'Aku tidak sedang menyiapkan Ibu untuk acara resmi,' jawab Rindu sambil menyimpan sisir.
'Syukurlah. Ibu cuma mau dijenguk, bukan difoto untuk undangan.'
Rindu tertawa, lalu membalas pesan Zavin bahwa kunjungannya masih memungkinkan. Ia menambahkan waktu yang lebih sesuai agar tidak berbenturan dengan pemeriksaan Ani. Zavin menyetujuinya tanpa meminta jadwal diubah.
Keesokan harinya, lelaki itu mengirim kepastian penerbangannya untuk hari berikutnya. Rindu membaca pesan tersebut di kamar hotel, sebelum berangkat ke rumah sakit. Ia membalas dengan singkat, kemudian memandangi layar lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia mulai terbiasa menerima kabar Zavin tanpa terlebih dahulu merasa harus menjelaskan seluruh keadaan. Kebiasaan itu menyenangkan sekaligus membuatnya berhati-hati. Ia baru saja memberitahu ibunya tentang perceraian. Perasaannya masih seperti barang-barang dalam koper yang belum dikeluarkan, saling menindih tanpa tempat yang jelas.
Ketika sampai di rumah sakit, Ani segera melihat perbedaannya.
'Ada kabar?'
'Pak Zavin sudah memastikan penerbangannya. Besok beliau datang.'
'Kamu kelihatan bingung, bukan sibuk.'
Rindu meletakkan tas.
'Aku tidak bingung tentang kedatangannya.'
'Tentang apa?'
Rindu berpikir sebentar. 'Aku tidak ingin orang mengira aku menjanjikan sesuatu hanya karena menerima bantuan atau kunjungan.'
'Orang yang mana?'
'Entahlah, Bu.'
Ani menatapnya.
'Kalau kamu sendiri belum tahu siapa yang menuntut, jangan menghukum dirimu untuk tuntutan yang belum ada.'
Rindu duduk dan merapikan tali tas di pangkuannya.
'Aku hanya tidak mau menyakiti siapa pun.'
'Itu keinginan yang baik. Tetapi kamu tidak bisa memastikan semua orang selalu merasa senang dengan keputusanmu.'
'Aku tahu.'
'Belajar mengetahuinya tanpa terus meminta maaf.'
Rindu memandang ibunya, lalu tersenyum kecil. Ia tidak menjanjikan akan segera mampu. Setelah beberapa saat, percakapan beralih pada kebutuhan Ani hari itu, dan rencana kunjungan tetap menjadi sesuatu yang sederhana.
***
Sore berikutnya, Zavin tiba di rumah sakit setelah penerbangannya dari Jakarta. Ia mengabari Rindu ketika sudah berada di dekat kamar, bukan langsung masuk tanpa menunggu. Rindu keluar untuk menemuinya.
'Selamat sore, Pak. Perjalanannya lancar?'
'Lancar. Ibumu sedang beristirahat?'
'Sudah bangun. Mari.'
Zavin membawa barang yang sedikit. Ia tidak menyerahkan makanan kepada Ani tanpa bertanya, hanya menyapa dan duduk setelah dipersilakan.
'Bagaimana keadaan Ibu hari ini?'
'Masih seperti kemarin. Tetapi Rindu sudah lebih tenang, jadi Ibu ikut senang.'
Rindu menoleh. 'Bu.'
Ani tersenyum tipis, tidak meneruskan penjelasan. Ia tidak membicarakan akta cerai di hadapan tamu tanpa persetujuan putrinya.
Zavin memandang Rindu sebentar, lalu kembali kepada Ani.
'Semoga hari-hari berikutnya juga lebih ringan.'
'Terima kasih sudah datang lagi. Jangan sampai urusanmu sendiri terbengkalai.'
'Saya sudah mengatur waktu, Bu.'
'Rindu bilang kamu mengantarnya ke bandara kemarin,' kata Ani.
'Iya, Bu.'
'Dia sering merasa merepotkan sebelum orangnya mengeluh.'
Rindu hendak menyela, tetapi Zavin lebih dulu menjawab.
'Waktu itu saya menawarkan. Rindu boleh menerima atau tidak.'
Ani memperhatikan lelaki itu sebelum beralih kepada putrinya. 'Dengar sendiri, Ri.'
'Aku mendengar, Bu.'
Rindu merapikan botol di meja, lalu berhenti ketika menyadari kebiasaannya mencari kesibukan kembali muncul. Ia duduk. Zavin tidak menertawakannya atau meneruskan gurauan yang membuatnya malu. Percakapan bergeser dengan wajar, dan Rindu merasa tidak harus meninggalkan ruangan untuk memberi dirinya kesempatan bernapas.
Percakapan berlangsung tanpa pertanyaan tentang pasangan atau ajakan untuk kembali menikah. Zavin mendengarkan cerita Ani mengenai foto dari Sarah, kemudian bertanya apakah Rindu sempat beristirahat cukup setelah perjalanan terakhirnya.
