dibicarakan.'
Zavin mengangkat wajah.
'Iya.'
'Saya mungkin akan lebih tenang kalau mendengarnya sekarang.'
Lelaki itu meletakkan gelas. Ia tidak mengulur dengan gurauan atau menyuruh Rindu menebak.
'Saya menyukai kamu, Ri. Bukan hanya sebagai seseorang yang kebetulan saya kenal dan ingin saya bantu.'
Rindu menatapnya. Ia telah membayangkan kemungkinan itu sejak kemarin, tetapi mendengar kalimatnya langsung tetap membuat udara terasa berbeda.
Zavin melanjutkan sebelum keheningan berubah menjadi tekanan.
'Saya ingin mengenal kamu lebih dekat. Kalau suatu saat kamu juga menginginkannya, saya ingin hubungan kita tidak berhenti pada kunjungan dan kabar singkat.'
Rindu menunduk pada piringnya, lalu kembali mengangkat wajah.
'Saya baru bercerai, Pak.'
'Saya tahu.'
'Saya bahkan baru sanggup menceritakan semuanya kepada Ibu.'
'Saya tidak mengatakan kamu harus memberi jawaban malam ini.'
Rindu merapatkan jemarinya di tepi meja.
'Saya takut Bapak mendengar jawaban yang tidak saya ucapkan.'
'Maksudmu?'
'Kalau saya tetap membalas pesan, menerima kunjungan, atau makan bersama seperti ini, saya takut dianggap sudah menerima perasaan Bapak.'
Zavin diam sejenak.
'Terima kasih sudah mengatakannya. Saya tidak akan menganggap makan malam ini sebagai jawaban iya.'
Rindu mengembuskan napas, tetapi dadanya belum sepenuhnya ringan.
'Dan saya tidak mau menjawab hanya karena Bapak sudah baik kepada saya.'
'Saya tidak menginginkan jawaban yang seperti itu.'
'Kadang saya sendiri sulit membedakan. Saya merasa aman karena tidak perlu membela diri saat berbicara dengan Bapak. Saya berterima kasih. Tapi apakah itu berarti saya sudah siap menyukai seseorang lagi, saya belum tahu.'
Zavin mendengarkan tanpa menyela. Ketika Rindu berhenti, ia tidak segera mengisi jeda dengan daftar alasan mengapa dirinya pantas diterima.
'Saya menghargai kejujuranmu,' katanya.
'Saya perlu waktu, Pak.'
'Baik.'
Rindu menatapnya, mencari kekecewaan yang tentu mungkin ada.
'Saya juga tidak bisa menjanjikan berapa lama.'
'Saya tidak meminta tanggal.'
'Dan hasilnya mungkin tidak seperti yang Bapak harapkan.'
Zavin menarik napas perlahan. Senyumnya tipis, tidak dibuat untuk menutupi seluruh perasaannya.
'Saya mendengarnya, Ri.'
'Apakah setelah malam ini Bapak akan sering menanyakan jawaban saya?'
Zavin memandangnya dengan lebih serius.
'Kalau saya melakukannya, itu bukan memberi waktu.'
'Saya perlu mengatakan itu. Saya tidak mau nanti menghindari pesan Bapak karena takut ditanya lagi.'
'Kamu sudah mengatakannya. Saya akan mengingatnya.'
Rindu menarik tangan dari tepi meja dan meletakkannya di pangkuan. Ia belum pernah merasa begitu perlu menjelaskan batas sejak awal, sebelum sebuah hubungan memiliki nama. Ada rasa takut terdengar tidak ramah, tetapi Zavin masih duduk dengan sikap yang sama. Lelaki itu tidak menagih senyum sebagai pengganti jawaban yang belum diperolehnya.
Untuk beberapa saat, mereka kembali menyantap makanan. Rindu tidak langsung merasa nyaman, tetapi lelaki itu tidak berubah dingin hanya karena ia meminta waktu.
'Kalau saya masih menjenguk ibumu, apakah itu membuat kamu tidak nyaman?' tanya Zavin kemudian.
'Selama Ibu juga berkenan, tidak. Tetapi saya ingin kita tetap jujur kalau ada yang berubah.'
'Baik.'
'Saya tidak ingin nanti Bapak merasa sudah menunggu karena saya memberi janji.'
'Saya yang memutuskan apa yang saya lakukan. Kamu tidak perlu mengubah ketidakpastianmu menjadi janji untuk membuat saya tenang.'
Rindu meraih gelas. Ia teringat ucapan Ani tentang mengecewakan orang baik, lalu membiarkan dirinya menerima bahwa malam ini belum harus menghasilkan keputusan.
***
Seusai makan, Rindu memeriksa ponsel. Tidak ada panggilan dari rumah sakit, tetapi ia tetap ingin kembali sesuai waktu yang disebutkannya.
'Saya harus menemui Ibu.'
'Saya bisa menemani sampai rumah sakit kalau kamu ingin.'
Rindu mempertimbangkannya sebentar.
'Saya ingin pulang sendiri malam ini, Pak. Ada yang ingin saya pikirkan.'
Zavin berdiri tanpa berusaha mengubah jawabannya.
'Baik. Kabari kalau sudah sampai.'
'Saya akan mengabari.'
Mereka berpisah di lobi. Rindu menunggu kendaraan pesanannya, sementara Zavin tidak ikut berdiri terlalu dekat. Ketika kendaraan datang, ia melambaikan tangan singkat, lalu pergi tanpa membawa hadiah atau sesuatu yang membuat meja makan tadi terasa seperti sebuah pertukaran.
Di perjalanan, ia memandang lampu-lampu di luar. Rendra pernah menjadi tempat ia membayangkan pulang. Sekarang Zavin menawarkan kemungkinan lain, dan Rindu belum tahu apakah hatinya sedang membuka pintu atau hanya mencari tempat untuk beristirahat.
Ia tidak mengirim pesan kepada Rendra. Perasaan Zavin bukan sesuatu yang perlu dijadikan alat untuk menguji kecemburuan mantan suaminya.
Ani masih terjaga ketika Rindu masuk. Ia menaruh tas, mengabari Zavin bahwa dirinya telah sampai, lalu duduk di sisi ranjang.
'Bagaimana makan malamnya?' tanya Ani.
'Pak Zavin mengatakan beliau menyukaiku.'
Ani tidak tampak terkejut, tetapi tidak juga tersenyum seolah telah mendapatkan kabar yang lama ditunggunya.
'Kamu menjawab apa?'
'Aku meminta waktu. Aku belum tahu perasaanku sendiri.'
'Dia menerimanya?'
'Iya.'
Rindu menatap tangan ibunya yang terletak di atas selimut.
'Bu, bagaimana kalau aku tidak pernah bisa memberi jawaban yang membuat semua orang senang?'
Ani mengulurkan tangannya.
'Kalau itu yang kamu cari, kamu akan terus menunggu.'
Rindu menggenggam tangan tersebut. Sebelum ia sempat bertanya lagi, Ani memandangnya dengan lembut.
'Sekarang coba katakan, Ri. Kalau tidak perlu menyenangkan siapa pun, apa yang sebenarnya kamu inginkan?'