'Kalau ditanya langsung, pasti jawabnya cukup,' kata Ani.
Rindu menggeleng sambil tersenyum. 'Ibu selalu tidak percaya.'
'Karena Ibu punya pengalaman.'
Zavin tertawa pelan. Ia tidak menggunakan gurauan itu untuk memarahi Rindu atau mengambil alih kebiasaan Ani mengingatkan makan.
Ketika ibunya meminta minum, Rindu bangkit. Zavin menggeser kursinya agar ia mudah menjangkau meja. Gerakan kecil tersebut membuat Rindu menyadari bahwa selama kunjungan, lelaki itu tidak pernah memaksanya berpindah dari tempat di sisi ranjang.
Setelah beberapa waktu, Ani tampak ingin beristirahat. Zavin berpamitan tanpa harus diminta.
'Saya tidak mau terlalu lama, Bu. Nanti saya menjenguk lagi jika waktunya sesuai.'
'Terima kasih. Hati-hati.'
Rindu mengantarnya keluar. Di lorong, suara mereka menjadi lebih pelan.
'Terima kasih sudah datang, Pak. Ibu senang.'
'Saya juga senang melihat beliau.'
Mereka berhenti dekat tempat duduk. Rindu mengira Zavin akan langsung menuju lift, tetapi lelaki itu menoleh kepadanya.
'Ri, besok malam kamu bisa makan bersama saya?'
Rindu terdiam.
'Bukan di kamar rumah sakit,' lanjut Zavin. 'Kalau kamu berkenan. Kita bisa memilih tempat dekat sini supaya kamu tidak khawatir meninggalkan ibumu terlalu lama.'
'Untuk apa, Pak?'
Pertanyaan itu keluar lebih cepat daripada yang diinginkannya. Rindu segera menunduk.
'Maaf, maksud saya—'
'Tidak apa-apa. Saya memang ingin berbicara dengan kamu, selain menanyakan keadaan ibumu.'
Zavin tidak tersenyum seolah pertanyaan tersebut lucu. Sikap seriusnya justru membuat Rindu kehilangan jawaban.
'Saya tidak meminta jawaban sekarang,' katanya. 'Pertimbangkan dulu.'
Rindu memandang pintu kamar Ani yang berada beberapa langkah dari mereka. Ibunya sudah mengetahui perceraian itu. Ia tidak lagi perlu berpura-pura sedang menjaga sesuatu yang masih utuh. Namun, bebas menerima undangan tidak berarti ia tahu apa yang ingin dilakukan hatinya.
'Saya perlu menyesuaikan dengan Ibu.'
'Tentu.'
'Kalau saya tidak bisa?'
'Katakan saja. Saya tidak akan datang menunggu tanpa kepastian.'
Rindu menghela napas pelan.
'Saya kabari malam ini, Pak.'
'Baik.'
***
Setelah Zavin pergi, Rindu kembali ke kamar. Ani belum tidur, dan segera melihat wajah putrinya.
'Dia bertanya sesuatu?'
'Mengajak makan besok malam.'
Ani tidak langsung menjawab. Ia merapikan selimut, lalu bertanya, 'Kamu ingin pergi?'
'Aku takut Ibu memerlukan sesuatu.'
'Itu pertanyaan lain. Kamu ingin pergi atau tidak?'
Rindu menatap kedua tangannya.
'Aku ingin mendengar apa yang ingin dia bicarakan.'
'Kalau begitu atur waktunya. Seperti waktu kamu pergi mengurus dokumen. Bedanya, kali ini kamu tidak akan pergi sampai dua malam.'
'Ibu tidak keberatan?'
'Ibu akan keberatan kalau kamu memakai Ibu sebagai alasan untuk jawaban yang tidak berani kamu berikan.'
Rindu tersenyum malu. Ia memeriksa waktu yang memungkinkan, memastikan Ani tetap mendapatkan bantuan tim perawatan selama ia keluar sebentar, lalu menyampaikan pilihannya kepada Zavin.
Tempat makan di hotel tempat Rindu menginap dipilih agar tidak jauh dari rumah sakit. Zavin menyetujui jamnya. Tidak ada rencana tambahan setelah makan yang dibicarakan.
'Kalau perlu kembali lebih awal, bilang saja,' tulis lelaki itu.
Rindu membalas persetujuan dan meletakkan ponsel. Ani memperhatikannya dari ranjang.
'Apa pun yang dia katakan besok, kamu boleh berpikir dulu.'
Rindu mengangkat wajah.
'Walaupun dia orang baik?'
'Terutama kalau kamu takut mengecewakan orang baik.'
Rindu memegang ponsel kembali. Kali ini ia tidak membuka percakapan dengan siapa pun. Ia hanya memastikan jam pertemuan itu tercatat, lalu menaruhnya di meja dengan layar menghadap ke bawah.